
“Ah, ingat. Tapi hanya sekilas, aku terlihat seperti melindungi seorang wanita yang jauh lebih muda dariku. Dia mungkin masih sekolah,” ungkapnya seraya menatap Orion dengan heran.
“Benarkah?!” Orion histeris, ia amat terkejut saat mendengar bahwa Ketua Meera melindungi seseorang. Ia mencengkram kedua pundak Ketua Meera dan menatapnya dengan serius.
“Tunggu! Minggirlah!” amuk Ketua Meera lantas mendorong tubuh Orion untuk menjauh.
“Dia ...dia pasti anak itu. Hei, di mana kalian bertemu? Katakan padaku!” pinta Orion. Pikirannya sudah kacau, ia benar-benar tak peduli dengan hal lain selain yang ingin ia ketahui sekarang.
“Aku tidak ingat. Aku ...hanya ingat itu saja,” ucap Ketua Meera yang memalingkan wajah.
Keadaan yang tidak memungkinkan telah terjadi. Sosok yang mungkin bersama dengan Ketua Meera sebelum Ketua Meera kehilangan ingatan adalah Ade, itulah yang ada dalam benak Orion saat ini.
Orion tentu saja sangat cemas mengenai apa yang akan terjadi pada Ade. Terutama saat mendengar bahwa Ketua Meera berkata telah melindunginya dari sesuatu.
“Hei, apakah anak itu berambut hitam panjang?” tanya Orion.
“Y-ya.” Ketua Meera agaknya takut saat bertatapan dengan Orion saat ini. Membawa pertanyaannya saja sampai gagap.
“Tunggu! Kenapa kau begitu ngotot! Jangan perlakukan wanita seperti itu!” teriak si pesulap itu seraya mendorong tubuh Orion keluar menuju pintu.
Banyak hal yang ingin ia tanyakan seperti,
Apa yang telah terjadi pada Ade dan Ketua Meera?
Di mana mereka bertemu?
Lalu, apa yang telah dilakukan Chameleon pada mereka berdua bahkan sampai membuat Ketua Meera hilang ingatan pada sebagian memorinya.
Duak!
“S*al!” Orion memukul dinding rumah itu dengan keras, ia memaki dengan kesal ketika semuanya menjadi buntu seperti sedia kala.
“Ekormu akan kutangkap, Chameleon!” teriak Orion sekali lagi.
Drrrtt!
Ponsel berdering memecah fokusnya dan membuat ia sedikit menahan rasa kesal dan marahnya. Ia pun segera mengangkat teleponnya yang dari Endaru.
“[Hoi, Orion! Kenapa kau sudah pergi duluan? Cepat katakan, kau sudah sampai di sana bukan? Kalau sudah tunggulah di dalam sana. Kami akan segera sampai.]”
Orion sama sekali tak menjawab. Ia masih terpikirkan sesuatu yang kemungkinan akan terjadi pada Ade. Semua ini berujung buntu, ingin ia katakan itu pada Endaru namun mulutnya seakan telah terjahit tebal. Orion bungkam dengan perasaan takut membelenggunya.
“Endaru, katakan pada semuanya bahwa Ketua Raiya Meera sepenuhnya absen dalam misi kali ini. Tapi tenang saja, dia hanya tidak mengingat keberadaanku,” ungkap Orion lantas menutup panggilannya tanpa menunggu jawaban dari Endaru.
Tap, tap!
Orion berjalan keluar dari jalan ini menuju me jalan besar. Ia kemudian menyebrangi jalan dan duduk di halte. Setelah beberapa saat, seorang wanita muda yang sebelumnya mengusir Orion dari rumah itu muncul dengan pakaian tuksedo dan topi khas pesulapnya.
Ia berjalan tanpa sadar akan keberadaan Orion. Ia kemudian berbelok ke arah kiri, masuk ke dalam gang yang di mana terdapat banyak anak-anak di dalam sana.
Di sana, wanita itu selalu menunjukkan trik sulap. Dalam beberapa detik saja, semua anak-anak tertawa lebar dengan bahagia. Trik itu terlihat sederhana mulai dari satu koin, cincin dengan tali ataupun merpati dalam topi.
Satu trik yang tidak dimengerti oleh Orion yang tengah memperhatikan mereka dari kejauhan adalah saat wanita itu mengeluarkan sebuah tongkat panjang dari balik sapu tangan. Yang seharusnya terlihat dari balik punggung, namun Orion yang melihatnya berpikir itu sulap sungguhan tanpa adanya trik-trik.
