
Foto yang ditunjukkan benar-benar Orion. Orion dengan tubuhnya yang menyusut.
“Sampai ada fotonya segala. Apakah informasi ini sebegitu berharganya?” tanya Mahanta dengan curiga.
“Tentu saja, bukan? Yang namanya darah langka, orang dewasa, lansia ataupun anak-anak juga pasti diburu suatu saat. Namun aku mendapatkan info ini dari seseorang, bahkan kebangkitannya saja baru-baru ini.”
“Iya, kurasa kau ada benarnya.”
“Nah, karena aku sudah memberitahunya. Maka sekarang adalah pembayarannya, sekitar 10 juta saja,” kata pria itu seraya menunjukkan sepuluh jarinya ke depan.
Mahanta membelalakkan kedua matanya. Lantaran informasi soal Orion sangat mahal, entah kenapa ia jadi menyesal setelah bertanya hal itu.
“Sebelum kau membayarnya. Aku akan ke depan lebih dulu untuk melayani pelanggan lain.”
Saat-saat inilah kesempatan mereka untuk berbicara. Sejak tadi Orion selalu berdiri di belakang kursi sofa, dan sekarang ia duduk di samping Mahanta. Dengan sedikit gelisah.
“Informasiku dijual terlalu mahal. Kau harusnya tadi tanya saja dari siapa dia mendapatkan informasi tentangku,” ujar Orion.
“Tapi aku sudah terlanjur bertanya soalmu. Lagi pula, memangnya informasi itu akurat? Bisa saja aku sekarang sedang memindahkanmu ke kota ataupun negara lain,” ucap Mahanta.
“Tapi 'kan aku ada di sini dasar,” ketus Orion sambil menunjuk dirinya sendiri.
“Aku mengerti. Itu tadi hanya perumpamaan. Kalau begitu, ada yang ingin kau tanyakan lagi padanya? Katakan saja padaku,” tanya Mahanta.
“Tanyakan keberadaan Chameleon.”
Klak! Pria itu kembali datang, membuka pintu dan kembali duduk berhadapan dengan Mahanta. Sesaat situasi di antara mereka terasa menegang.
“Jadi, sudah kau siapkan? Aku harap Tuan bukan penipu.”
“Tentu saja. Aku akan membayarmu dengan informasi yang ingin kau ketahui. Bagaimana, apakah impas?” celetuk Mahanta memberikan penawaran setimpal.
Orion yang berpindah ke posisi belakang kursi sofa, ia sangat terkejut saat mendengar bahwa Mahanta akan memberi informasi sebagai bayaran.
“Hoho, aku suka sekali dengan hal itu. Baiklah, harus yang setimpal. Untuk anak ini,” ucap pria itu sambil menunjuk foto Orion.
“Bayarkan dengan informasi darah langka yang lain,” sambungnya.
“Wah, wah, kalau seperti itu tetap tidak bisa. Menukar darah langka dengan darah langka, yang belum tentu hasilnya sama. Aku tidak setuju,” kata Mahanta menolak seraya menggelengkan kepala.
“Hm, kalau begitu bagaimana dengan ...salah satu rekan Chameleon yang terlemah? Apa Tuan tahu?”
Sebelum dibicarakan, justru informan ini sendiri pula sedang mencari hal yang berkaitan dengan pertanyaan Orion. Meski tidak sama, tapi apakah mungkin mendapatkan info Chameleon begitu saja?
“Aku tahu sekali itu. Yang terlemah di antara mereka adalah si Dokter Gila. Kabarnya dia sedang bertugas kemari, tapi entah di daerah mana tepatnya,” ujar Mahanta tanpa ragu sedikitpun.
“Itu sudah cukup. Aku sangat berterima kasih.” Kemudian pria itu tersenyum tipis.
“Lalu, aku ingin informasi soal Chameleon. Apakah kau mengetahuinya?”
Mulailah Mahanta menanyakan pertanyaan tersebut. Sontak, pria tersebut kini terdiam. Semula wajahnya sumringah menjadi penuh kecemasan.
“Aku punya informasi itu tapi aku tidak bisa menjawabnya sekarang. Kalaupun bisa, tapi apa yang akan Tuan tukar?”
Sesaat Mahanta terdiam sejenak. Tak ada informasi lain yang menurutnya bisa ditukar dengan itu. Akan tetapi, Orion sangat memintanya.
Ketika itu, Orion sedikit berjinjit dan membisikkan sesuatu ke telinga Mahanta.
