
Masalah yang melibatkan dua negara, kriminal tanpa nama yang sampai saat ini masih belum ada keterangan mengenainya termasuk identitas. Dengan nama kode Chameleon seperti yang sudah lama disebutkan, tidak ditangkap melainkan menghilang. Jasadnya tidak ditemukan sama sekali.
Sementara itu di kota J-Karta. Markas Organisasi NED bagian utama, kantor Gista Arutala.
“Presdir, Anda sampai repot-repot datang kemari. Mohon tenanglah, Saya akan menyelesaikan urusan ini dengan segera.”
Gista bergegas menyelesaikan urusan yang semakin lama semakin bertumpuk saja. Ini disebabkan oleh Orion.
“Ck! Pria itu menggunakan namaku dengan sembarangan lagi! Awas kau!” Dibalik wajah ramah ketika bertemu dengan Presdir, dirinya memaki-maki seseorang.
Dan benar, itu adalah Orion.
“Nona Gista!!” panggil Mahanta seraya mengetuk pintu berulang kali.
“Ya, jangan masuk! Aku akan keluar!” sahut Gista.
“Maaf, presdir. Saya tidak ingin Anda direpotkan lebih jauh lagi. Lebih baik Anda beristirahat saja.” Kemudian Gista sedikit menundukkan kepala tanda hormat.
Lalu pergi menemui Mahanta yang sudah memegang banyak berkas laporan.
“Salah satu dari organisasi Saint menghubungiku lagi?” tanya Gista.
“Ya, semuanya tertulis di kertas ini.”
“Apa?”
Semakin kesal, Gista semakin tak tahu ke mana ia harus menenangkan diri. Namun meskipun ia mendapatkan kesempatan guna menenangkan diri, pastilah ketika ia kembali maka masalah akan semakin bertumpuk banyak.
“Hah, baiklah. Baiklah. Mahanta, kau tolong urus beberapa organisasi mereka.”
“Loh, Anda bagaimana?”
“Aku akan mengurus pejabat, katanya mereka ingin meminta kompensasi karena Orion memerintah mereka dengan kartu namaku.”
“Oh iya, saya jadi teringat dengan Presiden negara GL. 3 bulan lalu dia mencari keberadaan Orion. Kemudian hari ini juga, dan katanya akan membantu kita apa pun itu,” ucap Mahanta.
“Oh! Presiden!? Kalau begitu itu kabar bagus! Segera sampaikan semua masalahku kecuali organisasi para Saint di sana untuk segera dibereskan!” pinta Gista seraya memegang kedua pundak Mahanta dengan raut wajah putus asa.
“Ba-baiklah. Saya akan segera menyampaikannya. Bahwa Anda sangat kesusahan ...ha.”
Semua masalah yang terus bertumpuk adalah karena Orion. Orion lah yang mengatur semuanya hanya untuk berjaga-jaga. Tetapi Gista takkan menyangka bahwa Orion akan semudah itu membuat mereka bergerak yang ternyata karena kartu nama Gista.
Karena itulah mereka semua yang telah diminta secara sembarangan telah membuat Gista berputus asa. Kompensasi inilah dan itulah sampai-sampai negara Id sendiri hampir tidak terurus.
Namun cahaya telah meneranginya sekarang, sebab Presiden GL akan membantunya untuk menyelesaikan semua masalah itu. Ialah Nicholas. Bantuan yang sangat besar telah membuat Gista ringan beban.
“Di mana mereka berdua?” tanya Ketua Irawan yang sedang menumpang makan di markas, ia baru saja sembuh setelah koma akibat pendarahan yang luar biasa.
“Mereka ke pemakaman.” Bersama Ketua Dharma yang juga sedang makan saat ini.
Keduanya sama-sama masih dalam pemulihan, namun pola makan mereka sama sekali tidak dijaga.
GEBRAKK!
Hingga akhirnya sang dokter gila datang dengan menggebrak meja.
“Hei, kalian berdua! Dilarang makan mie instan! Buang!” teriak Dr. Eka sembari melempar makanan yang baru saja mereka berdua santap di ruang tamu.
Amukan sang dokter gila membuat keduanya tercengang sesaat. Kemudian mereka saling bertukar tatap lantas menatap Dr. Eka dengan sengit.
“Kau ini kenapa sih? Dokter sepertimu itu tidak bisa dipercaya,” ujar Ketua Irawan.
