ORION

ORION
Mahluk Absoult I



Pertarungan yang bisa disebut tidak adil! Ini terjadi di negara tetangga, kerusakan yang dialami mungkin tidak akan separah kota Y-Karta namun tetap saja sampai mengusik negara tetangga juga bukan keinginan Organisasi NED.


Gista terpaksa menahannya karena lokasi Chameleon memang sulit dilacak, mata-mata yang akan dikirimkan pasti akan pulang hanya dengan kerangka saja. Terkecuali Orion yang sejak awal tak direncanakan untuk menjadi mata-mata kini telah berguna tuk mengumpulkan segala informasi mengenai kekuatan Chameleon.


“Apa-apaan ini?! Hei!”


Semua penduduk di segala perkotaan dibuat tercengang oleh langit yang menggelap tak wajar. Guntur menggelegar, kabut hitam menyeruak ke arah mereka semua. Guntur yang sesekali muncul itu sekarang telah menyambar manusia, hewan maupun tumbuhan dan juga benda mati seperti gedung-gedung tinggi.


“Semua!! Berlindung dalam rumah! Jangan sampai tersambar! Lari! Cepat!”


Satu persatu dari mereka berlarian masuk ke dalam rumah maupun tempat berlindung lainnya demi menghindari sambaran petir.


Lalu, secara kebetulan, seseorang melihat fenomena singkat yang ia lihat dengan mata kepala sendiri. Ia sempat tak percaya, dan sering mengucek kedua matanya guna membuat penglihatannya jadi semakin jelas.


“Apa itu? Apa aku tidak salah lihat?”


Pria yang hendak berlindung di balik rumahnya, kini terdiam dengan mata terbelalak kaget. Sejenak ia menelan ludah dan tangannya mulai gemetaran sebab apa yang dilihatnya seperti di film-film jaman sekarang.


Seseorang yang baru saja tersambar petir di pinggir jalan, kini telah bangkit dengan selaput serta kabut hitam menyelimuti tubuh mereka. Tak terlihat pandangan mereka hidup, sekilas mereka sadar namun kemudian berubah menjadi sosok yang tak dikenali.


“AARRGHHHH!!” Jeritan dari sosok yang barusan dibangkitkan itu bagai lolongan serigala, ia meraung keras dan sekujur tubuhnya terasa sakit. Ia sama sekali tak bisa menahannya, namun reaksi tak wajar di tubuhnya telah memaksa kehendaknya.


Perlahan tubuh itu berubah, dengan arus listrik mengalir pada tubuhnya. Ia kemudian bergerak menyerang pria yang telah melihatnya.


“AAAAA!! MENJAUHLAH!! MONSTER! MUMI! AAA!!”


Pria itu panik, segera ia menutup pintu lalu berlari ke arah kamar. Dan sosok yang baru saja dibangkitkan pun lantas mendobrak pintu dengan cepat.


“Gawat, dia jadi apa? Manusia super? Tapi kenapa? Dia seperti bukan manusia ...itu mengerikan!”


Pria yang dikejar segera melarikan diri melalui jendela kamar. Tanpa menyisakan waktu sedikit saja, ia berlari sekencang-kencangnya.


Brak!


Tapi karena terlalu cepat, juga pandangannya yang ke arah belakang membuatnya tidak fokus, ia menabrak seseorang.


“Ah, maaf. Anda baik-baik saja?”


“Y-ya. Hanya ...itu-itu ...seseorang, tolong aku!” Terlalu takut ia bicara yang akhirnya berlari meninggalkan orang itu.


“Oh my god, apa ini malapetaka yang pernah dibicarakan oleh Mr. Sadawira?” pikir Nicholas. Ia pergi sendirian dengan payung hitamnya.


Sejenak terdiam memandang ke arah langit, lalu kemudian ia menyadari seseorang yang tak wajar lainnya.


Di sekelilingnya sudah terdapat banyak NED atau sebut saja mumi berkekuatan super, sebutan lainnya adalah boneka Chameleon mulai tersebar dan menyerang para penduduk dengan beringas. Nicholas tak bisa menghindari ini, ia pun tak bisa jika hanya mengandalkan kekuatannya sendiri.


“Kalau begini terus, maka semuanya akan hancur. Kota yang dewasa ini, tidak bisa aku biarkan!”


Perkotaan mulai hancur lambat laun, sementara pertarungan berat di pulau masih berlanjut dengan sengit.


