
“Endaru, apa kau bodoh?”
Endaru langsung menepis tangan yang sejak tadi mengguncang tubuhnya, lalu berdecih dan pergi sambil membawa Pemain Kecapi.
“Hei, tunggu!”
“Kau pikir aku mau menunggu seperti orang bodoh? Orion ada di tangan mereka. Meski aku yakin dia ada rencana tersendiri, tapi tetap saja itu akan menguntungkan bagi mereka entah digunakan untuk apa dengan kekuatan Orion.”
“Aku tahu, tapi kau itu bodoh! Bisa-bisanya kau berkata bahwa pertukaran ini mudah dilakukan. Hei, sekarang dengar—”
“Aku tidak mendengarmu,” sahut Endaru berlalu pergi begitu saja.
Drrrtt!!
Dan di saat bersamaan pula, ponsel Mahanta bergetar amat kencang. Ia pikir siapa tapi ternyata adalah atasannya sendiri, Gista Arutala.
“Hei, tunggu kau!” Sembari mengangkat telepon, Mahanta berteriak. Hingga tanpa sadar bahwa teriakannya itu terdengar oleh Gista yang panggilannya sudah mulai terhubung.
[“Ada apa? Sepertinya kau sedang berteriak.”]
“Ah, gawat! A ...itu, bukan. Bukan maksud saya berkata begitu, ini karena Pahlawan Kota yang sebentar lagi tindakannya akan mengundang masalah besar,” ujar Mahanta dengan sedikit terburu-buru.
Ia jadi sedikit gugup karena teriakannya terdengar oleh atasan sendiri.
“Ngomong-ngomong Nona Gista, apakah Anda sudah berada di stasiun? Kami akan segera menyusul setelah menangkap, ah, bukan ...maksud saya mengajak Endaru,” tuturnya yang nyaris keceplosan.
[“Belum. Aku belum sampai sana. Tolong suruh, anak magang dan lainnya berada di sana. Atau kamu juga sekalian tidak masalah.”]
“Eh? Lalu, Nona Gista?” Firasat Mahanta buruk sekarang, ia khawatir bila atasannya juga akan mulai bertindak sendiri.
[“Aku akan mengejar Chameleon, posisinya sudah aku ketahui dari pesan tersembunyi Orion padaku.”] Dan ternyata sesuai firasat dan dugaan Mahanta, bahwa Gista benar-benar akan bertindak sendirian.
“Tapi, Nona Gis—”
Belum juga selesai berbicara, panggilan telah terputus dalam waktu singkat. Mahanta jadi serba salah juga bingung, dengan tindakan Gista yang makin lama terasa seolah ia terburu-buru.
“Nona Gista menghubungiku hanya untuk mengatakan hal itu?” Mahanta bergumam, lantas menghela napas dan kembali berbicara sendiri, “Tidak dapat dipercaya. Ada apa dengan semua orang?”
Sementara, Endaru masih terjebak dalam kerumunan banyak orang di tengah jalan raya besar. Mahanta yang melihatnya dari kejauhan, sempat diam kebingungan.
“Kali ini apa lagi?”
“HEII!! PRIA YANG DI SANA! TOLONG AKUU!!” Endaru berteriak sambil melambaikan tangan ke arah Mahanta.
Sesaat Mahanta bingung lagi, ia kemudian menoleh ke belakang karena mengira bahwa orang lainlah yang sedang dipanggil.
“Kupikir orang lain, tapi ternyata bukan ya?”
“Tunggu! Hei, kau! Mahanta!! Paman?!”
“Paman, katanya?” Tidak salah lagi, yang dipanggil oleh Endaru adalah Mahanta.
Sudah terjebak masalah, tapi kini malah ingin menyeret Mahanta pula?
Penduduk di kota NY sedang mengamuk, mereka mendorong-dorong Endaru yang tengah membawa Pemain Kecapi karena banyak alasan. Salah satunya karena telah membuat kekacauan langsung di jalan raya, yang membuat beberapa kendaraan rusak.
“Kau harus ganti rugi sekarang!”
“Jangan dibiarkan kabur! Cegat dia, kalau perlu ikat!”
Amukan dari para warga tak terhentikan lagi, Endaru sudah terdesak karena lautan manusia yang menggiringnya entah sampai ke mana, membuat Endaru gelisah juga Pemain Kecapi jadi kesakitan karena desakan para warga secara tak sengaja menekan lukanya.
