
☠BAB 58 Perintah Mengintai Adi Caraka
Mendengar Endaru banyak sekali bertanya. Akhirnya Orion yang gila akan informasi demi kepentingan diri sendiri pun menawarkan pertukaran jawaban dengannya.
Orion akan menjawab pertanyaan Endaru, letak Api Abadi itu lalu Endaru akan menjawab siapa orang yang sebelumnya membuat ia bangkit untuk yang kedua kalinya.
“Ah, sudahlah tidak jadi.” Endaru merengut. Lantas kesal.
“Oh, kau tidak mau tahu? Padahal sudah berani mengintip ingatanku, tapi masih tidak mau menjawabnya? Memangnya kau pikir aku bertanya untuk apa? Tentu saja untuk diriku sendiri.”
Orion terus mengoceh terus-menerus, membuat Endaru semakin kesal.
“Lagipula yang memberikan darah juga siapa?” sahut Endaru.
“Memang aku tapi itu terjadi secara tidak sengaja dan awalnya itu tidak akan terjadi kalau kau tidak mengajakku bertarung,” balas Orion membuat Endaru bungkam.
“Ba-baiklah,” kata Endaru sedikit terbata-bata.
“30 tahun yang lalu aku bangkit di usia 5 tahun. Setelah 10 tahun berlalu, aku mati dan aku tau bisa menjelaskannya karena apa dan setelah 8 tahun kalau tidak salah, dia datang,” ucap Endaru bercerita.
“Hei, katakan intinya saja! Siapa dia?” tanya Orion tak sabaran.
“Dia seorang wanita, bernama Lily. Selebihnya aku tidak tahu tentang dia. Pokoknya dia hanya memberikan darahnya lalu pergi begitu saja,” sambung Endaru.
Nama "Lily" itu membuatnya terpikir dengan Lily yang ia kenal. Namun Orion pikir hanya namanya saja yang sama, karena tidak mungkin Lily adalah Pejuang NED terlebih Gista sudah menyelidikinya bahwa Lily yang dikenal Orion, adalah seorang gadis cacat pertumbuhan.
“Ciri-cirinya, bagaimana?” tanya Orion.
“Rambut panjang dengan rantai di lehernya. Kau pasti tahu maksudnya,” ujar Endaru.
“Dia pasti orang yang diculik. Atau dari anak-anak tumbuh sampai dewasa dijadikan budak untuk Chameleon,” pikir Orion.
“Jika benar begitu. Maka Chameleon sudah melakukannya sejak dulu, benar?”
Orion kemudian menganggukkan kepala setelah Endaru berpendapat. Mengenai Chameleon, ialah dalang yang selama ini telah menculik anak-anak untuk dijadikan "Pasokan Darah" jikalau mereka memiliki darah langka itu.
“Orion, aku baru ingat, kenapa kau tahu soal Chameleon?” tanya Endaru tiba-tiba.
“Orang yang tadi bertarung dengan kita lah yang membocorkan semuanya. Dia bilang Caraka adalah rekan Chameleon yang menculik anak-anak juga tujuannya mencari Api Abadi,” tutur Orion.
“Apa? Bukankah Malaikat Penyembuh itu penyembah Caraka, ya?” pikir Endaru.
“Dia ...ya, aku tidak tahu jelasnya, sih.”
Draakkk!
Terdengar gemuruh berasal dari atas, membuat ruangan bawah tanah bergetar dan sedikit berguncang. Orion dan Endaru sontak mendongak ke atas dan memastikan sesuatu.
“Seseorang sedang bertarung tidak jauh dari sini,” kata Endaru berwaspada.
Dan itu adalah karena Raka yang berusaha mati-matian menghindari setiap serangan Caraka. Sejak mereka bertemu dengan cara yang tidak biasa, Raka yang berniat menghindar justru menjadi sasaran empuk ketika ia terjatuh dari dinding sebelumnya.
Dari pagi-pagi buta bahkan sampai sekarang mereka tidak ada hentinya bertarung. Meski Raka sangat ingin menyerangnya langsung namun akan tetapi itu sangat beresiko terutama karena tempat saat ini adalah rumah sakit.
Banyak pasien-pasien yang akan melihatnya jikalau terus berlanjut.
“Cih! Melawan orang-orangnya saja aku kewalahan dan sekarang justru bertemu dan bertarung dengan ketuanya langsung.”
