
Berkeliling ke dalam rumah mewah seorang pejabat, nyatanya tidak ada yang aneh sama sekali. Keberadaan seseorang yang sempat ia rasakan pun mendadak hilang tanpa jejak.
Ia sisir seluruh taman belakang dan celah ia periksa agar tak melewatkan satu hal pun. Begitu juga di belakang kamar putri Hendrik.
“Tidak ada seorang pun di sini. Mengumpat juga percuma karena tidak ada tempat yang cocok untuknya bersembunyi.”
Awalnya ia merasa sia-sia datang kemari, tapi tidak lagi setelah ia mendengar suara gemerisik lalu disusul hantaman keras dari belakang. Salah satu pot bunga di sana rusak, seseorang pria memakai masker hitam berlari menjauh darinya.
Segera Orion mengejar pria tersebut. Sambil berteriak meminta orang itu berhenti. Akan tetapi semakin lama pria itu semakin menjauh darinya. Ia berlari sangat cepat, nyaris membuat Orion kehilangan jejak darinya.
Drap! Drap!
“Mau tak mau aku harus membuatnya berhenti dengan kekuatan apiku!” pikir Orion sambil berlari dan mengulurkan tangan ke depan.
Memusatkan energi pada satu titik menuju ke telapak tangannya, sebuah bola api muncul lalu memanjang sesuai keinginan Orion.
Ia membuatnya memanjang dengan dua ujung yang meruncing tajam. Begitu selesai, ia membuatnya melesat cepat namun sayang pria itu sadar. Ia mengelak dengan mudah, lantas kembali berlari.
Setelah mengelak tanpa luka sedikitpun, wujud pria itu menghilang seolah mencair masuk ke dalam jalanan beraspal.
Tap! Orion berhenti berlari. Ia melihat ke sekitarnya dan tidak ada seorang pun terlihat. Ia kemudian mendekatkan telinga ke jalanan beraspal, tidak ada suara yang khusus. Keberadaan pria itu sepenuhnya menghilang.
Tidak banyak pepohonan besar di sekitar sini. Orion ragu kalau pria itu ingin mengelabuhi dirinya. Yang ada hanya dinding-dinding rumah mewah, tinggi dan besar. Terik sinar matahari serta semilir angin terasa panas menyengat ketika Orion kembali melangkah dan mencari keberadaannya.
Bayangan mengarah barat, bergerak bersamaan dengan awan di langit biru.
Splash! Suara gemericik air, seseorang yang tinggal di perumahan tersebut sedang menyiram jalanan dengan air melalui selang. Ketika itu, hal yang Orion sadari adalah bayangan yang bergerak secara tak wajar.
“Kenapa ada bayangan yang tak searah!? Itu juga bukan dari air yang sembarang mengalir, bukan?” pikirnya dengan jeli.
Orion melesat ke arah ke mana bayangan itu pergi. Beberapa saat kemudian bayangan yang bergerak berhenti dan memunculkan wujud seorang pria bermasker hitam.
“Ketemu kau!” pekik Orion dengan suara yang lantang.
Orion kemudian berlari dengan kecepatan penuh menyusul pria tersebut. Tampak pria ini sangat panik karena dikejutkan olehnya. Mereka berakhir dalam kejar-kejaran yang tak ada hentinya.
Ketika suatu waktu, Orion mencobakan teknik memperluas jangkauan serang. Ia merentangkan kedua lengannya sambil berlari dan mengeluarkan api di kedua tangan. Ia berniat membuat teknik berkelas semacam itu, namun sayangnya begitu ia melemparkan kekuatannya sendiri, tiba-tiba saja lenyap saat sampai ke bayangan pria tersebut.
“Ah? Ternyata memang sangat susah?”
Jika dipikir-pikir, saat pertama kali ia pernah mengeluarkan teknik ini pun juga terbilang masih belum sangat sempurna.
“Orang itu! Mau sampai kapan dia berlari dariku!?” amuk Orion.
Berbelok di sebuah gang, Orion kembali mempercepat laju larinya. Dan sangat beruntung, ternyata pria bermasker salah mengambil jalan. Mereka berada di jalan buntu dengan Orion yang menghadang satu-satunya jalan keluar.
