
Pertemuan mereka, antara Orion, Endaru dan Gerhana Bulan berakhir dengan menjalin sebuah kesepakatan. Berawal dari Saint atau Pejuang NED bernama Ken meminta bantuan pada Gerhana Bulan untuk mengeksekusi Orion karena merasa berbahaya.
Lalu, Gerhana Bulan menawarkan sesuatu agar kepala Orion aman. Setidaknya selama kesepakatan itu terus berjalan. Lantas, tak tanggung-tanggung Orion pun meminta Gerhana Bulan langsung untuk mencari rekan Chameleon yakni Jinan sebagai patokan untuk sampai ke tempat Chameleon.
Sementara Gerhana Bulan meminta Orion yang mengenali sketsa pria yang telah ditunjukkan, mantan rekan seperjuangan Chameleon. Yakni pemain kecapi itu.
Walau jika dilihat dari sudut pandang orang ketiga, Gerhana Bulan rugi satu langkah tapi mereka tidak masalah asalkan musuh mereka yang menyuruh Orion untuk mencarinya juga itu dapat ditemukan dan ditangkap.
Begitulah kesepakatan mereka terjalin, tidak dalam atas dasar kepercayaan melainkan sebuah pertukaran pekerjaan dan peran untuk sementara waktu hingga kedua pekerjaan itu diselesaikan.
Letak di mana pemain kecapi itu terlihat ada di perbatasan negara. Letaknya sangat jauh, dan lagi orang itu pernah sekali diketahui keberadaannya di sana sekitar 3 bulan yang lalu.
“Lumayan lama kalau 3 bulan sudah berlalu. Entah mengapa aku berpikir dia dan Chameleon mirip,” ucap Orion.
Mereka dalam perjalanan pulang saat itu.
“Orion, apakah kau mengenal orang itu? Yang digambar di kertas,” tanya Endaru amat penasaran.
“Ya, bisa dikatakan begitu. Aku mengenalnya karena dia membantuku di markas Chameleon dulu. Saat itu dia sendiri yang mengatakannya kalau dia sudah berkhianat,” ungkap Orion berwajah serius memandang ke bawah.
“Orion, berhati-hatilah. Karena tidak semudah itu rekannya membelot. Pasti ada sesuatu yang dia inginkan,” celetuk Endaru.
“Tentu saja.”
Malam yang serasa begitu panjang. Hadiah berupa senjata api itu sekarang ada pada Endaru. Ia menyimpannya begitu baik dalam tas pinggangnya dengan membalut senjata itu dengan kain.
Beberapa menit telah berlalu, mereka hendak sampai ke penginapan yang sudah dicarikan oleh Dr. Eka. Letaknya tidak jauh, sehingga hanya menunggu sebentar saja sudah sampai. Bahkan berjalan kaki pun sebenarnya bisa, akan tetapi mereka memilih untuk menggunakan taksi terakhir karena Endaru ketakutan.
Ketakutan karena malam yang katanya banyak hantu. Umurnya saja yang dewasa, sikapnya bahkan masih seperti anak kecil.
Sampai ke penginapan. Dr. Eka menyambut mereka dalam rumah. Tampaknya ia belum ada rencana untuk tidur, dilihat di mana ia duduk di depan jendela sembari menikmati minuman hangat.
“Kau tidak tidur, dokter?” tanya Orion sembari duduk dan bersandar pada dinding.
“Dokter harus siap siaga dalam 24 jam penuh. Sayang,” ucap Dr. Eka sembari tersenyum pada Orion.
Seketika Orion bergidik merinding, ia menatap jijik bahkan bawah matanya sempat berkedut begitu mendengar kata terakhirnya.
“Jangan memanggilku seperti itu. Dasar dokter mesum. Aku ini lurus, tidak belok,” ketus Orion.
“Eh, tapi menurutku panggilan sayang itu karena mereka sangat menyayangi kita. Kadang orang tuaku bahkan Ayahku sendiri sering memanggilku begitu,” kata Endaru yang polos.
“Bedakan siapa yang menyebut panggilan seperti itu!” pekik Orion.
Tak!
Dr. Eka meletakkan secangkir minuman hangatnya di atas meja. Lantas ia berjalan menghampiri Orion yang tengah bersandar di dinding, tatapannya yang tajam tertuju pada lengan kanan Orion.
“Kenapa kau?” tanya Orion berwaspada seraya memeluk tubuhnya sendiri.
“Orion, katamu api itu tidak membakar tubuhmu sendiri. Apa kau benar?” tanya Dr. Eka berwajah serius.
Tiba-tiba suasana kembali menegang. Membuat perasaan Orion tidak nyaman.
