
Seorang pria mendatangi Ade dari depan langsung. Padahal sebelumnya hanya ada jalan yang gelap saja, tapi pria itu tiba-tiba muncul dan membuatnya terkejut. Reflek Ade melangkah mundur dalam ketakutannya.
“Aku tidak akan berbuat macam-macam. Aku hanya bertanya apakah ada seseorang yang kau benci? Oh, maaf.”
Setelah beberapa saat kemudian, asap yang sebelumnya keluar dari mulut pria itu pun pergi entah ke mana. Terlihat pria itu membuang sesuatu benda.
“Mungkin akan lebih baik jika aku mengganti pertanyaannya. Kalau begitu, siapa orang yang sangat ingin kau bunuh?” imbuhnya bertanya pada Ade seorang yang tengah mengumpat di balik beberapa kotak kardus yang tersusun di rak besi paling bawah.
“Tidak. Aku tidak tahu!”
Drap! Drap!
Ade tiba-tiba berlari lantaran ia sangat ketakutan menghadapi pria asing tersebut. Berharap ia tak dikejar justru orang itu berada persis di belakangnya.
“Hei, kau!” panggilnya sedikit meninggikan suara.
Ade terus berlari sepanjang waktu, terkadang melirik ke belakang dan kembali fokus ke jalanan yang ada. Ia kemudian menggeser kotak kardus yang berada di rak besi itu. Berniat menghalangi jalan pria asing namun sayangnya itu tidak membuahkan hasil.
“Dia bisa melewatinya. Padahal kotak kardus itu cukup besar. Ataukah seharusnya aku bersembunyi di dalam sana?” gumam Ade yang tetap berlari.
Ia berbelok ke kiri dan menemukan rak besi yang longgar tanpa.ada satu pun barang di sana. Ade bergegas melompati rak besi itu untuk pergi ke jalanan lain.
“Tapi pria itu bisa lewat ke sini. Ah, sudahlah, aku akan berlari saja lalu bersembunyi.”
Pria yang datang mengejar Ade ialah Mr. Iki Gentle. Belum diketahui memiliki motif apa sehingga berani menanyakan sesuatu pada Ade yang bahkan membuat Ade sendiri ketakutan.
“Perempuan itu memang tidak bisa diremehkan ya. Padahal aku cukup yakin juga kalau dia akan menjawab pertanyaanku,” gumam Mr. Iki yang berhenti mengejar.
Saat itu Mr. Iki sudah mengetahui jalur kaburnya Ade namun entah kenapa dirinya seperti dengan sengaja membiarkannya berlari lebih jauh terlebih dahulu, barulah Mr. Iki Gentle mengejar.
Pria itu berlari tanpa melewati celah dari rak besi seperti Ade. Ia tetap mengikuti jalanan di antara banyaknya rak besi besar tersusun dalam ruangan di bagian tengah ini. Jadi terkesan seperti jalan berlika-liku atau bahkan labirin.
“Jangan mendekat!” teriak Ade menggaung ke ruangan.
Klontang!
Tak sengaja langkah Ade tersandung karena sebuah tongkat besi yang bersandar pada dinding. Karena gelap, Mr. Iki nyaris jatuh terpeleset karena tongkat besi yang menggelinding ke arahnya.
Dang!
“Aduh!” Ade menjerat kesakitan setelah ujung kaki kanannya membentur sesuatu yang keras.
Ade tidak bisa memikirkan kakinya sekarang, sebab Mr. Iki sudah berada di belakangnya lagi. Mr. Iki menggapai Ade dengan tangannya, namun sebelum itu Ade menepis dan kembali berlari dengan kaki yang sakit.
Kaki Ade yang terluka membuatnya terhambat untuk berlari sehingga ia tidak bisa berlama-lama berlari seperti ini terus-menerus.
“Hei, kau! Aku hanya ingin bertanya dan pertanyaanku masihlah sama. Kenapa kau tidak menjawab?” tanya Mr. Iki Gentle yang pada saat itu berhenti mengejar lagi.
Ade menghirup napas dalam-dalam sesaat sebelum berteriak, “Kalau begitu, seseorang yang ingin aku bunuh adalah kau!”
Drap! Drap!
Ade tetap memaksakan diri untuk terus berlari di samping kakinya sulit digerakkan karena beberapa jari kaki yang terus mengeluarkan darah dan membuat sepatunya basah. Ia pula menggunakan rak besi untuk mempertahankan posisinya.
Berlari tanpa arah dilakukan secara tidak sengaja dan tidak sadar, sehingga Ade terpojok ke sudut ruangan.
