ORION

ORION
Sergapan Malam



Seseorang membuntuti mereka dari belakang. Tak lain adalah Sima, wanita itu sungguh keras kepala. Bahkan sampai mengejar Orion hingga saat ini. Orion yang jelas tahu keberadaannya, ia memutuskan untuk diam sebentar.


Malam hari, setelah Owen menemukan penginapan yang letaknya dekat dengan lokasi Api Abadi. Mereka berada dalam satu ruangan yang sama.


“Orion Sadawira, aku berharap kau tak mempermasalahkan hal ini, sebab kita seruangan pun agar tak terjadi sesuatu hal yang tidak diinginkan.”


“Aku pribadi tidak mempermasalahkan hal itu,” ucap Orion.


“Lalu, siapakah orang yang membuntutimu? Aku cukup yakin dia mengincarmu.”


“Sebelum kau bertanya-tanya, kenapa tidak melepas pakaian formalmu itu? Aku risih sekali melihatnya, apalagi kau saat ini sedang memakai selimut,” ucap Orion jengkel.


Owen pun kemudian bangkit dan melepas jasnya. Setelah itu ia kembali duduk berhadapan dengan Orion.


“Apa pun yang terjadi selama beberapa waktu ke depan, Pak Owen jangan sampai mengambil tindakan. Biarkan dia semaunya,” pinta Orion dengan serius.


Pandangan yang lurus ke depan itu, membuat Owen yakin kalau Orion tengah merencanakan sesuatu terhadap penguntit itu.


“Aku akan mencoba mempercayainya. Tapi istirahatlah sebentar, Orion.”


Owen yang berkata begitu namun sudah tertidur lebih dulu. Kelelahannya sudah sangat bertumpuk, Orion sadar hal itu namun terkekeh-kekeh karena menurutnya lucu.


“Pria ini benar-benar mengatakan suatu hal yang kemudian dia lakukan sendiri. Yah, bagiku itu tidak masalah.”


Orion mematikan lampu. Kamar itu pun menjadi sangat gelap. Hanya secercah cahaya dari rembulan yang melewati celah jendela saat ini.


Suasana di kota Y-Karta sedikit asing. Itulah yang terbesit dalam benaknya saat terbaring dengan selimut di atas tubuhnya.


Setelah beberapa saat kedua matanya terpejam. Berharap ia tertidur lelap setidaknya beberapa menit. Tetapi, ada hal yang membuat ia tak bisa tidur.


“Dia datang lagi, ya ...” gumam Orion.


Brak! Kaca jendela terbuka dengan keras. Kehadiran yang membawakan pengaruh negatif akhirnya datang juga.


“Hawa membunuhmu sangat jelas. Dan dapat aku rasakan meski dari jauh sekalipun. Kau ternyata sangat terburu-buru ya.”


Srak!


Orion menyingkirkan selimutnya, lantas melangkah ke arah jendela yang kini terbuka lebar. Dan memperlihatkan sosok wanita dengan beberapa goresan yang tertata di wajahnya.


Sima melesat ke arahnya, dan membuat angin menerpa tirai jendela dengan kuat. Satu-satunya pisau itu bercahaya sesaat, mata pisau berada di ujung leher Orion.


Pak! Orion memukul tangan Sima dan membuat pisau itu turun dalam waktu singkat. Tak lama, semburan api membakar lengan Orion dan kemudian membentuk sebilah pedang.


Ujung pada mata pedang sama sekali tak menampakkan apa-apa. Sima yang hanya sekilas melihat api itu, lantas bergerak mundur dan mengambil jarak tertentu di antara mereka.


Kembali pada posisi bertarung dengan menggunakan sebilah pisau kecil, Sima menatap tajam Orion. Hawa membunuh semakin dapat ia rasakan, begitu pula dengan Owen.


Sejak awal pertarungan mereka, seperti yang telah diperintahkan, Owen hanya diam saja. Namun ia tetap terbangun walau matanya menutup, demi berjaga-jaga jika situasi tak terkendali.


Syat! Sayatan demi sayatan kembali menggores wajah Orion begitu juga sebaliknya, Sima kembali mendapatkan luka sayatan yang berkali-kali lipat lebih dalam.


“Asal kau tahu, pedang ini sama sekali tidak bisa aku kendalikan seberapa tajamnya,” ucap Orion seraya melompat mundur ke belakang.


Ia menyeret kaki kanannya mundur, lalu membuat bilah pedang di lengan kirinya. Lantas mengangkat lengan ke depan, bersiap untuk menerima sekaligus menyerang lawan.