Orion yang berhadapan langsung dengan Chameleon, selanjutnya Iki muncul. Lalu Endaru, Ketua Irawan dan Mahanta pun mulai menunjukkan batang hidung mereka.


Ruang bawah tanah, lebih tepatnya lantai bagian dasar sekaligus langit-langit bagian ruang bawah tanah menjadi rusak. Tak ada sorot cahaya matahari masuk sebab dinding es dan bersalju tebal menghalanginya.


Semua orang telah berkumpul, kini pulau telah dikepung oleh para Pejuang NED. Sekilas Chameleon dan Iki terdesak, hanya menunggu waktu sampai ajal mereka datang menjemput.


Tetapi, itu hanya perkiraan 1℅ saja.


BRUAKKK!!


Endaru menargetkan mereka berdua langsung, menekan tubuh serta udara di sekitar mereka. Lalu Mahanta dan Ketua Irawan bekerja sama tuk menyerang mereka secara bersamaan, sementara Orion ia sama sekali tidak bisa memfokuskan dirinya.


“Ha ...apa ini?”


Gundukan tanah dan sabetan angin nyaris menyeretnya mundur. Endaru baru saja tersadar ada Orion di bawah sana, lantas segera membantunya untuk naik ke lantai dasar agar lebih aman.


“Apa yang terjadi padamu?” tanya Endaru.


“Jangan kehilangan fokus sedikit saja. Seranglah mereka sekuat tenaga jika tidak negara ini akan mati!” pekik Orion sembari memegang kepalanya yang terasa sangat sakit itu.


“Ya, aku tahu apa yang telah terjadi. Malapetaka? Ambisi luar binasa? Semua itu takkan terjadi apabila kita menahannya! Tidak, membunuhnya!” sahut Endaru.


Ia menggunakan kekuatannya sepenuh tenaga hanya demi membuat Chameleon dan Iki tak bisa bergerak walau sedikit saja.


“Maaf sudah lama menunggu!” teriak Ramon berlari, turun ke bawah.


Lalu disusul oleh Gista dan Runo.


“Belum berakhir!”


Berbagai serangan dikerahkan oleh mereka semua, tetapi Chameleon dengan mudah membalik serangan dalam sekejap. Sekaligus membantu Iki, keduanya menghilang dalam bayangan.


“Hm, satu persatu lalat berdatangan. Apa mereka tidak bosan?” gumam Mirana, tanpa adanya niat bertarung. Ia lebih memilih tuk bersembunyi agar tak menjadi target penyerangan.


“Kalian semua sudah terlambat jika mengincarku sekarang!” Chameleon berujar, ia muncul dari dalam bayangan milik Gista.


Untuk sesaat celah kecil nampak, dan dalam sekejap Orion memanfaatkannya tuk menyerang di momen itu.


Sebilah benda tajam berwarna merah pekat meleset dari titik vital di lehernya, Iki yang kemudian muncul dari dalam bayangan Endaru, lantas Orion mendorong tubuh Endaru agar segera menyingkir dari sana.


“Incar Chameleon!” teriak Orion seraya menusuk bayangan Endaru yang terdapat Iki di dalam sana sebelumnya.


Semuanya bekerja sama, tapi semuanya dikalahkan. Hanya dalam sekejap.


NGINGGGGG!


Nyaringnya suara bencana, lingkaran yang biasa muncul di atas kepalanya saat ini muncul di langit.


“Leader, apa itu?”


“Camkan pada ingatanmu, itu kekuatan Chameleon yang seperti malapetaka, bencana atau mungkin lebih parahnya lagi.”


Ketua Dharma dan Lun ikut terluka meski tidak ikut bertarung di dalam sana. Mengeluarkan darah di setiap lubang mereka termasuk telinga ataupun hidung. Rasa pusing hingga mual mereka turut merasakannya.


“Apa ini sudah semacam kiamat?”


Pertarungan dalam rumah panggung masih berlanjut dengan Chameleon yang jauh lebih unggul dari semuanya. Ia mengangkat tangan, dan kemudian muncul senjata dibentuk dengan bayangan hitam telah menusuk tubuh mereka tak terkecuali dengan Orion.


Kruger Gisan juga tersakiti karena suara nyaring ini, seluruh tubuhnya menjadi lemah dengan kulit mengering. Pandangan mengabur sampai ia ambruk tak sadarkan diri di tempat, yang masih berada di dalam rumah panggung.


