ORION

ORION
Milion



Pelelangan ini ternyata memakan waktu yang cukup lama dari dugaan. Mereka masih berlomba-lomba bahkan sepertinya tidak ada kesempatan untuk meninggikan nilai darah langka. Lama-kelamaan, rencana ini akan gagal jika tidak selesai hari ini juga.


“2M!”


Betapa terkejutnya mereka semua termasuk Orion dan Runo, mendengar seorang pria dengan topeng berwarna kehitaman menyebut nominal tertinggi. Tak satu pun orang menyangka bahwa ada orang yang berani melawannya. Hingga detik ini juga.


“Apa?! Dia g*la? Jumlah itu tidak sedikit, kau tahu.”


“Ha, rupanya dia lebih kaya. Pasti dia akan memakai asuransi keluarganya?”


“Siapa yang tahu. Orang itu memang tidak bisa ditebak. Pantas saja daritadi dia hanya diam saja tanpa bicara apa-apa.”


Banyak orang berbincang-bincang mengenai pria tersebut. Katanya pria itu sejak tadi tidak ikut bergelut, namun kenyataannya sekali sebut membuat mereka semua bungkam tanpa celah. Ibarat dinding datang menghadang. Posisi mereka seolah menjauh dari posisi pria bertopeng hitam itu yang berada di depan.


“Wah! Anda sangat hebat! Apakah ada salah satu dari kalian yang ingin melawannya?”


Tentu saja tidak akan ada yang melawan, kecuali orang yang memiliki nilai kekayaan yang sebanding. Namun, sepertinya pria betopeng hitam itu kalut. Padahal dia baru saja membungkam semua orang, tapi entah kenapa sensasi saat ini, terasa bahwa pria itu sangat kecewa.


“Aku tak berharap ini akan lanjut. Tapi kenapa nilainya jadi setinggi itu?” Orion bertanya-tanya seraya duduk meringkuk dan memegang kepalanya kuat-kuat. Ia sangat gelisah serta syok berkepanjangan karena angka itu.


“Pak Orion sampai terkejut. Ya, tentu saja. Aku juga sama, pak.” Runo menghela napas, karena tidak menyangka bahwa ini akan terjadi.


Sementara itu di ruang penyimpanan barang yang tak ada lagi yang tersisa. Ketua Irawan tak dapat berhenti menganga ketika ada seseorang yang menyebut nominal barusan.


“Ah? Hadirin sekalian? Adakah salah satu dari kalian yang—”


“Tambah, 10!”


“20!”


“50!”


“Wah, tampaknya masih ada ya.” Mc itu menyeringai tipis.


Ternyata tidak berhenti di angka M itu. Para hadirin lainnya terpaksa harus melakukan rencana licik. Sesaat sebelumnya, Orion mendengar beberapa dari mereka berbisik-bisik untuk saling menaikkan nominal.


Saling sahut-sahutan sampai pria bertopeng hitam itu kembali mengangkat tangan. Mereka dengan sengaja menaikkannya agar pria itu mau tak mau mengeluarkan semua yang dipunyainya.


“Hoo, aku tidak menyangka mereka akan kerja sama begitu.” Orion menatap punggung mereka dengan heran.


“Kita harus apa, Pak Orion?”


Sebelum Orion membuka mulut tuk menjawab Runo, pandangan Orion tertuju pada salah seorang anak yang berada di dekatnya. Jarak di antara mereka tidak dekat dan tidak jauh juga.


Seorang anak lelaki yang berusia sekitar 10 tahunan itu tengah duduk meringkuk seraya terbatuk-batuk di sana. Ada yang aneh.


“Mengapa anak kecil bisa ada di sini?” Orion merasa ada yang salah, ia pun menghampiri anak tersebut.


Betapa terkejutnya Orion ketika ia mendekat. Sesuatu keluar dari lubang hidung anak itu, yang berwarna keputihan dalam bentuk partikel kecil menyerupai debu.


“Nak! Apa yang kamu makan?!” tanya Orion histeris. Ia mulai berpikir yang tidak-tidak.


“Pak Orion?” Runo juga datang menghampiri.


“Runo, belikan air minum untuknya, cepat!”


“Baik!” Runo pun segera pergi untuk melakukan yang dipinta oleh Orion.


Sesaat setelah Runo kembali, Orion membuat anak itu menenggak minumannya sedikit-sedikit. Napas yang berat, seakan-akan mengalami sesak napas. Beberapa saat, akhirnya anak itu pun mulai tenang dan tak lagi tersedak ataupun batuk.