Tap! Mereka sama-sama melompat bersamaan, kecepatan mereka nyaris seimbang atau mungkin Orion jauh lebih lamban darinya. Namun itu tak menutup kemungkinan, Orion mampu menyerang Sima.


Mendadak Sima menghilang dari depannya. Orion tak dapat melihat apa-apa. Ia kemudian berlari menuju sakral dan menghidupkan lampu.


Ctak! Tak sengaja ia menggunakan kepalan tangan sehingga saklar dihantamnya. Seraya melirik ke sekeliling dan berusaha mencari keberadaan Sima yang menghilang, Orion melangkah ke depan jendela.


“Sepertinya dia menghilang. Aku tak sempat melihatnya pergi ke mana, tapi dia masih ada di sini,” tutur Owen seraya berjalan menghampiri Owen.


“Hm, ya. Pak Owen ada benarnya. Tapi kenapa dia selalu muncul lalu mendadak menghilang seperti ini. Aku merasa sedikit bingung,” ucap Orion seraya menggertakkan gigi.


Ctak! Saklar lampu kembali mati tiba-tiba. Orion dan Owen reflek menoleh ke belakang dan melihat apa yang terjadi.


Dan kemudian Sima muncul lagi dengan merobek ruang udara, keluar dengan cepat menyayat Orion.


Tak! Akan tetapi serangan Sima dapat ditahan Owen dengan senjata berupa tingkat hitam yang kecil. Owen mengayunkan lantas membuat Sima terdorong mundur.


“Jangan gegabah,” ucap Orion memperingati Owen.


“Aku tahu. Aku juga sudah mendengar hal ini dari Nona Gista. Jadi jangan khawatir,” kata Owen.


Cruak! Sima melesat lagi dan mata pisau itu menggores punggung tangan Owen. Orion menggunakan api yang kemudian membakar pergelangan tangan hingga ke lengan.


Api yang membara di tangan kiri lalu sebilah pedang hasil dari pembentukan api berada di tangan kanannya. Orion menggunakan kekuatan yang sedikit boros hari ini tapi tak masalah.


Trang!


Asalkan serangan ini mampu membuat Sima kembali bertekuk lutut. Bersamaan dengan sebilah pedang yang dilayangkan, api membakar pisau hingga ke lengan Sima. Merambat cepat dan nyaris menyentuh wajahnya.


“Sungguh api yang indah,” ucap Sima memuji.


Sima terkesima, sesaat melihat bayangannya sendiri dari balik api yang terus menggerus daging dan tulangnya.


“Nyalakan lampunya, tolong!” pinta Orion kepada Owen.


Drap! Drap!


Owen berlari menuju sakral dan menghidupkan lampunya. Ketika itu semuanya menjadi jelas.


Di seluruh area ruangan ini, terdapat banyak goresan dengan Sima sebagai puncaknya. Api yang membakar lengan hingga membuatnya terluka parah, entah kenapa Sima seolah tak sadar.


“Apa yang terjadi pada wanita ini? Harusnya dia ...ck!”


Orion berdecak kesal. Lantas menggenggam lengan Sima kuat-kuat. Sampai Sima kembali tersadar dan menepis tangan Orion.


Api telah sepenuhnya menghancurkan tulang lengan kanannya. Pisau itu pula terjatuh dari genggaman Sima.


“Huh, kau bukanlah tipe ilusi, 'kan?” tukas Sima.


“Tentu bukan.”


Dari belakang, Owen mencekik lehernya dengan kedua lengan. Sampai Sima terduduk dan mengerang kesakitan. Perlahan pandangannya memburam.


“Wanita ini tidak boleh dibiarkan sampai mati, benar?” tanya Owen.


“Benar. Tapi alangkah baiknya kau lepaskan dia. Kekuatan yang menyerupai goresan itu, jangan kau remehkan,” kata Orion sambil menunjuk ke bawah.


Setiap goresan berpindah ke tubuh Owen. Menggerayangi hingga menggerogoti, rasanya seperti dimakan oleh banyak serangga hidup-hidup.


Cengkraman Owen melemah dan membuat Sima terbebas, tapi Orion melompat mundur dan seolah memancingnya.


Dan ketika Orion terlihat seperti disudutkan, Sima semakin agresif menyerangnya dan sulit bagi Orion untuk menangkis serangan itu.


Tap! Justru Orion melangkah ke samping. Seketika mata pedang menyentuh leher Sima dan membuat gerakannya terhenti.