
Pria pemain kecapi itu kini terdiam tanpa kata. Tak menyangka bahwa tujuan Orion bukanlah untuk bergabung melainkan cari mati pada Chameleon.
Orion jelas tahu bahwa Chameleon itu sangat kuat, bahkan ia sudah berhadapan dengannya walau secara tak langsung.
“Apa kau pikir aku akan bergabung?”
Grek! Chameleon bangkit dari kursinya. Ia lantas membalikkan badan dan membuka tirai jendela yang sebelumnya tertutup.
“Bodoh, kalau aku berpikir begitu. Karena kau adalah bagian dari Grup Arutala. Namun apa yang kuinginkan belumlah berubah. Selama kau tidak melawanku maka kau akan selamat setidaknya untuk beberapa tahun ke depan.”
Meskipun Chameleon berkata seperti itu, yang seolah mencari celah. Namun tidak dengan tangannya yang mengepal kuat. Tanda bahwa ia akan meladeni Orion kapan saja termasuk sekarang juga.
“Orion, kau pria terbodoh yang belum pernah aku lihat. Beraninya dia melawan Chameleon,” batin si pemain kecapi itu.
Srakk!!
Ketika Orion membulatkan tekad tuk melawan Chameleon dengan dua bilah di tangannya. Kini, Chameleon membelah meja dan kursi hingga meninggalkan jejak di lantai.
Berupa bayangan hitam yang kemudian bergerak melewati tubuh Orion.
Karena gerakannya cepat, sulit bagi Orion untuk menghindar. Namun serangan Chameleon sama sekali tidak mengenai dirinya.
“Kau pasti kaget. Tapi aku masih bisa memberimu kesempatan,” ucap Chameleon tanpa menoleh ke belakang.
Dash!
Orion melesat ke arahnya dengan tubuh gemetar. Instingnya membuat ia harus mundur namun pikirannya berkata lain.
Orion nekat menyerang Chameleon dari dekat. Memperpendek jarak agar Chameleon sulit berkutik.
“Kau gesit juga,” kata Chameleon seraya ia memukul mundur Orion dengan tendangan mengarah ke tubuhnya langsung.
“Hekh! Ugh!”
Orion terpelanting mundur dan seketika mulutnya dipenuhi warna merah. Terasa manis juga pahit, ini darah. Orion tak bergeming, hanya karena serangan fisik darinya.
Kekuatannya bahkan jauh lebih unggul dari Orion. Pertama kali Orion merasakan sakit yang lebih dari kematiannya sendiri.
“Satu-satunya orang yang tak boleh kau usik ada di sini. Kenapa kau begitu nekat melawanku? Hanya karena kau Api Abadi namun bukan berarti kau bisa melampaui diriku,” tutur Chameleon dengan senyum tersungging.
“Aku tahu. Aku sama sekali tak bisa dibandingkan dengan Gista ataupun aku. Aku juga tidak berpengalaman, tidak kuat namun beruntung memilikinya,” sahut Orion lantas bangkit dari sana.
“Lalu, kenapa ka—”
Prang!!!
Belum selesai ia bicara, Orion melayangkan serangan, dari ayunan pedangnya dari bawah ke atas. Sayatan itu menumpuk bekas serangan Chameleon hingga memecahkan kaca jendela.
Sontak Chameleon menghindar dari sana, namun beberapa serpihan kaca terlanjur menancap ke bagian lengan dan sekitarnya.
“Sepertinya kau sama saja dengan wanita itu. Padahal aku mengampunimu tapi kenapa bersikeras melawanku seperti ini? Jangan bilang kau ada niatan untuk membunuhku?” pikir Chameleon.
“Mengampuni? Lalu orang-orang yang ada di bawah sini itu kau apakan sampai mereka menjerit tangis!?” pekik Orion.
“Hanya orang-orang yang aku manfaatkan untuk kebutuhan identitasku serta ada beberapa darah langka. Mereka tidak lebih dari kumpulan orang yang berguna dan dapat dimanfaatkan dengan baik.”
Mendengar jawaban dari Chameleon, Orion tercengang. Ia pikir orang tak waras selama ini hanya dirinya sendiri tapi ternyata ada yang lebih.
“Kau g*la!”
Tap! Tap!
Chameleon melangkah menuju tempat Orion berdiri. Lantas jejaknya terdapat lapisan es. Perlahan-lahan lapisan es itu kini meluas.