“Kamu tidak apa-apa? Apa yang terjadi?”


Orion lagi-lagi dibuat terkejut, ketika ia bertanya, tepat sebelum si anak menjawab, Orion menemukan sebuah bungkus kecil di samping.


“Ini lagi?”


“Ma-maaf. Aku mengambil benda itu. Benda yang barusan terjatuh dari kantung dia,” katanya seraya menunjuk seorang pria di hadapannya.


Pria yang ditunjuk sedang asik dengan pelelangan sehingga tak sadar bahwa benda yang berbahaya terjatuh dari saku celana. Orang yang sangat ceroboh.


“Pak Orion, itu serbuk putih.” Runo berbisik lirih, berwajah gelisah.


“Aku tahu, Runo. Aku sangat heran kenapa benda ini selalu ada di mana-mana,” sahut Orion mengerutkan kening.


“Anda sekalian siapa?” Anak itu bertanya.


“Kami seperti orang-orang di sini. Daripada itu, nak, aku harap kamu tidak lagi asal memakan sesuatu yang sudah terjatuh.”


“Aku memakannya karena aku lapar.” Si anak memalingkan wajah.


“Kamu 'kan bisa minta orang tuamu. Dan kenapa juga kamu berada di sini?” tanya Orion dengan tegas.


“Aku tersesat. Lalu aku masuk ke sini dan menemukan itu,” jawabnya seraya memalingkan wajah cemberut.


Orion menghela napas pendek, ia kemudian beranjak dari sana lalu berbisik pada Runo untuk mengantarkan anak itu keluar dari tempat pelelangan.


“Jangan lupa, periksa keadaannya juga,” bisik Orion. Runo menganggukkan kepala.


“Nak, pergilah bersama pria ini. Dia akan membantumu agar dapat kembali ke orang tuamu,” kata Orion pada anak tersebut.


Kala itu, tak hanya nominal untuk darah langka yang membuatnya terkejut. Juga sebuah benda terlarang juga tersebar di daerah ini.


“Tidak hanya di daerah yang Mahanta kunjungi. Bahkan di sini juga. Apakah ini semua ulah Chameleon seorang diri yang baru sampai beberapa hari yang lalu?” gumam Orion.


Pelelangan Undergrown. Semakin meriah dari waktu ke waktu. Cukup lama mereka berdiri dan terus bersorak demi kemenangan dalam kemustahilan. Kemenangan itu pasti akan tercapai oleh pria bertopeng hitam akan tetapi para hadirin lainnya pun bersama-sama menjatuhkan pria itu dengan sengaja menaikkan setiap angka.


Mereka melakukannya agar pria itu mau tak mau harus mengeluarkan banyak harta yang dipunyainya. Namun entah sampai kapan ini berakhir, yang membuat Orion sakit kepala.


“Argh! Angka-angka yang selalu disebut selalu terngiang-ngiang dan telingaku berdenging kuat. Astaga,” gerutu Orion yang kembali meringkuk semakin dalam. Ia terkadang juga bergumam-gumam tentang kemewahan yang ada di depan mata.


“Tidak! Aku harus kuat! Karena tujuanku di sini adalah mengambil darah langka itu!” teriaknya dengan semangat namun suaranya teredam oleh situasi di sekitar.


Setelah beberapa saat ia kembali berpikir, “Tunggu, bagaimana kalau aku mengambilnya setelah seseorang berhasil memenangkan benda itu?”


Setelah beberapa saat ia berdeham. Kemudian kembali berpikir sesuatu, “Ada kemungkinan kalau dia adalah Pejuang NED. Tapi bukan masalah bagiku.”


Lagi-lagi rencana lain terpikirkan oleh Orion yang berada di ambang keputusasaan. Kini ia kembali bangkit, sebab satu atau dua rencana tidak bisa dipastikan akan sesempurna yang dibayangkan. Karena itulah, perlu rencana lebih dari segala sudut pandang.


“Aku ini belajar dari kecaman banyak orang. Apalagi otakku yang selalu berputar dalam segala hal. Tetapi, kalau lengah sekarang akan membuatku semakin lemah. Tetap tenanglah Orion, kau bukanlah Endaru yang memiliki kekuatan fisik dan koneksi lebih banyak. Kau adalah kau yang biasanya.”


Orion bergumam dan terus membuat dirinya semakin tenang. Mengikuti alur dan memegang bagian ujungnya dengan erat. Itulah hal yang dapat ia lakukan sekarang.