ORION

ORION
Pengepungan



Asisten Ketua Meera datang bersama Ketua Ganendra, dan secara serentak pula mereka menjatuhkan tubuh Chameleon yang hendak meraih Orion.


BRUAK!


Chameleon pun menghantam jalanan dengan kuat, sampai-sampai ia merasakan nyeri di sekujur tubuhnya. Ketika itu Ketua Ganendra menginjak benda yang ada pada di atas kepala Chamelon.


“Hm, ini terlalu panas.” Bahkan menginjaknya belum terlalu lama hingga Ketua Ganendra berhasil menghancurkannya, justru sudah merasakan panasnya.


“Kalau begitu ini berbahaya sekali. Tapi apa yang harus kita lakukan?” tanya Asisten Ketua Meera.


“Apa yang kalian lakukan, hah?!” pekik Chameleon yang kembali sadarkan diri dalam waktu singkat.


Chameleon jungkir balik ke belakang, dan kemudian beberapa bayangan muncul lalu menyerang mereka berdua. Akan tetapi salah satu bayangannya mengarah ke Orion.


“Ekh! Kukira apa?!”


Semua orang berteriak histeris karena terkejut akan adanya pertarungan saat ini di tengah-tengah mereka. Namun, akan tetapi, tak semua Pejuang NED mampu melakukan hal ini semua dalam waktu singkat, termasuk menenangkan mereka.


“Rasanya ada yang aneh.”


Srek!


Orion menghentikan langkah larinya, ia kemudian membalikkan badan dan menatap Chameleon. Selang beberapa saat Chameleon mengeluarkan lapisan es yang sampai menyeluruh ke area pasar malam ini.


“Dia menyerupai Nona Gista.”


“Ck, inilah yang paling menyusahkan. Dekat juga terluka, jauh pun juga sama. Apa yang harus aku lakukan? Aku sama sekali buntu mengenai hal ini,” ucap Orion sembari memegang kepalanya dengan kuat.


“Hei! Orion! Kau sedang apa?!” Terdengar suara seseorang yang sampai memekakkan telinga Orion. Ternyata Endaru.


“Apa?”


Dari kejauhan Endaru terlihat seperti memberi isyarat sesuatu. Seolah tidak ada siapa-siapa di sana selain para Pejuang NED sendiri.


“Apa? Tidak masalah, ya?”


Orion yang tampaknya mengerti, ia pun bergegas menuju ke arah mereka kembali. Apa pun yang diisyaratkan oleh Endaru saat itu, ialah menyerang Chameleon yang berfokus pada salah satu atau dua orang sekaligus.


Meski Chameleon terlihat kuat namun bukan berarti tidak punya kelemahan. Celah yang sempit pun menjadikan mereka sebagai kesempatan satu-satunya.


Slash! Slash!


Satu kali ayunan mengenai telak di bagian leher, dan untuk yang kedua kalinya meleset karena Chameleon telah menyadarinya.


Namun, sebagai ganti dari serangan kedua Orion yang meleset, maka Ketua Ganendra lah yang memiliki kesempatan untuk menyerang. Dengan dua belati di tangannya, Ketua Ganendra mengincar di bagian luka yang sama.


“Kau sudah terkepung, Chameleon.” Ketua Ganendra merasa puas.


“Tidak sampai dia benar-benar kalah!” Asisten Ketua Meera mendaratkan pukulan ke wajah Chameleon.


“Ha, ya ...inilah mengapa kuantitas jauh lebih berharga.” Endaru tersenyum sinis melihat Chameleon yang kewalahan menghadapi mereka semua.


“Kau bukannya membantu malah justru berdiam diri di sini,” sindir Mahanta.


“Pahlawan Kota itu bergerak belakangan tahu,” kata Endaru.


“Ha, terserah kau saja.”


Mahanta tak habis pikir apa yang sedang dipikirkan Endaru sekarang. Dan ketika Mahanta menoleh ke belakang, ia mendapati Endaru tengah melirik ke arah bebatuan kristal, di mana ada rekan Chameleon membeku di sana.


“Oh, iya. Nona Gista sedang memulihkan diri. Mungkin ini karena lingkaran aneh yang berada di atas kepala Chameleon, makanya kekuatan kita semua seperti berkurang setengah.”


Tap, tap!


“Nona Gista! Anda sedang apa?” tanya Mahanta.


