
Meera memotong jari telunjuk Orion, seketika potongan jari itu berubah menjadi jarum. Jarum yang sama persis dengan jarum yang pernah ia temukan dari balik rambut putri pejabat.
“Ini, jarum? Apa yang terjadi?”
Bruk! Tubuh Jhon sekali lagi jatuh tersungkur. Asisten Meera yang telah memukulnya.
“Urgh, sakit sekali!!“ erang Orion seraya menggenggam jarinya.
“Maafkan aku Orion, sepertinya itu menjadi alasan mengapa Jhon mengincar dirimu.”
Genangan air di bawah mereka, entah kenapa rasanya semakin lama semakin meninggi.
“Nona Meera, airnya semakin tinggi.”
“Apa? Tunggu! Aku bahkan tidak menggunakannya lagi,” ujar Meera mulai panik.
Seraya menahan sakitnya, Orion perlahan melangkah sekali lagi. Dengan air yang semakin tinggi, ia berpikir bahwa ini karena Jhon.
“Jangan bertindak gegabah, Orion!” pekik Meera memperingatkannya.
“Jhon! Ada kemungkinan ...”
Belum sempat ia bicara sesuatu tentang Jhon pada mereka, namun air yang kian meninggi telah memenuhi seluruh ruangan yang ada di dalam gedung tersebut.
Meera, Orion dan orang-orang lainnya tenggelam karena kedalaman air yang sudah melebihi tinggi mereka. Dan itu membuat mereka sangat kesusahan. Terutama Orion, dengan tubuh kecil seperti itu, ia sangat kesulitan mengendalikan gelombang air yang membuatnya terombang-ambing ke dalam dengan kuat.
“Argh! Ini seperti kekuatan Meera! Tapi kenapa Jhon bisa melakukannya? Jangan-jangan, dia Chameleon?!” pikir Orion membatin.
Meera bahkan tidak bisa mengendalikan kekuatan air miliknya sepenuhnya. Ia dan orang-orangnya pun masih dalam keadaan terombang-ambing seolah mereka berada di laut lepas.
Seluruh gedung terendam, namun tidak di bagian luar. Seolah Jhon telah mengesekusi tempat dan hanya membuat di dalam gedung saja yang terendam air.
“Lakukan sesuatu! Lakukan sesuatu, Orion!” pekik Orion dalam benaknya, ia berusaha keras memikirkan jalan keluar dari kekuatan ini.
Ada satu cara yang mungkin bisa digunakan. Tapi apakah berhasil? Orion sedikit demi sedikit mampu menggerakkan tubuhnya dan ia berenang ke permukaan seraya menghindari barang-barang yang masih terombang-ambing.
“Puah! Hah, ini benar-benar tidak masuk akal! Apa yang ...sebenarnya dia lakukan? Si Jhon atau siapalah itu ...memangnya dia lagi kurang kerjaan?” gerutu Orion.
Dengan cepat api Orion meluas ke seluruh permukaan air. Membuat uap-uap panas muncul, perubahan kedalaman air terasa walau hanya sedikit demi sedikit.
“Airnya surut. Aku pikir aku berada di gunung berapi,” celetuk Meera yang berada di permukaan air.
Ia membuat sekelilingnya dan orang-orang lain tidak terjebak karena api Orion yang sekilas seperti magma api dengan air yang bisa dikendalikan oleh Meera.
Setidaknya dengan begini, air yang perlahan surut tidak terganggu dan api Orion tidak melukai mereka.
Uap panas kian menambah. Gedung dipenuhi dengan kabut yang tebal seiring air perlahan semakin surut. Beberapa dari mereka mulai menyentuh tanah.
“Orion, aku ke sana.”
Meera pun berenang menuju ke posisi Orion yang berada jauh darinya. Ia menggendong tubuhnya agar tidak kelelahan karena sejak tadi ia terus berenang sepanjang waktu.
“Hari ini akan jadi malam yang panjang. Tapi sepertinya tidak akan sampai seperti saat di gedung hotel, ya?”
“Lupakan itu, Nona Meera. Ngomong-ngomong bagaimana dengan Jhon? Aku merasa dia tadi ada di depanku dan sekarang dia menghilang sejak menggunakan air ini?”
“Bayangan, api lalu air. Dia bisa menggunakan ketiga kemampuan sekaligus. Apakah dunia NED memang seaneh ini?” pikir Orion tidak percaya.
