ORION

ORION
Wujud Ruh Chameleon II



Dengan tenaga yang tersisa, Orion berusaha untuk bangkit. Ia tidak mau terus-menerus terbaring di jalanan sebagai orang lemah atau beban. Mengingat dirinya pernah dicerca oleh banyak orang dulu karena itu.


Endaru pun ikut bangkit dari duduknya. Lantas membantu Orion untuk tetap berdiri tegak.


“Chameleon,” gumam Orion.


“Apa? Di sini tidak—”


Srek!


Orion menyeret tubuh Endaru ke belakangnya. Lalu menatap lurus dengan tajam ke depan, ia tampaknya menyadari sesuatu yang aneh.


“Apa?” Endaru bertanya-tanya ada apa dengan Orion saat itu.


Namun begitu Chameleon muncul, ia akhirnya mengerti. Endaru seketika terbelalak. Tidak menyangka bahwa Chameleon akan kembali muncul.


“Ternyata tidak mempan,” gumam Endaru.


“Aku tahu, Endaru. Untuk saat ini kendalikan kekuatanmu dulu,” pinta Orion.


“Itu tidak bisa.” Endaru menolak. Ia sudah membuat keberadaan Chameleon tertekan oleh gravitasi.


Namun Chameleon masih dapat berdiri. Padahal saat ini kekuatan Endaru perlahan semakin kuat dari saat-saat sebelumnya.


Tap!


Orion mencengkram tangan Chameleon yang terjulur ke arahnya. Kemudian menatap tajam serta keheranan.


“Apa yang mau kau lakukan?” tanya Orion pada Chameleon yang berwujud seperti dirinya.


“Kau masih memiliki tenaga yang cukup ternyata. Tidak aku sangka. Padahal aku pikir kepalamu dulu yang akan terbentur tapi sayangnya itu tubuhmu,” ujar Chameleon.


“Ya, aku beruntung. Jarang sekali aku mendapatkan keberuntungan karena bukan kepalaku lebih dulu yang membentur ke jalanan,” sahut Orion.


ZRAK!!


Tiba-tiba di tengah perbincangan, beberapa kristal es muncul dari kedua tubuh mereka. Terkejut, Orion melangkah mundur dan berwaspada terhadap Chameleon di depannya.


Sedangkan di sisi lain. Gista menyadarinya bahwa "tanda" yang ada pada tubuh Orion mulai hancur karena kekuatan Orion yang terlampau kuat.


“Chameleon di sana rupanya. Kerja bagus, Pak Orion.”


Segera ia bangkit dari tempat duduknya, Gista mengambil ponsel dan mengirim pesan suara terhadap semua Ketua di setiap wilayah yang tersisa. Menyuruh mereka untuk bergerak ke lokasi yang telah dikirimkan saat ini juga.


“Kristal es Gista. Kenapa ada di tubuhku?” Sedangkan Orion bertanya-tanya, ia masih tidak mengerti dengan kejadian yang telah menimpanya.


“Itu karena kau sudah ditandai oleh Gista. Tapi tanda itu memberontak keluar karena kekuatan yang kau miliki jauh melampaui tanda miliknya,” jelas Chameleon.


“Hei, tidak perlu banyak omong kosong!” teriak Endaru sembari menghentakkan kaki dengan kuat.


Membuat beberapa puing jalanan itu melayang-layang. Yang kemudian puing-puingan itu melesat cepat ke arah Chameleon berada.


Namun semua puing jalanan itu seketika hancur menjadi abu karena kekuatan api. Chameleon menyeringai dan menatapnya sinis.


“Kau benar-benar tidak berubah, ya?”


JDUAK!!


Endaru menggunakan keahlian bela dirinya tuk melawan Chameleon secara langsung. Meski ia terkena panasnya api, tapi api itu tidak membakar tubuh Endaru karena pengaruh kekuatan gravitasi yang menyelimuti seluruh tubuhnya.


“Kau mau apakan Orion, hah?!” pekik Endaru.


“Itu bukan urusanmu.”


Chameleon terkadang menghindar lalu menangkis. Tapi ia selalu mewaspadai setiap ujung pukulan yang akan mengenai bagian atas tubuhnya. Endaru tahu kalau Chameleon akan merugi jika terkena serangan di titik vital yang sama.


“Kau takut dengan pukulanku sebelumnya ya?”


Muncul dua sayap yang membentang dari balik punggungnya. Chameleon melompat mundur beberapa langkah lantas menyerang Endaru dari jarak jauh.


