
Baru saja dibicarakan, Orion tiba-tiba datang dan masuk ke dalam rumah begitu saja. Ia tampak sangat serius seraya menoleh ke segala arah untuk menemukan sesuatu. Sesekali ia mengobrak-abrik isi lemari ataupun barang yang tertumpuk jadi satu.
“Orion!?”
Karena kaget, Mahanta pun juga terlambat menyadari kedatangannya. Melihat ia sudah berdiri dengan tanpa ada masalah sama sekali, perasan Mahanta jadi lebih tenang dari sebelumnya.
“Mahanta? Kau ada di sini? Lalu, para wartawan tadi kenapa?” Orion bertanya-tanya.
“Apa? Ah, itu. Mereka semua hampir masuk ke dalam rumah ini. Dan ngomong-ngomong apa kau baik-baik saja? Lalu, sepertinya badanmu jadi agak tinggi setelah tidur, ya?” celetuk Mahanta tanpa berpikir panjang.
Jika dipikir-pikir Orion juga merasa seperti itu. Ia pun pergi ke salah satu ruangan yang berbeda dan melihat pantulannya dari kaca yang berdebu.
Ia kemudian membersihkannya sedikit lantas melihat apakah yang dikatakan oleh Mahanta itu benar atau tidak.
“Tuh, benar 'kan?” ujar Mahanta yang girang.
Meski itu kabar menggembirakan namun tidak untuk Orion seorang. Orion merasa bahwa kekuatannya masihlah belum cukup untuk mengembalikan wujud aslinya. Bukan seperti anak lelaki yang sedang berkembang pesat saat ini.
“Ck! Ini sulit,” gerutunya hingga berdecak kesal.
Kemampuan dalam mengendalikan api dari luar, seiring waktu pun berkembang. Bahkan Orion sudah mampu membentuk senjata dengan memadatkan api merah. Sehingga tidak membuang-buang energi yang di mana itu adalah pusat dari kekuatan yang akan dikeluarkan.
Meski itu cukup. Tapi untuk kembali ke wujud aslinya, Orion harus mampu mengendalikan api sekaligus membentuknya di dalam tubuh. Tentu saja itu menyulitkan dirinya. Sebab dari awal ini mustahil.
Salah sedikit, ia akan mati lagi.
“Jangan sampai itu terjadi. Aku harus bertemu dengan Chameleon dengan wujud asliku. Dan melihat apa yang sebenarnya dia lakukan sampai orang sekitar tahu, bahwa dia memelihara budak.” Orion membatin.
Tep! Mahanta menepuk pundaknya, seketika Orion dibuat terkejut lantas menoleh ke belakang.
“Orion, sepertinya wajahmu kesal?”
“Tidak ada apa-apa. Ngomong-ngomong apa yang kau lakukan di rumahku?” tanya Orion.
“Jangan berkata hal-hal yang berkaitan denganmu. Nanti kalau anggota lainnya tahu, bakal runyam,” ujar Mahanta sembari menutup mulut Orion.
“Baiklah. Sepertinya aku mengerti alasan kalian datang kemari. Tapi, aku sama sekali tak meninggalkan jejak di sini. Dan, ada hal yang harus aku cari di rumahku.”
Dengan kedatangan Mahanta saja sudah jelas kalau mereka hendak menyelidiki Orion. Itulah yang Orion pikirkan.
“Tidak. Kami awalnya tidak sedang menyelidikimu karena Nona Gista melarangnya dari awal,” ujar Mahanta menjelaskan.
“Apa?” Sontak tak percaya bahwa Gista akan melakukan hal itu. Padahal Orion sempat berpikir bahwa Gista menyelidikinya habis-habisan.
“Ada seorang wanita gila di dalam rumah ini. Juga, sempat beberapa warga di daerah ini membicarakan bahwa wanita itu mengalami mati suri dalam jangka waktu yang panjang.”
Kemudian Mahanta menunjukkan jasad yang berada di sudut ruangan dengan gumpalan kain yang menutupi tubuhnya sedikit.
“Lalu, ini, jasad yang kemungkinan sudah dikubur lalu diambil kembali oleh wanita itu,” sambung Mahanta.
Jasad yang begitu jelas nampaknya namun wajahnya tidak terlalu terlihat sebab sebagian tubuh jasad itu sudah menjadi tulang belulang.
