
Dicky, nama samaran yang digunakan Chameleon. Pria dengan rambut merah yang sedikit panjang di bagian ujung. Meski ini meragukan tapi perkataan pria ini sangat meyakinkan.
Agaknya ini membuat Orion sedikit khawatir. Kalau benar begitu, terutama saat pria ini berkata bahwa Chameleon tengah berkeliaran di kota ini. Helaan napasnya pun sampai terdengar oleh Mahanta.
“Pertukaran kita sudah selesai. Aku akan pamit dulu.”
“Baik. Terima kasih atas infonya. Meski kau tidak memberitahu nama atau di mana keberadaan orang itu, tapi tentang kekuatannya saja sudah jelas.”
“Tentu saja, ada yang lebih hebat dari hanya sekadar nama.”
“Apakah Tuan sedang menyindir Pahlawan Kota? Anak muda seperti dia, tentu bukan apa-apa bagi Chameleon.”
“Haha, dia itu betul-betul kuat. Tolong jangan diremehkan,” ucap Mahanta seraya melambaikan tangan.
Setelah itu mereka pun keluar dari rumah si informan. Rasanya mereka baru saja keluar dari goa mematikan. Mahanta dan Orion menghela napas bersamaan.
“Bagaimana pendapatmu, Orion?” tanya Mahanta.
“Jujur aku masih mencurigai informasi itu. Tak mungkin Chameleon semudah itu didapatkan. Apalagi Nona Gista sangat meremehkan informan itu,” pikir Orion.
“Kau mungkin ada benarnya juga. Karena Nian Gista tidak begitu memperdulikan keberadaan informan, maka jelas saja kalau dia memberikan informasi palsu,” sahut Mahanta.
Klap! Mahanta menutup pintu mobilnya setelah mereka sudah masuk ke dalam. Lalu melajukan kendaraannya untuk kembali.
“Nona Gista saja sulit mencari keberadaan Chameleon apalagi dia. Itu jelas penipuan. Tapi kalaupun apa yang dia katakan benar, maka itu artinya Chameleon sengaja membiarkannya,” pikir Mahanta.
Sembari melepas tudung kepalanya, Orion berkata, “Jejaknya benar-benar sulit dicari. Aku jadi semakin penasaran bagaimana wajahnya itu.”
“Suatu saat kau mungkin akan bertemu dengannya. Tapi mungkin tidak sekarang,” ucap Mahanta.
Pada akhirnya semua informasi yang telah mereka dengar sama sekali tidak membantu. Tapi mungkin jika Orion mencari Dicky, maka mungkin petunjuk lain akan muncul dengan sendirinya.
Orion menatap ke arah luar dari balik jendela mobil, seraya ia melipat kedua lengan ke depan dada, tatapannya yang tajam itu seolah memandang ke arah yang lebih jauh lagi.
Mahanta mencuri-curi pandang terhadap Orion yang kini tengah diam.
“Kau sangat antusias terhadap Chameleon, ya?” singgung Mahanta.
“Hei, Mahanta! Aku lupa untuk membayar minuman di kafe. Cepat ke sana dan bayar itu!” ujarnya dengan meninggikan suara.
Orion sama sekali tak menggubris perkataan Mahanta sebelumnya. Seolah-olah Orion sengaja mengalihkan topik pembicaraan.
“Oh, astaga! Aku melupakan janji kita!” teriak Mahanta dengan panik.
Segera, kendaraannya melaju dengan kecepatan yang lebih tinggi. Mereka terburu-buru menuju ke kafe, tempat di mana seharusnya Mahanta dan Orion pergi bersantai di sana.
“Hei, jangan terlalu cepat! Ini sudah berada di dalam perumahan tahu!” pekik Orion, yang merasa bahwa kecepatan mobil semakin kencang.
“Iya, iya!”
***
Setelah beberapa menit berlalu, mereka pun sampai ke kafe. Orion merasa mual namun tidak bisa memuntahkan apa-apa.
“Kau tak apa?”
Mahanta sangat cemas melihat kondisi Orion menjadi begini. Namun ini juga karena kesalahannya sendiri. Mahanta kemudian mengelus punggung Orion agar bisa memuntahkannya.
“Ergh ...sudah-sudah. Aku sama sekali tidak bisa muntah. Yang keluar hanya muntah udara, haha!” tukas Orion dengan tawa hambar.