“Di mana pintunya?” Ade meraba-raba bagian dinding tuk menemukan pintu namun tak berhasil ia temukan.
“Aku ingin bertanya. Kenapa kau malah melarikan diri dariku?” Di samping itu Mr. Iki berjalan santai menghampiri Ade.
SWOOSH!
Angin kencang datang dari pria itu hingga melewati Ade. Semula ia tak merasakan apa-apa selain angin berembus, tapi ketika ia menoleh ke samping di mana angin itu mendarat, dinding telah berlubang.
Tubuh Ade gemetaran takut, tak dapat bicara apa-apa selain menghindar dari tatapan Mr. Iki yang begitu menakutkan dan mengintimidasi rasanya.
“Sesuai perintah Chameleon, aku tidak akan melukaimu sedikit pun.”
Tap!
Mr. Iki berpijak di lantai yang sama. Berhadapan dengan Ade dalam jarak sedang. Suara ketika Mr. Iki itu melangkah terdengar sedikit menggaung ke sekitar.
“Nah, sekarang. Aku sebagai kepribadian diri sendiri ingin bertanya padamu. Tentunya kau punya orang yang kau benci, tetapi selain diriku,” ujar Mr. Iki.
“Aku tidak tahu apa yang paman bicarakan. Lagi pula orang yang aku benci adalah orang yang menakutkan bagiku. Lalu paman lah yang menakuti diriku, bahkan membawaku ke sana dan kemari bersama orang sinting itu!”
Ade memberanikan diri dalam mengutarakan isi hatinya secara blakblakan lantaran dirinya sudah mulai berputus asa begitu ditakluki oleh kekuatan Mr. Iki yang tidak masuk akal.
“Aku tahu perasaanmu.”
“Mana mungkin tahu! Aku hanya ingin pulang, tidak berada di tempat seperti ini! Aku ingin pulang!” pekik Ade tanpa menatap Mr. Iki sekalipun.
“Huh, keras kepala. Padahal aku bisa saja menyelamatkanmu setelah orang yang kau benci di luar sana telah lenyap di tanganku,” ujar Mr. Iki Gentle.
“Eh? Apa ...maksudmu?” tanya Ade yang tersentak. Ia menatap Mr. Iki dengan peluh bercucuran deras di wajahnya.
“Orang yang membawamu sampai kemari. Kau pikir itu karena kami? Lagi pula kalau kami memang melakukan hal itu, buktinya sampai sekarang kau masih hidup dan tetap sehat.”
“Bukan kalian? Tapi aku melihatnya dengan mata kepalaku sendiri dan aku masih ingat dengan baik bahwa kalian lah yang membawaku secara paksa dari tempat ke tempat lain,” sahut Ade.
“Secara langsung ya ...itu kami. Tapi yang pertama memulai karena seorang pria bernama Orion. Apa kau ingat siapa dia?”
Ade sama sekali tak bereaksi apa-apa ketika mendengar dan hanya memojok ke sudut dinding dekat lubang sambil merentangkan kedua tangannya. Ia kembali menundukkan kepala dalam-dalam.
“Ayahmu,” imbuh Mr. Iki Gentle.
“Berisik,” lirih Ade berdecak kesal. Lantas ia melarikan diri dari lubang di dinding itu.
Tak peduli apa yang menanti ke depannya, pikiran Ade hanya satu: melarikan diri dari semua orang yang mengancam nyawanya.
“Betapa cerobohnya diriku. Membuat dinding berlubang membuat anak itu kabur dari ruangan tanpa pintu,” gumam Mr. Iki Gentle seraya menggaruk belakang kepalanya.
Semua yang telah terjadi biarlah berlalu. Itulah jalan yang dilalui oleh Ade sebagai anak perempuan yang terlahir dalam keadaan tidak sempurna. Mimpi mempunyai keluarga harmonis pun hanya sekadar mimpi belaka, tak dapat diwujudkan.
Namun kedua kakinya tetap melangkah lebih jauh ke depan, menelusuri lorong dengan lantai putih seraya mengepalkan kedua tangan dan menatap lurus dengan menahan amarah yang bergelojak dalam hatinya.
“Sudah kuduga kau akan kabur lagi, ya.”
Musuh lagi-lagi datang. Ade mengingat siapa wanita ini, meski tak andil dalam penculikannya namun wanita itu tetap terlibat. Wanita dengan cakar pada kedua tangan, Sera!
Sarang ada di mana-mana, jengkel pun rasanya sudah biasa ia rasakan.
