
Banyak hal telah terjadi setelah Chameleon muncul. Selama beberapa tahun ia diburu habis-habisan oleh Organisasi utama NED namun pada akhirnya selalu berujung kegagalan serupa.
Tidak lain adalah karena kekuatannya yang melebihi batas fakta dari dunia itu sendiri. Bahkan hukum pun dibuat runtuh olehnya dalam sekejap.
Apalagi, lingkaran yang bahkan tidak pernah muncul itu kini muncul usai pertarungannya dengan Orion Sadawira. Salah seorang pria yang sejujurnya mampu menekan kekuatan Chameleon sendiri.
Dak!
Orion memukul dagu lantas menarik lengan Chameleon dan membantingnya ke tanah. Untuk beberapa saat Chameleon tak bergerak dan kemudian menghilang dalam kabut.
Lengan berapinya pun membeku ketika kabut menyelimuti dirinya. Es yang tampak sangat berkilau terang di bawah rembulan malam itu perlahan menjalar ke tubuh Orion.
“Sampai saat ini aku belum pernah bertemu dengan orang yang seg*la dirimu! Chameleon!”
Dar! Dar! Dar!
Begitu Orion melayangkan tinju dan dapat ditahan oleh kedua tangan Chameleon, terjadi ledakan beruntun hingga menghancurkan jalanan yang berada di belakang diri Chameleon.
“Orion! Kalau kau tidak membunuhku maka semuanya akan ku buat hancur lebur!”
WUUUNG!!
Gelombang suara keluar dari tubuh Chameleon. Suaranya yang begitu nyaring hingga memekakkan telinga semua orang. Beberapa saat setelahnya, udara di sekitar mereka semua kian menepis, dan kedua kaki mereka pula semakin lama semakin berat hingga menghancurkan jalanan.
Gelombang suara, angin, serta kendali gravitasi yang kuatnya bukan main, itu semua dapat Chameleon gunakan dengan mudahnya.
“Dasar! Kau!!” teriak Orion.
Habis sudah emosi yang telah lama terpendam ini. Jubah anti apinya jatuh, seketika Orion melayangkan tinju dengan tangan kanannya.
Sekuat tenaga ia layangkan dengan api yang mengitari ke sekeliling tubuhnya.
“YA! ORION!” Chameleon menerima tinju Api Abadi tersebut. Berlapang dada dan membiarkan tubuhnya terbakar oleh api.
Di saat yang sama, ruangan ini bergetar kuat. Seolah-olah terjadi gempa yang begitu dahsyat sehingga semua orang teralihkan dalam beberapa waktu.
“Jangan kaget, kau pikir aku akan mati?”
Clak! Clak!
Ibarat seseorang tengah berlarian di atas genagan air. Air hitam yang berkecipak datang dari segala arah menuju ke arah Orion. Di samping kekuatan pemisah ruang sudah tak sanggup lagi untuk mempertahankannya, Chameleon justru semakin kuat.
Pria yang berada di luar. Yang menggunakan kekuatan pemisah ruang tersebut kini telah bersandar pada dinding dengan napas tersengal-sengal. Ia juga sempat merasakan sesak beberapa kali, seolah ia berada dalam kedalaman lautan.
SRAK!
Dalam waktu singkat ketika bayangan hitam hendak menerkamnya, dinding es muncul tepat waktu. Gista menolong Orion tepat waktu. Lantas Orion membakar semua bayangan itu dengan Api Abadi.
“Bagus! Bunuh saja!” Karura berteriak kencang.
“Apa-apaan kau?! Jangan banyak bicara! Kau itu berisik sekali sih!” sahut Orion semakin kesal.
Api berkorbar dahsyat. Api itu kemudian lenyap ketika guncangan pada ruangan ini berhenti.
“Ke mana lagi dia?” Orion kembali bertanya-tanya mengenai keberadaan Chameleon.
Di satu sisi yang sama, Gista mereplika banyak pedang ilusi dengan sifat yang sama. Menggunakannya secara langsung dan bersamaan pada semua rekan Chameleon.
Sehingga mereka takkan luput dari jangkauan serang Gista yang kini sudah berada dalam pengaruh ilusi milik Gista.
“Teknik memperluas jangkauan serang.” Gista menyebutkan seraya berdiri dengan pedang di tangan kanan lalu mengayunkan tangan kiri dengan jari-jemari yang dirapatkan.