Chameleon terus saja bangkit seolah takkan pernah mati, dengan lihainya mengubah tubuh menjadi benda cair dan gas ia dapat menghindari serangan dari segala arah. Lalu, ketika ia kembali ke wujud manusia, ia mengangkat tangannya.


Itupun ia lakukan ketika hampir semua dari musuh tumbang setelah dengingan yang nyaring. Ia mengangkat tangan dan membuat bawahannya yang lain kembali terbangun secara paksa.


“Jinan, Sera, Hendrik, Caraka? Masih hidup?!”


Mereka semua kembali berdiri, begitu pula dengan Gista dkk. Mereka langsung terkena serangan fatal tepat ketika semuanya menoleh ke sumber suara langkah kaki yang tergesa-gesa.


Cakar, pisau dan senjata lain-lainnya telah membuat mereka kembali terduduk dengan lemas.


“Kenapa di saat seperti ini aku justru melemah?” gumam Orion dengan tubuh terbaring, sesekali tubuhnya diinjak-injak oleh bawahan Chameleon yang kemudian turun ke bawah.


Dari telapak tangan Chameleon, terlihat ada benda-benda yang menyerupai benang tebal tak berwarna. Sangat terang menyerupai cahaya yang sempat muncul beberapa menit sebelum pertarungan terbuka berlangsung.


Lalu, benda-benda itu menjulur keluar dengan panjang tak terkira, berniat menusuk tubuh para Pejuang NED dengan benda asing tersebut.


“Bangunlah! Semua! Hindari itu!”


Di samping membuat mereka kembali bangkit, Gista menyeimbangkan tubuhnya lantas membuat perisai yang cukup lebar sehingga benda terulur panjang itu akan berbelok atau menusuk perisai sebagai ganti dari tubuh mereka.


“Cepatlah!”


Gista membuka telapak tangannya ke depan, membuat beberapa bilah es yang tajam dan runcing, segera melemparkannya ke arah Chameleon. Namun tiba-tiba dilahap oleh sesuatu tak terlihat.


“Masih belum!”


Sembari melangkah maju, Gista membentuk pedang es yang berat namun panjang. Kedua kaki menyentuh lantai yang berubah menjadi lapisan es yang tipis. Gerakan Chameleon yang sempat kaku karena nyaris terpeleset akhirnya membuat pergerakan Gista mudah.


Brak!


Chameleon tertunduk jatuh akibat serangan jarak jauh dari Endaru. Lalu dinding tanah yang keras mengitari tubuhnya, dan kemudian datanglah tusukan dari pedang Gista dari atas kepalanya.


Darah terciprat ke mana-mana, terasa pedang itu berhasil menyentuh tubuh inti Chameleon, tetapi ternyata hanya mengiris sebelah lengannya saja.


“Nona Gista, merunduklah!” teriak Mahanta.


Bergegas Gista merundukkan tubuhnya, Sera melesat dan cakarnya pun nyaris menembus tubuh Gista dari belakang. Setelahnya Gista berguling ke samping dengan melepaskan pedang yang masih menancap di lengan Chameleon.


Angin berhembus kencang dalam beberapa saat, lalu Gista menarik langkahnya mundur. Sejenak mengantisipasi serangan berlanjut dari Chameleon.


Benang-benang yang semakin tebal itu berhenti, namun tak berselang setelah yang lainnya telah bersiap tuk membalas serangan, tiba-tiba bergerak lagi.


“Menjauhlah darinya!”


Gista telah berusaha untuk memperingati rekan seperjuangannya tuk menghindari benang yang kini bergerak cepat mengincar satu persatu dari mereka.


“Argh!”


“Ramon!”


Salah satu dari mereka, Ramon telah tertusuk, menembus tulang punggungnya. Ia ambruk seketika tanpa meninggalkan kesadaran yang tersisa sedikit saja.


“Kalian jangan lengah!”


Ketua Irawan mengangkat dinding tanah, memisahkan rekan-rekan beserta dengannya dari Chameleon dan bawahannya.


Dinding itu menjulang sangat tinggi dan cukup luas, serta tebal. Jadi takkan mudah dihancurkan bahkan oleh Chameleon.


“Naik ke atas!”


Kecuali,


“Cepat, bawa anak magang itu!”


