ORION

ORION
Makian Jhon, Amarah Orion Tersulut Kemudian



Orion kembali lewat jendela yang sama. Setelah masuk, salah seorang yang hendak masuk ke toilet itu pun jadi kaget.


“Maaf.”


Hanya satu kata itu yang bisa Orion ucapkan lalu pergi seolah tidak terjadi apa-apa. Di rumah sakit, di mana-mana selalu ada bau antiseptik dan sejujurnya bau ini sangat menjijikan. Membuat Orion tidak tahan, kalaupun ingin pergi ia justru terpikirkan dengan kata-kata pria tua itu sebelumnya.


“Darah yang membuat orang terlena. Patuh dan bertekuk lutut. Tapi entah kenapa kalau bagiku, darah ini sungguh pengecut. Yang hanya bisa lari ketika merasakan bahaya atau membunuh jika dirasa bisa,” gumam lirih Orion.


Sembari berjalan kembali ke arah kamarnya, lagi-lagi ia bertemu dengan salah seorang suster yang tampak ia mondar-mandir di depan kamarnya.


“Saya di sini. Tidak perlu cemas,” kata Orion memanggilnya.


“Ah, syukurlah! Aku datang untuk mengecek kondisimu lagi, tapi ke mana saja kamu?”


Suster ini yang selalu bekerja merawatnya, ia juga yang pernah menyaksikan Orion tengah berdiri di jendela dan membuatnya takut.


“Saya sudah baik-baik saja. Jadi mungkin sudah tidak diperlukan,” ucap Orion sambil tersenyum.


Suster itu pun memegang dahi Orion dan merasakan bahwa suhu tubuhnya sudah kembali normal. Tidak seperti beberapa jam yang lalu.


“Tidak bisa hanya dengan begini. Tulang, detak jantung dan napas harus ...”


“Berkat Dr. Eka, saya sembuh total. Jika orang tua saya datang, mungkin saya akan pulang. Dan ...ah, ya! Saya sudah dapat ijinnya,” ucap Orion melantur.


Suster itu menghela napas panjang. Ia meragu akan perkataan seorang anak kecil, namun dirinya teringat oleh perkataan Dr. Eka yang mengatakan bahwa Orion memiliki pemikiran yang matang, dewasa, sehat dan anak yang lincah.


“Baiklah. Tapi tidurlah untuk sekarang. Orang tuamu akan menjemput, jadi setidaknya istirahatlah sebentar.”


Setelah kepergian suster itu, Orion pun membuka pintu kamar dan melangkah masuk.


Brak! Seseorang menggebrak pintu hingga kaki Orion terjepit. Ia menoleh ke belakang dan melihat seorang pria dengan masker hitam.


“Jhon, kenapa kau ada di sini?” tanya Orion dengan ketus, jengkel setiap kali melihat bocah sok angkuh seperti ini.


“Harusnya aku yang tanya. Kenapa pula kau ada di sini, sudah begitu masih hidup pula?”


Jhon melangkah mundur, segera Orion membuka pintu dan sengaja membiarkan Jhon masuk ke dalam kamarnya.


“Jadi, apa yang kau inginkan? Aku yakin saat itu kau terluka dan sulit bertarung ke depannya,” pikir Orion.


“Heh, sombong. Kau pikir hanya dengan melukai pundakku, aku akan tumbang semudah temanmu itu? Jangan sok kepedean,” sahutnya mengejek.


Kedua mata Orion terbelalak kaget. Mendengar perkataan Jhon, itu artinya mengarah pada Mahanta.


“Di mana Mahanta?! Pria itu di mana?” tanya Orion meninggikan suara.


“Menurutmu?”


Jhon menatapnya dengan kening berkerut, seraya ia mendekatkan wajah padanya. Memperlihatkan luka-luka sayatan yang cukup dalam di bagian wajah.


“Aku hanya mengolesi wajahku dengan salep, karena diperban akan menghalangi pandanganku. Tentunya kau tahu, kenapa aku begini dan tetap hidup sekarang.”


Bagian wajah yang tersayat menampakkan daging kemerahan yang masih cukup jelas untuk dilihat dari dekat. Bekas serangan semacam terkena senjata tajam nan tebal seperti itu, sudah jelas karena serangan berkekuatan angin milik Mahanta.


Siapa lagi selain dia, semenjak malam kemarin mereka bertemu dan membuatnya terpisah.