Terpaan angin dingin di malam hari seketika membekukan tubuh rekan Chameleon dalam waktu singkat. Kilau dari setiap sudut kristal es terlihat sangat indah, terutama saat berada di bawah langit malam.
“Hei!” Ketua Irawan kembali memanggilnya sembari mengguncangkan tubuh Orion sekuat tenaga.
“Uh, iya ...ada apa?” tanya Orion setelah sadar kembali.
“Ruangan ini akan segera hancur. Tampaknya ada sesuatu di diri Chameleon sampai membuat batas waktunya semakin singkat.”
“Apa?”
PRANG!
Tidak ada tanda-tanda mulai retaknya. Justru hancur berkeping-keping begitu saja. Segera mereka menghindar dari area sana karena di dunia nyata pasti mereka akan berhimpitan dengan banyak orang.
Saat itu keramaian di Pasar Malam semakin membludak parah. Suara bising di mana-mana terdengar dari sisi kanan dan kiri Orion. Lantaran Orion yang terlambat bereaksi itu berada di tengah-tengah kerumunan.
“Ngomong-ngomong aku masih terpikirkan sesuatu.”
Ada hal yang menganggunya saat ini. Yakni Ade yang pernah mengatakan bahwa Ade bertemu dengan seseorang yang mengaku sebagai temannya.
“Itu benar Orion,” bisik seseorang dari belakangnya.
Terkejut, Orion lantas menoleh dan berusaha mencari seseorang yang ia sedang incar saat ini. Tidak lain adalah Chameleon. Yang sedikit-sedikit muncul lalu menghilang begitu saja.
Orion masih terdiam dalam posisinya, membiarkan tubuhnya secara tak sengaja ditubruk oleh beberapa orang. Juga ia masih menahan rasa sakit karena batang besi kecil yang sebelumnya menusuk tubuh Orion.
“Kira-kira apa yang akan terjadi jika salah satu orang tersayangnya apalagi keluarga telah diambil oleh seseorang asing, ya?”
“Kau! Chameleon! Di mana kau?!”
Beberapa waktu Chameleon terus mengoceh yang tidak dimengerti oleh Orion. Sementara Gista sedang bersembunyi di balik salah satu dagangan di sana sembari menggosokkan kedua telapak tangannya dan meniup-niupnya agar cepat hangat.
Lalu Gista menghela napas panjang dan mulai mengeluarkan teknik memperluas jangkauan serang. Lapisan es muncul, menjalar cepat menutupi jalanan bertanah.
Uap dingin serta kepingan es pun terlihat berjatuhan dari langit. Dan Gista semakin merasakan kedinginan yang menjalar.
“Nona Gista, Anda tidak perlu mengeluarkan teknik yang sama untuk yang kedua kalinya,” tutur Mahanta dengan wajah gelisah.
“Tapi Mahanta, anak perempuan yang bernama Madeira itu sepertinya sudah tidak aman lagi,” kata Gista.
“Apa maksud Anda?”
“Jadi, Orion harus ...huh, aku tidak tahu apa yang sebenarnya direncakan oleh Chameleon. Aku sudah bosan dengan pertarungan jangka panjang ini,” keluh Gista.
Drap! Drap!
Derap langkah kaki yang samar-samar terdengar di balik setiap gerobak dagangan yang ada. Salah seorang berlari dari sisi kiri dan satunya lagi berlari dari sisi kanan.
Chameleon kembali muncul dengan wujud Dicky. Dan dengan bayangan hitam, ia mengendalikannya dan membuat bayangan-bayangan mengitari tubuh Orion.
“Kya!! Apa itu?!”
“Gawat!”
Orion lantas berlari sebelum Chameleon melakukan sesuatu hal buruk lagi. Jika insiden yang sama telah terjadi kembali, maka situasinya akan semakin kacau. Dan Orion yang tengah berlari di antara banyaknya orang, tidak mau hal buruk itu terjadi.
“Ugh! Dia benar-benar mengejar, 'kan? Jangan sampai dia mengusik orang biasa,” gumam Orion berdecak kesal lantas mempercepat langkahnya.
TAP! TAP!
Dua langkah terdengar dari sisi kanan dan kiri Orion begitu Chameleon yang sebelumnya mengejar dengan wujud bayangan kembali ke wujud Dicky.
Ketua Ganendra dan asisten Ketua Meera itu bergerak bersama dalam hitungan detik mereka melayangkan pukulan di titik buta Chameleon.