Kecuali membuat tubuhnya membaur dengan tanah yang sama. Seringainya pun jadi tampak jelas dan membuat mereka semua diam terperangah.


Gista berdiri di belakang mereka lalu membarikade dengan dinding es yang memiliki tinggi yang sama dengan dinding tanah itu. Segera mereka pergi dari ruang bawah tanah namun sayang anak tangga sudah rapuh, begitu diinjak sedikit langsung ambruk.


“Tidak ada waktu untuk berpikir, ke belakangku!”


Gista mencoba untuk mendorong tubuh Chameleon yang tersembunyi di dalam dinding es dengan menggunakan trik yang sama. Ketika dinding-dinding itu saling terbentur lalu dibuat terdorong menjauh sampai ke ujung bagian dalam, datang serangan dari dua arah yang hanya mengincar Gista.


Syak!


Dua sabetan darah mengenai telak kedua musuh di depan mata, sosok pria yang berdiri di depannya berhasil menyelamatkan Gista dari maut.


“Naiklah,” ucap Orion.


“Tunggu, aku merasakan hal yang aneh.”


“Kau memang benar.”


Sepertinya sudah terlambat untuk tahu bahwa hal aneh telah terjadi pada mereka. Ketika melihat ke bawah, genangan berlumpur membuat pergelangan kaki mereka semakin ke bawah. Merska terjebak dalam kubangan berlumpur.


“Khe, khe, khe, semuanya berusaha keras untuk menghindariku ya?” Chameleon terkekeh.


“Ya, lalu memangnya kenapa? Memangnya salah berlari untuk bertahan hidup? Hei!” sahut Orion.


“Tidak. Tidak salah,” jawabnya dengan wujud manusia, Dicky.


“Sepertinya kau sangat menyukai pria itu. Siapa dia? Temanmu?”


“Kau tidak berhak bertanya. Aku membalikkan omonganmu yang tak berdasar itu,” ujarnya seraya mengangkat lengan ke depan.


Spontan, semua pejuang NED berwaspada. Mereka yang sejak awal memang sudah dalam posisi siaga kini semakin siaga dengan memperhatikan sekeliling.


Muncul kembali, sesuatu yang menyerupai benang-benang yang terbagi menjadi beberapa bagian di atas telapak tangan Chameleon.


Dalam hitungan detik, Orion menyilangkan kedua lengan yang kini sudah terikat dengan tiap benang yang ada. Semakin lama ia merasa ditarik ke atas dengan kuat.


“Orion, bakar!”


“Tidak bisa. Cepat, naiklah.”


“Hm? Kalian berniat kabur, aku tidak akan membiarkannya.”


Orion terlempar ke atas, ia melambung cukup tinggi dan sulit memperkirakan pendaratannya akan aman di mana. Sementara Chameleon membentuk dinding yang sama, bahkan memulihkan ruang bawah tanah dengan kekuatannya sendiri namun tidak dengan tangga di belakang Gista dkk.


“Wah, kita terjebak.”


Mahanta menurunkan Ramon dari pundaknya, ia menyandarkan tubuh Ramon sejenak di dekat sana agar ia dapat lebih fokus dalam penyerangan.


“Ba-bagaimana ini?” Runo semakin ketakutan dan tergagap-gagap. Sesekali ia menggigit kuku-kuku jarinya yang sudah memendek sejak kemarin.


“Runo, tenanglah. Jangan dibuat panik.”


“Ketua Arutala, jika mengandalkan—”


“Tidak. Percuma saja. Jika Ketua Dharma masih berada di sini maka mungkin dia sudah tewas atau masih tersakiti karena lingkaran di langit,” jelas Gista.


“Eh? Lingkaran? Jadi itu berarti sejak tadi dia menggunakan lingkaran untuk melemahkan? Tapi kenapa—”


“Dia berniat membunuh kita perlahan karena menurutnya menyenangkan. Tanpa api Orion, kita akan jauh lebih susah,” kata Gista.


Es terbentuk ringan di bagian lantai dasar, bentuknya melengkung lalu jatuh ke bawah, seketika kembali menghancurkan langit-langit ruang bawah tanahnya sekali lagi. Di atas es, terdapat Orion.


Sementara Ramon, setelah tak bernapas, tubuhnya bergerak lagi.


***


Enggan bertaruh nyawa maka selamanya akan terjebak di antara alam baka dan dunia nyata. Itulah kalimat yang pantas bagi siapa yang melarikan diri dari musuh superior.