“Hei, hei! Tunggu! Aku tidak tahu apa masalah kalian, tapi mungkin ini karena kendaraan yang aku pijak. Aku minta maaf!” teriak Endaru meminta ampun.
“Kau pikir semudah itu minta maaf? Ganti rugi, atau kau akan kubawa di kantor polisi!” pekik salah seorang warga.
“Eh, itu ...maaf. TIDAK BISA!”
Jeritan Endaru yang berputus asa membuat Mahanta tak tega jika membiarkannya. Baru saja ia melangkah ke depan untuk mengurusi permasalahan Endaru, justru Endaru sudah melipir kabur.
Ia menggunakan kekuatannya, membuat gravitasi 0 hingga tubuhnya melayang ke udara. Spontan semua warga terkejut. Beberapa di antara mereka yang hendak turun untuk mengamuk bersama lainnya pun tercengang, mulut mereka menganga lebar karena tak percaya dengan yang dilihatnya.
“Bocah itu!”
Endaru kabur begitu amukan massa sudah tak terbendung lagi. Tentunya sambil membawa Pemain Kecapi di pundaknya.
“Kau benar-benar akan membawaku padanya dalam keadaan tak berdaya!?” Kali ini yang mengamuk adalah Pemain Kecapi.
“Diam kau! Aku membawamu karena suatu keharusan. Jadi diamlah dan jangan memprotes tindakanku.”
“Kau seenaknya bicara mudah begitu padaku? Kau benar-benar tidak waras! Aku bisa tamat, tahu!” amuknya.
“Siapa peduli,” ucap Endaru acuh.
Kelompok yang sudah terbagi menjadi dua bagian kini kembali terbagi. Lebih tepatnya terpecah belah dengan beberapa orang yang egois.
***
Markas Gerhana Bulan, Gedung Kasino. Lantai bawah nomor dua, ruangan yang secara tidak langsung mengurung Orion.
“Tuan memanggilmu,” ucap Sera di balik pintu seraya mengetuknya selama beberapa kali.
Orion yang tengah duduk dengan wajah sedikit pucat, lantas beranjak dari tepian ranjang. Pergi meninggalkan ruangan dan menuju ke lantai atas dengan menggunakan tangga.
“Kau membuat Tuan menunggu, bodoh!” pekik Jinan, dari belakang ia mendorong punggung Orion dengan sengaja. Bermaksud agar Orion melangkah lebih cepat.
“Kau ini yang paling berisik ya?” ketus Orion menatap tajam pada Jinan.
Jinan menyeringai namun dengan arti kebencian yang amat mendalam, ia kemudian memegang sisa tangan kanannya yang sudah buntung.
Lantas berkata, “Jangan lupa kau di sini sebagai rekan sementara kami. Tapi lain cerita jika dendam, boleh saja aku memotong tanganmu agar kita impas.”
Sesaat sebelum akhirnya ia pergi mendahului Orion, sekali lagi ia menegaskan kalimatnya. “Sebagai rekan,” tuturnya singkat.
Orion berada dalam sangkar, yang tidak tahu apakah itu terkunci atau tidak. Gedung yang luas dengan dikelilingi banyak orang namun baginya ini sempit.
Sesampainya ia berada di ruangan Chameleon berada saat ini. Dengan bawahannya yang juga ikut berkumpul. Orion berhadapan lagi dengan musuh bebuyutan NED.
“Kau memanggilku untuk apa?” Orion bertanya.
“Kita masuk ke intinya langsung. Aku ingin kau melenyapkan pemilik gedung ini,” perintah Chameleon tanpa berbasa-basi panjang lagi.
Sudah jelas ia menyuruh Orion untuk mengincar kepala Tuan Gerhana Bulan. Itulah maksud dari inti pembicaraannya.
Sambil menyunggingkan senyum, Orion berucap, “Baiklah.”
“Sepertinya dia cukup paham, ya. Khe khe.”
Apa rasanya menjadi bawahan langsung dari penjahat kelas atas yang bahkan sudah mengendalikan negaranya sendiri? Ia sudah jadi presiden secara tak langsung dan sekarang targetnya adalah negara lain?
Klak!
Namun, tiba-tiba sepasang gelang hitam mengikat kedua pergelangan tangannya.
“Ini untuk berjaga-jaga. Misal, jika kau bertemu dengan salah seorang mantan rekanmu di NED waktu lalu, maka gelangnya akan mengikat tanganmu lebih kencang.”
Orion menyipitkan kedua matanya, terkejut akan penjelasan Chameleon barusan.
