
Situasi saat ini: tak terkendali. Terakhir kali, Orion bertemu dengan informan secara tidak sengaja karena rasa penasarannya. Orion membuka topeng itu secara paksa sehingga mengakibatkan informan melarikan diri. Dan sepertinya, informan mengira bahwa pria yang memergokinya tertawa adalah Orion.
Meski itu benar, namun tentunya ia tak percaya karena saat mereka bertemu, itu ketika Orion masih dalam wujud seorang anak kecil.
Orion mengejar informan itu namun berakhir dengan ungkapan si informan yang menyatakan bahwa Orion adalah pemilik darah langka. Semua hadirin di sana sangatlah terkejut, sebagian mereka terdiam, mengaga, saling melirik kawannya di samping.
Semua orang memiliki pertanyaan yang sama, "Apa itu benar?"
Berbisik-bisik mengenai pria yang ditunjuk oleh informan, pria asing tanpa topeng serta memiliki pandangan mati.
“Semua! Apa yang aku katakan itu adalah benar! Pria itu adalah pemilik darah langka. Kalian tentunya tidak akan menyangka, tapi dia datang kemari semata-mata hanya demi mengambil darah yang sudah dilelangkan sekarang!” ungkapnya sekali lagi, meninggikan suara.
“Aku bisa membuat orang ini sebagai umpan. Kalaupun dia bukan pemilik darah langka, memangnya apa peduliku? Yang penting ini bisa mengulur waktu.” Informan membatin dengan menahan tawa piciknya.
Semata-mata informan itu hanyalah memanfaatkan Orion. Ia mungkin ingin membuat banyak orang semakin memanas dan persaingan untuk memperebutkan darah itu lebih ketat lagi.
Sementara itu, Ketua Irawan dan Runo yang juga mendengarnya pun terkejut. Mereka berdua tidak tahu berita tersebut. Apalagi mengenal lebih dekat dengan Orion saja tidak, ini adalah kali pertama mereka mendengarnya. Akan tetapi kalau hanya dengan pembicaraan informan saja, maka mereka memilih untuk tidak percaya lebih dulu.
“Ini situasi yang amat bagus. Entah kenapa setetes darah jadi budak darah sekarang,” ucap wanita berpakaian kelinci itu seraya menjilat bibir.
“Jangan keluarkan taringmu sebelum itu menjadi kenyataan,” ucap si Mc, melirik sinis ke arah Orion berniat mengincarnya.
Sedangkan Orion saat ini, hanya terdiam dengan mendapati tatapan semua orang dari atas sana. Dirinya seperti terbelenggu oleh rantai masa lalu, di mana ia selalu mendapat tatapan sinis dan gunjingan yang terdengar dari mana-mana. Membuatnya tidak dapat bergerak apalagi berbicara sepatah kata.
“Apa seharusnya aku membiarkan informan itu? Tidak, kalaupun aku biarkan maka kesempatan untuk selangkah lebih maju dari Chameleon akan hancur.” Yang dapat ia lakukan hanyalah berkata dalam benaknya saja.
Darah langka yang dilelangkan, lalu info tentang keberadaan Chameleon yang lebih tajam, itulah alasan mengapa Orion tetap berada di pelelangan Undergrown ini. Mana mungkin ia akan melepaskannya begitu saja, sedangkan Chameleon terus saja mempermainkan harga dirinya beserta para rekan Orion saat ini.
“Apakah itu benar?” tanya pria bertopeng hitam dengan suara biasa namun terdengar lantang, sedikit menggaung karena tempat ini menjadi sepi.
“Tentu saja!” Informan kemudian menoleh ke belakang lalu berkata, “Begitu juga dengan Anda berdua, bukan? Aku jamin dia adalah pemilik darah langka, dan inilah barang lelang kedua–tidak! Barang lelang yang dijadikan satu! Kalian menginginkan hal ini benar?”
Apa pun ia lakukan demi kekayaan yang akan ia dapatkan. Informan itu benar-benar tak tanggung-tanggung, padahal kalau semuanya terbongkar maka dirinya akan hancur nanti.
“Bagaimana?! Kalian tidak ingin melanjutkannya lagi? Ayo! Cepat! Beri aku harta kalian semua! Semua!”
“Saya menginginkannya,” gumam wanita kelinci dengan raut wajah tak terkendali. Ia menjilat bibir untuk yang kedua kalinya, menatap penuh gairah hanya pada Orion seorang.
