
Kedatangan Orion dan Runo ke pusat perbelanjaan, menghadirkan perasaan yang tidak begitu nyaman. Kadangkala Orion menoleh ke sisi kanan dan kiri tuk memastikan keberadaan Chameleon.
Ia kemudian pergi ke sisi kiri di mana tempat makanan dan minuman dijual, Orion bergegas membelinya lalu kembali. Namun, begitu ia melintasi toko emas, langkahnya tertahan.
“JANGAN BERGERAK!” teriak salah seorang pria yang berada di toko emas.
Para pelanggan yang berada di lantai dasar pun berhenti berjalan lantas terkejut serta takut ketika senjata api itu ditodongkan ke arah mereka.
Tampak beberapa orang dengan topeng hitam kain menutupi wajah tersebar ke seluruh lantai dasar ini.
“Aduh, kenapa aku bisa terjebak di sini. Padahal sedikit lagi aku sampai ke tempat Runo yang berdekatan dengan pintu luar,” gumam Orion.
“Hei kau! Kemari dan duduklah sambil angkat kedua tanganmu ke atas!” teriak pria itu memberi perintah pada Orion.
Orion yang tidak bersenjata saat ini pun hanya menghela napas seraya mengikuti perintah dari pria tersebut.
“Nah, nah! Bagus! Kalian semua juga! Hei!”
Pria yang mungkin saja pemimpinnya itu memberi perintah ke pelanggan lainnya yang berdekatan dengan toko emas untuk duduk berbanjar dekat Orion saat ini dalam keadaan pasrah.
Mereka diliputi kecemasan, ketakutan hingga membuat tubuh mereka bergetar. Ada pula seorang ibu dengan anak kecil yang menangis sepanjang waktu.
“Jangan bergerak, ya! Atau aku akan menembak kalian!”
Kemudian beberapa dari mereka yang tersebar juga melakukan hal sama. Lalu, dua orang berjalan menghampiri ketua mereka dan menggasak semua emas yang ada di sana. Tanpa tersisa sedikitpun, bersih.
“Jangan sisakan satu pun! Cepat! Dan awasi juga orang yang akan menghubungi polisi!”
Para karyawan toko emas maupun di sebelahnya pun ikut kena imbasnya. Namun tujuan mereka hanyalah emas itu saja. Setelah mereka menggasak sebagian, satu rekannya kembali datang menghampiri si ketua.
Berbisik lirih, “Bos, kita ambil saja ponsel semua orang. Lumayan buat tambahan.”
“Dia bicara apa? Jadi penasaran. Tapi apa pun itu pasti hal buruk.” Orion membatin. Lalu ia melirik ke tempat Runo berada saat ini, meski tidak dapat melihat Runo secara langsung karena banyak orang tengah dikumpulkan, Orion berharap Runo baik-baik saja.
Terakhir yang semua orang lihat ketika dua orang itu sedang asik berbisik, si ketua tertawa bahak-bahak.
“Semuanya! Ambil juga ponsel milik semua orang yang ada di sini!” perintahnya hingga suaranya menggaung ke seluruh lantai dasar.
Mereka pun merampas ponsel semua orang. Padahal tinggal sebentar lagi, salah seorang hendak menghubungi nomor kantor polisi tetapi sudah dirampas lebih dulu.
“Di mana ponselmu?” tanya rekan perampok pada Orion seraya menodongkan senjata.
“Tidak ada,” jawab Orion ketus.
Karena memang tidak ada, maka dari itu Orion tidak bisa memberikannya karena sebelum ini ponsel itu ada pada Runo. Kalaupun ada, Orion tidak akan memberikannya.
“Jangan bohong! Cepat kemarikan!”
“Aku sudah bilang. Ponselku tidak ada,” kata Orion seraya bangkit, berhadapan dengan perampok itu.
Duk!
Perampok itu kemudian menendang belakang lutut Orion. Menyuruhnya duduk kembali sambil berkata, “Awas kalau kau bertindak mencurigakan.”
“Kau lah yang mencurigakan,” kata Orion lirih seraya memalingkan wajah.
Dan tiba-tiba saja pandangan Orion berubah. Dari dalam kedua matanya, ia sepenuhnya melihat sosok pria berambut merah. Pria itu tersenyum lebar seolah mengejek Orion dari sana. Padahal pria itu juga ditahan oleh sekelompok perampok.
“Chameleon,” batin Orion sangat terkejut.
