ORION

ORION
Ada yang Janggal



Ade pernah bilang, bertemu dengan seorang pria yang mengaku sebagai kenalan atau teman Orion. Tapi Orion tidak sekalipun memiliki teman, dan kalaupun ada pasti itu berada di lingkup Dunia NED.


Jika benar kenalannya ada di dunia NED, lantas kenapa Ade masih dalam kondisi terikat saat itu. Hal itulah yang mencurigakan. Orion hanya terpaku pada salah seorang yang akhir-akhir ini bermasalah dengannya.


Chameleon!


“Ukh! Cha-Chameleon kau, apa maksudnya? Kau menculik anak itu?” tanya Orion dengan tergagap.


Penjagaan Orion yang melemah membuat ia harus menerima pukulan dari Chameleon. Tepat mengenai ulu hatinya, jika ia tidak memaksakan diri untuk bangkit, maka dirinya pasti sudah lama tumbang.


“Kalau benar, kenapa? Oh, lihat ini. Raut wajahmu begitu memberikan, memberikan diriku tatapan tajam karena seseorang yang engkau sayangi telah diambil. Huhu.”


Chameleon mengambil wujud seorang wanita, yakni Ketua Gista Arutala. Ia tersenyum senang begitu melihat ekspresi Orion yang sudah lama ia harapkan.


“Bisa-bisanya kau melakukan itu pada orang yang tidak terlibat dengan ini semua! Bahkan rekanmu juga tidak ragu untuk membunuh seseorang di luar sana!”


Krak!


Orion mengayunkan pedangnya namun tertancap ke kristal es yang berada di tengah mereka.


“Luapkan semua amarahmu, serang aku dengan sepenuh kekuatanmu yang ada. Serang aku sampai kau puas!”


Semua perkataan Chameleon menghasut Orion dalam kemarahan yang mendalam. Emosi yang telah lama ia pendam di masa lalu kini mulai mengalir dengan ingatan-ingatan terburuk yang pernah ada.


Cercaaan, hinaan, pengkhianatan, orang terbuang, terlemah, termiskin dan lain sebagainya itu terus mengalir dalam pikirannya. Sehingga Orion membabi buta, menyerang ke segala arah dengan sebilah pedang yang melekat pada lengan kirinya.


“Jangan ungkit itu semua! Kau tahu apa tentangku! Kau itu sinting yang bahkan tidak pernah tahu apa rasanya ketika kau membunuh seseorang?!” pekik Orion.


SRAAAAKK!


Kristal es secara beruntun menyerang dari tanah, memutar hingga menusuk tubuh bagian belakang Orion. Ketika itu Orion berhenti bergerak, memuntahkan darah segar serta rasa sakit yang menjalar ke sekujur tubuhnya.


“Hm, amarah yang meluap-luap. Aku jadi semakin puas terhadapmu. Kalau dulu—”


JRASH!


Namun dalam waktu singkat, Orion terbebas dari tusukan es, ia kembali menyerang. Menusuk dada bagian kiri Chameleon tanpa ada keraguan sedikitpun. Kalimat Chameleon juga sempat terpotong, lantaran terkejut karena serangan dari Orion yang dalam sekejap itu.


“Kau mengincar jantungku, ya. Benar-benar beringas.”


Chameleon mengangkat tangan kanan dengan mengepal, memunculkan sebuah bukit es dan terus memundurkan langkah Orion yang tengah bertahan dengan sebilah pedangnya.


Tidak lama, kepingan es dengan ujung runcing menghujamnya bagai panah. Orion berlari menghindar namun salah satu dari keping es itu berubah menjadi panah yang sama.


SYUT!


Anak panah melesat cepat, menghentikan langkah Orion dengan berhasil menusuk paha bagian kanan Orion. Tetapi, Orion yang masih kalut akan emosi mendalam, tetap tegar, bertahan. Ia bangkit dan kemudian melancarkan serangan dengan pembentukan bola api.


Semua bola api itu menerjang Chameleon. Begitu Chameleon menghindar, bola api itu jatuh ke tanah dan membakar ke sekeliling Chameleon seorang diri.


Membentuk pola lingkaran, api itu kemudian menggelora ibarat minyak panas telah tertuang di atasnya. Yang kemudian mengangkat ke atas, membentuk sebuah dinding api.


“Buat lingakaran menyusut,” ucap Orion mengepalkan tangan kanannya.


