ORION

ORION
Bertahanlah, Orion!



Suara mobil berdecit lalu disusul angin kuat menyapu bersih debu di sepanjang jalan. Hingga ketika bayangan mengejar, mereka bertemu dengan mobil sedan lainnya tepat di depan mata. Tanpa ada sopir, mobil yang hampir menabrak itu bergerak layaknya dikendalikan.


Dan tak hanya itu, usai Mahanta membuat mobil itu terbang lalu jatuh terguling menjauhinya, mulai dari ban depan memunculkan api. Sekilas, terlihat dari kaca yang menghadap belakang, bayangan yang bergerak juga memunculkan api.


Ini adalah ulah Jhon, si pengendali bayangan. Ia dengan sengaja mencelakai mobil yang dikendarai oleh mereka. Setelah truk, mobil sedan lalu ban mobil yang terbakar, membuat Mahanta kehilangan kendali kemudinya.


Sehingga ia menabrak pembatas jalan dan mengakibatkan kaca mobil pecah serta bagian tertentu pada mobil rusak parah. Tidak hanya itu bahkan Orion sampai terlempar keluar. Orion terpelanting, jatuh ke sisi yang ada di balik pembatas jalan tersebut.


Syat! Bayangan itu bergerak secepat angin milik Mahanta, menembus dan membelah bagian mobil menjadi dua. Lalu berakhir meledak dan membuat mobil itu hancur berkeping-keping.


Entah bagaimana nasib Mahanta saat itu, dan Orion yang terlempar keluar dari mobil sebelumnya pun tidak bisa dikatakan lagi.


Sangat tidak beruntung, Orion terjatuh ke dalam hutan yang lebat. Ia terguling-guling dan sempat menabrak beberapa batang pohon. Tak terhitung banyaknya luka kembali terbuka sampai ia memuntahkan darah segar.


Hantaman keras yang begitu terasa di kepala Orion membuatnya berhenti berguling. Ia berakhir dalam semak belukar dengan banyak duri di sana. Ia nyaris kehilangan kesadaran, berusaha bangkit dengan langkah tertatih-tatih.


“Hah ...di mana?”


Orion berjalan dalam kegelapan malam, sinar rembulan tak sampai kepadanya karena semua pohon di sana tumbuh begitu besar. Napasnya terengah-engah, ia berada ambang batas kesadarannya dan rasa sakit itu menjalar. Rasanya perih tapi kakinya mati rasa. Seolah-olah, rasa sakit tertunda sementara.


Seraya meraba-raba di sekitar tuk menemukan sebuah jalan yang pasti, Orion pun berharap untuk segera pulang dan juga tidak bertemu dengan Jhon itu.


“Mahanta, bagaimana keadaannya? Aku harap anak itu baik-baik saja.”


Bahkan diri sendiri terluka tapi masih sempat mengkhawatirkan orang lain. Di satu sisi ia cemas dan di sisi lain ia sangat berwaspada akan keadaan sekitar yang memungkinkan bahwa tempat ini berbahaya.


Perlahan-lahan ia melangkah ke depan tanpa arah yang jelas. Suara gemerisik serta hewan-hewan malam pun membuat ia sangat sensitif dan selalu bersikap waspada.


Namun ada saatnya tubuh itu lelah, kedua kakinya lemas dan ia pun ambruk sekali lagi. Darah mengalir keluar dengan deras dari sekujur tubuh Orion. Membuat para semut ketagihan untuk meminumnya.


“Ah, rasanya lelah sekali. Kapan aku tertidur, ya? Sepertinya sudah seharian ini aku tidak tidur. Duh, tubuh kecil begini bisa apa tanpa orang dewasa? Apa memang aku dihidupkan kembali karena untuk menebus suatu kesalahan?”


Kesadaran Orion semakin memudar begitu juga dengan penglihatannya. Dengan tubuh gemetar, ia tetap terngkurap seperti itu. ******* lelah yang tak kunjung berhenti, malam yang membuat ia resah setiap waktu juga sempat membuatnya berpikir apakah ada sesuatu hal sehingga ia masih hidup sekarang?


