
Jinan yang kehilangan kail pancing karena Endaru, ia lantas bangkit dan tetap memegang alat pancingannya.
Tak!
Sembari melepas gulungan benang pada pancingan tersebut, Jinan berkata, “Tak jadi masalah buatku kehilangan kail pancing yang berharga. Bahkan dengan tombak pun aku masih dapat memancing ikan.” Begitulah kata puitis itu keluar dari mulut Jinan.
Orion dan Endaru tampak berwaspada. Mereka takkan melepaskan pandangan terhadap Jinan, musuh yang berada di hadapan mereka. Di satu sisi lain, Orion pula menatap tajam pada Endaru yang hendak mengeluarkan kekuatan gravitasinya.
“Baiklah, aku mengerti.” Endaru mengatakannya dengan lirih.
Jinan tersenyum memandangi Orion meskipun dalam benaknya ia sedang menahan rasa takut karena Endaru yang juga berada di sisi Orion.
Kemudian gulungan benang itu sengaja dijatuhkan dari tangan. Menggelinding pelan, lantas Orion berteriak untuk menjaga jarak dari Orion sendiri.
SRAK! SRAK!
Ujung benang tiba-tiba bergerak dan kemudian menempel ke bagian kursi penumpang. Hingga benang itu habis, membentuk zig-zag menempel dari sudut ke sudut dalam gerbong kereta.
Seketika pergerakan Orion, Endaru dan Dr. Eka terkunci. Dr. Eka yang hanya duduk di kursi itu, sehelai benang nyaris menyentuh bagian leher begitu pun dengan Endaru dan Orion yang tengah berdiri.
Hal itu tiba-tiba terjadi begitu saja. Jinan berekspresi seolah ia menang secara tuntas dengan helai benang miliknya.
“Jangan sentuh, Endaru!” pekik Orion, lantas jari Endaru yang hendak menyentuh bagian benang pun berhenti dengan terkejut.
“Ternyata kau masih khawatir dengan rekanmu, ya. Padahal saat ini ada seseorang yang sedang menunggumu untuk diselamatkan,” sindir Jinan seolah Orion takkan mampu menyelamatkan seseorang yakni anak perempuannya sendiri.
Blaarr!
Berawal dari percikan api keluar dari lengan kanannya. Orion kemudian membuka sarung tangan serta jas miliknya. Lengan kanan berapi itu menyala, berkobar-kobar dengan warna mewahnya.
“Benang ini tak cukup untuk membunuhmu. Paling tidak, kau harus selevel dengan Endaru.” Orion menghapus semua benang dengan tangan berapi itu. Api Abadi melenyapkan semua benang dari hadapannya begitu mudah.
Tap, tap!
Tepat ketika ia melangkah cepat, benang milik Jinan kembali ke bentuk semula. Sehingga Orion berhenti melangkah, dan terjebak untuk yang kedua kalinya.
“Benangnya kembali utuh?” Orion terkejut.
“Sayangnya tidak. Karena benang milikku sudah tersebar ke gerbong ini. Pasti matamu tertipu lagi.”
Terlihat Jinan memegang kedua ujung benang. Ia juga menariknya dan membuat helai benang menjadi kaku dan kencang. Sekali gores saja maka lukanya akan cukup fatal, karena benang baja lah yang kini Jinan kendalikan.
Syat! Syat!
Beberapa kali Orion memotong setiap helai benang yang ada. Benang itu terus bermunculan seakan membuat perisai untuk Jinan.
Api Abadi serasa tidak berguna. Meskipun begitu, Orion terus membakar setiap sisa helai benang. Jinan menyadari bahwa itu akan mengurangi sisa benang yang ia miliki, ia kemudian bergerak ke samping kanannya, berada dekat dengan posisi Dr. Eka.
Setiap helai benang pun terputus begitu Jinan menyingkir dari hadapan Orion. Tidak lama, Jinan mengayunkan kedua lengan membentuk benang sebagai cambuk.
Ctak!
Sekali sabetan ke lantai kereta, itu jelas sangat membekas. Bentuk goresan dari benang baja, seolah Orion berhadapan dengan senjata tajam yang besar.
“Aku tidak menginginkan hal ini. Tapi apa boleh buat, karena aku pun juga tak mau mengulur waktu,” ucap Jinan. Ia lantas kembali membuat benang menjadi zig-zag ke setengah gerbong.
