
Berita seorang wanita disebut kurang waras, tinggal dalam rumah seorang diri. Rumah itu tak lagi tampak seperti rumah, melainkan penjara untuknya. Sesekali para warga yang tinggal dekat rumah itu bertanya-tanya apa yang sebenarnya telah terjadi.
Tak sedikit orang mengerti bahwa penghuni rumah telah bangkit kembali. Termasuk para preman-preman kelas kakap yang mengincar darah setiap Pejuang NED yang ada kemungkinan itu adakah darah langka.
Grup Arutala berusaha menekan berita ini sebaik mungkin. Gista yang sedang sibuk mengurusi sesuatu, Mahanta akan mengambil alih tugas yang memberatkan ini.
Setelah mendengar kejadian itu dari Fani, Mahanta pun bergegas menuju ke rumah tersebut. Ia mengenakan pakaian dengan jubah tersampirkan. Terdapat juga bet bendera kecil di bagian lengan untuk menandakan bahwa ia adalah bagian dari pemerintah.
“Tuan Mahanta. Anda sampai datang kemari hanya untuk mengurusi masalah ini?”
Semuanya panik karena bawahan Gista turun secara langsung. Terutama wajahnya yang kesal, menunjukkan bahwa mood-nya sedang kacau.
“Berita sudah menyebar. Kita harus melakukan sesuatu, agar masyarakat tak lagi membicarakan hal ini.”
“Ah, Tuan! Wanita tanpa identitas itu baru bangkit sekitar 1 jam lalu. Dia tidak seperti yang biasanya, dia tidak waras!” Salah satunya mengungkap kondisi.
“Ya, baiklah. Aku cukup mengerti. Jangan sampai ada orang-orang berkerumun di dekat rumah ini!” Mahanta memberi mereka perintah.
Segera para anggotanya sibuk mengusir penduduk dekat sana. Setidaknya mereka cukup beruntung kalau wartawan belum sampai ke sini. Karena akan gawat kalau sekalinya tercium oleh mereka, maka bisa sama semuanya akan terbongkar ke depan publik.
“Serius deh, semua orang selalu penasaran. Padahal rasa penasaran bisa membunuh mereka dalam sekejap.”
Mahanta menggerutu seraya ia masuk ke dalam rumah dengan pintu yang terbuka lebar. Menunjukkan isi rumah dengan semus barang berantakan. Pakaian juga berserakan di mana-mana.
Tapi yang ada hanyalah pakaian milik pria. Tak ada satupun pakaian milik wanita. Ini sungguh membingungkan. Mahanta sepintas berpikir bahwa ini bukanlah rumah wanita itu.
Lantai dan dinding dipenuhi dengan debu. Jejak kaki dengan tanah di sekitaran lantai menuju ke suatu ruangan. Mahanta pun mengikuti jejak tanah itu dan sampailah ia bertemu seseorang.
Yang diyakini sebagai Pejuang NED. Waktu kebangkitannya sekitar 1 jam yang lalu. Wanita dengan sehelai pakaian yang kotor karena tanah, rambut panjang terurai berantakan.
Tap, tap!
Mahanta perlahan mendekat. Melihat wanita yang tengah duduk meringkuk seraya memeluk sebuah foto yang masih ada di dalam bingkainya. Sedikit ia terkejut ketika melihat ekspresi wanita itu, terkesan benci namun di sisi lain terdapat penyesalan yang begitu mendalam.
Raut wajah yang sulit dikatakan. Sulit diartikan.
“Nona, bisa mendengarku? Aku berbicara padamu sekarang.”
Mahanta mencoba untuk mengajaknya berbicara akan tetapi takbada respon sama sekali. Wanita itu diam dengan tubuh gemetar, meringkuk dan tetap memeluk foto seseorang.
“Nona?”
“Tuan, berhati-hatilah!” pekik salah seorang anggota yang ikut masuk ke dalam rumah.
Sraaaa!!!
Baru saja dibicarakan, setelah anggota itu berteriak keras padanya, sesuatu datang dari arah belakang. Hitam legam dan merayap-rayap ke langit-langit rumah seperti serangga.
Wanita yang sebelumnya tidak berkata apa-apa. Kini ia menatap Mahanta dengan sorot mata yang tajam.
Lalu ia berkata dengan suara yang menggaung ke seluruh ruangan, “Jangan ganggu aku!”
Duk! Tiba-tiba saja udara di sekitar Mahanta kian menipis. Sorot mata yang berhasil menatapnya, sesaat Mahanta merasakan ada sesuatu yang menyakiti dirinya.