Ramon yang tertusuk oleh benang tak wajar itu, seharusnya sudah mati hanya saja mereka tidak sadar akan hal itu terjadi.


Lalu, bersamaan dengan Orion yang berselancar di atas es yang tipis merangsak masuk kembali ke dalam ruang bawah tanah, bersamaan pula dengan Orion yang menyerang Chameleon menggunakan Api Abadi, Ramon pun melakukan penyerangan tanpa mereka sadari.


Wuushh!!!


Datang angin menghembus kencang dari belakang mereka, reflek Mahanta menoleh ke belakang karena tahu betul itu kekuatan milik siapa.


Chameleon setengah terbakar oleh api abadi lantas berkata, “Lihat? Itu hasil karyaku,” katanya dengan suara berdengung tak jelas.


Kekuatan Mahanta yang berupa angin memang sangat jelas berada di tangan Ramon juga sekarang. Selain Mahanta, lainnya pun sangat terkejut ketika menyadari hal itu.


“Bagaimana bisa? Ah, tidak. Ini sudah wajar, benang itu pasti penghubung menuju malaikat pencabut nyawa,” kata Ketua Irawan sembari ia berusaha untuk berdiri tegak, karena punggungnya robek akibat angin barusan.


“Situasinya berubah menjadi sangat merepotkan.”


Orion terjerat oleh kail pancing milik Jinan, ia ditarik mundur secara paksa bersamaan dengan Sera yang mendorongnya jauh dari tubuh Chameleon.


“Cih, mau sampai kapan kalian terus seperti ini?!” amuk Orion dan berujung membakar tubuhnya sendiri dengan Api Abadi.


“Orion! Tiba-tiba apa yang terjadi padamu? Sadarkan dirimu! Hei!” teriak Endaru.


“Diamlah kalau tidak bisa bantu, bodoh!” dengus Orion dengan jalan sempoyongan, ia nyaris menabrak sesuatu di depannya.


“Sakit tahu, sakit,” gumam seseorang yang baru saja ditabrak oleh Orion.


“Sakit tahu!” teriaknya seraya melayangkan pukulan pada Orion. Siluet secara sekilas menampakkan wajah sosok pria, Adi Caraka.


“Minggir!” teriak Orion membalas pukulannya. “Kau mengganggu!”


Stamina serta keanehan pada tubuhnya membuat Orion sulit untuk fokus dalam pertarungan. Chameleon sejak tadi hanya terkekeh-kekeh saja, entah apa lagi yang kini ia rencanakan.


“S*al. Apa yang terjadi pada tubuhku. Setiap detik semakin lemah, hei,” gerutu Orion yang jengkel pada dirinya sendiri.


Ramon pun takkan berdua diri saja. Namun tentunya ia berdiri bukan sebagai pejuang NED melainkan boneka Chameleon.


“Hancurkan rekan-rekanmu dan menarilah di atas telapak tanganku,” ucap Chameleon menyunggingkan senyum lebar.


Sesuai perintah Chameleon, Ramon bergerak mengikuti alurnya yang sudah tersusun rapi dari awal. Jebakan di ruang bawah tanah seolah diubahnya menjadi sebuah panggung besar, teater berkelas!


Tebasan angin menyerang satu persatu dari mereka dengan cepat, persis seperti Mahanta bahkan ia menciptakan ilusi tanpa sadar. Mahanta yang tahu kekuatannya digandakan oleh orang yang berambisi sampah, jelas akan marah.


“Berhentilah, Ramon! Kau, sadarlah!!” teriak Mahanta, ia menyaingi anginnya sendiri.


Ramon tak pernah membuka kedua matanya, ia bergerak karena benang mempengaruhi seluruh gerakan tubuhnya. Ketika Ramon berlari menghampiri Mahanta, saat itu Runo ikut bergerak.


“Berhentilah, Ramon!” Dengan tekad yang kuat, Runo yang pengecut telah menahan tubuh besar Ramon dari belakang.


“Sekarang, serang dia!” perintah Gista tuk menghentikan gerakan Ramon sepenuhnya.


“Baik!” Mahanta akan menerima perintah itu tanpa ragu, membunuh rekan yang sudah tidak sanggup tuk berjuang sudah menjadi kebiasaannya namun angin Mahanta kalah cepat dari angin buatan miliknya.