Mendecakkan lidah seraya mengumpat di dinding bagian belakang. Ia berwaspada akan sekitar, berjaga-jaga kalau Caraka kembali datang menemukannya.
Ia terluka di bagian kepala bukan karena serangan darinya melainkan terbentur saat ia berlari.
Prang!! Kaca jendela yang berada di belakangnya pecah menjadi berkeping-keping. Raka terkejut, dan kemudian menoleh ke belakang mendapati Caraka yang berdiri di dalam sana.
“Jangan banyak bicara, dasar hama!” cerca Caraka yang kemudian ia keluar melewati jendela.
Caraka mengeluarkan api yang begitu besar dari pergelangan tangan hingga ke lengan, Raka mengambil ancang-ancang tuk bersiap terhadap serangannya.
Wrrrrr!
Caraka mengayunkan lengan berapinya ke depan, Raka pun melemparkan lendir lengket ke kedua kaki Caraka. Langkah Caraka terhenti, ia terjebak dalam lendir.
Namun, tidak menunggu lama, Caraka menggunakan apinya untuk menghilangkan lendir tersebut.
“Cuman ini yang kau punya?”
“Kenapa jadi urusanmu?”
Drap! Drap!
Raka berlari sekali lagi, Caraka mengejarnya seraya melemparkan bola api dari jarak jauh. Taman belakang yang sempurna dengan rerumputan hijau yang segar itu pun hangus dibuatnya.
“Dia jadi mengincarku terus-menerus, lalu bagaimana aku akan kabur?!” pekik Raka seraya menghindari bola api tersebut.
Semula bola api yang dilemparkan hanyalah sebesar kepalan tangan Caraka, kemudian berubah dengan membuatnya terbagi menjadi beberapa bagian memanjang bagai tali.
“Kau takkan bisa kabur dengan ini!” teriak Caraka, mempercepat langkahnya sedikit demi sedikit.
“Apa pun bisa kulenyapkan!” balas Raka seraya mengacungkan jari tengahnya ke belakang.
Raka meledeknya, dan berkata serangan Caraka bukanlah apa-apa baginya. Lantas, hal itu benar setidaknya untuk serangan Caraka yang sedikit berbeda.
Bagai tali yang menjulur panjang, api milik Caraka dengan mudahnya lenyap menyisakan asap ketika Raka kembali mengeluarkan lendirnya yang tidak seberapa.
Tetapi ...
Crak! Crak! Crak!
Entah mengapa, atau mungkin penglihatan Raka yang salah. Semua api yang sebelumnya mengasap tiba-tiba memunculkan api yang sangat tajam, menghujam ke arahnya begitu ganas.
Rasanya seperti terkena tombak. Tak hanya itu, semua api yang telah menghujam ke tanah sekitar Raka, kembali berubah menjadi dinding api.
“Sudah kubilang apa,” ucap Caraka meringis.
Dinding api yang sampai berputar ke sekelilingnya, namun tidak di belakangnya yang sudah dihalangi oleh Caraka sendiri.
“Nah, sekarang kau bisa melakukan apa?”
“Tu-tunggu sebentar! Memangnya aku ada salah apa? Aku hanya menjemput Orion saja, tidak ada rencana lain,” ujar Raka tanpa mengalihkan pandangan dari dinding api.
“Kalau ingin menjemput, ya tinggal lewat pintu depan. Kenapa harus jadi cicak untuk menjemputnya?” sahut Caraka.
“Karena aku bersikap waspada. Memangnya salah? Sudah begitu, Nona Gista mencurigai Anda sebagai mata-mata Chameleon.”
Raka kemudian berbalik badan dan menghadap Caraka dengan tatapan tegas. Kedua tangannya mengepal kuat dengan wajah yang berkeringat dingin.
“Dari awal pun aku sudah dicurigai, tapi dia tidak pernah bertindak. Lalu sekarang dia bertindak karena anak itu?”
“Jadi Anda mengakuinya,” lirih Raka.
“Kalau benar, kenapa?” Caraka menyeringai.
Raka menghela napas panjang. Selang beberapa waktu yang singkat, angin kencang keluar dari tubuhnya, tudung kepalanya terbuka dan ujung dari setiap helai rambut dan pakaian yang ia kenakan termasuk jubah ikut terangkat dengan ringannya.
“Nona Gista memberi saya perintah untuk membawa Orion. Sekaligus membawa bukti tentang pengkhianatan Anda pada Organisasi. Yaitu Anda sendiri.”