Pokoknya kacau sekali. Jadi teringat akan semua kesalahan serta caci makian dari banyak orang. Mungkin karena Orion sebelum ini mendapat tatapan dari orang-orang Raiya Meera sebelumnya.


Mengantuk juga lelah, Orion pun tertidur lelap bersama para serangga yang mengkrubuti.


***


Fajar telah menyingsing. Setelah berlama-lama ia berada di hutan asing, kini waktunya ia terbangun meski harus dipaksakan.


Plak!


“Aduh!”


“Ah, darahnya keluar banyak. Aku baru sadar aku terluka separah ini?”


Orion terkejut, ia mengangkat kedua tangan dengan telapak tangan terbuka. Lalu memeriksa seluruh tubuhnya dan juga punggung yang sebisanya ia gapai.


Terdapat luka di mana-mana, namun sepertinya tidak cukup banyak yang keluar seperti di malam hari kemarin.


“Harusnya aku terus jalan saja! Ayo cari jalan!” teriak Orion demi menambah semangatnya.


Namun apa daya, energinya tidak terkumpul dengan baik. Bahkan tidak ada separuh dari kekuatannya yang bisa digunakan, apalagi dalam keadaan terluka separah ini.


Orion kembali berjalan dengan langkah yang masih tertatih-tatih, karena matahari telah terbit ini mempermudahnya untuk mencari jalan.


Semula ia tak mendengar suara bising yang berada di jalan sana, dan ketika ia melangkah lebih jauh ke depan, barulah mendengar suara kendaraan berlalu-lalang.


“Ada jalan! Truk kecil juga! Apa aku bisa menumpang di sana?” ucapnya kegirangan, ia berharap seseorang dapat membantunya kembali pulang.


Orion pun berlari ke asal suara tersebut. Tapi ketika ia mulai berlari, darahnya merembes keluar lagi. Ia kemudian berhenti sejenak.


“Kalau aku membakar sedikit bagian luar lukanya, apakah berhasil?”


Ia tengah berpikir bagaimana cara menutup luka di saat ia tak punya apa-apa. Di sekeliling kebanyakan hanya daun saja, dan tidak akan terlalu membantu menutup luka.


Terbesit suatu pikiran yang jika dipikir pasti akan mustahil. Orion mencoba untuk membakar sedikit kulit bagian luar di setiap lukanya yang kembali terbuka.


Banyak luka bekas sayatan-sayatan bekas pertarungan dengan Jhon dan juga saat terjatuh saat itu. Sedikit demi sedikit, api keluar dan membakarnya sebentar.


“Berhasil, ya ...padahal aku hanya berpikir mungkin kulit itu seperti plastik.”


Apa yang dimaksud oleh Orion adalah ketika menutup sebuah plastik dengan membakar sedikit bagian permukaannya. Cara ini biasa digunakan para pedagang yang menjual setiap barang atau makanan ringan di setiap kemasan. Tapi itu adalah cara lama, dan sudah jarang digunakan.


Kini ia kembali berjalan setelah menghentikan pendarahannya. Meski rasanya sangat sakit ketika membakar tubuh sendiri tapi tak ada cara lain selain ini.


Sesampainya di ujung jalan, ia melihat sebuah truk tanpa seseorang di dalam. Truk kecil itu juga sepertinya tidak membawa barang satu pun di bagian belakang. Karena berjalan saja sudah menyiksa, Orion pun memutuskan untuk tertidur sebentar di bagian belakang truk mini.


“Mumpung tidak ada orangnya. Boleh 'kan aku buat tidur sebentar? Rasanya masih mengantuk,” gumam Orion lalu terlelap kemudian.


Meskipun sudah banyak tidur di hutan tapi tetap saja ia masih mengantuk dan sangat lelah. Semua luka yang ia derita mungkin sudah tertutup berkat kekuatannya sendiri, tapi ada kemungkinan bahwa lukanya akan meradang.


Brak! Seseorang menutup pintu kendaraannya setelah masuk ke dalam. Ia kemudian menghidupkan mesin lalu menjalankan truk tersebut.


Tanpa tahu ada seorang anak kecil yang tengah menumpang di bagian belakang truk miliknya.