ORION

ORION
Fakta yang Terbongkar Tanpa Disadari



“Apa kau g*la?”


“Kau itu yang gila, bocah tua!” sahut Endaru.


Amarah Endaru sama sekali tak mereda dari waktu ke waktu. Untuk Pejuang NED, tentu saja ledakan itu tak cukup membuat mereka mati terbakar. Keduanya sudah siap perisai dengan kekuatan mereka masing-masing.


Orion sejujurnya tak menyangka ini akan terjadi. Memang benar, apinya berperan sangat besar karena ledakan barusan. Tetapi tidak sepenuhnya bisa disalahkan karena Endaru lah yang membuat tekanan di sekitar mereka menjadi sedemikian beratnya.


Hingga menjadi saling berbenturan dan ledakan pun terjadi.


“Aku hanya ingin tahu hal itu. Tinggal bilang iya atau tidak, maka itu sudah cukup lalu aku akan pergi. Begitu saja marah,” sindir Orion seraya menatapnya heran.


Napas mereka terengah-engah, kekuatan mereka pun juga dirasa akan habis. Di pagi buta ini, sejuknya angin terasa begitu menyegarkan. Perasaan Orion terutama Endaru sedikit demi sedikit mulai tenang.


Tapi ekspresi Endaru sama sekali tidak berubah, datar dan rasanya menjengkelkan setiap dilihat. Merasa muak, Orion membuang muka.


“Ini tidak akan selesai begitu saja. Karena sama sepertimu, aku juga tidak bisa mempercayaimu. Karena itulah, akan lebih baik antek-antek wanita itu harus kulenyapkan agar tak lagi mengusik diriku.”


Sembari berucap, Endaru melepas jas hitamnya yang sudah rusak. Ia kemudian mengangkat lengan ke depan, selaput kemerahan muncul tak lama setelah itu.


Semilir angin menghembus rambut hitam mereka berdua. Tatkala saling bertukar tatap dengan sinar rembulan yang masuk dari dinding yang terbuka. Sorot mata kebencian dan sorot mata kemarahan seakan berpadu kian menyatu dalam gelapnya malam.


Dinding yang terbuka lebar, banyak barang-barang yang hangus tanpa sisa, lampu yang padam dan terdengar suara jeritan dari luar sana. Mereka yang adalah para penghuni hotel juga semuanya keluar bergerombol karena takut musibah yang menimpa hotel tersebut.


“Bicaramu sombong sekali. Padahal aku bukanlah antek-antek wanita itu. Lalu yang kau lihat sekarang adalah salah satu rahasiaku yang bahkan Gista sendiri mungkin tidak tahu. Baiknya bagaimana?” sahut Orion dengan berdiri dan menatap Endaru yang lebih pendek darinya.


“Kalau begitu bagus. Meskipun kau bilang kau bukanlah antek-anteknya, tetapi kau tetap berniat menyelidiki diriku dan aku tak suka itu. Lalu sekarang rahasiamu diketahui olehku. Sudah pasti kita akan saling membunuh satu sama lain, 'kan?”


Perkataan Endaru tidak main-main. Orion tidak lagi salah sangka sekarang. Berawal dari rumor yang mengatakan bahwa Endaru adalah pahlawan diktator dan sombong. Dan sekarang jelas, ada alasan dibalik itu dengan melihat tatapan dingin dan hawa membunuh.


Getaran yang berkali-kali lipat dari sebelumnya mulai dirasakan oleh Orion sekarang. Api berwarna jingga kemerahan kembali menyala dan cahaya itu seketika menjadi sorot perhatian para warga di bawah sana.


Dalam satu langkah, siapa pun yang berhasil menumbangkan lawan, dialah yang akan berhasil bertahan hidup.


“Gravitasi 50 kali lipat!” Endaru menyebut. Seketika tenaga fisik Orion lenyap dan tak bergeming sedikitpun. Rasanya lemas dan hanya bisa terduduk di lantai saja.


Namun api yang menyala-nyala tersebut tetap hidup sekalipun gravitasi meningkat tiap detiknya. Orion kembali memaksakan dirinya lagi, ia bangkit dengan penuh luka di bagian kedua kaki serta bagus dalam tubuhnya, yang di mana beberapa tulang rusuk itu patah.


