
Wanita yang berada dalam ingatan pemain kecapi. Orion melihatnya dengan jelas sampai-sampai wajahnya terus terngiang dalam kepalanya.
“Dia berada di satu posisi lebih atas dari pria itu. Entah kekuatannya seperti apa. Bahkan selevel bawahan rekan Chameleon saja sulit dilawan,” gumam Orion dan semakin berwaspda.
“Anda sepertinya mengenal wanita itu?” tanya salah seorang anggota setelah Orion bergerak mundur lagi.
“Tidak tapi di satu sisi aku tahu siapa dia. Entah seperti apa kekuatannya. Namun tetaplah berjaga-jaga.”
“Baik saya mengerti!”
Sekali tanda dari anggota itu, lantas semua anggota yang melihatnya tahu maksudnya. Berjaga-jaga serta lebih mewaspadai wanita yang akan aktif dari pertarungan.
“Tuan Chameleon, saya akan melawannya. Anda cukup berdiri di sana,” tutur wanita itu.
Tanpa menunggu persetujuan dari tuannya, ia lantas menerjang Orion dengan tubuh bagian bawahnya yang tidak berwujud.
“Ha?”
Sruak!!
Tiba-tiba saja gerakannya semakin kencang, dan cakaran muncul lantas menggores tubuh Orion. Cakarannya sangat kuat hingga luka itu terlihat sangat parah, dagingnya nyaris terkoyak menjadi beberapa bagian.
“Hm, ternyata tidak cukup kuat. Tubuhmu seperti besi.” Wanita itu berbicara.
Orion menyerangnya dengan tangan kiri berapi. Sulit jika ia harus menggunakan senjata berupa jarak dekat, karena itulah ia berniat untuk menjaga jarak selagi menyerang.
Orion mengayunkan kepalan tangan dari atas ke bawah, sisa-sisa dari api yang mengudara itu pun bergerak ke atas dan membentuk beberapa bentuk bulat.
Yang kemudian melesat secara bersamaan menuju ke arah wanita tersebut, namun tak satu pun serangan mengenai dirinya. Orion memanfaatkan waktu di mana wanita itu terus bergerak dan menghindari bola api.
Slash!!
Gerakan Orion yang sama cepatnya itu ia gunakan tuk menyerang dengan sebilah pedang. Alhasil, tubuh bagian depan wanita itu tergores. Darah berceceran ke mana-mana.
“Ukh, saya lengah. Maafkan saya.”
“Tidak masalah. Lagi pula pandanganmu sedikit bermasalah. Jangan lawan dia secara langsung, ulur waktu dan kalau kau bisa tangkap dia dan bawa masuk ke dalam bayangan milikku,” bisik Chameleon.
Semua anggota bergerak secara serentak mengincar punggung Chameleon. Namun Chameleon tampak bersikap biasa saja meskipun ia tahu sergapan dan hawa membunuh itu tertuju padanya langsung.
Wanita itu lah yang melindungi punggung Chameleon dengan cakar yang besar. Mereka semua terpukul mundur karena hempasan angin dari cabikannya.
Kemudian beralih pada Orion yang telah berada di dekatnya. Sempat ia terkejut, namun ia dengan berani menangkap lengan kiri Orion.
Sruk!
Bayangan di antara Chameleon, wanita itu dan Orion menyatu dan membuat mereka masuk ke dalam bayangan.
“Ternyata benar, Chameleon mengincar Tuan Orion. Tetapi, ini tidak bisa dibiarkan lebih lama lagi. Karena Tuan Orion tidak boleh berada di pihaknya! Apa pun itu!”
Drap! Drap!
Semua anggota kembali bangkit dan bergerak cepat menuju ke arah perginya bayangan itu. Dengan seorang anggota yang lebih aktif berbicara dengan Orion sebelumnya di depan, mereka juga menghubungi beberapa anggota tersisa yang tersebar di daerah tersebut untuk membantu.
Situasi ini semakin lama semakin panas. Ditambah terik matahari yang begitu menyilaukan mata.
Tatkala di cuaca panas ini, Orion dan dua musuh tersebut berada di dalam ruang hampa. Di mana rasanya tidak ada udara, kelembaban, atau hal yang sejenis lainnya.
Orion merasa sesak napas. Ia jatuh tak berdaya dengan memenggenggam kepalan tangannya ke depan dada. Seolah darah berhenti mengalir, semua waktu di ruang hampir jadi tidak bergerak sama sekali.
