ORION

ORION
Kesepakatan Dengan Tuan Gerhana Bulan



Situasi ini cukup menegangkan. Dengan Orion yang sama sekali tidak dapat berkutik detik ini juga. Sekarang, hanya tersisa tatapan tajam dengan aura mencekam memenuhi ruangan, rasanya udara dingin seperti berdiam diri dalam balok es.


“Aku akan melakukan yang telah diminta oleh klien-ku. Sebagai sesama Saint, bukankah kita harus membantu? Meskipun terkadang ada kelompok yang tidak bisa diajak kerja sama.”


Posisi Orion masihlah tetap sama. Bertanya, “Apakah Phantom Gank juga ulahmu?” Ia sedikit menuduhnya, lantaran kejadian ini saling berbenturan.


Emblem Priest, Gerhana Bulan lalu Phantom Gank. Ketiga kelompok ini bekerja secara bersamaan, maksudnya mengincar Orion dalam waktu yang sama. Karena itulah Orion curiga.


“Apakah kau yang mengendalikan Phantom Gank? Ataukah Emblem Priest, Pak Ken-lah yang mengendalikan kalian berdua?” tuding Orion sekilas tatapannya menajam.


“Kami sama sekali tidak mengendalikan kelompok siapa pun. Justru kami saling membantu, karena itulah Saint ada,” ujar Tuan Gerhana Bulan.


“Lalu, kenapa Phantom Gank mengincar kami?”


“Ah, itu pasti karena Saint Ken sendiri. Dia mungkin juga meminta bantuan pada mereka. Phantom Gank, adalah kelompok orang yang bahkan dikenali oleh orang yang berada di pelosok suatu pulau.”


“Maksudmu, Phantom Gank bergerak pun karena Pak Ken. Yang hanya mengincar kami saja? Kenapa dia melakukan hal tak berguna seperti itu,” ketus Orion.


“Hei! Orion! Jangan terima diperlakukan seperti itu!” amuk Endaru yang tidak peduli dengan dirinya sendiri, sekarang di bagian leher Endaru terdapat beberapa goresan luka berdarah.


Orion memilih untuk tidak menanggapi Endaru. Sebentar ia melirik ke arah Endaru lalu kembali beralih pandang pada pria bertopeng hitam itu.


“Maafkan yang dikatakan oleh pria di sana. Dia hanya mengkhawatirkan situasi ini saja.”


“Aku mengerti.”


Tuan Gerhana Bulan, itu kemudian bangkit dari tempat duduknya. Ia berjalan ke arah sudut ruangan yang tidak bisa dilihat Orion. Ia memasuki sebuah ruangan yang mungkin saja kamar atau suatu ruangan khusus.


Di sana ia melepas topeng beserta dengan perban yang menutupi wajahnya. Menunjukkan luka lebam serta beberapa goresan tipis dan dalam di keningnya. Ia berkaca, sembari menghela napas melihat wajahnya yang buruk.


“Bos, tidak ada masalah?” Salah satu dari mereka bertanya.


“Iya. Tidak apa-apa.” Kemudian Tuan Gerhana Bulan itu keluar dari kamar dengan topeng di wajahnya.


“Kau tidak menunjukkan wajahmu?” tanya Orion sekaligus menyindir.


“Beginilah aku. Sebelum dipercaya, mana mungkin sembarangan lepas topeng yang adalah identitasku,” jawabnya dengan nada datar.


“Apakah ini harus berlanjut? Padahal kupikir kita akan bekerja sama dan saling bantu satu sama lain.”


“Yah, aku pikir juga begitu. Tapi kalian tidak memberikan informasi apa-apa mengenai pria ini. Dan aku juga tidak berniat tidak mengindahkan permintaan Saint Ken,” ujarnya seraya melipat kedua lengan.


Lantas Orion berkata, “Kalau begitu. Aku tawarkan apa yang kau inginkan. Maka dengan begitu amankan kepalaku sebisa mungkin dan aku juga akan meminta bantuanmu mengenai pencarian orang yang saat ini sedang aku cari.”


“Bagaimana?” imbuh Orion menunggu jawaban dari Tuan Gerhana Bulan.


Dalam lipatan kedua lengan ke depan dadanya, pria itu memainkan jarinya yang seolah mengetuk meja. Sejenak ia menghela napas, dan berpikir apa yang mungkin akan menjadi keuntungannya ketika menjalin sebuah hubungan pada Orion.


“Baiklah.” Pria itu menyunggingkan senyum tipis. Melanjutkan kembali perkataannya, “Yang kau tawarkan itu ada gunanya. Karena Saint Ken hanya menawarkan harta.”