Brak!
Ade didorong masuk ke salah ruangan yang ada di lorong ini. Pintu pun tertutup dan terkunci usai Ade masuk ke dalam ruangan tersebut.
“Hei! Jangan kunci aku lagi!” teriak Ade sembari menggedor-gedor pintu.
”Diamlah. Masih untung kau hidup,” sahut Sera yang berjaga di luar pintu.
“Aku berjanji takkan kabur lagi! Jadi jangan kunci aku, aku mohon!” ujar Ade.
“Kau pikir aku akan tertipu? Anak perempuan sepertimu itu 'kan selalu punya cara untuk mengelabui orang.”
Napas Ade semakin berat ketika ia terus-menerus berteriak menyahuti setiap perkataan Sera di balik pintu ruangan ini.
“Kumohon, keluarkan aku ...” Ade terus memohon sampai Sera tidak lagi menyahutnya di luar sana.
Bruk!
Pada akhirnya Ade kelelahan dan terduduk di sana dengan lemas. Sekujur tubuhnya masih gemetaran kuat, ia sempat merasa sesak napas ketika ia berteriak sebelumnya. Beruntung tidak lagi terjadi sekarang.
Ade tidak lagi mengoceh seperti biasa, hal itu membuat Sera sedikit khawatir.
“Hei, kau mati?”
“Tidak sopan sekali menyebut orang sekarat akan mati,” ucap Ade dengan napas tersenggal.
Perlahan-lahan ia mulai mengatur napasnya agar lebih stabil, lalu menghirupnya.
“KELUARKAN AKU!”
DOK! DOK!
Ade berteriak seraya menggedor pintu lebih keras dari sebelum-sebelumnya. Sera tersentak kaget saat mendengar Ade masih memiliki tenaga untuk berteriak.
“Maaf aku salah bicara. Ternyata kau cukup tangguh,” ucap Sera.
“KELUARKAN AKU! AKU TIDAK MAU DIKURUNG!” teriak Ade secara berulang kali.
Lambat laun Ade terdiam dengan napas tersengal. Di samping ia kehabisan tenaga, suara Ade pun terdengar serak ketika memaksa diri untuk berteriak.
Ade kemudian duduk membelakangi pintu, dan betapa terkejutnya ia mendapati seorang wanita di dekat ranjang tidur dalam keadaan terikat tali di pergelangan tangan dan kaki serta mulut yang disumpal dengan kain.
“Eh? Ada orang lagi?”
Ade pun mendekatinya, wanita itu tersadar saat ikatan tali pada pergelangan kedua tangan dan kakinya dilepas.
“Sudah bangun?” Ade kemudian melepas sumpalan pada mulutnya.
“Terima kasih telah menolongku,” ucap wanita itu merasa berterima kasih.
Ia kemudian kembali berbicara dengan raut wajah serius, “Melihatmu ada di sini. Apakah itu berarti kamu adalah anak perempuan yang sedang dicari oleh salah seorang anggota Grup Arutala?”
“Y-ya. Mungkin? Karena aku tidak begitu mengingat apa yang telah terjadi, tapi aku ingat nama Grup Arutala,” jawab Ade.
“Bagus. Kalau begitu perkenalkan aku Raiya Meera. Kebanyakan orang memanggilku Ketua Raiya tapi itu hanya sebatas formalitas. Jadi, panggil saja aku Meera.”
Ini adalah sebuah keberuntungan. Ade sendiri tak menyangka akan bertemu dengan salah satu ketua Organisasi NED yakni Ketua Raiya Meera.
“Kak Meera, ini sebenarnya ada di mana?” Ade bertanya.
“Biar aku persingkat. Kau diculik oleh seseorang yang sering disebut Chameleon. Dia dan rekan-rekannya sudah menculikmu selama setengah tahun. Sekarang, kita berada di luar negara kita,” ungkap Ketua Meera memperjelas situasi dalam waktu singkat.
Dari itu, Ade pun sedikit mengerti. Setelah beberapa tempat ia tinggali dan sekarang justru berakhir di negara asing. Sudah begitu setengah tahun telah berlalu, Ade merasa waktu begitu cepat dari yang ia tahu.
“Kamu mungkin tidak akan menyangka ini semua terjadi. Tapi tenanglah, bantuan akan tiba bahkan sebelum mereka sampai ke sini.”
“Kak Meera, apa kita akan kabur dari sini?” tanya Ade dengan berbisik lirih.
Dok! Dok!
