ORION

ORION
Kerja Sama Dengan Endaru



Pahlawan Kota, Endaru telah datang!


Samar-samar Orion melihat dan merasakan keberadaannya walau sekarang ia sedang kesakitan setengah mati. Rasanya tubuh Orion diaduk-aduk seperti bubur, tak terhitung makiannya dalam benak karena rasa sakit tersebut.


Eka merubah wujudnya sebagai lendir hijau, menghindar dari medan gravitasi meski itu cukup sulit. Lendir itu juga seperti asam lambung, melelehkan semua yang ada di sekitar termasuk lantai.


Dalam benaknya, Eka menggerutu, “Ada apa ini? Kenapa Pahlawan Kota malah datang kemari? Apa hubungan mereka akrab? Tapi sepertinya tidak, jika diingat dari ingatan milik Orion.”


Kedatangan Endaru akan memberikan beban berat untuknya. Tentunya bukan tandingan Eka. Eka berniat mundur namun tidak bisa karena pengaruh kekuatan Endaru.


Kedua sarung tangan Endaru dilepaskan, medan gravitasi meningkat 20x lipat. Ia mengabaikan Eka lantas beralih pada Orion yang tengah terbaring dengan tubuh gemetaran.


“Bocah tua. Kau masih hidup?”


Tidak mendengar jawaban, lantaran Orion terus mengerang kesakitan. Endaru pun membopong tubuhnya sebentar lalu kembali menatap Eka yang masih berada dalam wujud lendirnya.


Aura yang mencekam. Sontak Eka terkejut dan kini berwajah pucat pasi.


“Kau ini yang namanya Dr. Eka si malaikat penyembuh itu ya? Aku dengar kau mampu membuat semua pasienmu kembali pulih total hanya dalam beberapa waktu. Apa aku salah?” Endaru bertanya.


Mula-mula Eka terdiam, setelah beberapa saat ia membuka mulut. Tampak ia hendak berbicara sesuatu.


“Ka-kalau be-benar, kenapa?” Dengan tergagap-gagap.


Endaru kemudian mengangkat tubuh Orion ke depan Eka.


“Sembuhkan dia!” Endaru memerintahkan.


Karena sepertinya takut, Eka yang ciut itu segera kembali ke wujudnya. Endaru mengenakan semua sarung tangannya lagi. Namun medan gravitasi tetap ada dan itu termasuk cukup ringan meski tubuh Eka masih merinding.


Eka kemudian menyentuh luka Orion. Tulang, serat-serat otot dan kulit kembali seperti sedia kala. Tanpa sedikitpun goresan luka. Eka benar-benar menyembuhkan lukanya.


“Apa kau sangat akrab dengannya, Pahlawan Kota?” tanya Eka dengan tatapan merunduk ke bawah.


“Apa urusannya denganmu?” Dengan dinginnya ia berkata pada Eka.


Ia kemudian beranjak dari sana seraya ia tetap membopong tubuh Orion ke pundak. Sekilas, mereka terlihat seperti ayah dan anak.


“Pahlawan Kota yang diagungkan bisa cacat juga ya?”


Seketika langkah Endaru terhenti. Melirik Eka yang masih duduk dalam posisinya. Seketika aura di sekitar mereka berubah.


“Sepertinya kau masih belum jera juga.”


Ketika itu, Endaru mengeluarkan kekuatan dengan medan gravitasi 5x lipat. Angin di sekitar mereka pun turun dan terasa sangat berat.


Di posisi yang sama, Eka dengan ular hijaunya kembali muncul. Berdesis dan kemudian merayap turun dari pundaknya.


Hempasan angin saling berbenturan. Api hijau tak kalah dari gravitasi yang Endaru gunakan. Keduanya saling menyerang tanpa sedikitpun bergerak dalam posisi mereka masing-masing.


“Pahlawan Kota, kau bangkit selama dua kali, ya? Sepertinya darah anak ini benar-benar langka.” Eka menyindir.


Endaru sama sekali tak menjawab. Ia kemudian melepas sarung tangannya dan medan gravitasi kembali meningkat dengan kuat. Angin turun ke bawah sampai pakaiannya rusak dan sekujur tubuhnya dibuat merinding.


“Heh, kau sama sekali tak bicara. Apa kau sedang kesal padaku?”