“Ya. Tapi harta itu pun, kami memilikinya. Sedangkan kami menginginkan yang lebih berharga dari harta. Yakni, pria yang ada di atas kertas gambar ini,” ungkap Tuan Gerhana Bulan.


Ternyata pria itu segitu pentingnya bagi mereka. Namun Orion masih tidak dapat mengerti mengapa mantan rekan Chameleon ini dijadikan buron oleh para Saint di negara ini.


Cengkraman orang yang mengunci pergerakan Orion pun melonggar. Orion dilepas oleh genggaman Gerhana Bulan saat ini juga.


Malam pada pukul 10, hawa yang dingin seolah mencair. Walau semilir angin melewati celah jendela untuk masuk, tetaplah membuat tubuh Orion bergidik. Tak berselang lama Endaru pun dilepaskan. Ia tetap berdiri di belakang Orion selama beberapa waktu.


Tap!


Endaru kemudian mendekat pada Orion. Sembari melirik ke banyak orang yang mengepung mereka berdua, ia sangat berwaspada.


“Aku akan melukai kalian semua kalau berani macam-macam,” ancam Endaru membalasnya.


“Jangan Endaru. Kau sudah melakukannya saat di pelelangan Undergrown. Jadi jangan lakukan itu lagi,” pinta Orion sembari menatap wajahnya dengan serius.


Tatapan itu seakan berkata, "Jangan buat hidup kita makin susah. Apalagi dengan memperbanyak musuh sekarang."


Endaru pun terdiam memalingkan wajah yang kesal. Sebetulnya tindakan was-was Endaru itu juga diperlukan akan tetapi kalau diperlihatkan terlalu mencolok juga akan berdampak buruk. Karena mereka akan bertindak lebih cepat darinya.


“Jadi, aku ingin mengamankan kepalaku dan juga orang-orang yang bersamaku. Dengan mencari keberadaan pria ini, tapi aku tidak yakin bahwa dia akan datang ke negara ini lagi. Karena setahuku dia ada di negara kami, Ind.”


“Hm, ya. Itu juga menyulitkan. Kalaupun benar,” ujar Tuan Gerhana Bulan seraya berdeham dan menyangga dagunya.


“Apa maksudmu? Kau tahu sesuatu tentang keberadaannya?” tanya Orion, tiba-tiba merasa antusias.


Pikiran Orion merancu bahwa pemain kecapi itu sekarang mungkin telah berhubungan kembali dengan Chameleon. Tapi ini hanya sebatas kemungkinan, yang bisa saja hanya dugaan belaka. Sebab tiada bukti tertentu menunjukkan keberadaan pemain kecapi itu di negara sekarang.


“Soal itu aku akan beritahukan pelan-pelan.”


“Katakan saja sekarang. Maka aku akan mencarinya. Asalkan kau sendiri pun akan mencari pria yang sedang aku cari sekarang ini,” kata Orion terburu-buru.


“Oh, kalau begitu. Bisakah kau mengatakan sesuatu padaku siapa orang yang kau cari? Aku akan mencatatnya. Aku permisi sebentar,” ucap pria itu lantas kembali bangkit dari tempat duduknya.


Tuan Gerhana Bulan berjalan ke arah meja lemari yang ukurannya tidak terlalu besar namun memanjang hingga hampir menyentuh pintu.


Di salah satu laci meja lemari yang ada, ia tampak mencari sesuatu barang. Dan entah mengapa tindakan Tuan Gerhana Bulan mengingatkannya akan Mr. Iki Gentle.


“Aku jadi teringat, punggung pembunuh itu yang sedang mencarikan senjata. Hah, pikiranku kacau semenjak datang ke negara ini,” batin Orion. Tanpa sadar ia memejamkan mata selagi menghela napas panjang.


Kemudian Tuan Gerhana Bulan membalikkan badan seraya membawa suatu benda yang dibungkus dengan kain. Ia menaruhnya di atas meja, diletakkan di antara mereka berdua.


“Pria yang sedang aku cari ini sulit mengatakan bagaimana ciri jelasnya. Akan tetapi, dengan mencari pria yang seringkali berhubungan dengannya maka kau akan mendapatkan dia. Dan pria ini memiliki kumis tipis dan selalu membawa kotak panjang berupa alat pancing.”


Tuan Gerhana Bulan mengangguk selagi berkata, “Baiklah. Aku akan mencatat itu. Lalu, terimalah benda ini.” Ia kemudian menyodorkan sebuah senjata yang ada di balik bungkusan kain tersebut.


Senjata Api.