ORION

ORION
Gista Telah Sampai



Di suatu jalan, Gista masih memakirkan mobilnya dan sedang bersama dengan Hery.


“Kenapa mereka lama sekali?”


Seperti biasa, Hery tunangan Gista itu selalu mengomel setiap saat. Wajahnya yang kusut seraya menghentakkan kedua kakinya dengan cepat, membuat Gista sangat terganggu.


“Aku akan menjemput mereka. Kau tunggu di sini,” ucap Gista.


“Apa? Tidak mau! Kau tetaplah di sini, siapa yang tahu kau akan menggoda pria lain di luar sana!” pekik Hery, enggan melepas Gista dalam genggamannya.


“Aku tidak akan begitu. Mengertilah,” tutur Gista mencoba untuk sabar.


“Tidak, ya tidak!” teriak Hery semakin meninggikan suaranya kepada Gista.


Ketika itu, ponsel Hery bergetar dalam saku celananya, segera ia keluar dari mobil untuk mengangkat telepon tersebut.


Sebelum keluar pun ia berpesan pada Gista, “Jangan coba-coba untuk keluar,” ancamnya sambil menunjuk.


Gista hanya menghela napas. Sesaat setelah Hery keluar dari mobil, serta berbalik badan, Gista pun langsung menginjak gas. Meninggalkan Hery di sana.


“Kesempatan takkan muncul dua kali. Tenang saja Hery, aku tidak akan pergi jauh dan akan segera menjemputmu setelah Orion.”


Mungkin untuk sementara waktu, Hery takkan tahu kalau Gista pergi meninggalkan dirinya. Sedangkan Gista saat ini, ia tampak senang karena berhasil memanfaatkan situasi dengan baik.


Ia melakukan kendaraannya menuju ke rumah sakit besar. Di luar gerbang terlihat sangat sepi, tidak ada tanda-tanda ada kekacauan di sana. Gista menjadi curiga.


“Sudah 3 jam mereka di sana dan belum kembali. Sebenarnya apa yang terjadi?”


Cuaca sangat panas hari ini, begitu ia keluar dari mobil, ia bertemu lelaki bermasker hitam. Perawakan serta ciri-cirinya tidak asing lagi, bahwa pria ini adalah Jhon.


Mereka saling bertukar pandang dalam beberapa waktu lalu Jhon memalingkan wajah dan melangkah pergi.


“Tunggu.”


Dan Gista menghentikannya karena ia sudah tahu bahwa pria ini adalah musuh. Jhon tampak sangat gelisah, ia pun berusaha untuk menghindar kontak darinya.


“Ya, ada apa?” Jhon bertanya tanpa menoleh sedikit pun.


Sebelum Gista menjawabnya, ia tengah memastikan sesuatu tentang Jhon. Yakni identitas yang selama ini banyak dari orang-orangnya menduga bahwa Jhon adalah rekan Chameleon. Tapi sekarang Gista sudah mengerti, Jhon bukanlah orang yang sedang ia tuju.


“Di mana Tuan Caraka-mu?”


Pertanyaan itu langsung mengarah ke ujung tanduk. Kecurigaan Gista terhadap Jhon tidak lebih dari Adi Caraka yang kini diduga sebagai mata-mata Chameleon.


Jhon sama sekali tidak menjawab pertanyaan Gista. Itu artinya ia sengaja bungkam diri.


“Aku sedang bicara denganmu. Apa kamu tidak dengar?” Sekali lagi Gista memanggilnya seraya menepuk pundaknya.


“Saya tidak tahu,” ucap Jhon lantas kembali melangkahkan kaki.


“Hm? Kau bilang tidak tahu? Padahal Kepala Rumah Sakit itu terkenal, apalagi melihatmu yang keluar dari rumah sakit seperti ini, sudah pasti kau berbohong padaku.”


Deg! Detak jantung Jhon berdetak lebih kencang, ia berkeringat dingin dan tak kuasa ia menoleh ke belakang. Hanya terdiam seraya menggigit bibir bawahnya dan mencerca diri sendiri dalam batin.


“Betapa bodohnya aku,” gumam Jhon dengan suara kecil.


“Hei, aku sedang bicara.”


Sraakkk!!


Di tengah pembicaraan, Jhon tiba-tiba menyerang Gista dengan bayangannya sendiri. Memanjang dan membelakangi tubuh Gista, Jhon kemudian mengangkat bayangan itu dengan ujung yang tajam.


Trak!