“Jangan khawatirkan aku. Prioritasmu ada di depan sana!” Gista menunjuk ke depan.


“Saya akan membuat kekacauan yang lebih agar setidaknya seperempat dari penduduk yang di pasar malam ini pergi,” ucap Mahanta.


Sembari memapah tubuh Gista agar tetap berdiri tegak saat itu, Mahanta mengeluarkan angin besar hingga menghempas beberapa pakaian atau barang di sekitarnya.


Semua orang semakin histeris. Tak ada habisnya mereka berteriak, beberapa dari mereka yang hampir diterpa oleh angin besar pun mulai pergi melewati jalan lain selain jalan utama.


“Aku yakin nanti polisi akan datang. Tapi sebelum itu, kita harus membereskan segala jejak yang ada, benar?”


Crak! Crak! Crak!


Begitu pandangan Chameleon berubah menuju ke arah Mahanta dan Gista, berbagai kristal es muncul di atas lapisan itu sendiri dan itu tertuju pada mereka berdua.


Mahanta yang mudah menebak jalan pikir Chameleon, ia menghancurkan kristal itu hanya dengan angin kuatnya.


“Semua ini tidak akan berakhir dan semua akan tewas apabila berada di dekat Chameleon.”


“Maksud Anda Nona?”


“Lingkaran yang katanya dapat menyerap energi kehidupan kita. Kita pasti akan mati kering, bukan?” ujar Gista seraya berjalan ke arah Chameleon.


“Ah, tunggu Nona Gista! Anda cukup lelah. Apalagi menggunakan teknik itu dua kali, pastinya akan cepat—”


“Sudahlah! Jangan sampai mengulur waktu hanya karena diriku. Dan jangan sampai Chameleon kembali kabur!” pekik Gista dan menatap Mahanta dengan tajam.


Gista benar-benar serius akan hal ini. Tidak, bukan hanya Gista bahkan mereka semua yang hadir hanya untuk menangkap hidup-hidup Chameleon.


Saat itu sesuatu terlintas dalam benak Mahanta. Ia kemudian mengutarakannya sendiri, berkata, “Jika saja Anda mengubah perintah dari hidup-hidup menjadi hidup atau mati, maka semuanya akan cepat berlalu. Nona Gista.”


Pertarungan tidak akan terjadi jika salah satunya tidak memulai duluan. Tapi kalau ini takdir, mereka bisa apa selain melawannya?


Sruakkk!


Bayangan kembali muncul dan bergantian dengan es yang meruncing berniat menusuk tubuh Orion yang dikatakan lebih nyaman dijadikan target.


Chameleon bersikukuh hanya mengincar Orion seorang. Percaya diri atau memang dia monster sejati, meski terlihat kesulitan menghadapi beberapa orang menyerangnya secara beruntun, baik dari jarak dekat dan jarak jauh pun Chameleon tetap memfokuskan diri tuk menyerang Orion.


“Harusnya kau tidak datang kemari, Orion!”


“Eh?”


Chameleon dan Orion sempat terlibat adu pukulan di tengah kerumunan yang semakin lama semakin sedikit orang di sekitar mereka. Dan mencoba untuk menyerangnya sekuat tenaga pun, ia tak mungkin. Sebab mengeluarkan api saat ini itu cukup beresiko.


Dan ketika mereka berdua saling serang, saling kejar dan saling bertahan. Ketika itu pandangan Orion tertuju pada salah seorang. Tak sengaja ia merasakannya sekaligus melihat wajahnya di antara kerumunan tersisa.


Pria dengan kemeja putih dan rompi hitam. Lagaknya seorang kaya, namun ia adalah pembunuh bayaran yang Orion kenal.


“Sepertinya karena target terakhir-ku tidak dibunuh dengan benar makanya aku jadi terus bermimpi buruk.”


Sembari menutup buku yang ia tengah baca, kemudian berkata sekali lagi, “Maaf saya datang terlambat, Tuan Chameleon.” Lalu tersenyum tipis seolah menyapa Orion.


ZRAK!


Dan di saat yang sama, Orion mendapat serangan telak dari bayangan yang setinggi tubuhnya. Karena Orion lengah dan pusat perhatiannya pun teralihkan oleh orang itu.


“Tidak, apa Iki. Kau datang tepat waktu, sih.”


Mr. Iki Gentle. Salah satu rekan Chameleon yang berada di posisi kedua setelah Chameleon sendiri.