Runo diterbangkan hingga keluar dari rumah panggung, insting Ramon yang seolah merasa kesal pun langsung mengejarnya dan kemudian menjatuhkan diri bersama Runo sebagai sasaran empuk ke laut lepas.


“Runo, celaka!”


“Jangan kejar!”


Mahanta tersentak, ia segera kembali ke posisinya yang sempat berubah karena berpikir ingin menyelamatkan Runo.


“Fokus yang ada di depan sekarang!”


Gista memejamkan matanya sebentar, seraya ia mengangkat kedua lengannya ke depan, Mahanta dan Ketua Irawan berdiri di depan. Berjaga-jaga agar Gista tidak diserang lebih dulu.


Ia menyiapkan sesuatu, khususnya untuk Chameleon.


“Slacer!” Udara yang memanas seketika diubah partikelnya menjadi es yang dingin, seperti piring terbang yang berjumlah puluhan memotong dinding hingga daging Chameleon.


Telapak tangan yang terbuka kini ditutupnya, Gista menyatukan kedua tangan dan dalam sekejap tubuh Chameleon tergencet dua dinding es dari arah kanan dan kiri secara bersamaan. Tak hanya itu, di balik dinding es pun terdapat benda-benda tajam yang menyerupai duri tebal menusuk setiap sendinya agar Chameleon tak memiliki kesempatan tuk melarikan diri.


“Rencana yang bagus,” ucap Chameleon memuji.


Sera dan lainnya selain Iki yang berada di belakang lantas bergerak, masing-masing dari mereka kembali mengincar para pejuang NED dengan gerakannya yang gesit.


“Jatuhlah!” teriak Endaru memperluas medan magnet, meski akan memengaruhi rekan seperjuangannya, ia tetap menggunakannya demi menjatuhkan musuh yang berdatangan.


Iki memulai serangannya yang sejak tadi terdiam entah kenapa. Namun, sekali ia menghadapi pertarungan langsung maka tak seorang pun akan selamat apabila menatap terlalu lama lubang hitam terlebih di ruangan yang gelap gulita begini.


Sulit tuk melawannya.


Blarrr!!


Caraka dan Orion menggunakan api mereka secara bersamaan dan kebetulan. Keduanya mulai saling serang dengan setiap bulu pada sayap masing-masing, tetapi Orion jauh lebih unggul, ia mendekatkan dirinya pada Caraka lalu menebas tubuh Caraka tanpa ampun.


Kedua sayap apinya menyala-nyala, membuat ruangan jadi lebih terang dari sebelumnya.


“Hah ...ini terlalu melelahkan,” keluh Orion seraya mendesah lelah.


“Serahkan padaku, pinjamkan punggungmu!” ujar Gista lantas menginjak punggung Orion, menggunakan pijakan punggung tuk melompat dan memutar tubuhnya di udara.


“Slacer!” Gista kembali mengeluarkan serangan beruntun, sesuatu menyerupai piring terbang yang berputar itu menyayat setiap bagian tubuh Chameleon.


Melihatnya mengeluarkan darah sedikit demi sedikit, merasa tak cukup puas ia kembali melancarkan serangannya.


“Mundurlah sedikit, Orion.” Gista meminta, usai ia turun kembali ke bawah.


Tombak besar nan panjang muncul di tangan kirinya, lalu Gista menggunakan senjata besar itu guna menebas tubuh Chameleon hingga terbagi menjadi dua.


“Tuan Chameleon takkan bisa dilukai hanya dengan seperti itu!” teriak Jinan berlari ke arah Orion, tapi ia langsung dijatuhkan kembali oleh Endaru.


“Seperti yang dikatakan oleh Jinan. Kalian lupa dia siapa?” sahut Iki.


“Black Hole!” Iki mengeluarkan serangannya yang sama, kekuatan itu sama sekali tidak bisa diremehkan.


“Menjauhlah, Gista!” Orion menarik kerah pakaian Gista ke belakang, lalu mendorongnya agar mau mundur dan menjauh baik dari Chameleon maupun Iki.


“Black Hole? Persis seperti yang dikatakan oleh Ketua Meera, meski sulit melihatnya tapi aku merasakan kekuatannya.”


“Chameleon mengeluarkan darah sebanyak ini. Dia akan tumbang cepat atau lambat!” ungkapnya sesaat sebelum kobaran api menyelimuti seluruh ruang bawah tanah.