“Apa dia Pejuang NED tipe pesulap?” pikirnya mendalam seraya memperhatikannya lebih dalam.
Orion berjalan menghampiri wanita itu yang terus melanjutkan segala trik sulapnya kembali. Meskipun sederhana, anehnya amarah Orion mereda ketika terfokus pada semua trik sulap yang ditunjukkan oleh wanita itu. Perasaannya menjadi sedikit lebih tenang dari sebelumnya.
Tap!
“Orion, sudah kubilang tunggu!”
“Ternyata kau, Endaru. Cepat sekali kau datangnya. Dan di mana yang lainnya?”
“Ah, mereka sedang berada dalam perjalanan karena aku buru-buru ke tempatmu sih.”
“Ah, begitu.”
Ketika Orion menoleh kembali ke depan, ia tak lagi mendapati wanita pesulap itu. Orion pun berjalan tanpa arah dengan Endaru yang mengikuti dari belakang.
“Hei, bagaimana? Bisa ditahan?”
“Bisa! Kita gunakan air ini saja sekalian!”
Di tempat lain, yang tak berada jauh dari gang-gang sebelumnya tampak banyak orang berlalu-lalang sambil membawa ember berisi air penuh menuju ke ujung jalan sana.
Brak!
“Ah! Kau!”
Seseorang berteriak kepada Orion dari belakang, ember berisi air penuh itu pun tumpah tak tersisa. Membuat kedua orang itu basah kuyup.
“Apa yang terjadi?” tanya Orion terkejut.
“Lihat saja sana!” amuknya dengan kesal, ia pun kembali mengambil air dan bergegas mengikuti rombongan lainnya.
Di ujung sana terdapat asap dan api muncul berdampingan. Kepulan asap yang begitu pekat, terjadi kebakaran.
“Ada apa Orion?” tanya Endaru yang tidak begitu mengerti. Orion kemudian menunjuk ke arah asap itu dan seketika Endaru terkejut.
“Kita harus memadamkannya!”
Pemikiran mereka selaras. Mereka bergegas menuju ke ujung sana tuk melakukan sesuatu. Tetapi seseorang menahan mereka berdua dengan tegas.
“Hei! Kalian mau apa? Jangan mendekat sebelum damkar tiba!” ujarnya berusaha untuk menjauhkan Orion dan Endaru dari bangunan yang terbakar.
Terlihat bangunan itu terbakar lahap oleh jago api. Tak banyak yang tersisa bahkan kaca jendela semuanya pecah, dinding telah menghangus. Sebagian masih berdiri kokoh, sebagian pula telah hancur menjadi beberapa puing di dalam sana.
“Sebenarnya apa yang terjadi?”
“Kau tidak akan mengerti tapi ada dua orang wanita yang berlari dari bangunan itu dan kemudian bangunan menjadi terbakar setelah beberapa saat,” ujarnya menjelaskan seraya melintangkan tangannya tuk membuat Orion menjauh dari area kebakaran itu.
Orion menoleh ke belakang. Berkata pada Endaru, “Kau tidak bisa melakukan sesuatu untuk ini?” Orion bertanya seraya mengulurkan tangan.
Sebelum mendengar jawaban dari Endaru, raut wajah Orion berubah ketika menatap jari jemarinya yang sedikit berwarna gelap daripada warna kulitnya.
“Amis ...darah? Apa aku menyentuh luka seseorang?” Orion bertanya-tanya dalam batin seraya mencium aroma anyir yang ternoda itu.
Orion menoleh ke belakang, ke seorang pria asing sebelumnya. Tampak ia tak terluka, bahkan Endaru juga tidak terluka. Kemudian sesuatu terlintas dalam benaknya.
“Jangan bilang saat aku duduk di bangku halte?” pikirnya membatin seraya menatap tajam ke arah Endaru yang tengah kebingungan.
Jika kembali dipikir lagi, waktu kedatangan Endaru terlalu cepat untuk sampai ke kota Cal-Forn. Padahal mereka baru saja saling menghubungi beberapa menit yang lalu.
“Sudahi akting sok lugumu itu, Chameleon.”
Kini, Orion mengerti bahwa sosok Endaru yang berada di depannya bukanlah Endaru yang asli.