“Ah, sepertinya kau sudah sembuh total. Jangan bilang, kau sudah bertemu dengan Dr. Eka, ya?” celetuk Jhon seraya berputar mengelilingi tubuh Orion.


Sungut-sungut api kian meninggi. Emosi Orion memuncak ketika Jhon secara tak langsung mengatakan bahwa Mahanta tiada. Ia sulit mengendalikan emosi di kala usianya yang semakin tua (usia asli 50tahunan).


“Wah, sepertinya kita tidak bisa bicara lagi.”


Sekelebat bayangan muncul secara tak beraturan. Terbang ke manapun hingga akhirnya menutupi lantai serta dinding-dinding di sekitar. Yang kemudian berhenti bergerak saat ujung-ujung bayangan menukik ke bawah dari langit kamar.


“Mahanta itu pria kuat. Meskipun aku tidak tahu seberapa besar kekuatannya, namun bisa aku terka.”


Ujung-ujung dari setiap bayangan yang dibuat mengarah pada Orion dan apinya. Bayangan hitam pekat itu semakin tebal mengingat Orion tengah berpijak pada lantai.


“Jadi, maksudmu dia lebih kuat dariku?” sahut Jhon.


“Ya, tentu saja,” ucap Orion yakin namun ia masih larut akan perasaan kesalnya.


Sesosok pria yang ia kenal telah mati karena ulah seseorang? Kenyataan itu sulit dipercaya, bahkan membunuh seolah adalah hal lumrah itu ...


“Hm, tapi seingatku dia sudah terbaring lemas dengan bersimbah darah di sana. Yah, paling dia sudah jadi makanan anjing liar,” ucapnya merendahkan.


“Semakin lama kau semakin membuatku kesal. Kalau kau mengincarku, maka jangan pernah sentuh orang lain dengan tangan kotormu itu,” ketus Orion.


Orion mengepalkan kedua tinju, amarahnya semakin tersulut begitu juga dengan api yang terus membakar seakan-akan minyak dan arang tertumpuk di dalamnya.


Tertuang di api besar, dan membuat api semakin membesar layaknya mahluk bernyawa.


“Mahanta, dia cuman pengganggu. Dan sekarang giliranmu!”


Jhon mengangkat tangan tinggi-tinggi, seketika ujung dari setiap bayangan yang terbentuk kian menajam runcing dan menebal.


Crak! Crak! Crak!


Seperkian detik, semua ujung yang runcing itu turun ke bawah dan menghujam lantai serta tubuh Orion hingga tubuh Orion tak terlihat karena tertutup oleh semua bayangan itu.


Jhon berdiri tepat di belakang Orion dan hanya berjarak sekitar 20 cm darinya. Tentu ia terkena dampak serangannya sendiri namun itu semua lenyap dan tertelan ke dalam tubuh Jhon sendiri.


Api Orion padam begitu semua bayangan menghujam tubuhnya namun tak berselang lama setelah itu, api kembali hidup dan memotong bayangan dengan belati merah yang melekat pada salah satu lengannya.


Semua bayangan kembali ke tubuh Jhon dan tiada satu hujaman yang merusak lantai kecuali tubuh Orion yang tergores di setiap bagian tubuhnya.


Secara berangsur-angsur, api itu padam karena Orion sendiri serta bilah tajam itu meleleh seperti darah.


“B*j*ng*n! Bocah ini sepertinya belum apa-apa sudah menatapku begitu, padahal sudah terluka parah. Masih beruntung kau mendapatkan perawatan darinya,” kecam dan cerca Jhon kepadanya.


Dengan sorot mata yang tajam, Orion melirik ke arahnya. Emosi Orion memuncak setelah anak muda ini memaki dirinya.


“Hei, nak. Jaga bicaramu terhadap orang tua!” pekik Orion menasihatinya. Namun dengan perasaan kesal, amarah selalu tersulut bahkan sampai wajahnya terlihat menakutkan seperti itu.


Dengan kedua alis ditekuk, sudut bibir dan mata yang datar. Orion berbicara dengan tegas ketika menasihatinya.


“Hah? Nak? Apa yang kau bicarakan? Dasar bocah!” ketus Jhon kesal seraya membuka masker hitamnya.


Orion adalah seorang pria tua, lansia. Kakek-kakek dengan rambut memutih, harusnya. Sekalinya dibuat marah dan membuat hati sakit, maka tiada ampun untuk memaafkan seseorang yang membuatnya begitu.


Kecuali lulus kualifikasi.


“Dasar anak kurang ajar!”