Satu-satunya orang yang Orion kenal dengan kekuatan es adalah Gista Arutala. Namun Chameleon dengan mudahnya menyalin kemampuan itu bahkan tanpa batas.
Lapisan es meluas ke seluruh ruangan. Kedua kaki Orion dan si pemain kecapi itu pun terjebak. Tak lama setelah lapisan es yang membuat hawa dingin membekukan tubuh mereka, Chameleon membentuk kekuatannya, pedang es.
“Kau kenal ini milik siapa?”
Orion berdecak kesal. Api berkobar-kobar ke seluruh tubuhnya. Mampu melelehkan es yang menjebak kedua kakinya, lantas kembali menyerang. Senjata mereka pun beradu dengan kecepatan serta daya serang.
Trang!!
Benturan yang sama namun suaranya menjadi berdengung-dengung. Orion melompat mundur kemudian memusatkan kekuatannya pada tangan kanan.
“Hei, Karura. Apakah dengan mencari mati begini aku akan dapat menguasai sepenuhnya Api Abadi?” gumam Orion bertanya pada Karura.
“Gunakan seluruh kekuatanmu di samping dia terus melawanmu,” jawab Karura.
Saat itu, Orion memang hanya berniat mencari keberadaan Chameleon serta membuktikan apakah selama ini perbuatan buruk Chameleon itu adalah nyata ataukah tidak.
Namun di sisi lain, ia pun berniat mencari mati dalam artian kunci untuk menguasai Api Abadi.
Setelah lapisan es muncul, kali ini goresan. Tampaknya ia juga menyalin kekuatan milik Sima, wanita yang selalu bersama dengan Adi Caraka.
Goresan itu jauh lebih tebal dan dapat mengikat seluruh pergerakan Orion, nyaris tubuhnya menekuk patah.
Blar!
Semburan api kian memanjang dan membara lebih besar. Memotong setiap goresan bak lendir yang kaku. Orion berlari ke arahnya dengan melayangkan senjata.
Tepat setelah berhasil menorehkan luka di tubuh Chameleon, Orion tidak mengulur waktu lebih lama lagi. Ia membakar tubuh Chameleon dengan tangan kanannya, dari ujung kaki hingga ke ujung rambut.
“Ha, keras kepala!”
“Ukh!!”
Chameleon menjulurkan tangan, mencekik leher Orion lantas membantingnya ke lantai. Api menyembur keluar bagai lava yang tumpah dari gunung tinggi. Orion meronta-ronta, dan Chameleon yang terbakar itu justru tidak merasakan apa-apa.
Ia mencekik Orion penuh amarah. Ia sangat serius untuk membunuhnya sekarang. Sorot mata yang menukik tajam namun seringainya tak lepas dari wajah. Menandakan seberapa gilanya Chameleon saat ini.
“Aku bisa menggunakan kekuatanmu juga, Orion.”
Justru api itu memakan Orion sendiri. Membakar tubuhnya dan nyaris mengenai wajah, dirinya terus meronta.
Duakk!!
Sekali ia menendang bagian perutnya. Namun Chameleon tidak merasakan sakit atau apa justru seringainya semakin lebar.
“Dasar ....tidak waras,” gerutu Orion kalang kabut.
Pandangannya memburam seiring waktu ia terus meronta. Bahkan untuk menyerang saja sudah tidak bisa. Karena setiap kali ia membentuk api sebagai bilah pedang justru langsung terserap oleh Chameleon.
“Pada akhirnya kau tidak bisa menggunakan Api Abadi? Itu artinya kau adalah orang gagal!”
Chameleon mengangkat tubuh Orion lantas melemparnya dengan sengaja mengarah ke pria si pemain kecapi tersebut.
Duk!
Kepala Orion terbentur ke dinding tepat si pemain kecapi itu menghindar. Nyatanya tak hanya melempar tubuh Orion, Chameleon pula berniat memenggal kepalanya.
Terlihat bekas luka goresan di wajah, yang nyaris mengenai leher. Itulah mengapa si pemain kecapi menghindar.
“Sepertinya kau mengabadikan momen ini, ya? Sudah lama tidak bertemu. Hm, kau ...aku bahkan lupa namamu.”
Chameleon berbicara kepadanya namun tak satu pun kata ia lontarkan. Di samping itu, tubuh Orion perlahan membuju kaku. Di ambang batasnya ia bersikeras untuk mengendalikan api yang terus membakarnya.
Sebisa mungkin ia harus cepat. Karena jika tidak, tamat sudah riwayatnya.