
Datang seseorang dengan postur tubuh langsing dengan pakaian pelayan. Rambut panjang yang dikuncir ke belakang. Orion dan Endaru bertanya-tanya apakah orang itu adalah pria? Ataukah wanita?
“Siapa—!”
Tep!
Seseorang itu menepuk tangan. Dan dalam waktu singkat, sebuah rantai mengikat tubuh mereka semua terkecuali orang itu yang hanya terdiam seraya memandang dari kejauhan.
“Hei, apa ini?!” pekik Endaru.
“Wah? Sepertinya Anda berdua bukan dari Phantom Gank ya? Ternyata saya salah sangka dan mengira bahwa Anda berdua adalah Phantom Gank.”
Pria itu kemudian berjalan dan memastikan yang sebelumnya ia katakan adalah benar. Sesaat ia berdeham singkat, seraya mengelilingi tubuh mereka berdua.
“Dua dari kalian sudah tidak sadarkan diri. Dan sekarang hanya ada kalian yang sadar. Tapi kalian bukan dari Phantom Gank 'kan? Karena wajah kalian terlihat asli,” ujarnya.
“Apa yang kau maksud? Tentu kami bukan Phantom Gank!” amuk Endaru seraya menggunakan kekuatannya namun tidak bisa. Sehingga ia pun terdiam dengan wajah kebingungan.
“Tenang Endaru.”
“Jangan berontak begitu. Karena semakin kalian meronta-ronta kuat maka semakin kencanglah ikatan itu. Dan kekuatan kalian tidak akan berguna saat terikat rantai milikku,” ucapnya.
“Pertama, kami bukan bagian dari Phantom Gank. Kami berasal dari negara lain, dan kebetulan terjebak dalam lift ke ruangan ini. Saya Orion Sadawira dan pria di sana adalah Endaru.” Orion memperkenalkan diri dengan tenang.
“Hei! Kau malah memberitahu tentangmu begitu saja?! Memangnya kau–!”
“Ah, begitu rupanya.”
Crik!
Rantai yang mengikat mereka berdua pun terlepas. Tampaknya orang itu percaya dengan perkataan Orion yang tenang.
“Lalu, siapa kau?” tanya Orion.
“Maaf, saya lupa memperkenalkan diri. Saya Saint, bisa dibilang salah satu orang yang disebut Saint. Saya cukup yakin bahwa julukan lainnya adalah NED?”
“Ternyata kau tahu.”
“Begitulah. Ngomong-ngomong Anda berdua sangat kuat ya. Bahkan saat terikat rantai, kekuatan yang dilepaskan masih ada hingga sekarang,” sindirnya mengarah pada bola-bola api di langit ruangan.
“Aku tidak akan berkomentar tentang hal itu. Tapi bisakah kau membantu kami untuk keluar dari sini?” Orion meminta bantuan padanya.
“Boleh.”
Sosok seseorang yang mengaku sebagai Saint atau Pejuang NED. Dirinya sama sekali tidak menyebut nama atau lainnya, lantaran ia hanya menuntun mereka untuk keluar dari ruang bawah tanah.
“Kalian hanya perlu menunggu lift itu turun lagi,” ucapnya.
“Kalau tidak turun?”
“Ya sudah. Anggap saja ini rumah baru kalian,” kata Saint itu seraya mengangkat kedua bahu seraya menggelengkan kepala beberapa kali.
Perkataannya barusan secara tidak sadar mengarah bahwa mereka akan terjebak selamanya jika lift tidak turun kembali ke bawah tanah. Namun beruntungnya lift itu benar-benar turun sehingga mereka dapat kembali ke atas.
“Sejak tadi kau sama sekali tidak membicarakan apa-apa tentang dirimu. Apakah ini hanya perasaanku saja, karena memang hanya itu saja yang bisa kau katakan?” sindir Orion padanya.
Ternyata celah yang besar sulit dilewati. Orion merasa harus menemukan sesuatu dari pria atau wanita ini. Yang masih penuh dengan teka-teki. Yang mungkin saja dapat memberitahukan lokasi Chameleon saat ini.
“Baiklah, saya akan ikut denganmu. Lebih tepatnya ke tempat di mana kalian para Saint tinggal. Saya yakin bahwa kalian memiliki sebuah kelompok atau sejenisnya.”
