
Tiba-tiba saja terjebak dalam mimpi dan bertemu dengan sosok pria asing serta mahluk bersayap di sisinya. Tentu saja Orion panik setelah mengetahui keberadaan mereka.
Lalu, menanyakan ini dan itu seolah mereka paling berkuasa. Sudah begitu mengaku sebagai pencipta Api Abadi. Orion yang sama sekali tidak menyukai sejarah, ramalan atau pun kisah-kisah yang dianggapnya fantasi itu tetap disangkal.
Dan lagi, Orion terjebak dengan banyak orang yang terus menghantuinya. Semua orang di masa lalu Orion datang dan berteriak menyalahkan, mencaci maki serta mengusirnya pergi.
Orion semakin lama semakin kesal.
“Grtt, dasar siluman! Siapa sih kau sebenarnya!?” teriak Orion bertanya seraya menunjuk ke arah sosok tersebut.
“Huh, kamu jangan jahat dan ketus begitu. Padahal aku berniat menawarimu sesuatu. Dan, sepertinya aku tahu apa keinginanmu setelah diperlihatkan masa lalu yang begitu suram seperti itu.”
Pria itu sama sekali tak menghadap Orion di saat berbincang. Bahkan terang-terangan menunjukkan punggung begitu saja. Termasuk mahluk bersayap itu, ia tetap berdiri membelakangi Orion tanpa bergerak sedikitpun.
“Kau sok tahu sekali,” ketus Orion.
“Aku tahu kau akan begitu. Tapi, nyatanya kamu pasti dendam pada mereka semua. Aku juga sedikit tak menyangka bahwa takdirmu buruk dengan banyak orang yang menginjak-nginjak harga dirimu.”
“Sudah aku bilang, kau itu sok tahu sekali! Padahal keinginanku bukanlah balas dendam. Persetan dengan itu semua, daripada itu aku lebih baik mati dan tinggal di surga,” cerocosnya panjang lebar.
“Wah, wah, aku jadi kasihan sekali. Tapi apa benar kau ingin mati tanpa balas dendam?” tanya sosok tersebut seolah merayu Orion dari kata-katanya.
“Ya, benar! Balas dendam ataupun ingin kekuatan bukanlah keinginanku sama sekali. Dan jika kau benar adalah pencipta Api Abadi, lantas kenapa mendatangiku? Bukannya pemujamu?”
“Hm, itu mungkin karena sesuatu dengan tubuhmu. Atau mungkin karena dewa Agni, ya?” pikirnya seraya berdeham.
“Apa maksudmu? Aku sama sekali tidak mengerti.”
Kemudian sosok itu tertawa menggelitik. Dalam beberapa waktu setelah itu, hawa dingin dari lutut ke bawah kembali dirasakan oleh Orion.
Ketika Orion menunduk ke bawah, saat itu juga ia berpindah ke suatu tempat. Bukannya sadar, sepertinya ia berada dalam ingatan seseorang.
“Hah, lagi?”
Saking bosannya Orion mendesah lelah. Melihat ke sekitar, sama sekali tak mendapati tempat yang ia kenali. Perasaan Orion pun berubah secara berkala, dari yang tenang berubah menjadi panik.
“Kali ini, aku akan melihat apa?”
Suasana perkampungan. Banyak rumah yang sebenarnya tak layak, ini mengingatkan Orion akan masa lampau di mana sebelum negara berkembang ke masa modern.
Tap, tap!
Melangkah pelan seraya menoleh ke kanan dan kirinya. Banyak orang giat bekerja, entah di sawah atau di dekat rumah mereka. Mereka banting tulang demi menghidupi keluarga.
“Ki Moko! Ki Moko!”
Seseorang memanggil dengan nama itu seraya melambaikan tangan dan menghampirinya dengan sumringah.
Ialah seorang gadis cantik. Orion sama sekali tak mengenalnya, karena itulah ia menatap heran. Dan bertanya-tanya dalam hati, apa maksud semua ini.
“Pertama rekan Chameleon. Sekarang mahluk tak jelas itu. Apa dia manusia sepertiku? Tapi kenapa juga dia menyinggung nama dewa kuno?” celetuk Orion membatin.
Tatkala, awan menggelap di suasana sekarang. Terlihat sebentar lagi akan turun hujan. Digandengnya tangan sosok bernama Ki Moko oleh gadis cantik itu, pergi untuk meneduh ketika rintik hujan mulai turun.