Pintu ruangan diketuk selama dua kali. Ade bergegas mengumpat di dalam lemari pakaian yang kosong.
“Buka pintunya atau aku akan menggunakan kekerasan,” pinta Mr. Iki yang masih berada di luar bersama Sera.
Mr. Iki hendak membuka pintu namun dihalangi oleh Sera sebab Ade akan kabur lagi begitu pintu ini terbuka.
“Tidak akan aku buka. Silahkan pergi, kau yang bahkan tidak bisa menjaga anak itu dengan benar,” sindir Sera kepadanya.
“Kau dipanggil oleh Chameleon. Kenapa tidak segera mendatanginya? Atau bahkan menyambutnya setelah pergi dari kota NY,” kata Mr. Iki.
“Tuan sudah kembali?” tanya Sera yang meragu akan ucapan pria di hadapannya sekarang.
“Ya. Aku tidak berbohong. Nah sekarang, tolong buka pintunya. Aku ingin bicara sebentar pada anak itu,” kata Mr. Iki.
“Baiklah. Awas kalau sampai berbohong dan jangan sampai kau menggunakan kekerasan karena kekuatanmu cukup berbahaya untuk digunakan di tempat ini,” kata Sera memberi peringatan lantas pergi meninggalkan ruangan usai membuka kuncinya.
“Baiklah.”
Pintu ruangan itu pun terbuka, Mr. Iki Gentle hanya mendapati Ketua Meera yang tetap duduk di dekat ranjang dalam keadaan yang sama persis seperti sebelumnya.
“Di mana anak itu?”
Saat itu Ketua Meera berpura-pura masih tidak sadarkan diri agar tidak menjadi sasaran kembali.
“Hei, kau! Aku tahu kau berpura-pura.”
Mr. Iki Gentle telah mengetahuinya entah sejak kapan itu terjadi.
“Kau mungkin pria yang sulit ditipu. Tapi kau itu lemah pada pertahanan,” ucap Ketua Meera yang membuka kedua matanya.
Drap!
Ketua Meera menghentakkan kaki dan melompat ke depan lalu meraih ujung kerah kemeja Mr. Iki. Tak berselang lama, tangan kanannya mengepal dan kemudian mendaratkan pukulan itu ke wajah Mr. Iki.
“Pergi!” teriak Ketua Meera pada Ade yang tengah mengumpat.
Segera Ade melompat keluar dari lemari, ia pun bergegas keluar dari ruangan. Pandangan Mr. Iki beralih pada Ade dan hendak meraihnya namun berhasil digagalkan oleh Ketua Meera.
Dak!
Ketua Meera mengincar atas pinggang lalu membanting tubuh Mr. Iki jatuh ke lantai. Benturan punggung ke lantai itu cukup keras dan membuatnya kesakitan, akan tetapi Mr. Iki dapat menahannya.
“Kau mengganggu!” ujar Mr. Iki seraya menendang tubuh Ketua Meera dengan lututnya.
Ketua Meera pun ambruk di sebelahnya, ia merasa kram pada bagian perut setelah mendapatkan tendangan darinya.
Di samping itu, Ade tidak berlari ke arah yang seharusnya justru ke arah sebelumnya. Disusul oleh Sera yang mengejar Ade dengan kecepatannya yang sulit diikuti mata.
“Tidak ada jalan keluar. Wanita itu menyeramkan,” gerutu Ade.
Ade kembali masuk dari lubang pada dinding, tak lama ia pergi ke ruangan serba putih, tempat yang sebelumnya ia dikurung. Entah mengapa tempat seperti itu justru terlintas dalam benaknya yang hendak bersembunyi dari Sera.
“Aku tidak akan mati begitu saja. Aku harus cari cara agar keluar dari sini,” gumam Ade lantas masuk ke ruangan tersebut. Ia pun mengatur napas dengan hati-hati karena takut Sera akan mendengarnya.
Sementara saat itu Sera, ia berhenti mencari karena bau Ade tidak tercium di hidungnya sekarang. Bau itu menghilang tiba-tiba di hadapan lubang dinding.
“Lubang? Sejak kapan ada lubang?” Sera saat itu tidak terpikir bahwa Ade berada di sana. Ia hanya penasaran mengapa ada lubang di dinding yang tebal itu.
“Ah, rupanya begitu. Ternyata dia yang membuat jalan ini. Sengaja atau tidak pastinya akan menguntungkan bagi anak perempuan itu.”
Barulah Sera mengerti, ia segera masuk ke lubang dinding yang sebetulnya sulit untuk dilewati olehnya.