Sulit untuknya bergerak, namun tetap ia memaksa kedua kaki itu untuk kembali bangkit dan menghadapi Endaru. Jauh lebih kuat, api yang menyengat panas pun nyaris membuat kulit Endaru terbakar.


Endaru melangkah mundur dan menjaga jarak dari Orion. Dan Orion pula mengambil langkah lebar tuk mendekat ke arahnya. Sekuat-kuatnya, ia tetap melangkah hingga pijakan pada lantai itu terasa akan rubuh.


Syut! Orion menarik lengannya, dan dengan cepat kepalan tinju api melesat, menuju tubuh Endaru. Dilakukan begitu cepat hingga mengalahkan gravitasi yang membuat tubuh Orion tertekan ke bawah.


Dar!


Tinju Orion menembus dada Endaru setelah ledakan kecil bagian kiri tubuh anak muda itu muncul. Sontak, kekuatan Endaru pun lenyap tanpa sisa. Tubuh Endaru melemah, ia terkulai lemas tak berdaya. Napasnya perlahan pendek hingga kemudian tak tersisa lagi.


Bruk! Tubuh Endaru ambruk. Orion menarik kembali tangan yang sudah menembus tubuh Pahlawan itu. Menjadikan ia sebagai sosok jahat, itulah yang terbesit dalam benak Orion seorang diri.


***


Semua ketua di sana tetap berdiri di depan pintu kamar hotel. Mereka berwajah pucat pasi namun enggan membuka pintu itu.


“Kenapa kalian diam saja?” Gista yang baru saja datang bersama Mahanta pun bertanya pada mereka.


Mereka sama sekali tidak menggubris perkataan Gista. Gista pun hanya mendesah lelah. Lantas membuka pintu yang sepertinya sudah tak lagi terkunci. Ia melangkah dengan uap dingin keluar dari tubuhnya.


Melihat ke sekeliling yang sudah hancur berantakan. Dan hal yang paling membuatnya terkejut adalah tubuh Pahlawan Kota yang bersimbah darah dengan pakaian berlubang tanpa luka. Lalu di sampingnya terdapat Orion dengan wujud orang dewasa.


“Tutup pintunya, Mahanta,” pinta Gista.


Mahanta yang berada di belakang Gista pun segera menutup pintu. Lantas melihat tubuh dua orang pria di sana.


“Nona Gista ...”


“Sembunyikan fakta Orion agar Ketua lainnya tak datang mengincar,” pinta Gista terhadap Mahanta.


Mahanta pun hanya terdiam tanpa mengucapkan sepatah katapun.


Ketika Gista menatap mereka berdua dalam diam selama beberapa menit. Perlahan tubuh Orion kembali seperti semula dengan wujud seorang anak kecil.


Dari bawah kedua kaki Gista, ia memunculkan sebuah lapisan es yang kemudian menyebar dengan cepat ke seluruh bagian dalam ruangan tersebut. Ia melakukannya tanpa membuat tubuh kedua orang itu terjebak dalam lapisan es.


Tak lama para ketua yang sebelumnya enggan masuk akhirnya ikut masuk juga.


“Nona Arutala ...”


“Apa yang lain sudah sampai semua?” tanya Gista memotong kalimat yang hendak disampaikan salah satu ketua.


“Tidak, Nona Arutala. Yang tidak ada di sini hanyalah Ketua Dharmawangsa.” Ketua Meera mengungkap.


Drap! Drap!


Terdengar suara langkah kaki yang tampaknya sangat terburu-buru. Datanglah orang yang tengah dicari oleh Gista.


“Ini kacau sekali!” amuk Dharmawangsa.


Melihat pintu terbuka, segera Dharma masuk ke dalam. Dan begitu melihat kondisi dua orang terbaring di lapisan es, ia mengeluarkan kekuatan dari balik telapak tangannya.


Sebuah rantai emas muncul dan mengikat Pahlawan Kota dan juga Orion. Setelah itu rantai emas menghilang, namun kekuatannya masih ada di dalam diri mereka yang terikat oleh rantai tersebut.


“Aku sudah menandai kedua orang ini. Untuk apa Anda ikut campur?” ketus Gista.


“Hanya berjaga-jaga saja. Daripada itu, cepatlah bereskan ini semua tanpa meninggalkan jejak tersisa!” sahut Dharma.