
Siasat apa lagi yang akan direncanakan oleh Chameleon. Namun jika terus menanggapi orang yang seolah mayat hidup pun takkan ada habisnya. Orion segera masuk ke dalam mobil dengan perasaan yang amat terganggu.
Di satu sisi ucapan Chameleon tentang Ade yang terus terngiang-ngiang di kepalanya. Di satu sisi pula ada Ketua Dharmawangsa yang sedari tadi meliriknya dengan sinis.
Orion tentu lebih tahu bagaimana cara mengendalikan emosi di kala ada satu atau mungkin banyak orang mencurigai tentangnya, sebab Orion sejak dulu sudah diperlakukan begitu. Mencurigakan, tak masuk akal, sampah dan lain sebagainya.
Terutama saat Orion menyahut perkataannya waktu itu. Sewaktu mereka yang tidak sadar akan keberadaan Chameleon.
“Jangan terlalu dipikirkan,” bisik Endaru kepadanya.
“Kau ini bicara apa? Berlagak sok pahlawan hanya karena aku digunjing?” sindir Orion.
“Masih beruntung kau punya aku, 'kan?” sahut Endaru sembari mengerucutkan bibirnya.
“Tidak juga.”
Kemacetan di jalan raya pun tak lagi terjadi setelah beberapa saat Orion datang. Jalan sudah kembali seperti semula, lancar jaya tanpa sedikitpun hambatan. Dalam kecanggungan, tak seorang pun bicara sepatah kata lagi.
***
Rumah Arutala. Malam pukul 9.
Situasi di sana sudah lebih dari kekacauan. Bagian halaman rumah pun dipenuhi bercak darah serta anggota Arutala yang terbaring mengenaskan. Ada yang terluka parah, ringan atau bahkan mati.
Pintu utama pun sudah tidak terlihat seperti biasa. Dipenuhi banyaknya goresan hingga terlihat seperti cakar hewan buas yang mengamuk. Begitu dibuka sedikit saja, pintu itu rubuh seketika.
Ruangan Ade yang berada jauh dari pintu utama, juga sangat kacau. Ada beberapa barang yang sudah hancur berantakan. Juga beberapa yang tidak sesuai pada tempatnya. Kaca jendela pecah dan tirai juga robek.
Namun keberadaan Ade sama sekali tidak terlihat.
Sementara itu di ruangan Aria. Aria terlihat sedang duduk meringkuk di sudut ruangan. Ia sambil memegang kepalanya dengan kuat dan bergumamkan sesuatu yang tidak tahu apa itu.
Pandangan Aria hanya tertuju pada jari-jari kakinya. Sesekali ia melihat ke atas lalu kembali menunduk ke bawah. Situasi yang tidak dapat dimengerti oleh orang lain.
“Nona Gista, maafkan saya yang lalai akan tugas ini.”
Salah seorang anggota bersetelan jas hitam muncul dari ruangan sebelah. Ia terluka di bagian lengannya dan beberapa jarinya patah. Melihat luka itu, mereka semua yang akhirnya sampai ke rumah Arutala langsung terkejut.
“Siapa yang datang? Jelaskan ciri-cirinya.” Gista menahan amarah seraya ia bertanya sesuatu.
Ada satu-dua orang yang sudah terbaring tidak bernyawa di ruang sebelah. Sekali lagi mereka mengerutkan keningnya. Mahanta juga hanya terdiam kala ia sudah terlambat menuju kemari.
Semua orang tentu akan kecewa.
Ketua Irawan, Asisten Ketua Meera lalu Ketua lainnya pun segera menghubungi orang-orang yang berada di bawah mereka. Memastikan sesuatu. Lalu setelah itu pun raut wajah mereka sama sekali tidak berubah. Menandakan bahwa hal yang terjadi di rumah Arutala, juga terjadi di rumah atau gedung para Ketua lainnya.
“Total banyaknya musuh yang berdatangan. Hampir melebihi, tidak –ada dua kali lipat dari anggota yang berada di sini, Nona. Mereka semua mengaku bawahan Chameleon. Kami mencoba untuk menangkap mereka tapi setelah ditangkap pun mereka melakukan tindakan bunuh diri dengan memakan racun yang terselip di antara gigi.” Anggota itu menjelaskannya.
“Lalu, ada satu orang yang mencolok. Dia seorang kakek tua renta. Awalnya saya berpikir dia hanya tersesat, tapi karena perintah darinya kami semua menjadi kacau balau,” imbuhnya.
