ORION

ORION
Air Mancur



Suatu tempat yang dipenuhi banyak koleksi antik terpajang. Pria dengan perban yang nyaris menutupi seluruh wajah, tengah memegang ponsel. Seraya mengeluskan rambut kucing, ia berbicara pada seseorang dari ponsel miliknya.


“Di sini Gerhana Bulan. Apa kalian menemukan orang yang dimaksud Saint Ken?” Pria itu bertanya.


“Tuan, Saint Ken—”


Wanita yang berada di sampingnya berhenti berbicara setelah pria berperban itu mengangkat tangan ke arahnya.


“[Saint Ken? Maaf, Tuan. Dia entah berada di mana saat ini.]” Seseorang dalam sambungan telepon menjawab.


“Bukan, bukan itu maksudku. Orang yang dikatakan Saint Ken, masa' iya kalian tidak ingat?”


“[Ohoho! Maaf! Saya baru mengetahui maksudnya. Kalau begitu, saya mungkin berada dekat dengan kelompok orang itu.]” Seseorang menjawab sembari tertawa.


“Baguslah. Kabari kalau kalian gagal.”


Pria itu kemudian menutup sambungan teleponnya. Kembali mengelus kucing seraya memeluknya.


Wanita itu kembali mengatakan sesuatu padanya, “Tuan. Saya sangat khawatir dengan luka Anda. Apakah cukup hanya dengan pengobatan manual seperti itu?” Ia khawatir.


“Jangan khawatirkan aku. Ini semua mungkin ulah Phantom Gank, tapi aku punya dugaan kalau ini karena salah satu anggota kelompok yang sedang kita incar sekarang,” jawab pria itu.


“Begitu. Saya mengerti.”


***


Banyak orang melakukan rutinitas di sore hari, meski tidak sebanyak saat di pagi hari. Saat ini, Orion dkk berada dekat dengan Air Mancur yang di mana lokasi tersebut ditemukan oleh Mahanta.


Terkadang kumpulan burung merpati turun dan memakan remahan roti yang para pejalan kaki berikan pada mereka. Jadi terasa lebih ramai.


Tap, tap!


Orion melangkah, ia mendekati air mancur itu sembari menoleh ke sekitar. Ia mendapati perairan kecil yang terperosok ke bawah. Terlihat seperti selokan, atau memang selokan?


“Ini berdekatan dengan air mancur. Jaraknya hanya beberapa meter saja. Tapi tidak mungkin Mahanta bersembunyi di sini,” celetuk Orion sembari menatap perairan tersebut.


Yang juga sekilas nampak seperti parit.


Plak!


Sehelai kertas menempel ke wajah Orion ketika ia membalikkan badan, serta angin berembus dari depan ke belakang. Orion lantas segera mengambil kertas itu dari wajahnya, dan kemudian melihat beberapa tulisan di atas kertas tersebut.


“Orang hilang.”


Selembar orang hilang beserta dengan foto dan ciri-cirinya. Pria dengan pakaian seragam loreng. Dinyatakan hilang selama 5 bulan yang lalu.


“Hm, sayang sekali aku tidak pernah melihat pria ini,” ucap Orion yang berdeham lantas menaruh selembar itu di dekat air mancur.


Ketua Meera datang menghampiri dari jalan depan. Tampaknya ia juga tidak menemukan Mahanta dalam perjalanannya.


“Ketua Meera, Anda benar-benar tidak melihatnya?” tanya Orion berwajah gelisah.


“Iya. Saya tidak melihatnya. Sudah saya cari bahkan di selokan juga sudah. Sebenarnya dia ada di mana?”


Ketua Meera bahkan bertanya-tanya, jelas saja bahwa Orion sendiri pun tidak dapat menemukan keberadaannya. Sedari tadi pun hanya celingak-celinguk saja seperti orang hilang. Yah, kecuali menemukan selembar pernyataan orang hilang.


“Kalau begitu Ketua Meera, saya akan pergi mencarinya lagi,” kata Orion membalikkan badan.


“Tunggu sebentar! Ketua Irawan, Pahlawan Kota dan anak baru itu juga masih dalam pencarian bukan? Seharusnya Anda beristirahat saja dulu. Karena sepertinya sejak di pagi hari, Anda belum cukup beristirahat.”


“Ya, itu benar. Tapi saya tidak merasakan lelah,” tutur Orion.