Orion berlari ke arahnya selagi membakar helai benang, terkadang helai benang menyangkut siku tangan dan kaki juga terkadang menyayat wajah atau setiap bagian tubuhnya.
Setiap tetes darah yang tumpah, segala goresan luka pun tak terhitung.
“Setiap kali kau lah yang menganggu. Padahal Chameleon hanyalah mengincarku! Bukan anak itu!” sahut Orion seraya mengayunkan senjata, Jinan menyilangkan kedua lengan ke depan dengan benang-benang yang terkumpul.
Gerakan Orion terhenti sepenuhnya, ketika pintu dari gerbong di belakang Jinan itu terbuka. Ia pun menyembunyikan lengan kanannya serta meleburkan pedang merah.
“Oh, ada apa ini?” Petugas dalam kereta bertanya dengan wajah kebingungan.
Tap!
Orion meraih tangan Jinan yang hendak memegang tubuh petugas tersebut. Lantas Endaru bergerak cepat ke arah mereka lalu menjauhkan petugas itu dari Jinan.
“Ternyata kau sama saja seperti Chameleon,” ucap Orion menatap tajam Jinan. Mengeratkan cengkraman pada pergelangan tangan Jinan sekuat tenaga.
“Tentu!” Jinan menyeringai tipis, lantas melepaskan genggaman Orion yang kemudian ia meninju wajah Orion.
Buk!
Namun berhasil Orion tangkis dengan punggung tangan. Jinan melangkah mundur, Orion kembali mengejar.
“Pak, jangan ke sini.” Endaru berkata lalu mendorong masuk petugas itu. Menutup kembali pintu gerbongnya.
“Ya, ampun. Pertarungan tidak ada habisnya. Apakah seharusnya aku tidak ikut saja?” gumam Dr. Eka. Ia juga menggerutu akan tetapi sudah terlanjur ikut bersama mereka.
Duak!!
Gerbong kereta sempat berguncang dalam beberapa waktu ketika kaki kanan Orion menghantam lantainya. Padahal sedikit lagi Orion dapat menyerang Jinan sekalipun hanya dengan kekuatan fisik saja.
“Jangan lupa ini di mana. Kau tidak bisa menggunakan apimu karena takutnya akan menyambar hingga gerbong lainnya. Tapi berbeda denganku yang menggunakan benang baja saja.”
Jinan tertawa kecil seraya mengangkat kedua bahunya. Ia mengatakan semua yang ia ingin katakan, celaan atau sejenisnya pun dilontarkan dengan mudah seperti membuang sampah.
“Kau benar-benar pria yang tidak bisa diajak bicara,” ucap Orion.
Melayangkan setiap pukulan dan terus ditangkis oleh Jinan seorang diri. Jinan kemudian menggunakan benang, mengikat salah satu pergelangan kaki Orion.
Sret!
Langkah kaki Orion yang terikat oleh benang baja itu terseret ke depan. Hampir ia jatuh terjungkal ke belakang.
Kesal, Orion membalas serangan dengan sengaja ia menyeret kaki yang dalam kondisi terikat benang itu ke belakang. Sekaligus menarik Jinan.
Jduak!
Orion mengangkat lutut setinggi-tingginya lalu menendangnya dengan lutut mengarah ke dagu Jinan. Sontak Jinan yang tak dapat bereaksi itu nyaris pingsan.
“Kebiasaan,” ucap Jinan kembali menyeringai. Kaki kanan Jinan melayang ke arah Orion, pun ditangkis dengan lengan kanannya.
“Jangan bicara lagi,” sahut Orion mencengkram kerah pakaian Jinan sembari menatap tajam.
Setelah itu, Orion menjatuhkan tubuh Jinan seraya menangkap tangan Jinan.
“Kau lupa aku ini bisa mengendalikan apa?” Jinan berkata, beberapa benang pun kembali bermunculan dan mengikat tubuh Orion.
Kemudian Jinan menendang tubuh Orion yang tak berdaya.
“Pada akhirnya kau tetap kalah, benar?”
“Tidak.” Dengan santai Orion menjawab. Semua benang kembali terbakar.
Salah satu kaki Jinan menghitam karena lengan kanan Orion barusan. Itu membuatnya setengah rugi. Sementara kereta terus berjalan di atas rel, di antara mereka tampak takkan berhenti bertarung.
Di sela-sela suara klakson kereta berbunyi Orion berkata, “Bisakah aku bertanya padamu, di mana anak itu?”