Mahanta kembali ke mobil dan membawakan sebotol air mineral untuknya. Segera Orion minum itu, dan ia pun merasa lega.
“Maafkan aku, aku tak tahu kalau kau sedikit mabuk dengan mobil,” kata Mahanta dengan kecemasan yang semakin melanda dirinya.
Terlihat jelas bahwa niat Orion adalah meminta kopi hitam. Lantaran semenjak tadi ia sama sekali belum meminum kopi kesukaannya, bahkan kopi susu yang dipesankan pula hanya diminum sedikit.
Karena Orion bosan jika harus menunggu di dalam mobil, ia pun ikut masuk ke dalam.
Suasana ramai seperti biasa namun hari ini, terdapat beberapa pelanggan yang tampaknya memiliki luka di bagian dahi mereka. Tak hanya pelanggan saja bahkan semua pelayan ataupun barista juga. Kecuali satu orang.
“Aku datang kemari untuk membayar minuman Orion. Dan, aku pesan kopi hitam satu,” ucap Mahanta seraya duduk di bangku depan barista.
“Orion, kau sangat menyukai kopi hitam, ya?” tanya Mahanta padanya.
“Hm, ya, tentu saja. Aku tadi tidak bisa pesan itu karena tubuhku yang kecil. Mereka berpikir aku akan sakit perut atau sesuatu yang buruk akan terjadi padaku, begitu,” ujarnya bercerita.
Setelah beberapa saat sebelum pesanan itu datang. Seorang barista lain lagi muncul dari ruang belakang. Orion dengannya saling bertukar pandang satu sama lain dengan kecanggungan.
Kemudian barista itu terkejut, memalingkan wajah dengan peluh bercucuran.
“Erik, pria itu menghindari tatapanku.” Orion membatin.
“Wah, ternyata bocah kasar itu kembali datang. Apa dia hendak membayarkan minumannya? Tapi itu sudah dibayar,” batin Erik.
Tap! Tap!
“Anu, permisi. Apakah Anda wali anak yang ada di sana?” tanya Erik kepada Mahanta.
“Ah, iya. Anak yang imut ini menjadi tanggung jawabku sekarang. Apakah ada masalah? Atau jangan-jangan Orion bermasalah di sini?” pikir Mahanta berlebihan.
“Hei, aku tidak begitu, ya!” sangkal Orion marah.
Saat ini, ada beberapa pelayan serta kedua barista itu sedikit canggung di hadapan mereka. Atau lebih tepatnya, canggung karena Orion.
Para pelanggan pun juga. Sebelumnya mereka sangat berantusias untuk menangkap Orion yang memiliki darah langka. Namun sekarang nyali mereka ciut karena di belakang Orion ada Pahlawan Kota, Endaru.
Meski sebelumnya mereka tak peduli, tapi ada satu hal yang membuat mereka yakin untuk tak lagi berurusan dengan Orion, yakni Pahlawan Kota takkan segan-segan menghajar mereka apabila Orion diincar.
“Pe-pesanannya sudah dibayar,” kata Erik dengan terbata-bata.
“Dengan siapa kalau boleh tahu?” tanya Mahanta.
“Pahlawan Kota, dia sempat datang kemari tadi. Jadi tidak perlu khawatirkan masalah pembayaran ini lagi.”
“Ah, tapi, aku sedang memesan kopi hitam. Jadi aku akan tetap menunggu di sini,” ujar Mahanta.
“Baiklah kalau begitu.”
***
“Orion, aku akan pergi ke luar sebentar, ya. Kau tunggu saja di sini.”
Mahanta hendak keluar, Orion berpikir mungkin Mahanta ingin buang air kecil. Itulah yang terbesit dalam benaknya.
Namun 10 menit berlalu, sampai kopi hitam sudah ditenggaknya. Mahanta sama sekali tidak muncul. Sehingga ia memutuskan untuk pergi mencarinya sebentar.
Klining! Pintu kafe terbuka, membuat suara lonceng yang bergerak di atas pintu. Orion terkejut.
“Mahanta! Kau dari mana saja?” tanya Orion.
“Ah, kau datang kembali ke kafe ini ya? Syukurlah, aku pikir kau akan kembali pulang tanpaku,” ujar Mahanta dengan senyum lebar.
Sedangkan Orion terdiam, menatapnya kebingungan.