“Lebih tepatnya karena darah ini juga. Aku serasa seperti diwaspadai sejak datang kemari,” imbuh Orion dalam batin. Rupanya ia mengkhawatirkan seseorang yang entah berada di mana saat ini.


Ketua Meera mengarahkan Orion ke arah dekat perairan itu, dan sesaat setelah mereka sampai dekat sana, tiba-tiba saja Ketua Meera mendorong tubuh Orion masuk.


Byurr!


Tak hanya Orion saja yang akhirnya menyebur masuk ke perairan di sana, bahkan Ketua Meera pun melakukan hal sama.


“Apa yang—”


Ketua Meera menenggelamkan wajah Orion ke dalam air. Ketua Meera juga melakukan hal yang sama. Tampaknya Ketua Meera menyadari sesuatu hal.


Beberapa waktu berlalu, langkah kaki Orang yang tak terhitung terdengar dari atas. Mereka berlari ke arah timur, terdengar semakin lirih tanda orang-orang itu telah menjauh dari mereka.


“Hah! Ya ampun, Ketua Meera! Apa-apaan Anda?” amuk Orion, mengerutkan kening. Sementara Ketua Meera terkikik lirih seolah ini candaan.


“Maafkan saya, Tuan Tak Bernama. Ini jauh lebih baik daripada harus bertarung sia-sia, 'kan?” sahut Meera, ia kemudian merangkak naik lalu menjulurkan tangan pada Orion.


“Oh, begitu. Jadi tadi ada beberapa orang yang datang dan mengincar kita?” pikir Orion yang sebenarnya juga menyadari hal itu, lalu menerima uluran tangannya dan naik ke atas.


“Haha, daripada itu. Saya sangat penasaran, hanya Anda yang memanggil nama saya secara langsung.” Ketua Meera kembali tertawa.


“Apa maksud Anda?”


“Anda memanggil saya, "Ketua Meera", daripada, "Ketua Raiya", maksud saya begitu. Karena kebanyakan orang akan sungkan kalau asal menyebut nama begitu, benar?”


Dan, Orion lagi-lagi terjebak dalam identitasnya sendiri. Ia benar-benar tak menyangka bahwa hal ini akan terjadi padanya. Padahal, semula ia berpikir bahwa tanpa nama bukanlah nama. Namun nyatanya, Orion terlalu biasa untuk memanggil Ketua Meera dengan nama depannya.


“Bukankah Nona Gista selalu memanggil Anda dengan sebutan itu?” Akhirnya ia pandai berdalih.


Saat ini Orion menunjukkan wajah datar, so cool. Padahal di balik mukanya ia kini sedang panik karena mengira akan ketahuan.


“Ah, iya juga ya. Anda 'kan selalu memanggil Ketus Arutala dengan nama depannya langsung. Jadi kebiasaan ya? Hm, hm, baiklah. Saya mengerti,” kata Ketua Meera seraya menganggukkan kepala beberapa kali.


“Apakah saya harus mengubahnya?” pikir Orion.


“Tidak perlu. Itu adalah tanda sebagaimana kita akan jadi lebih akrab. Jadi panggil Meera saja juga tidak masalah,” ucap Ketua Meera yang seolah tanpa beban sama sekali.


BRAK!


“HEI! APA YANG KALIAN LAKUKAN?!”


Terdengar suara dobrakan pintu yang amat keras lalu disusul oleh teriakan seorang dari depan pintu coklat yang sudah terbuka lebar. Ketua Meera dan Orion lantas bergegas menuju ke tempat itu.


“Saya baru ingat, tempat itu tidak mencolok, sehingga lolos dari penglihatan saya,” ujar Ketua Meera berwajah serius.


“Ya, menipu.” Orion mengangguk setuju.


Mereka berdua masuk tanpa mengindahkan peringatan dari pria yang menjaga di luar sana. Lantaran, mereka memikirkan hal sama yakni Mahanta berada dalam masalah.


Syak! Syak!


Angin menerpa keduanya hingga tak dapat bergerak. Hanya dapat bertahan, meski angin-angin itu dirasakan seperti sebilah pisau yang terus menyayat tubuh mereka.


“Oh, kau! Ori—”


“Sst!” Ketika angin berhenti, Orion menyuruh Mahanta untuk diam, sebab Mahanta nyaris memanggil namanya.


“Kupikir siapa. Ah, maaf, Ketua Meera. Saya tidak sengaja.”


Rupanya Mahanta lah yang menggunakan angin ini. Beruntung, bukan musuh langsung.