“Jika apa yang aku pikirkan benar, kau adalah orang yang menanam jarum kepada anak perempuan?” Orion bertanya seraya mempersiapkan diri dengan api yang berputar mengelilingi lengan kirinya.
Berharap ia mendapatkan jawaban tapi sepertinya akan percuma jika terus menunggu. Terutama saat pria yang berada di hadapannya ini menatapnya dengan menaikkan sebelah alis. Seolah mengejek.
“Baiklah, aku tidak akan menunggumu memberi jawaban. Yah, setiap pelaku kejahatan juga takkan mengaku dengan mudah. Bagaimana jika aku memaksamu?” pikir Orion.
Menggunakan kegesitan dalam hal melompat lebih cepat, ia mendekat dalam satu langkah sembari melayangkan tinju.
Bruak!! Dinding lah yang ia pukul hingga membuatnya retak, dentuman keras membuat jalanan sedikit bergetar. Tubuh pria tersebut tembus ke dinding seolah-olah itu memang bagian dari tubuhnya. Api yang seharusnya tidak mudah padam hanya karena Orion meninju dinding itu dengan keras justru lenyap dalam sekejap.
“Ternyata bukan karena cara aku payah mengendalikannya melainkan karena kekuatan orang ini, ya.”
Pria itu menembus dinding dan ikut lenyap seolah tertelan bayangannya sendiri.
***
Percuma saja kalau terus dicari, itulah yang Orion pikirkan saat ini mengenai pria bermasker hitam. Kekuatannya yang aneh membuat ia bimbang, dan berpikir bagaimana cara menghadapinya kalau kekuatan Orion saja lenyap karena itu.
Orion pun balik ke rumah mewah itu, sekilas ia melihat dari luar pagar dan merasa dirinya tidak lagi dibutuhkan ia pun memutuskan untuk pergi.
“Nak! Kemarilah!”
Namun, Hendrik memanggil Orion untuk kembali masuk ke dalam. Di dalam, Orion disuguhi banyak makanan di atas meja.
“Ini apa?” tanya Orion. Dengan mata terbelalak terkejut melihat pemandangan satu ini.
Nampak berkelas, bahkan tampilan semua makanan di atas meja serasa seperti di restoran mewah. Baru pertama kalinya, Orion menghadapi hal ini. Sehingga ia tak bisa berhenti menganga.
“Aku menyuguhkan banyak makanan, karena aku pikir kamu lapar. Makanlah, jangan sungkan. Dan tentu saja aku tidak hanya menyuguhkan makan atau minuman saja, bayaran yang telah membuat putriku aman sudah kukirim ke tempat Arutala berada.”
“Anda tidak perlu repot-repot. Saya tidak bisa menerima ini semua,” ucap Orion yang benar-benar sungkan.
“Tidak apa-apa. Berkat kamu, aku jadi sehat daripada sebelumnya.” Bahkan putri Hendrik pun ikut menyapa dan menyuguhkan hal lainnya.
“Ah, Anda sudah tidak merasa ada yang sakit?” tanya Orion pada Ayu.
“Aku sudah baik-baik saja. Lalu, jangan terlalu berbicara formal padaku,” pintanya.
“Ba-baik,” ucap Orion terbata-bata.
Karena sudah banyak disuguhkan begini, apalagi mereka selalu menatap Orion dengan wajah sumringah dan terus tersenyum, membuat Orion tak mampu pergi.
Ia pun memakan makanan secukupnya, setelah dirasa sudah kenyang barulah berhenti.
“Sudah tidak mau makan? Sudah kenyang, ya?” pikir Hendrik.
“Iya, terima kasih atas hidangannya. Saya ingin bertanya, ini mengenai hal yang berkaitan dengan masalah putri bapak. Apa tidak masalah membicarakannya di sini?” tanya Orion.
“Silahkan saja kalau ingin bertanya.”
“Baiklah kalau begitu. Saya hanya ingin tahu, seseorang yang datang terakhir sebelum saya kemari itu siapa? Jika berkenan, Anda memberitahukannya pada saya.”
Memutuskan untuk bertanya, siapa yang terakhir kali datang kemari sebelum dirinya, mungkin akan mendapatkan titik pencerahan mengenai identitas pria tersebut.