Orang itu tersenyum tipis melirik Orion yang juga meliriknya dengan sinis. Di antara mereka terasa sangat tegang. Sedangkan Endaru sekarang, ia bersembunyi di belakang punggung Orion yang lebar seraya menggeram dan menatap tajam ke arah orang itu.
***
Sesuai dugaan orang itu membawa mereka ke suatu tempat yang memungkinkan untuk mereka berbincang-bincang.
Sebuah tempat yang disebut Emblen Priest. Tempat di mana salah satu kelompok Saint atau Pejuang NED tinggal. Di sana pula ia memperkenalkan banyak anggotanya yang gemar melakukan apa saja di luar maupun dalam rumah.
“Kelompok seperti kami terhitung cukup banyak tapi jumlah kami tidak sebanyak di negara lain. Karena itulah kami selalu bergerak dengan kehati-hatian.”
Langkahnya terhenti lalu menoleh ke belakang.
“Saya lupa satu hal. Saya Ken, Saint dengan kekuatan rantai. Kalian sudah lihat bagaimana cara kekuatan itu bekerja. Jadi, apakah yang di samping Anda adalah Pahlawan Kota yang ramai dibicarakan di negara Ind?” imbuhnya seraya melirik Endaru yang bersembunyi di balik punggung Orion.
“Biarkan saya saja yang menjawab. Anak ini, maksud saya pria ini adalah Endaru. Seusai dugaan Anda, dia adalah Pahlawan Kota. Kekuatannya, saya agak ragu apakah boleh mengatakan itu pada orang lain. Maaf,” tutur Orion.
Ken menatap tajam Orion. Ia masih amat penasaran tentang mereka berdua. Terutama saat melihat tatapan Orion yang mati. Tidak ada gairah kehidupan sama sekali, membuatnya tertarik.
“Tidak masalah. Silahkan duduk.” Ken mempersilahkan mereka untuk duduk di ruang tamu.
“Endaru, duduklah di kursi. Tidak perlu waspada selama aku tidak merasakan apa-apa,” kata Orion seraya menyuruh Endaru untuk duduk dengan normal.
Lantaran Endaru semenjak bertemu dengan Ken, ia sangat berwaspada bahkan bicara sepatah kata saja tidak. Ia hanya berdiri membelakangi tubuh Orion. Namun ketika Orion menyuruhnya untuk duduk, Endaru pun segera melakukannya meski sedikit ragu.
“Benar. Aku masih belum merasakan apa-apa semenjak saat itu. Ken, Pejuang NED, sepertinya kelompok ini mirip dengan Organisasi utama NED,” batin Orion.
Ken yang sebelumnya pergi sebentar, kini kembali datang, menjamu mereka dengan camilan dan minuman.
“Maaf kalau terlalu lama menunggu. Jadi, kira-kira apa lagi yang Anda berdua butuhkan?” tanya Ken.
Ketika Orion hendak berbicara, Endaru lantas menyahutnya dengan perangai kasar.
“Hei! Tempat ini apa? Kenapa aku sepertinya mencium bau yang tidak sedap di sini?” ketus Endaru. Orion hanya menghela napas seraya menutup wajah lantaran ia malu karena perilaku Endaru saat itu.
“Hahaha! Anda lucu juga. Tapi saya mengerti maksudnya, maka mungkin saya harus menjawabnya. Karena di Emblen Priest ini adalah tempat di mana saya memanfaatkan para kriminal untuk berkerja di bawahku.”
Ken menjelaskannya dengan mudah lalu ia kembali tertawa dengan keras. Karena berpikir bahwa sikap Endaru itu sangat lucu. Sedangkan Orion terdiam dengan wajah kebingungan.
“Tapi tidak masalah. Karena mereka tidak akan melukai sembarang orang. Jadi tenang saja,” kata Ken dengan senyum tersungging.
“Permisi, Tuan Ken?” Seseorang datang dan memanggil Ken dari belakang.
Membawa sebuah tas dalam keadaan terbuka, ia memperlihatkannya pada Ken seorang seraya membicarakan suatu hal dengan suara rendah.
Orion saat itu tidak sengaja melihat isinya. Mengerutkan kening, terkejut akan yang barusan ia lihat. Endaru pun juga bereaksi sama sepertinya.
“Serbuk putih. Apa aku salah lihat? Kenapa mereka menunjukkan itu terang-terangan? Sengaja atau tidak?” Orion berpikir keras dalam batin mengenai hal yang dilihatnya serta tindakan mencurigakan pada dua orang tersebut.