“Aku sama sekali tidak berubah pikiran.” Orion menjawabnya dengan tubuh gemetar.
“Akan lebih baik kita bunuh saja. Karena Api Abadi adalah kekuatan absolut yang menyulitkan Anda, Tuan Chameleon.” Wanita itu siap mencabiknya.
Orion mengangkat lengan kanan ke arahnya. Dengan api yang tetap membara walau tubuh Orion sendiri tercekik. Keadaan dua musuh itu baik-baik saja, bertarung di tempat ini pun akan merugikan Orion seorang diri.
“Jangan mendekat!” kecam Orion seraya mengancamnya dengan lengan kanan.
Sontak, wanita itu merasa ragu akan kekuatan tersebut. Ia lantas melangkah mundur.
Buak!
Orion kemudian beralih pada lantai ruang hampa dalam bayangan. Memukulnya dengan sekuat tenaga, dengan menggunakan tangan kanannya. Seketika ruang hampa itu terbakar.
Dalam sekejap ruangan hampa menjadi hangus tanpa sisa. Dan bayangan yang ada di luar itu mengeluarkan uap panas.
“Apa pun bisa kulakukan dengan tangan kananku. Membunuh tanpa tersisa pun bisa. Tapi sekujur tubuhku mati rasa. Ini pasti karena aku berada di dalam bayangan sebelumnya,” gumam Orion.
***
Saat ini, Mahanta masih berada dalam perjalanan. Ia pun menghubungi Gista dan membicarakan tentang masalah Chameleon.
“Saya yakin Nona Gista memiliki rencana. Tapi tidakkah Anda mengatakannya pada saya? Memang saya cukup mengerti kalau Anda suka bergerak sendiri.”
Wajah Mahanta terlihat sangat cemas. Genggaman tangannya pada stir mobil pun makin mengencang, tak sadar ia juga menggertakkan gigi.
“[Kalau aku katakan. Kalian sudah pasti akan menolak rencana ini. Lagi pula ini berkaitan dengan Orion, bukan dirimu Mahanta.]” Ucapan Gista terdengar ketus.
Namun begitulah cara bicaranya. Ketika Mahanta dalam perjalanan menuju ke lokasi Chameleon dan Orion saat ini, sementara Gista berkeliling di daerah yang sama.
Ia telah datang ke lokasi namun tampaknya jejak mereka menghilang sehingga sulit untuknya mencari seorang diri.
“Baik, saya mengerti. Nona Gista, Anda cukup berjalan lurus saja. Salah satu anggota barusan melaporkan pergerakan Chameleon barusan.”
Terputuslah panggilan tersebut. Lantas Gista berlari menuju ke tempat di mana Chameleon berada.
Terdapat beberapa orang berkumpul dalam satu tempat yang kemudian menjaga jarak. Membukakan jalan dari bayangan yang berhenti bergerak. Gista mengangkat lengannya ke depan dengan telapak tangan terbuka lebar.
Sedikit demi sedikit kulitnya berubah menjadi lapisan es. Setelah beberapa saat, uap dingin muncul lantas membuat ketiga orang yang berada dalam satu bayangan itu membeku.
“Nona Gista!?”
Para anggota terkejut akan kedatangan Gista dari belakang mereka. Bahkan hawa keberadaannya saja baru dapat mereka rasakan karena saking tipisnya menyebabkan semua orang tak sadar.
Ketiga orang yang tak lain Orion, Chameleon serta wanita yang baru saja keluar dari dalam bayangan. Tubuh mereka membeku dari bawah menuju ke atas, kristal es yang sama seperti saat Gista menunjukkan teknik memperluas jangkauan serang.
Tak satu pun dari mereka dapat bergerak bahkan seujung jari pun. Dan raut wajah Chameleon terlihat berubah. Ia mengerutkan dahi dalam kondisi masih berada dalam wujud Orion.
“Nona Gista, salah satunya adalah Chameleon. Anda takkan membekukan mereka sekaligus bukan?”
“Tentu tidak. Tapi apa yang barusan aku lihat sekarang? Chameleon dan salah satu rekannya datang. Harusnya kalian tidak bergerak.”
“Apa? Tapi mana mungkin kami tidak bergerak ketika Tuan Orion—”
Gista memotong perkataannya dengan kalimat yang dingin, “Pada dasarnya Orion memang bekerja sendiri. Sama sepertiku. Lain hal nya ingin mengumpankan seseorang.”