
Beberapa jam sebelumnya. Di suatu tempat, markas baru Chameleon dan rekan-rekannya.
“Aku datang!” teriak Chameleon dengan wujud Dicky. Seraya membuka pintu dengan wajah gembira.
“Adakah yang bisa saya bantu, Tuan Chameleon?” tanya seorang wanita dengan rambut terkuncir. Bernama Sera.
Sera adalah tipe monster yang pernah sekali unjuk gigi di hadapan Orion. Sera juga mengigit Mahanta dengan taring tajamnya hingga sekarat.
“Tidak ada. Untuk saat ini, aku hanya ingin memperdengarkan cerita dari kawan-kawanku tentang pria bernama Orion. Adakah dari kalian yang sudi bercerita padaku?” sahut Chameleon seraya duduk di bangku dan menghadap mereka semua. Menatap para rekannya satu persatu yang terluka dan juga yang tidak.
“Orion? Ah, pria yang memiliki Api Abadi itu, ya? Tapi Tuan Chameleon, bukankah Anda bilang sebelumnya bahwa dia itu anak-anak?” tukas Jinan.
“Dia berubah jadi seorang pria, begitu maksudmu?” tanya Caraka.
“Ya, mungkin. Karena aku melawannya dan dia adalah seorang pria dewasa,” jawab Jinan.
“Hm, kalau begitu itu karena pengaruh darah langka yang dimilikinya. Serta Api Abadi yang membantunya untuk kembali ke wujud asli,” ujar Caraka menjelaskan.
“Ngomong-ngomong, lukamu tidak kunjung sembuh?” singgung Jinan terhadap luka di bagian dada tengahnya (karena pedang ilusi Gista, pertarungan yang terjadi di rumah sakit kota L-Karta.
“Ck, jangan bilang itu lagi. Aku kesal karena kau membuatku mengingat kenangan buruk itu.” Caraka berdecak kesal. Seraya mengalihkan pandangan.
“Itu lebih baik daripada seseorang kehilangan tangan kanannya,” sindir Sera terhadap Jinan.
“Sudahlah, kalian semua. Entah kenapa arah perbincangan ini justru membuat kita kesal. Tapi, aku datang tak hanya untuk itu,” sahut Chameleon.
“Apa itu Tuan Chameleon?”
“Tentang pria bernama Orion. Aku dengan bantuan kalian, menyelidikinya habis-habisan. Sampai ke akar-akarnya, bahkan sampai yang tidak bisa dijangkau oleh orang lain,” tutur Chameleon menyeringai tipis. Seolah menikmatinya.
“Wah, wah, Anda cukup agresif sekali. Tapi Tuan Chameleon, siapa pria bernama Orion ini? Apakah dia adalah pria dengan sifat yang sulit ditebak dan bermata mati?” sahut seorang pria dengan kemeja putih.
Ialah pria yang disewa Orion untuk membunuh Orion sendiri. Yang dikenal sebagai Mr. Iki Gentle, pembunuh bayaran yang selalu memikirkan harga diri dan keuntungan yang terbaik.
“Iya, aku cukup agresif apalagi kalau berkaitan dengan Orion ini.”
“Yang Anda maksud itu Api Abadi, 'kan?” ucap seorang pria yang berada di sebelah Caraka.
“Ya, itu tidak salah. Dan aku tidak tahu apa yang dimaksud dengan kau, Iki. Tapi kalau dia adalah orang yang kau kenal, apakah suatu saat kau akan ragu untuk membunuhnya?” Chameleon berniat menguji.
“Saya hanya mengenal klien dan target saya. Itupun hanya sekilas saja,” jawab Mr. Iki Gentle dengan wajah datar.
Chameleon beranjak dari tempat duduknya lalu berkata, “Kalau begitu aku serahkan ini padamu. Selidiki dia seutuhnya lalu bawa seseorang yang paling berkaitan dengannya.”
“Apakah Anda berniat menjadikan seseorang itu sebagai sandera?” pikirnya.
Chameleon menjawab, “Tidak. Aku hanya ingin bertanya-tanya soal Orion saja.” Sembari mengibas-ngibaskan tangannya.
***
Kembali pada malam di Pasar Malam saat ini. Orion dkk mulai berwaspada terhadap seorang pria yang berada di hadapan mereka saat ini.
Ia terlihat ragu menerima kopi yang barusan disodorkan oleh Orion.
