ORION

ORION
Anak yang Tersakiti



Orion bergegas pergi namun Mahanta menghalangi pintu. Tampak ia enggan menyingkir, ia pula mendapatkan tatapan sinis dari Orion.


“Orion, sebagai rekan aku mau kau menjalankan tugasmu. Tapi, ini terlalu berbahaya. Aku sendiri tahu seberapa berbahaya ketika menghadapi Chameleon. Kau pun tahu itu.”


“Tiba-tiba kau bicara apa. Minggir!” pekik Orion mendorong tubuh Mahanta yang menghalangi pintu.


“Ya, ampun. Padahal aku—”


“Aku memang mencari mati. Tapi aku begitu peduli dengan banyak orang yang saat ini sudah mati. Karena apa? Mereka semasa hidupnya selalu dipermainkan oleh Chameleon,” sahut Orion.


“Kau merasa bahwa mereka hidup dengan tidak adil? Lalu bagaimana dengan keselamatanmu sendiri?”


“Hei! Bagaimana perasaanmu ketika kau dimintai tolong oleh seseorang sedangkan kau sendiri tidak bisa?” ketus Orion.


Mahanta terdiam dengan penuh pertanyaan di kepala. Ia tidak mengerti apa yang dimaksud oleh Orion saat itu.


Namun,


“Setidaknya aku ingin mencegah mereka dari kandangnya Chameleon. Itu kulakukan agar matiku tenang nantinya!” teriak Orion dengan jengkel.


Terbesit suatu pikiran Mahanta, ia berpikir bahwa Orion merasa bersalah atas kematian banyak orang di depan matanya karena itulah menolong adalah suatu keharusan baginya.


Meskipun hal itu tidak bisa dipaksakan. Akan tetapi Orion pula telah berpikir panjang akan hal tersebut.


“Jangan bilang kau berniat mencegah mereka yang ada kemungkinan menjadi budak Chameleon dan agar keluargamu juga terhindar—”


“Aku tidak punya orang yang harus ku lindungi!” teriak Orion memotong perkataan Mahanta.


“Tepat sasaran, ya.”


Orion yang telah keluar dari kamar, lantas Mahanta kembali menyusulnya dan memberikan sebuah ponsel ke kantung celananya.


“Suatu saat kami akan membutuhkan bantuanmu. Dan jikalau ada hal yang tidak bisa kau atasi, silahkan hubungi aku atau lainnya. Karena semua kontak anggota ada di sana,” ucap Mahanta menjelaskan.


***


Mood Orion naik-turun. Mahanta mencemaskannya sebagai orang tua lantaran usia Orion yang sudah tua bisa membuatnya darah tinggi. Sebisa mungkin Mahanta harus sabar dalam menghadapi Orion.


Orion pergi untuk menemui Chameleon namun sebelum itu, takkan ia akan pergi menemuinya tanpa perubahan dasar dari kekuatan yang ia miliki.


Ia berniat untuk melatih diri seperti sebelumnya, tapi ia juga tahu bahwa itu tidak efektif dalam meningkatkan kekuatan.


Suatu waktu, di sebuah gang yang cukup luas, ia melewati jalan tersebut dan secara tak sengaja melihat beberapa orang berkumpul di pojokan.


Terdengar makian dari sana. Orion melirik lantas menghampiri mereka untuk memastikan sesuatu. Dan ternyata adalah salah seorang anak berseragam, seorang murid sekolah.


“Cepat! Berikan uangmu!”


“Benar! Kalau tidak, aku akan menghajarmu sampai patah tulang!”


Kumpulan orang memalaknya. Tentu saja anak itu enggan memberikan uang miliknya, ia terdiam ketakutan dengan tubuh gemetar seraya ia menggenggam tas dengan kuat.


“Ayo! Cepat kemarikan!”


Salah satu dari mereka mulai menarik tas miliknya. Segera Orion menepuk pundak orang itu, berniat menghentikan perbuatan tercela tersebut.


“Apa yang kau lakukan pada anak-anak?” tanya Orion dengan menatap tajam ke arahnya.


“Siapa lagi paman satu ini!”


Pria congkak yang lebih pendek dari Orion, beraninya ia menantang dan mengangkat kepalanya. Terlihat ekspresi kesal itu ditujukan pada Orion sebab menganggu tindakannya barusan.


“Tidak baik memalak—”


Buakk!!


Baru saja mengatakan sesuatu, kalimatnya terpotong lantas tinju itu melayang ke arahnya dengan kuat. Untuk sesaat Orion hanya mengerutkan kening tanda meredam amarahnya sebisa mungkin.