“Aw! Apa yang kalian lakukan?!” teriak salah seorang pria yang digiring masuk ke barisan berbanjar duduk di depan toko emas itu.
“Jangan berisik, kau tidak bisa apa-apa tanpa senjata. Memangnya kau ingin mati, hah? Kalau mau mati, bilang saja. Maka akan aku kabulkan,” tukas perampok itu seraya menodongkan senjata dengan tertawa.
“Kurang ajar kau!”
Buak!
Pria itu kena pukul dengan pangkal senjata darinya. Wajahnya sampai lebam keunguan juga sedikit berdarah, dan ia kemudian terdiam lantas tak dapat melawan.
“Runo.” Orion saat itu melirik ke belakang, dengan jelas melihat Runo dilukai.
“Ponselku ada padanya. Tapi terus mengulur waktu di tempat seperti ini. Mau sampai kapan aku harus menunggu polisi datang? Atau mereka takkan datang?” Orion berpikir dalam hati, bahwa ini akan terus berlanjut sampai akhir.
Tak kuasa menunggu, Orion kembali berdiri dari sana. Sontak membuat semua orang terkejut begitu pun dengan para perampok yang segera mendatangi Orion.
“Kenapa kau berdiri? Cepat duduk!” teriak salah seorang rekan mereka seraya melayangkan pangkal senjata itu ke arah Orion.
Tak!
“Saya ingin mengatakan sesuatu,” ujar Orion seraya menangkap lengan orang itu agar tidak dapat menyerang Orion dengan senjatanya.
Kemudian telunjuk Orion mengarah ke salah satu orang yang tengah bertekuk lutut saat ini.
“Pria berambut merah di sana. Sepertinya memiliki senjata yang asli,” ucap Orion.
Keadaan menjadi hening tiba-tiba setelah Orion mengatakan hal tersebut. Tak lain menyebutkan bahwa ada seseorang yang membawa senjata sama seperti mereka. Tentu para perampok yang sudah berhasil menggasak semua emas serta semua ponsel orang-orang merasa bahwa itu ancaman.
Para perampok itu menatap tajam ke arah pria yang ditunjuk oleh Orion barusan. Yang kemudian dihampiri oleh ketua mereka.
“Hei, di mana senjata itu?” tanyanya.
Lantas, pria yang hendak menyerang Orion itu kembali menatap Orion dengan sinis seraya menurunkan senjatanya perlahan.
“Aku tidak tahu hal itu. Bagaimana kau tahu?”
“Aku tahu saja.”
“Dan kenapa kau mengatakannya pada kami?”
Orion hanya mengangkat kedua pundak, tak mendapat jawaban pasti. Perampok itu kembali menatap tajam padanya, sebab ia mencurigai Orion dibanding pria yang barusan ditunjuk olehnya.
“Pak Orion, kenapa mengatakan itu di depan umum? Bukankah berbahaya kalau Chameleon melakukan sesuatu pada semua orang di sini?” batin Runo merasa resah.
Sebagian dari mereka mulai mempertanyakan tindakan Orion yang agaknya aneh. Termasuk semua orang yang disandera saat ini juga.
“Dia sudah tidak waras. Apa yang sebenarnya dia lakukan?”
“Sinting, dia benar-benar sudah bosan hidup karena melawan oran bersentaja.”
“Hei diam!” teriak si ketua. Yang kemudian beralih pada CChamelein
“Hei! Di mana senjatamu?!” Ketua mereka kembali bertanya dengan meninggikan suara. Sontak beberapa anak buahnya yang menganggap ini lebih berbahaya pun menghampiri ketua mereka.
“Cepat kemarikan! Atau kami akan tembak!”
Semenjak bertukar tatap dengan Orion, Chameleon hanya melirik serta tersenyum padanya. Tak mengindahkan perintah para perampok, kata-kata dari perampok itu pun bagai angin lalu. Masuk ke telinga kanan keluar telinga kiri.
“Aku nantikan tindakanmu Chameleon. Apakah kau akan menyerah ataukah kau akan melawan?” Orion membatin seraya membalas lirikan Chameleon kepadanya.
Hal yang terjadi, sebentar lagi akan dipertunjukkan ke khalayak ramai. Tatkala angin panas menyeruak ke seluruh lantai dasar, membuat semua orang merasakan ketegangan yang sangat luar biasa.
Segala bentuk tindakan Chameleon akan menentukan bagaimana cara Orion berhasil menangkap ekornya.
