ORION

ORION
Rumah Sakit



Adi Caraka, Ketua Organisasi Medical Life-Essence yang bertugas di kota L-Karta. Ketua yang berada di posisi ke-3 di Organisasi utama NED. Sekaligus pendiri dan kepala rumah sakit besar, Caraka.


Setelah melihat anak yang ternyata adalah Orion Sadawira, Caraka pergi keluar dari kamar untuk menghubungi seseorang lewat telepon nirkabel.


Sembari menunggu tersambung, ia mengetuk-ngetuk meja dengan jarinya. Lalu tersenyum saat mendengar sapaan.


“Apakah kau bisa menghubungkannya dengan Nona Arutala? Aku ingin mengatakan suatu hal yang penting.”


Terdengar suara yang sangat berisik di sana. Caraka menunggu selagi pesannya disampaikan pada orang yang tepat.


“[Kau lagi. Ada apa ini?]” Tersambung dengan Gista.


“Ah, akhirnya datang sendiri. Apa kau tidak tahu kalau anak gelapmu sedang terluka parah? Kasihan sekali, dia pasti jauh-jauh kemari hanya un—” Perkataannya terpotong.


“[Jangan bicara omong kosong, Caraka!]” Gista meninggikan suara lantas kesal saat berbicara dengan Caraka.


“Jangan galak begitu, Nona Arutala. Orion Sadawira, dia benar-benar ada di sini loh. Kau yakin tidak mau menjemputnya?”


Sesaat Gista tidak menjawab apa-apa setelah mendengar nama Orion dari mulut Caraka. Terutama saat mendengar Caraka sedang berusaha menyembunyikan gelak tawanya saat itu.


“[Jangan sentuh Orion dengan tangan kotormu.]”


“Anak gelap—”


Klak! Lagi-lagi kalimat Caraka terpotong saat mencandai Gista yang kemudian menutup sambungan telepon. Caraka pun menghela napas seraya meletakkan kembali gagang telepon itu.


“Ya, ampun. Galak sekali,” gumam Caraka lantas pergi.


***


Di kediaman Arutala. Suasana di sana cukup tenang, tapi tidak dengan Gista yang saat ini tahu ada sesuatu yang terjadi pada Mahanta juga Orion.


Setelah menutup sambungan teleponnya, Gista berencana akan pergi sendiri namun seseorang datang dan memaksa masuk ke ruangan kerjanya.


“Gista! Kau mau ke mana lagi?” Dengan marah, suaranya meninggi pada Gista.


“Hery, aku sedang ada urusan. Ini penting, beberapa anggota-ku sedang menghilang,” jawab Gista yang nampaknya tidak terkejut akan kedatangan pria tersebut.


“Kau ini pasti akan bermain-main dengan pria itu lagi, 'kan?! Hei, aku ini tunanganmu! Jadi jangan membantah, dan turuti semua perkataanmu!” amuknya sembari menarik lengan Gista yang sedang mengenakan jasnya.


Hery, adalah tunangan Gista. Tapi hubungan di antaranya hanyalah sebatas formalitas. Hery Arutala adalah putra Presdir yang kemudian dijodohkan oleh pemimpin organisasi utama NED, yakni Gista Arutala.


Meskipun formalitas, tapi hubungan ini terlalu dipaksakan sehingga membuat Gista kesusahan setiap kali berhadapan langsung dengan putranya atau bahkan dengan Presdir.


“Jangan banyak omong kosong. Aku akan mengundurkan diri dari jabatan ini. Lagipula hubungan kita tidak layak dipertahankan.”


“Segitunya kau meremehkan aku!? Padahal aku sudah membantumu banyak dengan NED atau apalah itu!” teriak Hery.


Gista masih menahan amarahnya selagi bisa. Seraya melepas genggaman tangan Hery darinya, ia kemudian menatap tajam dan membuat hawa sekitar terasa mencekam.


Berkata dengan suara rendah namun tegas, “Jangan membuatku terus bicara. Dua anggota pentingku sedang dalam bahaya sekarang, aku harap kau mengerti!”


***


Di sisi lain, tamu terlupakan sedang mengintip dan mencuri dengar dari celah pintu yang terbuka. Endaru, Pahlawan Kota.