“Iya. Kenapa kau bertanya?”
Endaru merasa penasaran apa yang akan dilakukan Dr. Eka pada Orion, ia pun ikut nimbrung. Duduk di dekatnya.
Orion awalnya merasa ragu, namun pada akhirnya ia pun mengulurkan tangan sembari melepas sarung tangan itu. Menunjukkan sedikit Api Abadi yang membuat tangan kanannya terbakar hidup-hidup.
“Seharusnya dalam keadaan seperti ini, kau sudah mati. Saat aku pertama kali membedah tubuhmu dalam wujud kecil, aku mengetahui bahwa sisa hidupmu tak lama lagi,” ungkap Dr. Eka.
“Bagaimana bisa sisa hidupku tidak lama lagi. Sedangkan saat aku bertemu denganmu itu, kebangkitanku belum cukup lama. Bahkan tidak lebih dari satu bulan,” ujar Orion merasa bingung.
“Mudah saja. Seperti yang aku ceritakan tentang darah langka padamu saat itu, jika mereka yang memiliki darah itu terus diperas maka tubuhnya akan berubah menjadi kecil lalu mati. Masih ingat?”
Jika dipikir kembali, hal yang dikatakan Dr. Eka saat itu dan hari ini sama. Memperingati Orion secara sadar maupun tidak sadar, tentang dara yang ia miliki itu berdampak berbahaya. Tak hanya untuk orang lain meski keuntungannya lebih besar, bahkan untuk diri sendiri juga berbahaya.
Seperti menaruh racun dalam tubuh abadi. Hidup atau mati tak ada bedanya.
“Berapa tahun saat kau mati lalu bangkit?” tanya Dr. Eka. Mencoba untuk memastikan hal lain lagi.
“Kau pernah bilang padaku saat itu, kalau kau pernah membedah isi kepalaku jadi kau tahu semua ingatanku,” ucap Orion.
“Ya, itu benar. Tapi tidak semua. Aku tidak bisa. Dan aku bukan peramal,” kata Dr. Eka mengangkat kedua bahunya.
“Aku tidak mau mengatakan ini,” kata Orion memalingkan wajah.
“Katakan saja. Ini tidak akan merugikanmu. Aku juga tidak bilang pada siapa pun,” ucap Dr. Eka.
Tulus atau tidaknya, Orion merasa harus mengatakannya. Berkaitan dengan masa hidup dan mati kini telah dipertaruhkan, maka akan membantu anak perempuan yang telah Orion bangkitkan juga.
Selain saling membagi ingatan. Orion sama sekali tidak tahu apa yang akan terjadi pada Pejuang NED ketika meminum darah itu.
“Kalau begitu aku pergi,” ucap Endaru.
“Tidak perlu. Aku juga ingin mengatakan hal ini kepadamu. Karena jika sesuatu terjadi padaku, kau bisa menggantikan diriku. Tidak, maksudku adalah, meminta bantuanmu jika terjadi sesuatu padaku nanti,” tutur Orion.
“Baiklah kalau itu maumu.”
“Aku mati pada usia 32 tahun lalu bangkit kembali setelah 20 tahun berlalu. Jika dihitung sekarang aku berusia 52 tahun,” ungkap Orion menundukkan kepala. Tak berani mengangkat kepala, lantas ia terkenang keburukan semasa ia hidup dulu.
Dr. Eka berwajah datar namun selang beberapa waktu raut wajahnya berubah, keningnya mengkerut seraya ia memijat kening dan menatap tangan berapi Orion.
Ia merasa pelik.
“Kalau begitu. Aku akan memperingatimu, Orion. Jangan sampai kau menggunakan kekuatanmu atau kau akan mati,” tutur Dr. Eka seraya mengangkat rahang Orion tuk menatap wajahnya.
“Tanpa Api Abadi itu bisa,” kata Orion seraya menepis tangan Dr. Eka darinya.
“Bahkan dengan api biasa pun hasilnya akan sama saja. Ingat ini, kekuatanmu, Api Abadi yang membakar lengan kananmu ini akan terus menjalar hingga ke sekujur tubuhmu,” ujar Dr. Eka sekali lagi. Ia menegaskan tanpa keraguan.
“Biarkan saja! Lagipula aku juga sudah bosan hidup!” pekik Orion. Berdiri dari sana dan tetap memalingkan wajah dari mereka.
“Lalu anak perempuanmu?” sindir Dr. Eka.
Orion tersentak. Ia bungkam, dan hanya berdecak kesal saja. Mengetahui kenyataan bahwa ia tidak bisa memenuhi tujuannya saat ini karena Ade seorang.