
Orion pergi, ia kembali ke rumah asalnya. Tempat di mana ia telah berjuang keras namun berakhir mengenaskan. Di cap sampah, pria yang pantas mati. Begitulah orang-orang sekitarnya menyebut Orion.
Tap, tap!
Orion melangkahkan kaki menuju rumah itu. Sesaat sebelum ia masuk, ia menghampiri seseorang yang sedang bermain dengan ponselnya.
“Nanti, saya meminta tolong untuk segera panggil damkar setelah ini. Tidak masalah?” tanya Orion seraya tersenyum pada wanita itu.
“Eh, memangnya ada kebakaran? Perasaan tidak tuh,” katanya seraya mengangkat bahu.
“Ada. Di rumah seorang pria yang bernama Orion Sadawira.”
“Oh, maksudmu pria tak berguna itu?”
Tanpa menjawabnya, Orion lantas pergi. Ia kemudian masuk ke dalam rumah dan menggasak-gasak sesuatu di beberapa tempat.
Rumah Orion sama sekali tak berubah. Dari yang kotor tetap kotor. Bahkan mungkin sekarang kotorannya semakin tambah. Banyak hama, tikus ataupun serangga lain yang datang mengambil sisa makanan.
Bau busuk tercium ketika Orion membuka kulkas. Ia kemudian membanting tutup pintu kulkasnya kemudian pergi menuju ke sebuah ruangan kecil yang sempit.
Drak!
Ia mendorong lemari kayu yang berat. Meraih sesuatu yang ada di belakangnya.
“Aku baru ingat. Terakhir kali aku menceraikannya, dia melempar anting-anting ini ke depan wajahku. Aku yang marah, justru kembali melemparnya hingga terselip ke belakang lemari.”
Kotak kecil berisikan sepasang anting mutiara. Berwarna putih dan nampak masih sangat bersinar. Terjaga dengan baik bahkan setelah bertahun-tahun telah terlewat.
Klap! Setelah membukanya ia kembali menutup kotak itu yang kemudian ia simpan di saku celananya.
Setelah urusan ia selesai di rumahnya sendiri. Orion segera angkat kaki namun langkahnya terhenti ketika ia menginjak sebuah foto berbingkai.
“Sejak kapan ini jatuh ke lantai?”
Ia mengangkat foto yang terbalik. Itu adalah foto Orion di masa ia bekerja keras, banting tulang demi keluarga. Foto yang diambil saat berusia sekitar 30 an tahun, tepat sebelum ia depresi dan mati.
“Masa lalu 'kan nggak selamanya indah. Kenapa juga aku harus memikirkannya?”
Perlahan foto itu terbakar. Menyisakan abu yang berceceran di lantai. Orion sengaja membakarnya terlebih dahulu. Barulah ia membakar rumahnya.
Tap!
Banyak orang berdatangan setelah api muncul dari dalam rumah tersebut. Sosok anak lelaki keluar dari kobaran api dengan melangkah mundur dengan santai seolah itu hal biasa.
“Ternyata betulan terbakar?”
Setelah keluar dari rumah, api itu kian membesar. Menghanguskan semua barang-barang yang ada di dalam dengan cepat. Namun, rumah yang berada di sebelahnya tidak terkena percikan api sedikit pun.
“Dengan begini. Aku tidak punya apa-apa untuk menunjukkan identitasku. Dan orang biasa akan berkata, "Pria sampah tak berguna, culun dan bodoh sudah mati! Selamanya!", haha.”
Orion tertawa hambar dengan tatapan sendu merundukkan kepala ke bawah. Setelah pergi dari rumah Arutala bahkan membakar habis rumahnya yang dulu ia tempati, kini Orion akan pergi ke suatu tempat di mana ia dapat bertemu dengan Chameleon lagi.
“Hm, satu-satunya cara untuk berkomunikasi dengannya. Adalah tempat itu!”
Rumah Informan, itulah tempat yang ia datangi kali ini. Seperti biasa di sana sangat ramai. Tak banyak orang memperhatikan Orion terutama Orion saat ini tanpa menutupi wajahnya sama sekali.
“Kau pasti sedang mencari sesuatu, kemari,” ucap si informan sembari mengayunkan jari telunjuk ke depan.
“Tentu saja. Beliau memang seperti itu,” sahutnya sembari membuka pintu belakang dan mempersilahkan Orion masuk ke dalam.