Ia tengah berkunjung kemari karena hendak bertemu dengan Orion namun sepertinya itu sulit. Sebelum Gista berjalan keluar, ia pun segera menjauh dari sana.


“Kalau dari raut wajahnya. Kemungkinan besar Orion sedang berada di wilayah Caraka. Hah, ini membuat perasaanku jadi tidak enak.” Endaru bergumam di sepanjang lorong.


Ia terdiam sambil menutup mulutnya rapat-rapat. Dengan perasaan kacau, gelisah dan merasa bersalah.


“Ya, ampun. Ini pasti karena aku membiarkan Orion menyelesaikan tugasku. Aku harus cepat-cepat ke sana,” ucap Raka.


Sepertinya Raka sangat merasa bersalah terhadap Orion, bahkan sampai ia menggigit jari jemarinya sambil melangkah pergi untuk menemui Gista terlebih dahulu.


***


Kembali di kota L-Karta. Eka memeriksa keadaan Orion yang telah membuka kedua matanya.


“Jika kau mendengarku, kedipkan mata sekali.”


Orion mengedipkan mata, tanda ia mendengar suara Eka saat ini.


“Baguslah. Kira-kira, apakah kau bisa berbicara walau hanya sedikit?” Eka kembali bertanya.


Orion kemudian mengangguk lalu berkata dengan lirih, “Se ...rak. Sedikit ...serak.”


Ia mengatakan keluhannya yang sulit bicara karena suaranya serak. Karena pengaruh luka di seluruh tubuh dan radang karena api miliknya sendiri, jadinya membuat tubuh Orion sedikit kaku dan pita suaranya serasa tersumbat.


“Untuk saat ini, kau mungkin sulit bicara. Baiklah, aku akan mengambilkan air agar membuatmu lega.”


Eka pun mengambilkan segelas air putih dan membantunya untuk minum meski terkadang Orion tersedak sedikit.


Caraka kembali datang, menjenguk Orion yang tengah duduk di ranjang. Ia melihat wajah Orion lesu dan pucat, ia tak bertenaga dan belum sepenuhnya pulih.


“Dia pucat sekali. Apakah dia akan benar-benar pulih? Karena nanti ibunya akan datang, aku jadi tambah khawatir,” kata Caraka dengan menekuk kedua alisnya.


Tak! Eka kemudian menaruh gelas yang terisi air setengahnya. Lantas menoleh ke samping.


“Tuan tidak perlu khawatir. Dia akan baik-baik saja selama berada di sini. Tapi tentu saja tidak akan memakan waktu yang cukup lama,” ucap Eka sambil tersenyum.


“Oh, benarkah? Syukurlah,” ucap Caraka sambil mengelus dada seolah bebannya hilang.


“Lalu, apakah benar ibu dari anak ini akan datang? Bukankah dia anak bekas penculikan? Aku tidak yakin kalau ibunya akan mengenali dia lagi,” pikirnya cemas.


“Dia bukan anak bekas penculikan aku rasa. Dan dia adalah Pejuang NED yang sudah memiliki orang yang akan merawat selayaknya keluarga,” kata Caraka.


“Kalau begitu dia sudah benar-benar aman sekarang. Yang tersisa hanyalah menunggu sampai dia pulih sepenuhnya,” ucap Eka seraya tersenyum.


“Oh, ya aku lupa satu hal. Ibunya galak, jadi apa pun permintaannya tolong dituruti,” pinta Caraka.


“Baik, Tuan.”


“Karena Ibunya akan datang mungkin sekitar 5 jam lagi. Biarkan dia istirahat sejenak. Kita tidak mau kalau anak ini tidak merasa nyaman karena terus-terusan dijenguk, 'kan?”


Eka menganggukkan kepala lalu beranjak dari kursi dan berniat akan pergi namun Orion meraih ujung jas putihnya, seperti ia mengatakan sesuatu.


“Tu-tunggu ...di mana pria, pria itu?”


Orion menanyakan keberadaan Mahanta. Tetapi melihat mereka berdua hanya menatapnya saja, membuat Orion terkejut.


“Aku baru ingat kalau Mahanta sudah tidak bersamaku semenjak aku terlempar keluar dari mobil. Jadi ...di mana dia?” batin Orion mulai merasa cemas.


Eka mengusap kepalanya sambil berkata, “Jangan mencemaskan orang lain di saat kau sendiri sedang sakit.”