Perasaan ngeri yang didapat, Orion menatapnya dengan firasat yang membingungkan. Seperti rasa familiar, seolah-olah Orion mengenalnya.
“Katamu ini adalah rumahmu, 'kan? Jadi, bisakah kau ceritakan sesuatu tentang keberadaan mereka?”
“Cerita sesuatu? Aku sama sekali tidak mengerti apa yang kau bicarakan.”
“Ya, aku sama sekali tidak tahu kalau hanya dibicarakan saja. Apalagi wajah ini sudah rusak, bukan? Bagaimana mungkin aku mengenalinya,” sahut Orion.
“Tunggu sebentar, Orion, kau berumur berapa saat mati?” tanya Mahanta seraya memegang kepala dan memejamkan mata.
Orion terdiam selama beberapa waktu. Kemudian menghela napas panjang seraya ia menundukkan kepala. Setelah beberapa saat merasa tenang, ia akhirnya menjawab dengan menatap Mahanta.
“Aku sudah menceraikan istriku sesaat sebelum mati. Jadi aku tinggal sendirian di sini,” jawab Orion dengan suara rendah.
Mahanta menoleh ke sekitarnya, memastikan tidak ada orang lain yang mendekati mereka. Meskipun sebenarnya sudah terlambat untuk memastikan karena Orion sudah lebih dulu menjawabnya.
“Kalau begitu, siapa wanita itu dan kenapa jasad ini ada, ya? Sepertinya ini harus diselidiki lebih dalam.”
“Kau benar. Jadi, hanya itu alasanmu datang kemari?”
“Ya, wanita itu Pejuang NED. Mengalami mati suri sekitar beberapa tahun yang lalu. Dan dia bangkit sekitar satu jam sebelumnya,” jelas Mahanta.
“Kalau hanya sebatas mengatakan dia ada di dalam rumahku bersama jasad orang lain. Aku tidak akan mengerti,” sahut Orion seraya duduk lebih dekat ke jasad di dekatnya.
“Nanti akan kutunjukkan, Orion.”
“Ya, baiklah.”
Orion kemudian beranjak dari sana, dan pergi ke ruangan di sebelahnya. Ia sedang mencari sesuatu, yang mungkin itu sangat berharga.
Mahanta menghampirinya dan bertanya, “Apa yang sedang kau cari? Bawahanku mungkin sudah memindahkan barang-barang di sana ke suatu tempat.”
“Anting,” jawab Orion.
“Barang seperti itu, sulit dicari Orion. Bawahanku juga hanya memindahkan beberapa barang yang besar. Apakah mungkin ada di suatu kotak kardus?” pikir Mahanta.
“Tidak. Aku menyimpannya dalam laci. Tapi sepertinya sudah tidak ada. Ah, ya sudahlah.”
Karena barang yang dicarinya tidak kunjung ketemu, pada akhirnya Orion melupakan itu.
Kini ia tertarik dengan jasad perempuan remaja yang terbaring lantai.
“Orion, aku lupa mengatakan satu hal ini. Wanita itu memegang foto seorang pria. Apa itu dirimu?” tanya Mahanta seraya jari telunjuknya menunjuk sebuah foto yang terpajang di meja kecil.
Mata Orion tertuju pada jari Mahanta yang menunjuk ke arah foto tersebut. Ia terkejut. Kemudian tanpa memeriksa lebih jelasnya siapa foto itu, Orion justru menghampiri jasad perempuan.
“Hei, Orion! Kenapa?”
Mahanta jelas panik karena tiba-tiba Orion mendekati jasadnya lagi. Dan lagi, ekspresi Orion sama sekali tidak biasa. Seakan-akan apa yang dicari sudah ditemukan.
“Perempuan ini sekilas mirip dia, tapi perawakannya terlalu muda.”
Orion menatap tengkorak itu lebih lama. Dahinya berkerut seraya pikirannya melayang ke satu arah, berpikir siapakah jasad ini sebenarnya.
Ujung jarinya mengeluarkan api kecil lalu dibentuk padat dengan ujung yang runcing.
“Orion, apa yang ingin kau lakukan?” tanya Mahanta semakin panik.
Srat! Orion menyayat telapak tangannya, setetes darah mengalir masuk ke kerongkongan jasad itu.
“Orion!” panggil Mahanta seraya menarik tangannya yang terluka.