Semua hal yang sudah lama terjadi, baru kali ini ia merasa berhadapan dengan orang yang kuat. Jhon yang memiliki tubuh ramping seperti wanita, selalu memakai masker hitam dan tak pernah bicara sekalipun seolah bisu.
Di kala, Jhon mampu menggunakan ketiga kemampuan, tentu itu membuat Orion sangat cemas. Tapi tidak dengan Meera dan lainnya, mereka semua terlihat tenang.
“Setelah ini selesai, aku akan menyelidiki orang itu sampai ke akar-akarnya. Takkan aku lepaskan meskipun taruhannya adalah nyawa,” tutur Meera, ia serius dengan pernyataannya barusan.
Seraya mengepalkan kedua tangan, Meera membuat genangan air tersisa berkumpul menjadi satu dan mengudara di atas mereka. Kumpulan air yang dibuat seolah memadat, lantas berputar layaknya pusaran air.
“Kalian semua, jangan sampai satu dari kalian mengeluarkan kekuatan. Kecuali aku menyuruh kalian!” teriak Meera pada orang-orangnya.
Perlahan air yang berada dalam kendali Meera menyusut. Setelah beberapa saat, ia kemudian melenyapkannya agar tak ada lagi air yang tersisa.
“Nona Meera! Saya akan mencari keberadaan Jhon lagi? Kalau diperbolehkan menggunakan kekuatan ini?” tanya asistennya pada Meera.
“Ya, kalau untukmu sudah pasti harus. Karena hanya kau yang bisa melihat dalam keadaan gelap,” kata Meera tidak mempermasalahkannya.
“Nona Meera, siapakah orang itu sebenarnya?” Salah satu dari mereka bertanya.
Meera menjawab, “Untuk saat ini dia disebut Jhon. Kita tidak tahu siapa dia sebenarnya tapi aku punya pemikiran bahwa dia adalah rekan Chameleon atau Chameleon itu sendiri, musuh kita yang benar-benar merepotkan!” Meera meninggikan suara.
“Nona Meera, jarum itu ke mana?” tanya Orion padanya.
Ada satu hal yang membuatnya penasaran setengah mati untuk saat ini dan itu adalah potongan jarinya yang berubah menjadi jarum. Kini masih menjadi teka-teki.
“Aku tidak tahu. Karena kita semua tenggelam, semua barang dan lainnya jadi berhamburan. Bahkan kertas-kertas yang berhubungan dengan pekerjaan juga jadi basah dan tulisannya luntur,” jawab Meera.
Sepertinya Orion harus mencarinya sendiri, karena mungkin ada sesuatu di jarum itu?
“Ukh, menjengkelkan.” Orion menggerutu kesal, seraya ia merobek helai pakaiannya sedikit untuk menghentikan pendarahan pada jari telunjuknya.
“Maaf, kamu pasti sangat marah, ya. Karena aku, jari telunjukmu hilang. Tapi itu kulakukan karena aku melihat hal janggal saat itu,” ucap Meera yang masih merasa bersalah.
“Maksudnya saat Nona Meera melihat Jhon yang menghampiriku?”
“Ya, sekilas aku merasa kalau Jhon berniat melakukan suatu hal yang buruk. Entah menculik atau membunuh. Kamu pasti sudah tahu, anak-anak diculik untuk apa, 'kan.”
“Apa? Apa maksud Nona Meera itu, Jhon berpikir kalau aku memiliki darah langka?” pikir Orion dengan berbisik.
Meera kemudian mengganggukkan kepala. Lantas Orion hanya bermuka masam, kemudian pergi mencari potongan jarinya.
“Anak itu sangat kuat sekali. Dia bahkan tidak menangis saat kehilangan jari.”
Hal ini masih mengambang, tak tahu kapan Jhon akan bergerak lagi tapi yang pasti kalau melepaskan Jhon begitu saja, tentu akan membuat Orion kesulitan.
“Misteri tentang tubuhku, akan ku ungkap. Dan jika ingin cari yang instan, pastinya aku harus bertemu dengan orang yang pertama kali bangkit dari kematian," gumam Orion seraya mencari potongan jarinya.
Lengah sedikit saja, Jhon kembali muncul dan membekap mulut Orion. Gumpalan hitam yang lebih dari sekadar bayangan membuatnya jatuh ke dalam.
“Orion!!”