ORION

ORION
Menenangkan Monster Dengan Monster



Orion mengepit tubuh Roni sehingga tidak memungkinkannya untuk bergerak leluasa. Termasuk menggunakan kedua tangan. Roni terus menggeram, menggerutu serta memaki seolah ia adalah binatang buas yang ditahan.


Namun, perlahan-lahan Roni menyerah karena tenaganya sudah habis karena terus meronta-ronta. Tak berhasil ia melepaskan diri dari Orion, Roni pun hanya menghela napas panjang.


“Sudah tenang? Aku harap kamu mau mendengarkanku?”


“Apa? Kalau yang kau katakan itu sama seperti sebelumnya maka jawabannya tetap tidak!”


Orion membebaskan Roni dari kunciannya, seraya memikirkan kembali pesan apa saja yang disampaikan oleh Mahanta sebelum ini.


Lantas, setelah bertanya pada Roni, yang diduga sebagai orang yang telah mengalami NED atau mati suri, Roni mengelak hal tersebut.


Ia menyangkal bahwa itu tidak pernah terjadi padanya.


“Apa perkiraan mereka salah? Ataukah murid lainnya yang mengalami itu? Tapi kalau dilihat dari ketahanan tubuh Roni yang tidak wajar, seharusnya itu benar dia.” Orion membatin.


“Hei! Kali ini aku akan melepasmu, tapi jika kita bertemu lagi maka aku akan benar-benar menghajarmu!” pekik Roni tidak mau mengaku kalah.


“Bicaramu sombong dan kasar. Meskipun kau kuat tapi itu hanya berlaku di depan orang lain tapi tidak dengan orang-oorang tertentu, kamu tahu?”


“Sok tahu!” Roni membalikkan badan dan melangkah pergi darinya.


“Tunggu sebentar!” Orion menarik kerah seragamnya ke belakang, sontak Roni tertahan oleh Orion lagi.


“Apa sih?!”


“Apa kamu benar-benar tidak ingat sesuatu yang terjadi misalnya? Seperti kamu habis berkelahi atau sejenisnya? Dan merasa kamu akan mati lalu—”


“Tidak! Aku bilang tidak, ya tidak!” amuk Roni sembari menepis tangan Orion.


“Kamu yakin? Karena biasanya orang akan mengalami syok setelah mengalami kebangkitan. Dan apakah kamu pernah merasa bahwa akhir-akhir ini kekuatanmu terasa berlipat ganda dari sebelumnya?”


“Hah? Apa maksudmu berkata begitu? Aku tidak memiliki apa pun yang seperti superhero punya. Kecuali, ada sesuatu yang seperti melindungiku dari serangan orang lain,” tutur Roni seraya memegang pundaknya.


“Serangan? Seperti kamu sedang memegang perisai?”


“Ya, begitulah. Tapi kata Ibuku, ini berkat perlindungan Yang Maha Kuasa! Makanya aku jadi ditakuti oleh banyak orang!” ujar Roni meninggikan suara, bernada sombong dan sok paling kuat.


“Itu sangat aneh,” ucap Orion seraya melipat kedua lengan ke depan dada.


“Benar, 'kan? Makanya jangan berani melawanku. Bahkan murid atau guru selain kau itu sangat sungkan di hadapanku! Haha?”


“Meskipun kamu sama sekali tidak berkutik bila di hadapanku? Aku ingat jelas bahwa kamu kesulitan melawanku,” sahut Orion.


“Apa? Ha! Aku tadi sempat memukulmu tahu! Jangan bilang kau sedang lengah atau sengaja membiarkannya begitu? Pengecut!”


“Aku memang lengah. Aku akui itu tapi sepertinya kita sesama jenis. Maksudku kekuatan kita,” kata Orion.


Kesal, Roni menarik kerah kemeja Orion dengan tangan kiri dan tangan kanannya siap untuk kembali memukul Orion.


“Mau kupukul lagi wajahmu? Biar kita tahu siapa yang terkuat di sini?”


“KYAAAAA!!!!” Terdengar jeritan seorang perempuan dari arah belakang. Kemudian pergi karena ketakutan.


Sontak, Orion dan Roni terdiam dalam beberapa saat dan memperhatikan murid perempuan itu semakin menjauh.


“Ah, menyebalkan! Kenapa harus terlihat di depan perempuan sih?” gerutu Roni lantas menatap tajam pada Orion.


