ORION

ORION
Orang yang Tak Ingin Ia Hadapi



Kedatangan rekan Chameleon yang sebelumnya tidak muncul. Orang yang menempati posisi ke-2 setelah Chameleon. Mr. Iki Gentle. Dulu saat Orion masih hidup, pria itu dikenal sebagai pembunuh bayaran.


Orion menggunakannya untuk membunuh dirinya sendiri. Itulah mengapa ingatan itu masih melekat di antara keduanya. Apalagi Mr. Iki Gentle yang sampai bermimpi masa lalu itu kembali.


Mr. Iki Gentle melubangi atap mobil lalu masuk dan membuka pintu lalu melempar tubuh Orion keluar dari sana. Tidak lama kemudian, Mr. Iki Gentle ikut keluar. Tak seorang pun bisa bereaksi secepat itu, mereka yang kalah cepat hanya terdiam menhan napas.


Di satu sisi yang sama. Rupanya nama Orion yang disebut dan itu tertuju pada seorang pria yakni Orion sendiri pun menjadikan para Ketua terutama Ketua Dharmawangsa mencurigai sesuatu yang disembunyikan oleh Gista.


Dan yah, itu benar. Gista memang menyembunyikannya bahkan sampai saat ini pun.


“Aku tidak akan mengentikan mobil ini.”


“Ya, Anda benar. Bawahan seperti dia mudah didapatkan di mana saja.”


“Tipikal orang dewasa seperti inilah yang aku benci. Ck.” Endaru membatin dan berdecak kesal.


Orion yang kini jatuh terguling-guling ke jalanan beraspal hanya berpasrahkan diri. Lantaran dirinya sulit untuk menjaga keseimbangan tubuh sementara tubuhnya saja belum pulih seutuhnya.


Duk!


Orion berhenti saat tubuhnya tertahan dengan polisi tidur saat itu.


“Aduh, pinggangku rasanya nyeri berkali-kali lipat dari sebelumnya. Ah, sakit sekali.”


Orion terus-menerus mengerang kesakitan dan itu membuat orang sekitar jalanan kaget. Tampak ada salah seorang yang hendak menghampiri Orion saat itu. Tetapi mendadak ia berhenti.


“Dia datang?!”


SWUUUSHH!


Angin berembus dari depannya, usai Orion bangkit jalanan yang sebelumnya ia gunakan tuk berbaring kini telah berlubang. Untuk sesaat Orion mematung saking terkejutnya, otaknya sempat berhenti berpikir.


“Serangannya tidak terlihat. Sekilas terasa seperti angin Mahanta tapi angin yang ini bisa melubangi segala hal ya?” gumam Orion lantas bangkit dari sana.


Semua orang yang tidak sengaja memperhatikan pun hanya terdiam. Mereka tidak tahu apa yang sebenarnya terjadi karena saat itu langit masih gelap gulita. Tiada penerangan yang memperlihatkan apa yang sebenarnya terjadi saat itu.


Mr. Iki Gentle melesat cepat ke arahnya, segera Orion mengangkat lengan berpedang ke depan dan menangkis suatu benda yang tajam.


“Katanya ingin bicara tapi kenapa menyerang?” tanya Orion.


“Ya, maaf saja. Habisnya aku jarang sekali bergerak semenjak klien terakhirku yang aneh waktu itu. Hm, sudah berapa tahun ya? 20 tahun? Atau 25? Yah, berapa pun tanggalnya kita sudah lama tidak bertemu.”


Pria itu kemudian menarik senjatanya.


“Tapi tidak pernah aku sangka kalau ternyata kau adalah rekan Chameleon. Pastinya kau kuat sekali. Dan seperti yang aku ketahui, kau sama sekali tidak punya belas kasih sedikitpun,” ujar Orion, ia sedikit mengalihkan pandangan namun tetap melirik ke arahnya.


“Kau ini 'kan klien terakhirku sekaligus targetku. Tapi kenapa kau hidup kembali?”


“Apa urusanmu bertanya begitu. Ngomong-ngomong apakah itu saja yang ingin kau bicarakan denganku?” sahut Orion ketus dan tetap berjaga-jaga dengan pedangnya.


Kemudian Mr. Iki Gentle tersenyum seolah puas akan sesuatu dari Orion sekarang ini. Ia kemudian menyimpan belati itu ke dalam saku pinggangnya.


“Semua orang yang hidup kembali setelah kematiannya pasti ada harapan atau masalah yang belum dituntaskan. Bukankah begitu kata orang tua?” tutur Mr. Iki Gentle seraya menundukkan kepalanya.


