
Chameleon, memiliki banyak identitas sehingga tidak memungkinkan untuk mencari identitas aslinya. Saking banyaknya bahkan orang yang dulu sudah mati sudah pasti akan dilupakan.
Tak hanya memiliki banyak identitas dengan meniru wajah, sidik jari bahkan sikap yang dimiliki identitas itu. Bahkan Chameleon juga dapat meniru kekuatan. Sama sekali tidak ada celah.
Chameleon menggenggam kuat tangan kirinya dan seketika lapisan es hancur berkeping-keping. Kemudian ia mengayunkan jari telunjuk dari bawah ke atas, api lenyap dari tubuh Orion dalam sekejap.
Tap! Setelah itu ia melangkahkan kaki, memutar badannya ke belakang menghadap jendela yang rusak. Dalam waktu beberapa detik, semua barang yang rusak itu kembali.
Pemain kecapi itu bahkan tidak menyangka bahwa Chameleon mendapatkan kekuatan ini. Dalam batin ia bertanya-tanya dari siapa ia mendapatkan kekuatan semacam itu.
Krak!
Entah mengapa setengah pergelangan tangan ke bawahnya berubah menjadi bara api. Ia bangkit dengan tidak seimbang, lantas menatap Chameleon dengan sungut kemarahan.
“Kau masih berniat untuk melawanku?”
“Tubuhku terasa aneh. Apinya terasa mengalir beriringan dengan peredaran darahku. Tapi aku masih hidup tapi di sisi lain pun aku masih ingin mati,” batin Orion dengan bernapas lebih berat dari biasanya.
Mata Chameleon terbelalak terkejut melihat Orion. Bukan karena Orion dapat bangkit setelah api memakan tubuhnya sendiri.
Melainkan,
“Kau bilang kau ingin mati?”
Karena Chameleon dapat membaca pikirannya.
Deg! Jantungnya berdetak lebih keras. Ia merasa jantung akan copot saking terkejutnya. Namun di saat yang sama Orion sadar sepenuhnya.
“Kalau begitu tujuanmu datang kemari hanya untuk cari mati?” tanya Chameleon pada Orion.
Tap, tap!
Chameleon menghampiri Orion beberapa langkah dengan pedang es di tangan kanannya.
“Kalau begitu aku kabulkan,” ucap Chameleon seraya mengangkat pedangnya tinggi-tinggi.
“Ini berbeda dengan tipe ilusi milik wanita itu,” imbuhnya seraya berwajah datar.
Tubuh Chameleon menutupi sorot cahaya. Pandangan Orion terlihat gelap.
“Segitunya suka membunuh orang, ya?” sindir Orion.
Jrash!
Sebelum bilah pedang sampai kepadanya. Tinju Orion yang diselubungi api menembus tubuh Chameleon yang lengah.
Tak hanya Chameleon bahkan pemain kecapi itu sama terkejutnya.
Pusaran api pada tinju yang menembus tubuh Chameleon lantas berputar dengan cepat dan membuatnya terhempas mundur hingga memecahkan kaca jendela.
“Kalau dilihat-lihat, rasanya mustahil orang sepertimu mau membunuh banyak orang. Entah demi apa. Tapi salah satunya itu untuk membentuk Dunia NED sepenuhnya, 'kan?” celetuk Orion.
Orion memaksakan diri tuk bicara di saat ia kesusahan untuk bernapas sebentar saja. Uap panas pun keluar dari mulutnya.
“Ya, itu salah satunya. Dan sudah kubilang sebelumnya aku membuat mereka dikurung karena untuk dimanfaatkan,” jawab Chameleon dengan santai.
“Anda melakukan mereka semena-mena dari dulu sampai sekarang. Entah membuat mereka kembali hidup atau diperas darahnya habis-habisan. Apakah Anda sama sekali tidak punya hati?” sahut si pemain kecapi dengan ketus.
“Kau dulu mengikutinya. Tapi kenapa seolah-olah kau berada di pihak yang lain?” singgung Orion melirik tajam si pemain kecapi itu.
“Aku tahu,” singkatnya dengan menggigit bibir bawahnya.
Si pemain kecapi itu juga sangat merasa tidak beruntung. Ia juga muak namun masa lalu tidaklah dapat diubah. Kuasa manusia ada batasnya. Dan Orion sangat jengkel melihat mereka berdua.
Syat!
