ORION

ORION
Jatuh



Pasar Malam sudah semakin sepi. Tiada orang yang berjualan apalagi berjalan-jalan. Meninggalkan mayat yang sudah tidak berbentuk wajahnya.


Berada dalam perjalanan, Orion dkk sepertinya sudah berada di ambang batas mereka. Sebuah lingkaran dengan benda di atas kepala Chameleon itulah karenanya.


“Dulu dia tidak pernah menunjukkan itu. Saya tidak pernah mengetahui hal itu, kecuali Dr. Eka sendiri yang bilang begitu. Apa saya benar?” tanya Gista.


“Iya. Itu benar. Dr. Eka sendiri yang bilang,” jawab Orion menganggukkan kepala.


“Nona Arutala, semenjak kemarin saya masih tidak mengerti. Di mana Orion? Bukankah dia yang sedang diincar oleh Chameleon? Lalu pria ini siapa? Saya baru pertama kali melihatnya.” Ketua Irawan bertanya.


Mahanta mengalihkan pandangan lalu Gista menghela napas dan melirik Orion yang saat ini hanya duduk bersandar.


“Ah, itu ...”


“Dan juga Nona Arutala, saya masih penasaran siapa orang yang pergi bersama dengan Orion di perbatasan antar kota saat itu?” Ketua Radhika juga ikut bertanya.


Lama-kelamaan ini menjadi urusan yang panjang. Mereka yang menanyakan tentang Orion, justru Orion yang sebenarnya ada di hadapan mereka.


“Pria itu adalah kekasih gelap Nona Arutala.” Dan seseorang mengacaukannya dengan omongan ngawur.


“Hoi! Endaru!” pekik Orion menatap Endaru dengan tajam seraya ia mengepalkan kedua tangannya.


“Kenapa?” tanya Endaru yang sama sekali tidak merasa bersalah sedikitpun.


“Bukan, bukan. Daripada kekasih gelap, itu bisa dibilang kekasih sungguhan ...ah,” jawab Gista semakin melantur.


Tatapan para Ketua hanya tertuju pada Orion seorang. Karena sebaris kalimat ini pun, semuanya jadi tambah kacau. Identitas Orion jadi banyak dipertanyakan. Tentunya semua orang terutama para Ketua sendiri mengetahui bahwa Gista memiliki tunangan.


“Bukankah Anda memiliki tunangan? Maaf jika saya lancang.” Asisten Ketua Meera pun mengajukan pertanyaan itu secara langsung.


Seketika suasana semakin canggung. Sementara pelaku yang mengakibatkan Orion jadi dipertanyakan sedang duduk sembari menghadap ke luar dengan santainya.


“Saya memang memiliki tunangan. Tetapi sebelum itu saya sudah memiliki kekasih yang sudah berbagi suka maupun duka. Saya tidak ingin kalian merasa bahwa pria ini adalah pengganggu hubungan atau semacamnya.” Gista menjelaskan.


Melihat reaksi diam semua orang yang mendengar penjelasan Gista. Lantas Gista mengubah topik pembicaraan yang lebih serius.


“Daripada itu, saya lebih tertarik dengan apa yang terjadi pada Chameleon tahun ini. Dia sudah berubah drastis, tidakkah salah satu dari kalian mengetahui sesuatu?”


“Maaf Nona Arutala. Saya pribadi, tidak mengerti mengapa lingkaran itu ada. Karena yang saya tahu, 30 tahun yang lalu maupun 5 tahun yang lalu dari sekarang dia sama sekali tidak mempunyai itu, apalagi fungsinya yang di luar nalar.” Ketua Dharmawangsa berbicara.


“Saya juga berpikir seperti itu,” balas Ketua Radhika dengan anggukkan kepala.


“Saya pun,” ucap Ketua Ganendra yang juga memiliki pikiran yang sama.


“Bolehkah saya berpendapat?” Asisten Ketua Meera kembali bertanya.


“Silahkan saja.” Mahanta mempersilahkan.


“Menurut saya, perubahan Chameleon karena didasari oleh kekuatan Api Abadi. Yang ada pada anak yang bernama Orion. Sebenarnya Ketua Meera yang berpikir seperti ini,” jelasnya.


Gista menganggukkan kepala lantas menyahut, “Saya juga berpikir demikian. Namun kepemilikan Api Abadi itu hanya beberapa bulan yang lalu saja. Saya masih kurang yakin.”


Mahanta kemudian berbisik pada Gista.


“Nona Gista, bagaimana dengan serbuk putih itu?”


“Aku tahu. Tapi kemungkinan besar serbuk putih itu ada karena sebelumnya dia mengincar banyak orang berdarah langka serta anak-anak,” kata Gista.