“Lalu, di sana ada pelacak,” imbuhnya.
***
“Misalkan, dia benar-benar membawa orang itu kemari, bukankah kita yang diuntungkan?” tanya Ripia. Saint yang memiliki kekuatan hacking sekali sentuh.
“Itu benar. Betapa bodohnya. Padahal dia jelas-jelas sudah mengetahui bahwa kita ada hubungan secara tak langsung dengan Tuan Chameleon ataupun Ken,” tukas Gerhana Bulan seraya mengelus kucing peliharaannya.
“Anda benar. Dia sungguh bodoh. Berbeda dengan orang yang bisa mengendalikan api, meski sempat tertipu dengan pertukaran, dia tetap punya jalannya untuk mengancam khe khe.” Tawa Ripia lirih namun terdengar sedikit mengerikan.
Hari itu, pada waktu menjelang sore hari. Di gedung kasino, bagian lantai teratas, ruangan pribadi milik Tuan Gerhana Bulan sedang dipenuhi oleh anak buah mereka sendiri.
Beberapa saat sebelumnya, Saint Ken mampir dan kebetulan tidak ada orang yang memandu Endaru datang kemari untuk membawa Pemain Kecapi, itulah mengapa ia akan mengirimkan Saint bernama Ken di Air Mancur sebagai pemandunya.
“Tuan, aku ingin menyambutnya bersama Wama nanti. Tapi apakah dia benar-benar akan datang?” tanya Ripia sekali lagi.
“Aku sendiri tidak tahu apakah Saint Ken benar-benar membawa dia kemari, tapi berharap juga tidak masalah.” Tuan Gerhana Bulan sudah jelas tidak berniat untuk membawa Endaru kemari.
“Khe, khe, kalau begitu aku yang akan menjemputnya.”
***
Satu persatu dari anggota NED mulai menghilangkan dirinya. Terpisah jadi banyak kelompok dalam tujuan yang sama, hanya saja pergerakan mereka mudah terbaca dengan jelas.
Apakah ini adalah suatu taktik demi memancing musuh? Itulah yang dipikirkan oleh Mahanta dalam perjalanannya menuju ke stasiun.
Sementara Ketua Irawan, ia sudah mengabarkan Runo dan Ramon untuk bergegas menuju ke stasiun, tapi karena mereka melewati jalan museum, dekat air mancur, mereka tak sengaja bertemu dengan Ketua Meera.
Ketua Meera diduga hilang ingatan, tapi ternyata ingatannya sudah pulih sebagian meski ingatan tentang dua anak magang yakni Ramon dan Runo masih lenyap dalam bayangan.
Beberapa informasi tersampaikan dengan baik, terkait Orion serta Ketua Meera menunjukkan sebuah jarum yang pernah dilihatnya di masa lalu. Dan entah mengapa ia berpikir bahwa jarum itu milik Ketua Mirana yang seharusnya tidak ada di negara ini.
Mengenai Madeira atau dengan nama panggilannya Ade, putri Orion yang Orion sendiri masih meragukannya karena beberapa alasan, sekarang posisi anak itu masih berada di tempat yang sama, stasiun.
Ia tengah menunggu, namun tampaknya akan membutuhkan waktu yang cukup lama.
Lalu, Gista, saat ini ia sedang berada di atas gedung lama yang sudah lama tak dihuni. Ia memperluas jangkauan kekuatannya es yang sangat tipis hingga nyaris tak terlihat bahkan juga menyatu dalam awan yang cerah. Masih di dalam kota NY, ia mencoba untuk mencari keberadaan rekan lainnya serta Chameleon yang sudah ia beri tanda.
“Sesuai yang dikatakan oleh Orion, dia sudah tidak berada di sini. Selanjutnya, kota S-Frans langsung?” pikir Gista.
***
Dalam waktu yang bersamaan, di titik lain yang berada jauh dari Gista. Endaru masih sibuk dengan urusannya, ia bahkan dikejar-kejar oleh Ketua Irawan. Sedangkan Mahanta lebih memprioritaskan tugasnya untuk segera ke stasiun.
Sampai matahari meninggi di atas kepala, pun Endaru tidak berhenti sejenak. Ia berlari dengan kecepatan maksimal demi menuju ke museum, titik yang dipertemukan ialah air mancur. Di sana akan ada Saint Ken yang telah menunggu.