Perkataan Eka sama sekali tak digubris olehnya. Endaru hanya menatapnya tajam dan dengan terus menekannya hingga Eka merasa sesak di dada. Perlahan-lahan dari tulang kaki ke tulang tangan mulai terkena dampaknya.


Krak! Retak dan kemudian patah secara mengenaskan. Eka menggigit bibir bawahnya seraya menahan sakit, api hijau itu kian membara begitu ular melata membelit salah satu kaki Endaru.


“Sudahlah. Diam saja.”


Kaki Endaru yang terbelit oleh seekor ular yang kemudian mengeluarkan lendir berupa asam lambung. Terasa sangat sakit begitu asamnya melelehkan kulit hingga ke dagingnya.


“Apanya yang baik-baik saja, turunkan aku.”


Sesaat sebelum Endaru menurunkan Orion, api milik Orion dengan mudah membakar ular tersebut hingga menjadi abu. Sesosok Eka yang menyerupai ular itu pun tiba-tiba ikut terbakar.


Seolah berbagi penderitaan yang sama dengan ular sebelumnya. Endaru dan Orion sama-sama terkejut.


“Kau yang menyerangnya dan aku yang menahan pergerakannya,” ucap Endaru.


“Jangan sok memberi perintah pada orang tua.”


Meski kedua orang itu tidak terbilang cukup bersahabat, mereka dapat menyelaraskan kekuatan bersamaan.


Pusaran api kembali memenuhi ruangan. Berwarna kehijauan terang dan hawa panas menyengat tubuh mereka. Orion tidak lagi peduli jika terluka namun ini satu-satunya kesempatan untuk menyerang.


Semakin berat tekanan udara pada Eka. Semakin dipersempit dan diperkuat hingga tubuhnya gemetar serta memuntahkan darah. Kedua kaki Eka terpendam ke dasar lantai.


Tap! Api hijau itu jelas membakar tubuh Orion ketika ia melesat ke arah Eka saat ini. Namun tatapan Orion hanya tertuju ke depan, tak lain adalah Eka sendiri.


Dengan kedua bilah yang tajam melekat pada kedua lengannya, ia menyayat tubuh bagian depan Eka dengan serangan menyilang. Tak berhenti sampai sana, ia menggantikan salah satu bilah dengan tinju api memukul wajah.


Blaarr! Api itu pun membakar setengah wajah Eka hingga terlihat tulang tengkoraknya.


“Bocah tua! Jangan alihkan pandanganmu!”


“Aku tahu dan jangan panggil aku begitu!” sahut Orion.


“Lalu, aku akan menggunakan gravitasi padamu juga!” imbuh Endaru.


“Ap—!” Sebelum memprotesnya, Endaru membuat kedua kaki Orion bergetar. Ia benar-benar tertekan ke bawah hingga rasanya semua tulang seperti dihancurkan.


Namun, sisi baiknya, api hijau yang nyaris membakar tubuh Orion lenyap karena pengaruh dan kendali gravitasi Endaru kepadanya.


“Kenapa selalu dadakan!?” amuk Orion.


Setelah tekanan pada tubuhnya menghilang. Orion mengayunkan kedua bilah senjata secara membabi buta, di samping ia kesal karena Endaru, ia pun melampiaskan kemarahannya pada musuh.


Tubuh Eka yang masih terlindungi api hijau, akan tetapi setiap serangan baik dari Orion maupun Endaru akhirnya pun mulai terlihat.


“Urgh!”


Eka mengerang kesakitan. Api hijau layaknya amarah manusia pun tersulut, mengarahkan pusaran api pada Endaru seorang diri. Keberadaan Orion benar-benar sangat diremehkan oleh Eka.


“Hentikan seranganmu, dokter sinting!” cerca Orion yang marah.


Membentuk bilah pedang yang memanjang. Pantulan wajahnya pun terlihat di tubuh senjata itu. Ia memfokuskan untuk menajamkan bagian ujung, jika dirasa sudah cukup tajam. Orion pun mengangkat lengan menutupi wajah.


Srak! Sedikit ia menyeret langkah mundur dengan api hijau yang kembali membelit tubuhnya. Kemudian Orion kembali mengangkat sebelah lengannya tinggi-tinggi.


“Kalau bisa, jangan mati lebih dulu,” gumam Orion yang tak terdengar siapa pun.


Cwak! Seperti mengayunkan cambuk besar. Kilatan cahaya serta api berkorbar memotong lehernya dalam sekejap.