“Tuan!”
“Dia bilang, kekuatannya mengendalikan mental! Tapi apa ini? Aku justru merasakan hal lebih dari sekadar itu.”
Mental terkikis, kesadaran perlahan menghilang serta pandangannya memburam seiring waktu. Getaran kuat ke sekujur tubuhnya membuat Mahanta tak dapat bergerak bahkan untuk mengerakkan satu jari pun.
Sontak, banyak anggota yang berduyun-duyun datang dan masuk menghampiri Mahanta. Tetapi, apa pun yang berusaha mereka lakukan itu sama sekali tak berguna.
Pikiran Mahanta entah melayang ke mana. Terlihat ia seperti dikendalikan oleh wanita yang masih menatapnya dengan tajam.
“Lakukan sesuatu untuk membuatnya mundur. Dan jangan sampai menatap matanya ataupun sosok yang di bekakang!”
“Jika tidak bisa ditahan. Akan lebih baik kita bunuh saja!”
Tap! Mahanta menepuk pundak anggotanya yang berbicara seperti itu.
“Ini cuman kendali luar batas dari kemampuannya. Cukup, sudahi omongan kosong kalian sekarang!” pekik Mahanta.
Sontak semua anggotanya terkejut. Mahanta kembali sadar, dan segera ia meraih pundak wanita tersebut.
Tanpa melihat sorot matanya yang menukik tajam. Mahanta akan melakukan sesuatu terhadap wanita tersebut.
“Tuan, apa yang Anda akan lakukan?”
“Sudah, jangan berisik,” ucapnya dingin.
Angin berpusat pada satu titik. Hamparan menerpa ringan mereka semua tak terkecuali dengan Mahanta. Ia kini menggunakan kekuatan tenaga diliputi oleh angin.
Swoshh!!
Dorongan yang tak berlangsung cukup lama. Seberkas angin merasuk ke dalam tubuh wanita itu. Semula menatapnya tajam berubah menjadi lebih tenang. Perlahan, kesadarannya hilang.
Bluk! Mahanta menangkapnya dan mencoba untuk memeriksa keadaan wanita itu dengan hati-hati.
“Jantungnya sudah berdetak seperti semula.”
“Eh? Apa yang Anda maksud?”
“Tadi aku 'kan sudah bilang. Dia ada pada di luar batas kekuatan yang bisa dikendalikan. Karena itulah, segala hal yang tercipta dari memorinya yang masih bersangkar menjadikannya nyata,” jelas Mahanta.
“Apakah itu sejenis tipe ilusi?”
“Tidak. Itu berbeda. Tipe ilusi yang kalian katakan itu berbeda dari bayangan kalian selama ini. Karena tipe ilusi itu dapat memanipulasi dan menerima ingatan lalu mengendalikan sehingga memberi dampak yang lebih dari ini.”
“Itu artinya ...”
“Kurang lebih mirip seperti yang dikatakan Nona Fani. Mengendalikan lawan, lebih tepatnya emosi yang sedang naik turun,” tutur Mahanta.
Meski semuanya sudah mendengarnya tapi ada satu poin penting yang tidak mereka mengerti. Itu membuatnya terdiam dan penuh tanda tanya di kepala mereka.
Tak lama Fani masuk ke dalam dengan perasaan ragu. Ia sedikit berwajah sepat tapi tetap melangkah, menghampiri Mahanta.
“Jadi, perkiraan saya agak meleset?” celetuk Fani.
Mahanta menganggukkan kepala lalu menjawab, “Ya. Karena aku sedang dalam kondisi emosi yang kurang stabil. Jadinya aku gampang terpengaruh.”
“Saya pikir itu sama saja.”
“Tidak, itu sangat berbeda. Mental itu mempengaruhi keadaan pikiran, kadang ada orang yang terbebani karena suatu kejadian dan membuatnya bertindak impulsif. Kalau kita membicarakan emosi, tentu itu berasal dari hati.”
“Oh, kalau begitu apa yang sedang Anda Khawatirkan sekarang?” tanya Fani.
“Orion, dia masih belum sadar,” jawab Mahanta.
“Saya mengerti.”
“Lalu, kenapa kau berpikir itu mental?” Mahanta bertanya.
“Karena ada salah seorang anggota saya yang menjadi gila saat bertatapan dengannya,” jawab Fani.
“Ah, itu pasti karena wanita ini terlihat menyeramkan. Kalau begitu cepat bantu aku membawanya.”