Suasana yang biasa. Karena terlalu biasa, Orion jadi mencurigai, mewaspadai akan sekitar. Pria sebagai informan pun hanya duduk berhadapan dengannya sembari tercengar-cengir seperti itu.
Seolah tahu maksud kedatangan Orion saat ini. Ia diam menatap dan menunggu Orion untuk duduk. Karena sejak tadi, Orion hanya berdiri seraya memperhatikan sekitar.
“Sebelum ke inti. Aku ingin tanya satu hal, kenapa kau menjual informasiku?” Orion bertanya sembari duduk.
“Tentu saja untuk uang. Memangnya kenapa?”
“Kalau begitu, aku memintamu untuk jangan menjual informasiku begitu saja. Sebagai gantinya aku akan memberi informasi siapa pun yang aku tahu kecuali aku ataupun keluargaku,” tutur Orion memberi isyarat.
Orion berniat bernegosiasi dengannya karena kemungkinan besar Grup Arutala, atau bahkan ketua lainnya akan bergerak untuk mencari keberadaanya. Dan Orion tak mau mereka mengetahui lokasinya.
“Wah, ada apa ini? Terakhir kali kau datang kemari 'kan bersama dengan bodyguard. Eh, bukan. Sayangnya itu Tuan Chameleon, ya? Hihi,” celetuk si informan dengan terkikik geli.
“Tolong jangan dibuat rumit situasi saat ini. Karena aku sebentar lagi juga ingin pergi ke suatu tempat setelah ke tempat busukmu ini,” ucap Orion dengan dingin.
“Jangan galak begitu, bocah. Nah, karena kau meminta permintaan yang sedikit mustahil. Bagaimana kalau setumpuk uang? Mungkin sekitar 5 tumpuk menggunung?”
“Hah? Semahal itu?” tanya Orion tidak percaya.
5 tumpuk menggunung, kisaran banyak lembar uang terhitung bisa lebih dari 70 ke atas. Itu harga yang sangat fantastis.
“Tapi untukmu. Kau bisa membayarnya dengan setetes darah,” imbuh si informan seraya menyodorkan asbak bersih.
“Baguslah. Jadi, aku ingin kau mengatakannya sekarang juga. Pesan apa yang disampaikan Chameleon?”
Sembari bertanya ia mengulurkan telapak tangan berdarah. Yang kemudian darah itu menetes ke asbak. Bayaran atas menutupi segala informasi tentang Orion, sudah dipenuhi.
“Pesannya, "Temuilah diriku di Jalan Hamparan, di sudut jalan ada bangunan besar menyerupai pabrik. Pergilah sendiri," begitu katanya.”
Setelah mendengar pesannya, Orion hanya menatap sinis pada setetes darah yang mengalir hingga menutupi dasar asbak. Kemudian pergi tanpa berpamitan pada pria tersebut.
“Anak yang aneh. Dia meminta untuk menutupi segala tentangnya. Tapi bayaran ini bahkan melebihi dirinya sendiri. Orion Sadawira, darahmu akan kulelang dengan baik.”
***
Cuaca semakin panas. Langkahnya semakin berat. Sembari bergumamkan sesuatu, Orion melihat lengannya yang terpoles suatu ukiran.
Dua sayap membentang berwarna jingga yang memutih. Warna pucat dan terlihat seperti potongan keju. Orion lantas menghela napas panjang. Mengingat dirinya belum sepenuhnya dapat menguasai Api Abadi, ia kembali menghela napas.
“Huh, ini terlihat seperti tato juga. Aku bisa dikira anak preman jika ada orang yang melihat. Hei, kira-kira apakah ada cara lain untuk mengembangkan kekuatan ini? Selain menunggunya, Karura?”
Sosok bernama Karura muncul dari belakang. Ia tak kasat mata jadi hanya Orion saja yang melihat wujudnya.
“Kalau begitu, cobalah bunuh diri. Karena biasanya kekuatan hebat akan muncul saat kau sekarat.”
“Kau menyuruhku untuk mati? Lalu kekuatan ini jadi sia-sia dasar,” gerutu Orion.
“Memangnya apa yang ingin kau lakukan dengan kekuatan itu selain untuk membuat tubuhmu kembali semula?”
Orion berdeham lantas menjawab, “Mungkin untuk menghajar orang yang sok berkuasa.”