Sementara itu, Orion menggunakan sebilah pedang merah. Ia mengayunkan senjata itu, dan kemudian membentuk sebuah sabit tertuju ke arah Chameleon. Begitu sabitnya cukup dekat, sabit merah pun terbagi menjadi beberapa bagian.


“Aku tidak mau ini menjadi terus berlanjut. Salah satu tujuanku hanyalah menangkap dirimu Chameleon,” ucap Orion sembari mengepalkan tangan. Seketika bentuk semua sabit menjadi potongan pedang dan menghujam tubuh Chameleon dengan sangat cepat.


Perlahan-lahan sabit yang masih tertancap di tubuh Chameleon kian memanjang dan menambah ukuran serta beratnya. Sehingga itu cukup berdampak bagi Chameleon.


Fokus terhadap sasaran empuk di depan, Endaru melayangkan tinju sekuat baja besi berkilo-kilo. Menghantam banting wajah Chameleon sampai tidak terbentuk lagi.


“Itu dia!”


Akhirnya Ketua Janu Irawan, Ketua Meera Raiya lalu Raka datang. Tapi yang lain masih menyusul, mungkin sebentar lagi mereka akan datang.


Segera mereka yang sebelumnya tidak berhasil menemukan Orion, berlari menuju ke posisi Chameleon berada saat ini.


“Hah? Pahlawan Kota?” Ketua Irawan terkejut akan keberadaan Endaru. Namun setelah itu, ia teringat akan Chameleon.


“Hei kau! Jangan lengah!” teriak Endaru yang menyadari hawa keberadaan Chameleon berpindah posisi ke belakang Ketua Irawan.


Endaru mengulurkan tangan dan membuat tubuh Ketua Irawan semakin berat ke bawah hingga bertekuk lutut.


“Ketua Irawan punya caranya sendiri,” kata Orion sembari menepuk pundak Endaru.


Endaru memilih percaya dengan yang dikatakan oleh Orion. Ia pun melepaskan pengaruh kekuatannya, dan Ketua Irawan bergerak dengan bebas.


Hanya saja saat itu, Chameleon kembali berpindah tempat. Wujudnya yang sering kali berubah, juga terkadang terlihat hanya seperti bayang dalam kabut membuat mereka semua kerepotan.


“Aku menangkapmu!” Chameleon mengeluarkan api di sekelilingnya bersama Orion.


Lekas Ketua Irawan membuat jalan dan tanah berguncang, setelah beberapa saat pijakan mereka hilang. Orion dan Chameleon jatuh bersama dengan api yang mengekor.


“Apa yang kau lakukan!?” pekik Endaru lantas menyusul turun ke bawah.


“Ck! Aku juga tidak punya pilihan lain.” Ketua Irawan berdecak kesal.


“Ketua Irawan! Siapa orang yang bersama dengan Chameleon? Mereka terlihat mirip,” ucap Ketua Meera yang berada di belakangnya.


“Bukan mirip tapi Chameleon meniru rupa dari orang itu,” sahut Raka yang baru saja sampai ke posisinya.


Tidak lama setelah kedatangan mereka bertiga, datang lagi seseorang yang cukup penting. Ketua Dharmawangsa. Terlihat dari wajahnya yang kesal, sembari menatap pusaran api yang berada jauh di dalam lubang.


Mereka yang berada di bawah sana, sudah cukup lama mereka bertarung jarak dekat. Lantaran, lahan yang sempit itu justru merugikan mereka semua.


“Orion aku akan mengangkatmu. Kau sedang terluka, 'kan?”


“Ah, iya tapi ...Endaru!”


SRAAKKK!


Rantai berwarna perak berkilau datang dari atas mereka. Rantai itu cukup panjang dan kemudian mengikat mereka bertiga dengan kuat. Semakin memberontak, semakin kencang pula ikatan pada rantai tersebut.


“Jangan bergerak. Atau kalian semua akan mati,” ucap Ketua Dharma dingin seraya mengencangkan genggamannya pada ujung rantai perak itu.


“Ma-mati? Bukankah itu keterlaluan?” Ketua Meera seketika menjauh dari Ketua Dharma.


Ketua Irawan menaruh telunjuk di depan bibir seraya berkata, “Ssst, dia memang begitu. Tapi itu bisa digunakan untuk tahu mana yang Chameleon.”


“U-uh, aku tidak suka dengan penyiksaan. Tapi Chameleon pun akan mudah melepaskan diri dari sana.”


“Aku yang akan mengangkatnya.”


Ketua Irawan berwajah serius menatap ke bawah. Seraya bersiap dengan lambaian tangan tuk mengangkat tanah itu kembali ke permukaan.