Gista dengan mudah menghalau serangan itu dengan es. Bayangan itu terjebak di pilar es yang berdiri di belakang punggung Gista.


“Saya hanya cari aman.”


“Kalau benar begitu. Aku akan melepasmu tapi sebagai gantinya katakan di mana Caraka sekarang. Dan juga, aku cukup yakin dia merencanakan sesuatu pada orang-orangku.”


“Maaf tapi sepertinya tidak bisa,” kata Jhon keras kepala.


Bayangan yang sebelumnya terjebak di pilar es kecil itu lantas menghilang. Bayangan diri Jhon kembali seperti semula, namun sebagai gantinya ia menggunakan bayangan benda-benda lain.


Jhon berbalik badan, berhadapan dengannya serta bertukar pandang kembali dengan sorot mata yang tajam.


“Tuan Caraka sangat sibuk. Saya harap Anda tidak mengganggu.”


“Kalaupun Caraka telah mengkhianati Organisasi?”


“Siapa peduli.”


Jhon menggunakan bayangan dari dinding yang berada dekat dengannya. Berbentuk sama seperti bagian dinding itu yang kemudian digandakan menutupi cahaya di atas kepala Gista.


Gista menghindar dengan melompat ke samping, seraya ia menggunakan kekuatan es tuk membekukan kedua kaki Jhon.


Keduanya berhenti melakukan perlawanan satu sama lain. Sesaat mereka kembali bertukar pandang, mungkin sedang berpikir bagaimana cara mengatasi serangan itu.


“Sepertinya dia cukup keras kepala. Tapi kalau dibiarkan begitu saja, pasti akan menjadi merepotkan,” gumam Gista.


Bayangan Gista bergerak tidak wajar. Dan dalam waktu singkat keberadaan Jhon lenyap ditelan bayangannya sendiri. Yang kemudian muncul dari bayangan Gista.


Gista hampir terlambat menyadarinya, sehingga ia menyerang Jhon dengan acak dan sedikit meleset.


“Anda sangat gigih,” kata Jhon membuat bayangan Gista bergerak keluar layaknya mahluk hidup.


“Diam di sana,” sahut Gista bernada datar.


Gista mengangkat tangan kanannya seraya menghindar dan membuat jarak dengan Jhon. Ia membekukan tubuh Jhon dengan cepat hingga Jhon tak lagi dapat berkutik.


Tap! Sepatu hak tinggi yang Gista kenakan sedikit rusak, ia mencoba untuk melangkah dengan hati-hati. Meninggalkan Jhon yang dalam keadaan beku di halaman utama rumah sakit.


“Nona Gista!”


Seseorang memanggilnya dan Gista pun menoleh ke asal suara. Melihat Raka yang tengah terluka di seberang jalan, ia pun bergegas menghampirinya.


“Apa yang terjadi padamu?” tanya Gista.


“Sebelumnya maafkan saya karena Orion tidak sempat saya jemput karena dia sangat keras kepala untuk tidak pergi, entah kenapa dia menjadi seperti itu,” ujarnya menjelaskan.


“Lupakan itu, Raka. Aku pun yakin Orion tidak pergi karena memang ada urusan yang penting dan Pahlawan Kota juga repot-repot datang hanya untuknya, bukan?” tutur Gista membuat Raka sedikit tenang.


“Kalau begitu Nona Gista, Caraka mungkin sedang mengejar Orion yang telah melarikan diri darinya. Tapi dia tetap berada di sana, di dalam rumah sakit itu,” jelas Raka.


“Baiklah. Kau tunggulah di depan mobil sambil menghubungi rekan kita yang lain untuk datang menjemput. Setelah dia sampai, pergi dan obati dirimu.”


“Tapi Nona Gista ...”


“Jangan sampai kau terluka lebih parah,” kata Gista yang kemudian ia memapah Raka masuk ke dalam mobil lalu pergi.


Suasana di dalam sana semakin terasa lebih mencekam. Firasat Gista kian memburuk, apakah terjadi sesuatu? Namun ia tidak tahu ke mana ia harus pergi. Semula terdiam seraya melirik ke sekeliling.


Setelah beberapa saat, Gista masuk ke dalam rumah sakit dengan bau sekaligus suasana yang tidak nyaman.


Tap! Tap!


Melangkahkan kaki seraya menoleh ke kanan dan kirinya, memperhatikan semua pasien serta beberapa dokter, suster dan lain-lainnya yang terlihat biasa-biasa saja.