“Kakek tua renta?”
“Ya.”
Gista enggan sekali melihat simbahan darah yang ada di mana-mana. Bahkan semenjak mereka datang dan melihat halaman pun tahu, kalau ada bau darah yang lebih menyengat dari sebelumnya.
“Di mana anak perempuan itu?” tanya Orion dengan wajah gelisah.
“Daripada aku, di mana anak itu berada?” tanya Orion sembari mencarinya dengan membuka semua pintu yang ada.
Tapi ketika Orion melakukan hal tersebut, yang ada hanyalah beberapa anggota terbaring dan juga genangan darah. Seketika Orion merasa mual saat mencium bau amis itu.
“Orion!” panggil Mahanta.
“Di mana dia?”
Bruk!
Terdengar suara sesuatu yang barusan terjatuh ke lantai. Ternyata itu adalah Aria yang kini sudah tak sadarkan diri dengan air mata mengalir.
“Maafkan aku Orion,” ucap Gista seraya menahan lengan Orion untuk tidak pergi.
“Ada apa? Apa yang terjadi?”
“Anak perempuan yang kamu maksud mungkin adalah Ade. Dan sekarang Ade tidak ada di sini. Tapi aku yakin dia masih hidup,” ujar Gista dengan wajah serius.
“Apa kau g*la?!” pekik Orion seraya menepis tangannya. Ia membentak Gista dikarenakan emosional yang tinggi saat ini. Pikirannya menjadi kacau.
Sementara itu, setelah beberapa saat Aria terbaring tak sadarkan diri, Aria samar-samar mendengar suara yang ia kenali. Ia kemudian bangkit dari sana lalu memanggil namanya.
“Orion.”
Mendengar panggilannya, Orion reflek memalingkan wajah. Ia kemudian berjalan menjauh dari ruangan Aria.
Sementara Aria hanya berdiri seraya berpegangan pada daun pintu untuk menjaga posisi tubuhnya. Aria kemudian terduduk lemas karena sudah tidak kuat lagi.
“Apa Nyonya baik-baik saja?” tanya Mahanta seraya mengulurkan tangannya.
Aria menggelengkan kepala lalu berkata, “Apa yang sebenarnya terjadi di sini? Aku bingung. Dan kenapa pula aku berada di rumah orang lain?”
Gista terkejut begitu mendengar perkataan Aria. Yang berarti Aria tidak mengingat apa pun lagi. Dan satu hal yang bisa diingatnya hanyalah Orion.
“Nona Arutala, kami akan kembali ke tempat kami masing-masing. Mohon maafkan karena saya tidak membantu di sini,” ucap Ketua Dharmawangsa hendak berpamitan pergi.
“Sebelum saya memberi perintah. Jangan lakukan apa pun selain mengurus tempat kalian.” Lalu Gista menganggukkan kepala dan membiarkan mereka pergi.
Sudah banyak orang di sini yang terluka dan mati. Walaupun mungkin Ketua Dharmawangsa tidak begitu memperdulikan anggota di bawahnya, tapi tidak dengan Gista.
Pada akhirnya mereka semua adalah manusia yang setara. Hanya saja mereka memiliki kekuatan yang tidak disama-ratakan oleh lainnya.
“Lama-kelamaan bawahanmu semakin mirip dengan bunglon psikopat itu. Apa karena mereka terlalu terobsesi dengan dia ya?” Endaru menyinggung mereka semua.
Tapi tak satupun dari mereka yang mampu membalas perkataannya. Barang kali sekali ucap saja tidak.
“Di mana dia? Ori ...Orion?” tanya Aria sekali lagi.
“Nyonya lebih baik istirahat saja. Mari saya antar,” ucap Mahanta dengan senyum masam.
Sedangkan Orion sejak tadi masih belum bisa menenangkan diri lantaran ia masih terpikirkan soal keberadaan Ade yang hilang. Meskipun ia tahu bahwa Ade berada dalam genggaman Chameleon sekarang, tapi segala tindakan Chameleon kepadanya sulit untuk dihalau.
Apalagi jika mengingat adanya lingkaran itu. Lingkaran yang dapat menghisap energi kehidupan manusia. Kekuatan yang bahkan melebihi batas dunia itu sendiri. Seolah Chameleon adalah dewa atau semacamnya.
“Aku tidak bisa bertatap muka dengan Aria kalau anak itu tidak ada di sini. Dan lagi ini juga salahku, kenapa aku begitu terburu-buru membangkitkan anak itu dengan darah ini?”