ORION

ORION
Pemancing, Jinan II



Jinan, posisi ke-3 dari 4 rekan Chameleon teratas. Mereka yang berada di posisi teratas itu sungguh kuat. Terkadang darah yang g*la mengalir ke tubuh mereka, sehingga Orion seperti berhalusinasi dengan melihat dan berpikir bahwa mereka adalah Chameleon itu sendiri.


Crak!


Pundak kanannya tertusuk ujung alat pancing. Sampai menembusnya, namun Orion tak pernah mengendurkan cekikannya pada leher Jinan.


“Orion, apa pun yang terjadi, aku akan membawamu!” pekik Jinan, menyikut tubuh Orion yang lengah. Seraya mencabut alat pancingannya.


Hal itu membuat Orion tanpa sadar mengendurkan cengkeramannya. Ia melangkah mundur dan menahan rasa sakit yang bertumpuk.


Kekacauan di sana sudah lebih dari sekadar kekacauan. Ibarat neraka bocor ke dunia fana ini, semua orang berteriak histeris akan mayat yang terbakar dan satu mayat yang terbaring.


“Aku sudah kehabisan akal untuk melawanmu bagaimana. Tapi, kalaupun harus menggunakan belatung lemah terus, aku jadi merasa kasihan. Hei, kau tidak mau ikut denganku?”


Sembari memegang perutnya yang terluka Orion berkata, “Sudah kubilang tidak mau. Dan aku bertarung denganmu di sini juga karena aku rasa kau perlu mendapatkan hukuman atas perbuatanmu.”


“Hei, pak? Uhuk! Aku tidak bisa dihukum di dunia ini, tahu?” tukasnya, ia terbatuk lantas mengangkat pundaknya.


“Apa karena perintah Chameleon? Dia selalu menyuruh anak buahnya untuk membawaku. Apa dia tidak punya kerjaan lain? Padahal kupikir dia suka sekali menculik anak-anak.”


“Ya, kalau boleh jujur. Antara dia takut atau justru semakin senang karena kehadiran Pejuang NED yang memiliki kekuatan Api Abadi.”


“Takut?”


“Ya. Kau tahu sendiri bahwa Api Abadi tidak bisa dilawan olehnya. Secara kebetulan kau enggan melawannya secara langsung, malah kau ingin menangkapnya. Jadi itu membuatnya sedikit takut tapi juga bersemangat.”


“Aku tidak mengerti.”


“Ya. Kau tidak akan mengerti betapa bahagianya beliau karena musuhnya sendiri tidak ada niat melawan,” ucap Jinan seraya menepuk pundak Orion dan dengan mengarahkan ujung alat pancing itu lagi di tangan kanannya.


“Tuan Chameleon memang menginginkanmu. Harus hidup-hidup sih. Jadi, kalau terluka sedikit tidak masalah, bukan?” ucap Jinan menyeringai sembari menatap culas kepadanya.


Sorot mata Jinan jelas sekali ingin membunuhnya dengan senjata itu. Orion lantas membalas tatapan itu dengan tatapan tajam.


“Kau jelas ingin membunuhku.”


“Kau benar. Anggap saja kau dikorbankan agar para belatung itu selamat. Lagi pula kalau kau masih selamat di sini, pasti mereka akan dibunuh oleh Tuan Chameleon karena merasa terganggu.”


Perkataan dari Jinan mengguncang dirinya. Lantaran, secara tak langsung Jinan mengatakan kalau Orion masih berada di sini maka semua orang termasuk yang dikenalnya akan mati. Namun berbeda jika ia berada di sisi Chameleon ataupun Orion yang mati.


Namun, bagaimana mungkin Orion mempercayai perkataan itu begitu saja? Chameleon sudah lama membuat kekacauan lalu sekarang seenaknya ingin membuat Orion bergabung dengannya. Alih-alih menambah kekuatan.


Jelas tahu bahwa Chameleon hanya mewaspadai Orion yang memiliki Api Abadi. Serta, dendamnya pada Gista yang dengan sengaja mengurangi kekuatan.


“Omong kosong!”


Trang!


Orion menepis alat pancing itu dengan pedang merah. Dan kemudian terbakar begitu Orion menyentuh dengan jari tangan kanan. Dalam sekejap senjata Jinan hangus tak tersisa.


“Apa cuman perasaanku saja kalau Api Abadinya semakin kuat?” batin Jinan seraya melepas genggamannya pada senjata.