“Oh, ide bagus!!” Ketiga-tiganya mencapai kesepakatan akhir. Yang berarti sama-sama tidak akan menjaga pola makan mereka.
“Hei, bocah gila! Apa kau punya benang? Aku minta dong.” Tiba-tiba seorang pria masuk ke dalam. Ialah Notosuma.
“Jangan panggil aku bocah gila. Dan untuk apa benangnya?” tanya Dr. Eka.
“Ra-ha-sia ...,” kata Notosuma yang sengaja menjeda-jeda setiap suku katanya dengan mulut mengerucut.
“Argh! Terserah! Ambil ini dan pergilah!” amuk Dr. Eka seraya melempar benangnya.
***
Siapa yang ditanyakan, barusan adalah Endaru dan Madeira atau singkat saja Ade. Ade adalah putri kandung Orion yang Orion sendiri tidak tahu.
Sekarang mereka ada di sebuah pemakaman. Dengan pakaian serba putih dan hanya sekadar menatap nisan Orion.
“Hei, kau tidak menangis?” tanya Endaru.
“Kalau aku menangis kau akan tertawa,” ucap Ade sembari memalingkan wajah.
“Tidak akan kok. Menangislah jika kau mau.”
Situasi di antara mereka. Bisa dikatakan sangat canggung. Sebab, sesuatu yang unik sebelumnya telah terjadi. Hal itu diawali dengan Ade yang terus menangis sepanjang waktu karena Orion yang dibawa pulang hanyalah jasadnya saja. Lalu, entah apa yang terjadi pada Endaru, ia justru menertawakannya.
Dan beginilah yang sudah terjadi.
***
Bagi semua orang, dunia NED masih berada di ambang antara nyata atau ilusi. Khususnya bagi orang normal yang sampai saat ini hidup dengan biasa sebaik-baiknya.
Tetapi, hilangnya Chameleon telah membuat semua Pejuang NED resah. Namun juga tak luput dari sekadar berharap bahwa musuh itu benar-benar mati.
Sudah banyak rekan sesama Pejuang NED tewas akibat kebrutalan Chameleon. Tidak hanya dia bahkan bawahannya juga sama saja, namun bawahannya sudah dikonfirmasi keberadaannya tak lama setelah sebulan berlalu sebelumnya.
Mereka semua ditangkap dan jika dinilai berbahaya akan dihukum mati oleh hukum dunia yang sebenar-benarnya.
“ARGGH!! K*PARAT KAU! ORION!!”
Jeritan Chameleon melolong di suatu tempat yang sepi, di tumpukan sampah dirinya terus mengerang kesakitan dengan tanpa busana dan juga terluka. Terdapat api yang masih membakar punggung, lengan dan kaki hingga kepalanya hingga saat ini.
Yang bisa ia lakukan hanyalah terus menahan rasa sakit dan berteriak mencerca Orion habis-habisan. Jika orang-orang melihatnya maka orang takkan bersimpati melainkan hanya menatap jijik padanya.
Posisi Chameleon yang sampai saat ini masih belum ditemukan, dan makiannya itu seolah terdengar oleh sesosok pria yang saat ini tengah terbaring di ranjang dan beberapa selang terhubung dengan tubuhnya.
Di samping itu, Gista mendobrak pintu ruangannya lalu menghampiri pria itu.
“Karena ulahmu! Aku jadi kesulitan kau tahu!” amuk Gista dengan aura yang pekat menyeramkan. Terlihat beberapa kristal es telah siap untuk menyerang sosok pria lemah tak berdaya di hadapannya.
“Hentikan, Nona Besar!” Notosuma mendorong tubuh Gista agar tidak termakan emosinya.
“HEI! ORION! MAU SAMPAI KAPAN KAU TIDUR! KAU INGIN MATI YA HAH?!” Amukannya justru semakin menguat.
Namun berkat itu, kesadaran Orion perlahan kembali. Ia membuka kedua matanya dan sadar ada dua orang yang tengah mengacau di ruangan ini. Sosoknya yang dipenuhi beberapa jahitan pada setiap bagian tubuhnya itu telah membuat beberapa orang yang kebetulan mengintip ke dalam ruangan terkejut.
“Astaga, dia benar-benar hidup kembali,” bisik seseorang di balik pintu.
“Hei! Jangan ganggu!” teriak Notosuma.
Sosok pria yang gagal mati berulang kali karena darah langkanya sendiri, Orion Sadawira telah sadar!