“Mana senjatamu itu? Cepat tunjukkan!”
“Eh? Aku tidak tahu soal itu,” jawab pria berambut merah seraya mengangkat kedua bahu.
Buak!
“Jangan berbohong padaku!”
“Kenapa aku membawa senjata itu di sini? Lagipula aku hanya belanja saja di sini,” jelasnya dengan santai. Bahkan lirikannya yang tidak biasa itu sedikit mengintimidasi ketua perampok tersebut.
Aura Chameleon memang tidak main-main. Sebagian orang yang melihatnya pun merasa bahwa Chameleon saat ini tengah berjuang melawan perampok. Berbeda dengan Orion yang berpikir bahwa Chameleon akan melakukan sesuatu terhadap mereka. Apa pun itu.
“Sudah kubilang aku tidak membawa senjata apa-apa. Kenapa kalian lebih memilih percaya dengan pria itu daripada diriku?” sahut Chameleon seraya memalingkan wajah. Ia kembali menatap Orion dengan sinis serta senyum tersungging jelas di wajahnya.
Semua orang melihat ekspresi Chameleon pada saat itu, antara setengah percaya atau tidak karena merasa Chameleon itu aneh. Benar, pada dasarnya Chameleon memang sangat aneh.
“Aku sama sekali tidak menyembunyikan apa pun, sir. Tahukah kalau pria berambut coklat yang barusan menudingku itu sebenarnya berbohong? Kalaupun aku memiliki senjata, sudah seharusnya aku menyerahkan kalian agar nyawaku aman.”
“Dia cukup pintar berdalih. Aku tidak tahu lagi harus melakukan apa di saat seperti ini,” batin Orion.
Situasi cukup memanas kala itu Chameleon dan ketua perampok saling beradu mulut bahkan ketua perampok juga menyerang secara sepihak. Tetapi, Chameleon tetap bersikap santai. Tidak ada tanda-tanda Chameleon akan melakukan sesuatu.
Ataukah Chameleon sengaja agar sasaran para perampok berpindah pada Orion?
Kini Orion terdiam membisu sembari menggigit bibir bawahnya. Tak lagi menatap, ia hanya menundukkan kepala dalam-dalam.
Lalu Chameleon tersenyum puas sambil berkata, “Baiklah. Aku akan mengikuti alurmu. Karena terus mengulur waktu pun akan menjadi hal sia-sia bagiku.”
“Kau bicara apa?”
Tak!
Ketika ketua perampok bertanya, Chameleon bergerak dengan membuat senjata si ketua perampok terlepas dari genggamannya. Ia kemudian melangkahkan kaki ke depan seraya menyerang bagian ulu hatinya.
“Asap,” gumam Chameleon.
Sssshh!
Asap putih muncul mengelilingi semua orang. Mereka semua berlarian di saat ada kesempatan sebesar ini tuk melarikan diri. Terdengar suara jeritan dari sana-sini hingga menggaung keras membuat telinga berdenging kuat.
“Dia merespon jebakanku dengan sengaja. Itu artinya dia tahu kalau terus mengulur waktu juga tidak ada gunanya,” gumam Orion berlarian dalam asap putih lantas menarik lengan Runo tuk segera pergi.
Sementara itu semua rekan perampok datang menolong ketua mereka. Salah satu dari mereka menunjuk ke arah toko emas dan kemudian rekan yang berada di toko emas mengacungkan jempol.
“Bawa tasnya. Kita akan kabur.”
Rekan mereka yang berbadan besar segera membopong tubuh ketua mereka yang jatuh pingsan. Setelah itu, mereka berlari menuju asap putih yang sudah menyebar luas ke seluruh sudut lantai dasar sembari membawa 3-4 tas besar.
“Cepat, gunakan kesempatan ini.”
“Aduh, kak! Nggak bisa!”
Jduk! Duk!
“Arghh!”
“Kyaaa!”
Jeritan mereka terdengar sangat histeris. Lantaran mereka terhenti di tengah jalan termasuk para perampok serta Orion dan Chameleon.
Drap! Drap!
Mereka yang berada paling belakang itu pun terhenti setelah bersusah payah berlari menghindari para perampok.
Entah mengapa menjadi seperti ini. Terjebak dalam kerumunan yang berdesakan seperti beberapa saat yang lalu.
“Siapa?!” Terkejut saat seseorang menepuk pundaknya, Orion menoleh ke belakang dan ternyata Chameleon.