Dinding api yang semula jauh lebih besar itu kini pun menyusut secara perlahan-lahan. Dinding api semakin kecil, dan membuat Chameleon harus menggunakan lingkaran atas kepala.


Warna kebiruan berpendar. Dinding api terlihat goyah seolah angin datang berembus.


“Chameleon!”


Krak!


Ruang hampa mulai menunjukkan tanda kerusakan. Lalu lingkaran kebiruan yang berada di atas kepala Chameleon melebar. Seolah menghapus semua kekuatan yang ada di sekitarnya.


“Cha—!”


Orion berhenti melangkah dan menghentikan arah pedangnya yang nyaris memenggal seorang wanita asing. Tiba-tiba hawa keberadaan Chameleon lenyap usai ruang hampa hancur kembali.


“Ma-maaf. A-a-a ...” Wanita itu seketika tergagap. Diam mematung dengan dua tangan diangkat ke atas.


“Jangan!” teriak Orion seraya mendongakkan kepala ke atas, ia kemudian menarik tubuh wanita itu ke dalam dekapannya.


Trang!!


Lantas Orion menangkis mata pedang yang nyaris menusuk punggung wanita tersebut.


“Hm. Tunjukkan ekspresi itu lagi setelah kau melihat anak perempuanmu menderita,” ucap Chameleon tersenyum lalu mengubah wujudnya ke dalam bayangan dan pergi.


Kekacauan ini berangsur-angsur sepi. Menyisakan beberapa pedagang yang mengumpat di balik dagangannya. Lalu, salah seorang wanita yang secara tak sengaja terlibat dalam pertarungan mereka.


“Kalau ruangan yang bisa membelah ini sudah hancur. Itu artinya aku berada di dunia nyata, syukurlah aku menyelamatkan wanita ini.” Orion bergumam.


“Ah, maaf! Itu ...” Wanita itu kemudian mendorong tubuh Orion yang masih mendekapnya.


“Tidak, tidak. Seharusnya saya yang minta maaf,” kata Orion seraya menghilangkan senjata di lengan kirinya. Lalu menyembunyikan lengan kanan ke belakang punggung.


“Oh, iya. Tapi sepertinya ada seseorang yang hendak melakukan sesuatu pada saya tadi, ya?” Wanita itu bertanya sembari menoleh ke belakang.


“Ya, begitulah. Bahkan saya juga nyaris melukai Mbak sebelumnya, maaf.”


“Tidak ...masalah,” ucapnya dengan tatapan sendu. Melihat punggung Orion yang menjauh. Tampaknya ada sesuatu yang menggangu dalam pikiran wanita itu sekarang.


“Punggungku sempat merinding tadi. Jangan bilang ada yang berusaha untuk menyerangku dengan pisau dapur,” gumamnya sembari menggosokkan leher yang bergidik sesaat.


***


Dari kejauhan, kendaraan yang dikendarai Gista sudah melaju. Orion bergegas mengejarnya sampai menuju ke pintu mobil yang terbuka lebar.


“Orion, tangkap tanganku! Kita akan kembali ke rumah Arutala, karena sesuatu telah terjadi!” teriak Mahanta seraya mengulurkan tangannya.


“Ternyata benar. Ada yang direncanakan oleh Chameleon dan juga ini berkaitan dengan Ade atau justru Aria. Ha, kacau.” Orion membatin dengan kesal.


“Cepat! Orion!” teriak Mahanta sekali lagi.


Grep!


Begitu Orion hampir menyamai kecepatan mobil yang standar, Orion meraih uluran tangan Mahanta lalu melompat masuk ke dalam mobil.


“Hah, hah ...kalian terlalu terburu-buru itu artinya Chameleon melakukan sesuatu selain di pasar malan ini?” tanya Orion dengan napas terengah-engah.


“Iya, aku barusan mendapat laporan dari salah satu anggota yang berjaga.”


Tidak hanya Gista dan Mahanta, bahkan Ketua Dharmawangsa, Ganendra, Radhika, Irawan dan Endaru juga berada dalam mobil besar tersebut. Mereka semua tampak gelisah, terlihat dari kerutan wajah mereka.


“Semoga tidak terjadi apa-apa.” Orion berharap seraya mengepalkan kedua tangannya dengan kuat. Sempat ia mengertakkan gigi gerahamnya ketika mengingat semua ucapan Chameleon saat berada di ruang hampa.