“Wah, saya pikir Anda tidak peka. Ah, maaf. Aku justru bersikap sok sopan, ya. Chameleon.”
Tak!
Serangan dari segala arah mendatangi Chameleon. Orion lantas hanya berdiam diri bersama Mahanta yang berada di sampingnya. Lalu Gista mengenggam pedang ilusi di tangannya.
“Jangan berikan dia celah sedikitpun!”
SYAAAT!
Semua serangan yang berjarak dekat pun mudah dilakukan karena gerakan Chameleon sepenuhnya terhenti.
WUUUSSHH!
Embusan angin terasa begitu kencang. Semua di sekitar mereka menjadi hening tanpa seorang pun kecuali mereka yang adalah Pejuang NED.
Mahanta melayangkan tinju berkekuatan angin. Mengarah ke ulu hati hingga tubuh Chameleon jatuh ke tanah.
“Khu khu, yah, salah satu dari kalian sangat peka, ya.” Chameleon berbicara seraya mengubah wujudnya menjadi Dicky.
“Tapi, aku pun memang sengaja bertindak mencurigakan. Lalu, sudah kuduga bahwa pertarungan yang berat pun menggairahkan bagiku,” imbuh Chameleon.
Ketika itu gelas kertas yang dipegang Orion saat ini meleleh. Menumpahkan isi minumannya dengan sengaja.
“Gista, apakah aku pernah bilang sesuatu padamu tentang lingkaran yang sebelumnya ada di atas kepala Chameleon?”
“Tidak.”
“Kalau begitu akan aku katakan. Sebisa mungkin jangan sampai lingkaran itu kembali muncul karena jika muncul maka akan menyerap kehidupan atau usia kita semua.”
KRAK!
Sekali hentakan dari kaki Chameleon membuat jalanan retak. Ia segera berdiri dari sana dan melepas rantai yang mengikat tubuhnya. Ketika Chameleon berusaha melepaskan rantai dengan tangan kosong, besi-besi runcing muncul dari atas kepalanya.
Zrak! Zrak!
Semua besi runcing itu pada akhirnya hanya menghujam tanah, sedangkan Chameleon melompat mundur dengan ikatan rantai yang semakin longgar.
“Rantainya longgar?” Ketua Dharma sungguh tidak percaya karena ia merasa Chameleon jauh lebih kuat dari sebelumnya.
Ketua Ganendra berlari seraya mengepalkan kedua tinju. Tapi langkahnya terhenti saat Chameleon menabrak seseorang di belakang.
“Hei, jangan lupakan aku! HEAKH!”
BRUAK!!
Sosok pria berjubah hitam membanting tubuh Chameleon dari belakangnya. Hingga tubuh Chameleon menghantam tanah serta terdengar beberapa suara semacam tulang yang retak.
“Ekh ...ternyata dia juga datang?” Chameleon mengerang kesakitan.
“Ya, jelas!” ucap Endaru bernada tinggi dengan penuh kesombongan.
Rantai menjalar cepat dan kembali mengikat tubuh Chameleon. Chameleon ditarik dengan kuat dan sekencang-kencangnya ikatan itu sehingga tak dapat melakukan apa-apa.
Gista dan Orion hanya menonton saja, lantaran mereka sedang mengawasi sesuatu.
SREEKK!
Langkah Chameleon yang terus terseret ke arah mereka, justru membuat Chameleon berlari ke arah mereka.
“Sudah kuduga, akan mustahil kalau dengan cara yang sama. Ya, tentu saja,” gumam Ketua Dharma.
Besi-besi runcing membuat anyaman ke atas, menghalangi pergerakan Chameleon yang hendak menyerang ketua Dharma. Tak lama setelah itu, Mahanta dengan anginnya dapat membuat angin yang setiap kali berembus menyayat setiap jengkal tubuh Chameleon seperti mata pisau yang tajam dan baru diasah.
Ditambah dengan gabungan, kekuatan gravitasi 10x lipat dari Endaru membuat anginnya semakin menekan ke bawah, sehingga Chameleon sulit tuk berkutik.
“Aku ingin melihat mereka sebentar saja,” gumam Gista seraya menyimpan pedang itu kembali.
“Jangan diremehkan. Aku sudah menunjukkan di mana Chameleon berada saat ini. Kalau dia sudah tertangkap maka hubungan ini akan berakhir, Gista.”
“Aku tahu itu, Orion.”