
“Kau bilang kami berdekatan dengan lokasi Chameleon sekarang. Jadi, aku akan bertanya padamu. Di mana anak perempuan itu sekarang?”
Terus bertarung pun percuma. Semula ia pikir Jinan hanya ingin membuat Orion dkk menjauh dari Chameleon namun akan tetapi ini sedikit aneh. Seharusnya Jinan hanya perlu menghentikan kereta ini, baginya pun tak sulit.
“Tidak menjawab ya?”
Karena situasi mendadak hening pun membuat Orion semakin curiga. Benarkah Jinan datang untuk menjauhkan Orion dkk dari Chameleon.
“Hei!” panggil Orion seraya melayangkan sebilah pedang pada lengan kirinya. Membentuk sabit datar tapi dibuat tidak untuk mengenainya, lantas hanya menyadarkannya saja.
“Kau pikir aku melamun?” sahut Jinan, seraya mengendalikan benangnya. Mengikat kedua pergelangan kaki dan tangannya dengan kuat.
Crak!
Gerakan Orion terhenti kala semua benang itu sepenuhnya mengikat pergerakannya. Namun, benang di bagian pergelangan tangan kanannya hangus seketika lantaran Api Abadi berkobar tanpa henti.
“Orion! Apa yang kau lakukan? Habisi dia!” teriak Endaru yang berada dekat dengan pintu di bagian belakangnya.
“Aku tidak mau mengulur-ngulur waktu, Jinan. Di mana anak perempuan itu? Pasti di kota yang sedang kami tuju ya? Oh, tunggu. Apa kau tahu sekarang kami akan pergi ke mana?” ujar Orion terus bertanya, tak menggubris perkataan Endaru sama sekali.
“Kau bisa bicara tenang seperti ini, ya. Padahal orang-orang akan ketakutan karena benang ini adalah benang baja yang dapat memotong setiap anggota tubuh kalian,” ucap Jinan melenceng dari pembicaraan Orion barusan.
Perlahan-lahan Orion bergerak tanpa membakar sisa benang yang masih menjerat dirinya. Seraya ia kembali berpikir bahwa sepertinya pembicaraan di antara mereka sama sekali tidak nyambung. Atau lebih jelasnya, Jinan enggan memberitahukan sesuatu pada Orion.
Tas!
Benang pada pergelangan kaki kanan terputus, seketika Orion melayangkan tendangan lutut sekali lagi pada dagu Jinan. Tubuh Jinan yang sempoyongan itu kini mendapat pukulan dari kepalan tangan kirinya. Begitu seterusnya hingga Jinan ambruk.
“Bagus!” pekik Endaru bersemangat.
Slash!
Sisa benang yang masih menjerat kini ia potong menggunakan sebilah pedang dengan mata Api Abadi. Setelahnya, ia mengangkat tubuh Jinan dan sekali ia bertanya.
“Di mana anak itu?”
“Apa kau waras, bertanya pada musuhmu sendiri? Puh!” ujarnya ketus seraya meludah darah ke wajah Orion.
“Justru karena kalian lah yang memulai ini semua, makanya akan lebih baik kalau aku bertanya pada kalian sendiri, benar?” balasnya secara logika.
“Sebab, apa pun akan aku lakukan. Termasuk penyiksaan agar informasi itu aku dapatkan,” imbuh Orion seraya menyeka bekas ludah Jinan.
Jinan hanya menatap dengan senyum masam. Ia tampaknya sama sekali tak berniat untuk menyerah. Ia pun kembali menggerakkan jari jemarinya, membuat sehelai benang yang lebih pendek menjulur ke belakang.
Tidak lagi mengincar Orion, Jinan justru mengincar Endaru. Seluruh benang yang bahkan tidak bisa disebut gumpalan benang itu terpusat pada bagian dada kiri dan leher Endaru.
“Tunggu, apa yang kau lakukan?” Seketika Orion merasa panik.
“Heh, bocah yang kau bawa. Pahlawan Kota itu meski kuat tapi bodoh,” ejek Jinan menertawakannya.
Krak! Krak!
Gerbong kereta yang sedang dinaiki oleh mereka saja itu pun berguncang aneh. Semburat kemerahan seolah melapisi tubuh Endaru muncul. Perlahan, dari sudut ke sudut termasuk di bagian pintu bentuknya sedikit berubah dengan celah sedikit terbuka.
“Hoi Endaru! Aku bilang jangan gunakan kekuatanmu!” teriak Orion kembali memperingatinya.
“Ah, sorry.”
“Jangan hanya minta maaf!”