Orion yang di dalamnya hanya terdiam. Matanya sepat ketika menatap gadis tersebut, persis ketika pertama kalinya ia bertemu Gista Arutala.
Suatu ketika, tubuh yang Orion diami membuat api secara manual dengan menggesekkan batu. Api itu hidup, tetap hidup meski hujan mengguyur.
Banyak orang memperebutkannya untuk keseharian mereka. Sama-sama mempergunakannya dengan baik dan aman.
Sesaat setelah kebahagiaan menciptakan Api Abadi. Datang musibah dari keluarga kaya. Ki Moko dapat menyembuhkannya dan ia diberi hadiah seorang gadis cantik.
Gadis itu tak lain adalah orang yang sebelumnya bertemu saat pertama kali Orion mendiami tubuhnya. Berkarakter ramah, sopan dan segala hal positif ada padanya.
“Kehidupan orang ini sepintas terlihat baik-baik saja. Bahkan tak ada satu masalah pun yang menurutku itu cukup besar untuk dilewatinya,” pikir Orion dengan bergumam lirih.
“Ki Moko, kemarilah!” ajak gadis itu dengan uluran tangannya yang kecil.
Tak!
Batu kerikil menjatuhi kepala Orion. Ia telah kembali ke ruangan gelap ini lagi. Posisi dua mahluk di sana masih saja sama. Keduanya membelakangi Orion seakan tak memperdulikan keberadaannya.
“Ki Moko! Apakah itu adalah dirimu?” Orion bertanya.
“Bisa dibilang begitu.”
Ki Moko, ialah sosok pria yang duduk bersanding dengan mahluk bersayap. Ia mungkin sedang tersenyum, sesaat ia menoleh ke belakang dan mendapati Orion menatapnya dengan tajam.
Air mata berlinang, jatuh membasahi kedua pipinya. Ki Moko menyadari hal itu namun hanya terdiam.
“Aku iri sekali padamu,” ucap Orion seraya menyeka air matanya yang terus mengalir tanpa henti.
Setelah disuguhkan begitu. Tentu saja Orion yang sangat mendambakan sebuah kebahagiaan akan menangis. Karena kehidupannya berbanding terbalik dengan Ki Moko, Orion sungguh iri.
“Jadi, apakah kau sedang memikirkan tawaranku. Banyak orang menginginkan Api Abadi, tapi hanya kamu yang mampu menampungnya,” tutur Ki Moko.
“Kenapa aku? Aku sama sekali tak memiliki kemauan kuat selain mati. Aku tidak memujamu apalagi menginginkan dirimu.”
“Lantas, kenapa kamu berada di sini?”
Orion menjawab, “Mungkin karena aku memaki Api Abadimu yang dipuja-puji itu.” Sembari ia melihat lengannya yang terukir pola sayap.
“Haha, begitu rupanya. Yah, aku tak bisa menyalahkanmu. Kita terhubung karena unsur kesengajaan. Inilah takdir, kamu harus mengembannya.”
Ukiran yang terbentuk dua sayap membentang itu terlihat mirip sekali dengan mahluk yang bernama Karura.
“Apakah Api Abadi itu membuatku kuat? Tidakkah ada sesuatu yang kuinginkan bisa terkabulkan,” celetuk Orion.
“Aku juga sudah bertanya apa keinginanmu. Tapi apa benar hanya kematian? Kalau benar, besok kamu akan mati di tangan Api Abadi,” ujarnya seraya menunjuk Karura.
“Ya, tujuanku hanyalah untuk mati.”
Orion mengucapkan kalimat tanpa ragu sedikitpun. Tak ada cacat dalam kalimat yang hanya sekali terucap. Ki Moko terdiam kehabisan kata-kata.
“Tetapi, sepertinya aku harus bertahan hidup untuk bertemu seseorang. Tentunya dengan wujud asliku, apakah bisa?” imbuhnya bertanya pada sosok Ki Moko.
“Tentu saja bisa. Namun aku tidak begitu yakin, apakah kamu mampu untuk sekarang.”
Keyakinan dalam artian besar. Kematian bukanlah kematian sembarangan yang dapat ia bicarakan. Hanya saja, Orion sempat terpikirkan bagaimana nasib para Pejuang NED yang ditahan oleh Chameleon.