“Kau boleh meminta informasi yang sekiranya bisa aku katakan,” ucap Mahanta.
Mahanta justru mengabaikan perkataan Orion. Ia nekat dan sengaja membiarkan pria itu sendiri meminta informasinya.
Pertukaran informasi yang sejujurnya hampir tak sepadan ini. Mungkin akan merugikan Mahanta.
“Kalau begitu, aku meminta informasi Pemimpin Grup Arutala.”
Inilah yang Orion pikirkan sebelumnya. Dugaan Orion, tak semudah itu dengan meminta informasi Chameleon dengan informasi biasa. Inilah pertukaran yang serasa tidak sepadan.
“Wah, kalau—”
“Tuan pasti tidak akan bisa mengatakannya. Lagi pula, dia betul-betul berharga, benar? Ya, aku sudah menduganya. Kalau begitu, pintu ada di belakang kalian.”
Secara halus ia mengusir mereka. Tanpa mendapatkan informasi yang berharga ini, benar-benar tak sesuai harapan Orion.
“Seandainya aku datang kemari dengan wujud seorang pria dewasa. Maka mungkin ini akan jauh lebih mudah,” batin Orion.
“Aku akan menawarkan rekan Chameleon. Maksudku, informasi lanjutan tentang siapa Dokter Gila itu. Bagaimana? Ini akan menjadi tawaran berharga. Setelah mendengarnya, kau harus mengatakan info Chameleon kepadaku,” tutur Mahanta.
Seketika Orion kembali tersentak. Dari situ, ia jelas tahu apa maksudnya. Mahanta akan membeberkan soal Caraka.
“Caraka, pria itu. Tapi yang benar saja?” Orion membantin. Lantas masih tidak percaya.
“Dokter Gila yang memiliki api hijau. Di samping orang itu bisa menyakiti lawan dari jarak dekat maupun jauh sekalipun, dia juga mahir menyembuhkan luka meski terparah sekalipun.”
“Eh?” Lagi-lagi Orion dibuat terkejut olehnya. Tak menyangka bahwa Mahanta akan mengatakan informasi palsu begitu.
Karena yang ia ceritakan adalah Dr. Eka. Bukan Adi Caraka yang merupakan rekan Chameleon. Bisa-bisanya Mahanta menipu seperti itu.
“Itu sungguh berharga. Ada rekan, tidak, bahkan kalaupun dia bukan rekan Chameleon pun, aku akan sangat menerima,” ucap pria itu tertegun dan memuji Mahanta.
“Sekarang, katakan informasi apa yang kau miliki? Tentang Chameleon. Aku harap itu tidak akan mengecewakan aku,” kata Mahanta dengan senyum tersungging.
Ada kalanya, Orion merasa Mahanta sedikit berbeda saat ini. Sesuatu yang lain, seolah merasuki diri Mahanta diam-diam.
Orion berkata dalam hati, “Aku tidak pernah mengira, anak muda yang berbaik hati pun melakukan kebohongan pada orang lain seperti ini.”
Pria itu kemudian bangkit dari kursi dan pergi menuju rak kecil yang ada di sudut ruangan. Di sana ia sedang mencari-cari sesuatu.
Sesudah menemukan barang yang dicari, pria itu lantas menunjukkannya pada Mahanta.
“Aku akan memberitahu namanya, Dicky.”
Sembari menunjukkan sebuah foto seorang pria dengan potongan rambut merah sedikit memanjang di ujung. Fotonya yang diambil dari samping dan sangat jauh posisinya, tapi masih dapat dilihat.
“Ini adalah dia?” tanya Mahanta sedikit ragu akan hal tersebut.
“Beberapa hari yang lalu, aku menemukannya sendiri. Dia berbicara pada seseorang dan seseorang itu memanggilnya Bos Chameleon. Aku tidak berbohong, aku bersumpah,” ucapnya serius.
Mendengar pria ini berkata sejujur-jujurnya, Mahanta pun menyakini bahwa apa yang pria itu katakan mungkin saja benar.
“Seperti namanya dia adalah Chameleon. Tapi bukankah dia bisa merubah bentuk wujud entah sebagai orang lain atau sebagai benda-benda?”
“Soal itu aku tahu. Tapi aku yakin itu adalah dia! Tetapi nama Dicky mungkin saja hanya samaran. Temukan saja orang ini, dan aku yakin kalau dia masih ada di kota J-Karta.”