Namun, benarkah? Jika benar, maka apa yang akan terjadi pada Ketua Meera, Ramon dan Runo yang masih berada dekat dengan air mancur saat ini? Tak ada satu orang di antara mereka yang mengenali Saint bernama Ken. Kecuali Ken yang bisa saja telah mengantongi seluruh identitas anggota NED yang datang ke negara GL.
***
Pukul 3 sore. Sesampainya di Air Mancur. Tiada seorang pun di tempat ini. Keberadaan Ketua Meera, Ramon dan Runo pun nihil.
Hanya saja,
“HEI! JANGAN MELARIKAN DIRI KAU! KEMBALI KE SINI!”
Terdapat puluhan orang masih sibuk mengejar Endaru. Tampaknya mereka tak kenal dengan kata menyerah, bahkan setelah Endaru memutari perkotaan pun, mereka tetap bersikeras hanya demi mendapat rugi. Bahkan suara sirene polisi juga mulai terdengar, yang berarti seseorang telah memanggil mereka.
“Mereka keras kepala. Sudah aku bilang, aku minta maaf tapi tidak pernah dimaafkan.”
“Itu jelas saja karena kau telah membuat mereka marah. Kendaraan mereka yang selalu digunakan untuk bekerja siang-malam, belum lagi perawatannya yang super mahal, dirusak oleh orang asing dalam sekejap!” pekik Pemain Kecapi. Ia terlampau emosi.
“Aku tak sengaja melakukannya karena terburu-buru untuk mengejarmu. Jadi bisa dibilang, ini adalah salahmu!” sahut Endaru menyalahkan orang lain.
“Kenapa bisa begitu? Dasar bocah tidak tahu diuntung! Turunkan aku sekarang!”
“Tidak akan! Aku tahu kau akan melarikan diri begitu aku turunkan,” tukas Endaru masuk akal.
Terdapat seorang pria yang hanya diam berdiri seraya bersandar ke sebatang pohon besar, posisinya cukup jauh dari Air Mancur dekat museum. Ia sejak tadi hanya memandang ke arah Endaru yang tengah diamuk warga.
“Apa yang sebenarnya dilakukan oleh bocah itu?” ujarnya menggerutu seraya mendesah lelah dan menggelengkan kepala pelan.
Pria itu, Orion Sadawira. Ia sedang sibuk, hendak melaksanakan tugasnya. Niat hati ingin healing sebentar di kota NY yang paling ia sukai, tapi malah bertemu dengan sosok familiar seperti ini.
“Seharusnya aku tidak datang kemari ya?”
Orion berbalik badan guna memilih jalan lain agar tidak berpas-pasan dengan Endaru.
“TOLONG AKUUUU!! SIAPA PUN! TOLONG!!!”
Tapi jeritan Endaru yang membuat pekak di telinganya spontan Orion berhenti berjalan dan menutup lubang telinganya kuat-kuat.
“Ck, dia ini ...,”
Sepertinya tidak cukup bagi Orion untuk membuat masalah setiap per-detik. Jengkel padanya, juga merasa kasihan yang diburu oleh penduduk, Orion lantas pergi untuk menyelamatkannya.
Perlahan ia melangkah maju tuk menghampirinya, api menyambar mengikuti langkah serta gerak awan di langit. Sangat pelan, namun setelah beberapa detik, api itu menjulur dengan cepat mengelilingi Endaru bersama Pemain Kecapi sehingga secara tidak langsung, membuat puluhan penduduk tak bisa menjangkau mereka lagi karena dinding api tersebut.
“Wah, ada apa ini? Tiba-tiba muncul api?”
“Jangan katakan padaku ini adalah sihirnya. Eh, tunggu! Mana mungkin ada orang melakukan sihir di era modern begini.”
“Ini pasti karena trik sulapnya lagi!”
“Aduh! Ini benar-benar panas!” pekik salah satu orang yang dengan sengaja menyentuh api itu.
Setelah salah satu dari mereka benar-benar merasakan bahwa api ini adalah nyata, perlahan mereka melangkah mundur karena ketakutan dan kemudian berakhir melarikan diri.
Sementara Endaru terdiam dalam kebingungannya. Tapi di satu sisi ia cukup lega karena api ini.
“Api ini ...tidak salah lagi!”
Endaru berteriak, ia menoleh ke belakang sesaat setelah dinding api lenyap. Kedua matanya terbelalak tak percaya dengan sosok pria yang datang menghampirinya.
“AYAH!!”
Orion tercengang dengan panggilan dari Endaru, spontan ia berhenti melangkah.