Setelah berteriak Orion kembali berkata, “Hentikan saja penggunaan kekuatanmu itu!” Sembari menjatuhkan tubuh Jinan, lantas membalikkan badan dan menghampiri Endaru.
“Kau pun sama bodohnya, pria api!” teriak Jinan dari belakang.
Gulungan benang baru diambil dari saku celananya, yang kemudian menggelindingkannya ke bawah kaki Orion. Begitu ujung benang menjadi kaku dan hendak mengikat leher kembali, lantas Orion yang menyadari pun langsung mengambil ujungnya tanpa ragu.
“Maaf saja. Aku ini memang sudah tua. Seharusnya sudah mati tapi takdir tidak berkehendak,” gumam Orion menarik helai benang itu seraya membuat api biasa menjalar tepat di atas benang.
Jinan membuang gulungan benangnya, lantas ia bangkit dan hendak meraih Orion lagi. Namun lagi-lagi Orion menangkap tangan Jinan, sesaat setelahnya Orion membanting tubuh Jinan ke lantai.
DUUUNG!
Gerbong pun berguncang-guncang. Ia pikir ini akan cepat berakhir, namun nyatanya Jinan adalah pria yang keras kepala sekali. Joran pancing berada di dekatnya bergerak sendiri. Benang itu terulur panjang hingga mengikat pada cepat pintu gerbong di luar.
“Sama sepertimu, apa pun aku lakukan demi Tuan Chameleon,” tutur Jinan. Posisi tubuhnya tidak stabil setelah bantingan keras itu dan pengendaliannya justru seakan-akan kian meningkat.
Drkkk!
Getaran kuat berasal dari pintu gerbong kereta mengarah ke luar. Kekuatan Endaru yang masih tersisa pun secara tak sadar menjalar dari sisi ke sisi melewati benang milik Jinan yang menghubungkan antara Endaru, Orion, dan pintu gerbong tersebut.
Krek! Dak!
Karena Endaru bisa dikatakan sangat telat untuk menghentikan kekuatannya, pintu gerbong pun langsung hancur berantakan, membuat gerbong ini berlubang. Seketika mereka diterpa oleh angin hebat terutama saat kereta masih dalam perjalanan dengan kecepatan yang sulit dikatakan.
“Aku bisa mati. Itulah kata-kata yang akan dikeluarkan olehmu,” ucap Jinan mendorong tubuh Orion dengan pelan.
Meski dorongannya tak seberapa, akan tetapi itu cukup berdampak terutama karena tekanan dari luar dan dalam gerbong itu sendiri. Sehingga membuat Orion nyaris terjatuh keluar, ia tetap bertahan dengan memegang ujung bagian dalam gerbong kereta.
“Kurang ajar!”
Tubuhnya terus mendapatkan dorongan angin dari luar dan dalam. Semakin lama pegangannya pada dinding dalam pun longgar.
Srrrkk!
Jinan kembali mengambil joran pancing itu. Usai memasang kail, Jinan dengan sengaja mengaitkan itu pada tubuh Orion langsung pada kulit luarnya.
“Aku masih bertahan sampai saat ini. Tapi bagaimana denganmu?”
“Hei, Jinan! Seseorang bisa mati kalau kau melakukan hal ini!” pekik Orion.
“Ya, mati. Kau lah yang akan mati. Aku tidak begitu peduli sih. Lagipula bukankah kau pernah bilang bahwa kau ingin mati?” ujar Jinan seraya mengangkat kedua bahu.
“Ah, benar juga.” Seketika Orion sadar kalau itu adalah tujuan pertamanya.
“Hei jangan katakan mati semudah itu! Aku yang akan melindungimu!” sahut Endaru sembari berjalan mendekat pada Orion sembari berpegangan ke sekitar.
“Jangan mendekat!” Orion justru berteriak untuk membuat Endaru tidak akan lagi mendekat. Lantaran getarannya semakin hebat.
Situasi ini sekilas nampak seperti saat Orion yang dilempar dari dalam mobil. Tapi masalahnya, ini adalah kereta. Tidak bisa Orion jatuh saat ini, karena pasti ia akan mati dengan instan.
Endaru tidak bisa memikirkan apa-apa. Namun ia bisa mengerti mengapa Orion terus menatap tajam ke Jinan. Bukan hanya karena Jinan adalah musuh,
Drap! Drap!
“Baiklah!” teriak Endaru sembari berlari cepat ke arah Jinan di kala angin juga menerpa dirinya. Setelah mendekat, Endaru langsung melayangkan pukulan ke wajah Jinan.
Di saat yang sama, Orion pun kembali masuk ke dalam. Dengan tanpa gangguan lagi.