Melihat situasi yang ada. Dan Chameleon yang hilang jejak malam itu. Gista pada akhirnya mengatakan semua yang ia tahu. Mulai dari saat Orion pergi bersama pemain kecapi itu.


“Baiklah, sepertinya itu cukup rumit. Dan karena Chameleon sudah menghilang lagi, mungkin pria ini juga mengetahui sesuatu.” Ketua Dharmawangsa melirik sinis Orion.


“Kita semua akan ke rumah Arutala. Seperti yang saya bilang beberapa menit sebelumnya, Chameleon telah melakukan sesuatu saat ini atau mungkin sudah selesai sekarang,” sahut Mahanta dengan tegas.


Mahanta mengalihkan topik pembicaraan agar Orion tidak lagi dicurigai. Lantaran tubuh anak kecil yang sudah berubah menjadi ke orang dewasa, itu terlalu mustahil untuk dipercaya.


Gratak!


Sesuatu telah jatuh ke atap mobil. Mobil sempat kehilangan kendali ketika itu terjadi. Bahkan mereka semua yang ada di dalam terkejut, seketika mereka mendongakkan kepala ke atas.


“Sepertinya rekan Chameleon datang,” ucap Endaru seraya melipat kedua lengannya ke depan dada.


“Ini buruk,” gumam Ketua Radhika.


Orion menatap tajam ke atas. Tampaknya ia mengetahui siapa yang datang.


KRAK!


Atap mobil berlubang begitu saja, lantas muncul seseorang yang turun dari atap mobil. Seorang pria yang diyakini rekan Chameleon, Mr. Iki Gentle.


“Hah, firasatku buruk.” Orion menghela napas.


“Kau siapa?!” Ketua Ganendra mengacungkan senjata belati ke arahnya. Lalu disusul dengan senjata yang lain, tertuju pada leher pria tersebut.


“Sambutan yang meriah sekali. Tapi tujuanku hanyalah Orion di sana,” katanya sembari menunjuk Orion.


“Orion? Nama dia juga Orion?”


“Ukh, tak kusangka akan ada pembunuh bayaran di sini. Sepertinya sudah lama kita tidak berjumpa ya,” ucap Orion sembari berwaspada dengan menyiapkan pedang merah miliknya.


Muncul rasa waspada yang tinggi. Namun tidak mungkin jika mereka bertarung di sini. Sedangkan kendaraan masih terus berjalan terus untuk sampai ke tempat tujuan. Sopir pun bergidik, ia tak habis pikir karena rekan Chameleon akan datang kemari dengan cara yang tidak masuk akal.


Tap!


Satu langkah Mr. Iki Gentle mendekat tiba-tiba. Bahkan terlepas dari todongan berbagai senjata yang ada dengan mudahnya. Mr. Iki Gentle sekarang sudah berada tepat di depan mata Orion.


“Aku mau mengajakmu bicara sebentar,” katanya sembari membuka pintu mobil.


“Tu—”


“Orion!”


BRAK!


Tepat setelah ia membukanya, lantas ia menendang tubuh Orion keluar. Orion jatuh terguling-guling di sana, tak sempat bereaksi karena reaksinya kalah cepat dengan pria itu.


“Ugh! Sinting!”


Sementara itu, Mr Iki Gentle pun keluar dari sana. Endaru yang hendak meraihnya pun terlambat satu langkah. Membuat Orion tertinggal di jalanan.


Tentu itu membuat Gista, Mahanta apalagi Endaru yang tahu itu siapa langsung terguncang. Mereka hendak melakukan sesuatu tetapi itu terlalu mustahil. Dan juga kendaraan mereka melaju dalam kecepatan tinggi.


“Hei! Hentikan mobilnya!” teriak Endaru.


“Tidak! Nona Arutala, saya cukup yakin dia akan baik-baik saja.” Ketua Dharmawangsa kembali berbicara dengan ketus.


“Apa maksud Anda?” sahut Gista.


“Tidak, bukan apa-apa.”


“Nona Gista, saya akan—”


“Jangan,” sahut Gista memotong kalimat Mahanta.


Gista jelas tahu bahwa Mahanta hendak turun dari mobil. Tetapi kini tatapan para Ketua lainnya tertuju pada Gista seorang. Mengenai pria yang disebut namanya Orion, mulai dicurigai oleh mereka.


“Ketua Dharmawangsa. Kita akan meilhat situasi di rumahku.” Meski Gista mengatakannya dengan tegas bahwa tujuan takkan berubah hanya karena salah seorang bawahan namun dalam benaknya ia berharap Endaru akan datang untuk Orion.