Ia mengacungkan jari telunjuk ke depan bibir sambil berkata, “Hari ini sudah main-mainnya. Kita akan bertemu lagi saat berada di panggung utama. Orion.”
Terlepas dari situasi yang ada. Asap putih kian menebal seiring waktu. Sesaat setelah Chameleon mendatanginya sendiri dan mengatakan beberapa patah kata, Orion yang hendak meraihnya kembali pun tidak bisa dilakukan karena Chameleon kabur dan menyatu dengan asap putih ini sendiri.
“Dia memang sulit ditangkap.”
Setelah beberapa saat asap putih menghilang dan kerumunan akhirnya dibubarkan. Mereka semua berhamburan keluar dari sana dengan cepat.
“Tunggu, Pak Orion!” Runo menahan langkah Orion yang hendak pergi mengejar Chameleon lagi.
“Runo, aku pikir kau hilang lagi.”
“ANGKAT TANGAN KALIAN! KALIAN SUDAH TERKEPUNG!”
Suara besar terdengar dari arah luar. Menandakan para petugas kepolisian telah datang dan mengepung para perampok di tengah kekacauan. Karena kekacauan ini pun, para petugas kepolisan juga sulit mengendalikan keadaan, sebab para perampok nyaris kabur.
“Ada apa Runo? Sepertinya kau punya beberapa hal untuk dibicarakan. Katakanlah,” ujar Orion.
Runo menganggukkan kepala. Ia kemudian menjelaskan, “Tuan Mahanta menghubungi ponsel Pak Orion. Tuan Mahanta bilang, sudah menemukan Jinan. Sesuai ciri-ciri yang dikatakannya. Lalu Tuan Mahanta juga bilang untuk segera menemuinya di dekat Bakery.”
“Begitu rupanya. Baiklah, ayo cepat pergi.”
***
Sementara di dekat Bakery. Mahanta dan Ramon tengah menginterogasi seseorang yang diperkirakan adalah Jinan.
Salah seorang pria selain mereka adalah Saint bernama Ken.
“Terima kasih. Berkat Anda, kami berhasil menangkapnya,” ucap Mahanta menyunggingkan senyum.
“Ya. Tidak masalah. Lagi pula saya lah yang berhutang budi pada pria bernama Orion itu. Jadi anggap saja ini impas.” Ken berkata seraya menundukkan kepala sedikit dan memejamkan kedua mata.
Rupanya Saint Ken lah yang membantu Mahanta dan Ramon tuk menangkap Jinan.
“Kalau begitu, saya berpamitan pergi.”
Sesosok pria yang diyakini adalah Jinan terus saja menundukkan kepala dalam-dalam dengan tubuh terikat. Sudah begitu lama pria ini terus duduk seolah tertidur. Tapi ternyata ada hal aneh.
“Ramon, apakah kau merasa dia adalah ...”
Srek!
Ramon bergegas membuka tas panjang di samping tubuh pria itu. Bukannya menemukan alat pancing melainkan tempat kok bulu tangkis.
“Pria ini,” gumam Mahanta seraya mendongakkan wajah pria itu.
Mahanta melirik ke arah perginya Ken saat itu. Tak mendapati Ken lagi, ia pun berdecak kesal lantas mendorong tubuh pria itu.
“Tuan Mahanta, jangan bilang dia palsu?”
Betapa rumitnya hari ini. Tertipu di siang bolong. Meskipun Mahanta sama sekali tidak pernah melihat Jinan, namun ia sudah tahu saat melihat isi dari tempat panjang serta tatapan dari pria itu.
“Ada apa? Mahanta?” tanya Orion dari kejauhan, ia pun merasakan ada sesuatu tak beres di sana.
Diam-diam memperhatikan dari kejauhan, Saint Ken tersenyum puas.
“Tidak semudah itu kau mendapatkan apa yang kau mau, Pria bermata mati.” Ken bergumam lantas pergi meninggalkan tempat persembunyian.
Tampaknya hal ini sudah direncanakan oleh Saint Ken. Mengingat hal yang sebelumnya terjadi, maka tindakan Saint Ken yang seolah memihak Chameleon itu masuk akal.
Akan tetapi, bukan berarti jalan penghubung antara Orion dengan Chameleon terputus. Hanya Saint Ken dan orang-orang lainnya yang tidak berkaitan lah yang tidak mengerti.