“Kau sendiri sudah orang tua. Dan pastinya kau sama sepertiku. Lalu apa urusanmu bertanya begitu? Apakah kau berpikir bahwa seharusnya aku mati kembali sesuai kesepakatan yang dulu kita bicarakan? Tapi itu mustahil.”


“Ya, seharusnya aku membunuhmu kembali. Saat ini juga!”


Mr. Iki Gentle mengeluarkan senjata api dari balik lengan kemeja, lalu ia menodongkannya tepat di dahi Orion yang kini menatap tajam ke arahnya.


“Benar. Harusnya sih begitu. Sesuai permintaan Chameleon,” ucap Mr. Iki.


“Tidak menyebutnya Tuan seperti rekan dan bawahannya yang lain ya? Apa dia berada di pihak yang sama seperti pemain kecapi itu?” pikir Orion membatin.


Situasinya cukup menegangkan. Seseorang yang sebelumnya hendak menolong Orion saat itu pun perlahan mulai melangkah mundur ke belakang. Tampak ia sangat ketakutan hingga tubuh terus gemetaran.


Reaksi yang wajar apabila ada seseorang yang bertengkar, dengan senjata ibarat sekali pakai saja. Sekali ditarik pelatuk itu, maka habis sudah.


Namun tidak dengan Orion.


“Silahkan bunuh saja aku kembali,” ucap Orion berwajah serius seraya menggenggam senjata itu hingga menyentuh dahinya.


“Tetapi, setelah aku menyelesaikan urusanku dengan Chameleon terlebih dahulu,” imbuh Orion.


“Alasanmu hidup kembali, apakah itu karena mantan istrimu? Membalaskan dendam pada orang yang berselingkuh dengan istrimu? Atau rekan kerja yang mengkhianatimu? Ataukah—”


Slash!


Orion memotong senjata itu menjadi dua dalam sekejap. Seketika Mr. Iki Gentle tersentak, ia lantas membuang sisa senjata yang masih ada di genggamannya.


“Anakku mungkin sedang dalam bahaya. Jadi tolonglah untuk satu kali ini saja,” ucap Orion.


“Jangan berkata begitu seperti itu. Musuhmu takkan ragu memenggal kepalamu saat ini.”


Mr. Iki Gentle mengeluarkan belati itu kembali, mengayunkannya dengan mengepalkan tangan seakan menyerang dengan dua gerakan.


Syat!


Nyaris ia terluka karena gerakan darinya. Orion mengelak dengan memiringkan kepala, lalu ia menyeret kaki kanannya mundur.


“Naif untuk berpikiran bahwa musuhmu punya hati, Pak Orion Sadawira.”


“Aku yang dulu sudah mati. Lalu kenapa kau berniat membunuhku lagi? Ayolah, setidaknya cobalah untuk menutup mata,” ucap Orion.


“Jangan bercanda. Mataku sudah terbuka lebar dan melihatmu sekarang ini.”


Klang!


Kedua senjata itu kembali beradu, hempasan angin terbuat karena dorongan dari serangan mereka berdua. Orion dan pria itu sama-sama memiliki tujuan tertentu. Mengharuskan Orion bertahan hidup ketika ia harus berhadapan dengan pembunuh bayaran.


Orion memperpendek jarak ketika Mr. Iki kian menjauh untuk menggunakan serangan tak kasat mata itu lagi. Guna menghalaunya, ia beralih menggunakan tinju mengarah ke dagu dan Mr. Iki secara reflek mengayunkan belati ke arah pinggang Orion.


Srak!


Keduanya sama-sama terluka secara bersamaan serta menyeret langkah untuk mundur sementara. Mengulur waktu tidak akan membantu tapi jika ingin efektif maka harus menggunakan apinya.


“Api Abadi,” bisik Karura.


Dalam batin Orion menyahut perkataannya, “Berisik sekali kau Karura.”


Apa yang dikatakan Karura memang jauh lebih efektif. Tapi Orion enggan melakukannya. Jika ia melakukannya (membunuh) maka tindakannya itu sama saja seperti pembunuh bayaran yang ada di hadapannya sekarang.


Orion mulai menyebarkan api ke lengan kirinya. Tetap ia menggunakan tinju agar pertarungan berlangsung dalam jarak dekat. Bisa saja ia menggunakan pedang untuk menahan serangan dari belatinya namun tidak ia lakukan karena akan memakan stamina serta batas kekuatan Orion sendiri.