Orion melesat serta mengayunkan senjata. Serangan yang seperti darah dibekukan itu menuju ke arah Chameleon dan Chameleon mampu menangkisnya dengan bayangan.
Berjalan dengan santai seraya beberapa bayangan muncul dikendalikan olehnya. Satu gerakan, semua bayangan dengan ujung yang lancip menghujam Orion.
“Kau hanya berniat memanfaatkan mereka. Memangnya mereka salah apa!?” pekik Orion seraya menghamburkan api ke segala arah. Membuat bayangan itu terbakar.
Bayangan yang sempat menghalangi pandangan Orion, kini tak terlihat ada di mana Chameleon.
“Ck, tak kusangka akan jadi begini.”
Pemain kecapi itu berdecak seraya ia menggerakkan jari tuk memainkan sebuah melodi dengan alat musiknya. Mengeluarkan suara berdengung keras hingga memekakkan kedua telinga mereka.
“Di belakang, ya.”
Orion menoleh ke belakang lantas menghindar dari Chameleon yang berada di belakang punggungnya. Beruntung si pemain kecapi itu menghentikan langkah Chameleon yang hendak menyerang Orion dari belakang.
“Hei, Orion! Kau kenapa malah melawan dia!? Apa kau cari mati!? Kau justru menyeretku bukan menolongku!” teriak si pemain kecapi itu.
“Ah, berisik! Memangnya kalau aku ingin cari mati ada urusannya denganmu!?” balas Orion berteriak keras.
“Lihat di punggungmu. Seperti ide cari mati sungguh berpengaruh pada Api Abadi.” Tiba-tiba Karura mengajaknya berbicara.
“Memangnya aku punya mata di belakang kepala?” gerutu Orion dengan raut wajah kusut.
Entah apa yang terjadi, namun Orion jelas merasakan ada yang berbeda dengan api yang ia gunakan. Chameleon menyadari perubahan itu, sontak ia terkekeh-kekeh.
“Dasar psikopat,” gumam Orion memandang jijik ke arah Chameleon.
Chameleon mengubah pedang es menjadi pedang api. Itu teknik yang dulu pernah Orion lakukan namun jarang karena akan membebani tubuhnya.
Semula hanya pedang itu saja namun setelah beberapa saat, terdapat perubahan yang signifikan terhadap wajahnya. Terlihat seperti monster berbulu api.
“Caraka pernah menggunakan itu karena tipe-nya adalah monster.” Orion kembali bergumam dan bersiap akan serangan dengan mengeratkan kepalan tangan serta menajamkan bilahnya.
Dalam sekejap, keberadaan Chameleon menghilang. Ia mengarah ke belakang, sontak Orion menghindar cepat.
“Urgh, tebasan? Bukan cakar?”
Tubuh Chameleon berubah layaknya monster berwujud setengah manusia dan setengah hewan buas. Menunjukkan taring serta cakar yang tajam. Sempat Orion berpikir bahwa itu tebasan pedang namun ternyata karena cakarnya nyaris meremukkan tulang.
“Oh, akhirnya kau menunjukkan tingkatanmu?”
Saat itu Orion masih tidak mengerti apa maksudnya. Namun begitu cakaran yang menghempas angin kembali menyerangnya dengan jejak yang lebih besar, sesuatu di punggungnya mulai berwujud.
“Eh?”
Api Abadi mulai bereaksi dengan tubuh Orion. Tahap pengendaliannya sudah cukup mumpuni untuk ia gunakan.
Dua sayap membentang. Warna jingga yang berpadu dengan percikan dan menjadi kobaran api yang menyala-nyala mulai terlihat di punggung Orion.
“Kau pasti pernah melihat sayap itu di mana. Tapi itu hanya produk gagal. Dan kau adalah sosok aslinya. Yang katanya ditakuti.”
Chameleon nampak puas dengan perubahannya. Namun tidak dengan Orion yang merasakan aura pekat tertuju padanya.
Hawa membunuh.
“Lalu apa?” sahut Orion.
Pak! Orion menangkis pukulannya. Memutar pergelengan tangan lalu menarik tangan Chameleon.
“Terbakarlah!”
Api menjalar begitu cepat. Dan reaksi Chameleon juga tak kalah cepat, ia melepas genggaman tangan Orion lalu kembali menyerang dengan tenaga fisiknya.
Duakk!!
Kedua lengannya menahan pukulan itu sampai-sampai rasanya seperti akan patah. Berdenyut sakit.