“Huhu, lihat itu! Paman! Kalau lemah jangan jadi sok pahlawan begitu dong!”


“Hahaha, badan doang tinggi tapi aslinya mental lemah!”


“Cupu! Bisanya ngomong doang! Sekali tonjok pasti langsung berlutut seperti seekor anjing!”


“Iya aku ini sudah tua. Wajar kalau hanya bisa menasehati. Tapi bukan begini caranya, kalau kalian terus seperti ini, masa depan kalian akan suram loh,” tutur Orion dengan tatapan tajam.


Pria itu mengerang kesakitan lantas ia tak dapat lepas dari cengkeramannya yang kuat.


“Apa sih dasar br*ngs*k!”


Krak!


“Arghh!!”


“Bicara yang sopan dasar bocah!”


Orion telah murka sampai-sampai cengkeramannya membuat tulang di bagian pundaknya sedikit retak. Rasanya pasti sangat sakit namun Orion tidak peduli.


Di sisi lain ia marah pada sekumpulan anak yang seenak jidatnya memalak anak lain. Tapi di sisi lain, ia pula merasa lebih lemah.


“Ah, maafkan aku. Hubungi saja kantor polisi dan sebut nama Arutala, maka dia akan mengurus semuanya. Mengerti?”


“Ukh!”


Mereka tidak punya pilihan lain. Nyatanya mereka akan menghajar itu hanya menggertak, lantas mereka pergi dengan tergesa-gesa.


“Refleksnya berkurang tidak seperti ketika darah ini mengontrol instingku dulu,” gumam Orion.


Tenaganya mungkin kuat tapi ia merasa ada sesuatu yang kurang selain refleks. Orion merasa gelisah, berulang kali ingatan ketika ia bertarung terus terngiang dalam kepalanya.


“Pak, baik-baik saja?”


Anak sekolah tersebut pun cemas. Ia mencoba untuk berbicara dengan Orion di kala Orion terus bergumamkan sesuatu.


“Anu, pak?”


Setelah beberapa saat ia menatap telapak tangannya, Orion menyahut panggilan anak itu.


“Ah, iya. Apa kau baik-baik saja? Apakah mereka temanmu? Jika benar, maka laporkan saja pada gurumu maka dia akan kena imbasnya,” jelas Orion.


“Haha, aku mau-mau saja melakukan hal itu. Tapi tidak bisa. Hidupku miskin dan aku selalu kena palak oleh mereka. Mereka itu sebetulnya bukan teman apalagi murid sekolah.”


“Lalu?”


“Mereka semacam preman bayaran. Dan itu pasti karena salah satu murid sekolah yang kaya dan membenciku,” ujarnya dengan menggigit jari.


“Meskipun aku bilang pada guru. Keesokan harinya pasti semua akan kembali terulang. Karena guru pun ada di pihak murid kaya itu,” imbuhnya.


“Kamu mau pulang? Mari aku antar.”


Orion tidak menggubris perkataan anak itu lantaran ia tidak dapat menjawab apa-apa. Mengantarkannya kembali pulang ke rumah, dan ketika itu ia melihat seseorang yang familiar.


“Hoi! Endaru!”


Sontak, pria berpakaian serba hitam itu kini terkejut. Mereka berdua bertatapan selama beberapa saat namun tak lama setelah itu Endaru menyadari siapa pria yang memanggilnya sok akrab seperti itu.


“Orion?”


Endaru masih tidak percaya dengan apa yang lihat sekarang karena Orion telah berubah ke wujud aslinya dan bukan anak kecil lagi. Ia lantas tertawa bahak-bahak, seperti biasanya kalau Endaru itu anak muda yang kurang ajar.


Tidak, pria berusia 20 tahunan yang seperti bocah.


“Sepertinya kita sudah lama tidak bertemu. Tapi aku sedang mengantar anak ini ke rumahnya.”


Tanpa banyak omong lagi, Endaru yang tidak punya pekerjaan akhirnya mengikut mereka.


Sesampainya di rumah anak itu. Setelah pulang ia dimarahi oleh Ibunya karena pulang sedikit terlambat. Meskipun sudah diberitahu apa alasannya sampai terlambat, Ibu itu tetap memarahi anaknya.


Dan di sela-sela teriakan, air mata mengalir di wajah mereka berdua.


“Syukurlah kamu bisa pulang,” ucap Ibunya dengan isak tangis.


Orion tersenyum. Ia merasa sudah seperti menyelamatkan nyawa orang. Dan lagi, kejadian para budak yang terbelenggu kembali terlintas dalam benaknya.


Seketika Orion berwajah muram.