Orion melangkah, kian mendekati Jinan yang melangkah mundur darinya. Tidak akan ada lagi pertarungan untuk saat ini jika salah satu dari mereka mati, itulah yang terbesit dalam benak Orion.


“Tidak, tidak. Jangan sampai.” Orion menggelengkan kepala lalu ia menyentuh pundak dengan tangan kanannya.


“Kau mau apa?”


“Tentu saja untuk membakarmu,” gumam Orion dengan tundukkan di kepala.


Blar!!


“Argh!! Kau!”


Mungkin dalam batin Jinan tak menyangka bahwa Orion akan melakukan hal ini terhadapnya. Secara tak langsung, Orion tak berniat membunuh melainkan menyakitinya saja.


“Tanganmu yang sering kali mengayunkan alat pancing berbahaya itu,” ucap Orion sembari menunjuk Jinan yang bertekuk lutut di hadapannya.


“Takkan bisa utuh kembali. Selamanya. Anggap ini pengorbanan bagi para manusia yang telah kau bunuh,” imbuhnya dengan tatapan tajam menukik.


Jinan hanya melotot dengan kesal. Tangannya yang sudah hangus, kini tersisa satu saja. Sudah begitu, tangan kiri yang sulit digunakan. Namun dalam kekesalannya, Jinan jadi tahu mengapa Chameleon begitu tertarik dengannya.


“Ternyata kau sama dengan Tuan-ku,” ucap Jinan.


“Apa?”


“Tuan Chameleon itu—”


Crash!


Belum sempat Jinan menyelesaikan kalimatnya, pisau yang entah dari mana itu menusuk bagian belakang punggungnya.


“Tuan Chameleon?”


Mendengar Jinan menyebut nama Chameleon, Orion lantas bersigap. Berwaspada akan sekitar seraya melirik segala arah tuk menemukan keberadaannya.


Namun tiada seorang pun yang nampak mencurigakan selain kumpulan orang yang mengelilingi mereka yang hanya berjarak sekitar 10 meter.


Dan ternyata Chameleon muncul, lagi-lagi dari bayangan. Ia muncul dalam kondisi setengah tak berwujud.


“Aku khawatir kalau rekan pentingku akan menghabisi nyawa seseorang yang sama pentingnya untukku.”


“Chameleon! Kau juga datang ke sini! Mau apa kau? Jangan harap kau dapat melukai mereka lagi!” amuk Orion menatap benci ke arahnya.


Lantas Chameleon pun tertawa bahak-bahak seolah hal yang ia katakan tadi hanyalah leluconnya saja.


Melihat sikap melindungi terhadap semua orang di sana, justru semakin kuat pula lah keinginan Chameleon untuk membuat Orion bersamanya.


“Kau salah kalau berpikir dia mirip denganku,” bisik Chameleon pada Jinan.


“Eh?” Jinan berkeringat dingin, serta menahan tekanan batin darinya saat ini ketika Chameleon berbicara.


***


Chameleon sama sekali tidak bertindak saat itu. Ia pergi bersama dengan rekannya begitu saja. Namun, Orion merasa cemas. Meski mereka telah pergi, ada sesuatu yang mengganjal di hati.


Beberapa petugas datang berduyun-duyun dengan kendaraan mereka. Di sela-sela mereka membereskan kekacauan, Orion memanfaatkannya untuk segera pergi dari sana. Ia tak mau jika dirinya akan disorot.


“Sama apanya? Jangan samakan aku dengan Chameleon itu! Aku berbeda dengan pria psikopat sinting itu! Dasar!”


Duk! Duk!


Tak habis ia mencerca Chameleon dan dirinya sendiri yang tak mampu melindungi. Orion memukul-mukul dinding bangunan seraya ia melangkah dengan tertatih-tatih.


Kenyataannya, Orion sendiri sebagai pemicu ledakan di mana-mana. Hingga akhirnya Orion merasakan penyeselan tersendiri.


Mengapa harus ada Api Abadi di dalam tubuhnya?


Mengapa nasib buruknya tak kunjung menghilang? Bahkan setelah bangkit kembali pun tak ada bedanya sama sekali.


“Apakah seharusnya saat itu aku terima saja tawaran Jinan? Dengan membiarkan diriku mati, tapi itu tak membuat Chameleon berhenti melakukan semua tindakan itu, 'kan?”