Penanggung jawab atas pelelangan di Undergrown ini pula telah mendengar hal tersebut. Lantas ia menyuruh para bawahannya untuk memastikan kebenaran itu. Mereka datang, terhitung 2-5 orang keluar dari balik tirai. Mereka memegangi tangan Orion yang terus memberontak.
“Hei! Aku bukan darah langka! Kalian salah sangka! Mana mungkin darah langka datang kemari, 'kan? Hei!” pekik Orion yang semakin lama tubuhnya terus merunduk.
“Hah? Bukan darah langka? Kau bercanda. Setiap orang akan berbohong agar tidak ketahuan. Itu hal wajar. Tapi sayangnya aku sudah tahu!” sahut Informan itu dengan perangai liciknya.
“Sayangnya aku tidak sesuai dugaanmu! Aku bukanlah darah langka, apalagi pemilik darah itu!” pekik Orion menatapnya tajam.
Tubuh Orion terjatuh dengan mereka yang mengunci pergerakannya sehingga Orion pun sulit untuk bergerak dan hanya dapat merintih kesakitan dari setiap waktu ke waktu.
“Dengar! Aku bukan darah langka! Bukan! Orang itu menipu kalian semua!” Mau tak mau ia harus memutarbalikkan fakta.
“Aku yakin dia tidak tahu kalau aku sebenarnya tidak memiliki darah langka.” Orion membatin.
Para hadirin memiliki pikiran yang sama. Termasuk pria bertopeng hitam yang sedang menerka-nerka apakah Orion adalah pemilik darah atau bukan. Namun pada akhirnya, mereka memutuskan, untuk merebutnya tak peduli benar atau tidak pun masih bisa dimanfaatkan.
Tatapan mereka yang seakan-akan merendahkan Orion saat itu, benar-benar tidak dapat dilawan oleh Orion. Ia masih tertekan karena tatapan mereka yang mengingatkan akan masa lalu kelamnya.
Dunia tidak sepenuhnya berubah. Lantaran ada di mana-mana orang yang seperti itu. Mereka akan melakukan apa saja demi alasan pribadi masing-masing.
Ketika situasi sudah mulai tak terkendali setelah para hadirin kembali bersorak, Runo menghubungi Mahanta.
“Permisi, Tuan Mahanta. Maaf menganggu waktunya. Tuan Orion sedang membutuhkan bantuan Anda. Saya mohon, Anda cepatlah datang ke pelelangan Undergrown,” pinta Runo seraya melirik ke arah Orion. Saat itu Runo sekilas mengetahuinya bahwa Orion saat ini dalam kondisi terpuruk.
“[Runo kah? Saya akan segera ke sana. Namun sepertinya akan sulit karena di sini pun saya sedang melakukan sesuatu hal lain. Apakah saya bisa mengandalkan Runo ataupun Ketua lainnya yang datang?]”
“Itu, mungkin. Tapi—”
“[Saya akan tutup sambungan panggilannya.]”
“Saya mohon, Tuan Mahanta. Saya dan Tuan Orion ...lalu ...Tuan Mahanta?”
Namun sepertinya tidak berakhir dengan baik.
***
“Tuan, bukankah kita harus membuktikan hal itu?” Si wanita kelinci bertanya.
“Kau benar, alangkah baiknya kita harus melakukan itu dulu. Pembuktian secara langsung akan membuat semua orang tergiur,” ucap Mc yang menyetujui perkataan rekannya itu.
“Benar sekali, Tuan dan Nona. saya harap kalian dapat bekerja sama dengan saya. Apa kalian bersedia?” sahut Informan yang menatap mereka dengan girang, senyum tersungging licik seakan apa yang ia inginkan sudah berada dalam genggamannya.
Informan tak hanya menghampiri mereka untuk bicara melainkan juga hendak melakukan suatu hal buruk, dengan pisau lipat yang tersimpan dalam saku celananya.
“Apa yang akan Anda lakukan?” Mc itu bertanya.
“Sesuatu yang luar biasa akan terjadi jika saya melakukan "itu" sekarang.” Informan menjawab.
Tapi dalam benaknya ia berpikir, “Tenang saja aku punya rencana. Darah pria itu hanya untuk berpura-pura sedangkan aku memiliki darah dari anak itu yang asli sekarang.”