“Ukh! Apa yang kau lakukan?!” pekik Roni mengerang kesakitan karena pergelangan tangan kanannya. Ia lantas melayangkan tinju namun mudah Orion menghindar dengan memiringkan kepalanya.


“Curang!”


“Apanya yang curang? Kamu sendiri yang memulai, memangnya aku sebagai gurumu harus bertindak tidak peduli seperti yang lain?”


“Guru lainnya mengerti seberapa kuat aku sampai mereka tidak bisa melawan! Tapi kau tidak sama sekali!”


“Oh, itu artinya kamu hanya kurang didikan dan kurang tepat dididik oleh guru yang biasa,” celetuk Orion yang kemudian menganggukkan kepala beberapa kali.


Dak!


Orion melangkah mundur lantas Roni mendorongnya. Tampak ia tidak berniat untuk melakukan sesuatu pada Orion, namun secara tak sengaja saat itu juga Roni menyibak helai kain yang membuat tangan kanan itu terlihat.


Tangan yang terlihat seperti kerak gunung merapi, berwarna hitam arang dengan beberapa goresan acak berwarna jingga dan merah bercampur jadi satu. Melihatnya membuat Roni tersentak.


“Ukh! Itu!”


Pandangan yang jijik. Terbesit kalimat ini dalam pikiran Orion ketika melihat raut wajah Roni.


“Bocah ini pasti akan menganggap diriku sebagai monster,” batin Orion.


Setelah beberapa saat Roni memandanginya meski kain itu telah menutupi tangan kanan Orion kembali. Datang beberapa murid laki-laki yang menghampiri mereka.


“Roni! Apa yang kamu lakukan pada seorang guru pengganti! Dasar anak ini! Tidak punya sopan santun sama sekali!” Salah satunya berteriak keras hingga mengagetkan orang-orang sekitar.


“Jangan terlalu diladeni begitu. Lebih baik kita segera membawa guru pergi dari sana. Ya?” Salah satunya menasehati agar jangan sampai berkelahi.


“Itu benar! Salah-salah kita yang babak belur tahu!” tukas seorang murid laki-laki tanpa rambut, menyetujui sarannya.


“Sudahlah, jangan berisik! Pokoknya Roni sudah keterlaluan! Dia pergi ke sekolah cuman buat pamer otot doang tahu!” ketusnya menyahut perkataan teman-temannya itu.


“Ck! Ini pasti karena murid perempuan tadi!” Roni berdecak kesal.


“Heh, kamu! Masih berani menatap tajam. Kenapa kau tidak keluar sekolah saja sih? Dasar, murid yang tidak berguna!” Murid yang datang itu menyerocos tanpa ampun.


“Haha! Ternyata cuman murid-muridnya saja yang datang. Ke mana para guru? Memang ya guru-guru itu sangat pengecut!” sahut Roni menyindir.


“Jaga mulutmu, Roni. Sekarang di hadapanmu ada guru tapi tidak pernah kamu tanggapi dengan baik. Apa aku salah? Sebenarnya apa tujuanmu yang berkelakuan buruk seperti ini?” Orion bertanya.


“Apa urusanmu, dasar sok ikut campur!” ketus Roni seraya memalingkan wajah. Menghindari tatapan Orion, namun juga ia masih kepikiran tentang suatu hal.


Yakni, tangan kanan Orion. Dan Orion menyadari ke arah mana tatapan Roni meskipun memalingkan wajahnya saat itu.


“Dia pasti akan mengejek lagi dan mengatakan ini pada murid-murid lainnya. Ah, rasanya aku ingin pergi saja. Inilah mengapa aku selalu merasa tidak nyaman,” gerutu Orion dalam benaknya.


“Pak guru! Bapak baik-baik saja? Lebih baik Pak guru sekarang silahkan pergi. Kami yang akan mengurus anak bandel satu ini!”


“Iya, pak benar!”


Sekumpulan murid laki-laki ini memang berniat baik agar Orion terlepas dari Roni. Namun Orion memiliki firasat buruk jika ia meninggalkan mereka saat ini. Meskipun ia juga ingin pergi karena rahasianya terlihat oleh Roni.


Di sela-sela adu mulut sesama murid. Roni mengatakan suatu hal yang membuat mereka semua tercengang dan tanpa sadar pertengkaran adu mulut hingga nyaris adu fisik pun terhindarkan.


“Pak guru, apa bapak sedang melucu? Cosplay dengan tangan berapi seperti itu benar-benar nggak cocok dengan sekolah tahu!”