
☠BAB 79 Chameleon yang Menyamar
Sedangkan Orion terdiam membisu serta menatapnya kebingungan.
“Mahanta, apa yang kau bicarakan?” tanya Orion kebingungan.
Mahanta terdiam lantas ikut kebingungan karenanya. Tidak tahu apa maksud Orion, spontan Mahanta membalik pertanyaan itu.
“Apa yang aku bicarakan? Sepertinya kau lah yang aneh, Orion. Harusnya aku lah yang bertanya kenapa kau jadi seperti ini?”
Orion kemudian menoleh ke belakang, menatap Erik dan seketika Erik menggelengkan kepala. Erik tahu betul apa maksud lirikan Orion tadi, sebab Orion mencurigai dirinya yang kemungkinan besar telah menggunakan kekuatannya pada mereka.
Kalau Erik saja bukan. Lalu siapa?
Drap! Drap!
Orion berlari keluar meninggalkan kafe. Satu-satunya orang yang melakukan hal ini, ada satu orang yang terbesit dalam benaknya.
“Chameleon!”
Orang yang dapat mengubah wujud, entah sebagai benda atau hewan bahkan rupa manusia pun bisa ia rubah sesukanya. Jika benar Mahanta yang sebelumnya adalah Chameleon.
“Ke mana perginya?! Ya, ampun. Ini gawat sekali. Sudah terjebak di dalam dan sekarang aku kehilangannya. Tapi ...kenapa? Kenapa aku tidak menyadarinya?”
Jantungnya berdebar kencang, napasnya pun berat seiring ia terus berlarian mengelilingi sekitar kafe. Namun, tak ada seorang pun ia temukan.
“Aku saja tidak menyadarinya. Darah yang selalu membuatku bergerak tanpa sadar pun tidak bereaksi sama sekali. Apakah dia tidak berencana untuk membunuhku? Yang sudah berusaha mengorek info tentangnya.”
***
Di suatu tempat, berjauhan dengan lokasi kafe.
Terdapat dua orang, satu pria dengan satu wanita yang tengah berbincang-bincang. Keduanya tidak berekspresi sama, justru berbanding terbalik.
Wanita dengan wajahnya terdapat goresan, Sima. Ialah bawahan Caraka. Namun pria itu bukanlah Caraka atau siapa pun yang dikenali Orion.
“Anak itu, namanya Orion Sadawira, ya. Kukira siapa dan ternyata hanya anak cengunguk yang banyak maunya.” Pria itu tersenyum tipis.
“Saya akan melakukan apa pun, termasuk mengurus anak itu. Perlukah saya melakukannya?” Sima bertanya dengan menundukkan kepalanya.
“Ya, atau mungkin tidak?”
Berdeham seraya melirik ke belakang, kemudian ia tertawa kecil. Sima hanya terdiam dengan menunggu perintah dari pria itu. Mungkin tengah bertanya-tanya apa yang sebenarnya pria ini pikirkan sampai tertawa begitu.
Raut wajahnya sangat senang, sudut matanya menurun dengan menunjukkan sorot yang sedikit tajam.
“Sebenarnya aku ingin sekali berinteraksi dengan Anak Api itu lebih lama lagi, tapi situasi tidak memungkinkan. Ditambah lagi, berpura-pura menjadi pria baik itu tidak cocok untukku,” ujarnya kembali menatap Sima.
“Anak itu pernah melawan Tuan Caraka. Meski kekuatannya tidak seberapa, namun mungkin akan membahayakan untuk ke depannya.”
“Oh ya? Lalu saat dia melawan Tuan-mu itu, bagaimana caranya?” tanya pria itu.
Sima menjawab, “Awalnya dia tidak begitu peduli sehingga akan pergi jika Tuan Caraka membiarkannya. Tapi setelah Tuan Caraka menyerangnya, dia menjadi lebih waspada dan mungkin dia adalah tipe orang yang selalu berpikir ke depan untuk mengatasi masalah.”
“Anak itu seperti orang dewasa saja. Kebangkitannya itu mungkin dipengaruhi lingkungan sekitar. Aku jadi semakin tertarik dengannya,” ujarnya seraya tersenyum kembali.
“Namun, haruskah saya membiarkannya?” tanya Sima, ia tampak kecewa.
“Kalau kau merasa tak adil dengannya, lakukan saja semaumu.”
“Bukan begitu maksud saya. Anak itu memang pernah melawan Tuan Caraka akan tetapi hasil pertarungan itu berakhir karena Tuan Caraka kalah karena Pahlawan Kota dan Nona Arutala datang,” jelasnya dengan antusias.
“Wah, dia mendapatkan banyak bantuan,” ucap pria itu yang sedikit terkejut namun berpikir bahwa hal tersebut sudah sewajarnya.
“Tuan-mu terlalu ambisius. Melawan Nona Arutala saja tidak bisa apalagi Pahlawan Kota. Dasar,” gerutunya.
“Lakukan apa pun yang kau mau. Tapi aku sarankan, bunuhlah Anak Api yang sangat disayang-sayangi oleh Nona Arutala,” tukasnya memerintah.
“Baik, Tuan Chameleon.”
***
Mata Orion mencarinya ke mana-mana, namun sama sekali tidak ketemu apa-apa. Melainkan ia hanya mendengar suara seperti saat membuka resleting.
Orion menoleh ke belakang dan kemudian tersentak saat sebilah pisau kecil nyaris menggores lehernya.
“Akh!”
Tap! Kaget ia berteriak, lantas melangkah mundur dengan menatap ke arahnya.
Wanita bernama Sima. Terakhir kali mereka bertemu adalah saat mereka berada di rumah sakit besar, tempat di mana Caraka berkuasa. Dan sekarang datang mengincarnya?
Sebilah pisau yang nyaris menggores leher Orion itu kemudian menyala-nyala. Ada setiap goresan keabuan muncul di pegangan serta mata pisau itu sendiri. Sima meleset pada serangan pertamanya.
“Itu tadi kebetulan, lain kali tidak akan seperti sebelumnya.”
Cruak!
Dan benar saja apa yang dikatakan oleh Sima. Begitu ia melesat lagi, Sima mengayunkan pisau dengan cepat dan mampu melukai wajah Orion.
Lukanya cukup dalam sehingga darah terus keluar dengan deras. Rasa sakit pun menjalar hingga membuat tubuhnya bergidik merinding.
“Kenapa kau mengincarku?”
“Tidak ada jawaban selain, "Musnahlah kau!", di sini!”
Wanita yang sangat agresif, perkataannya saja sudah seperti robot mekanik. Namun, dengan begitu Orion pun tak lagi sungkan dan mengetahui maksud dari serangan Sima saat itu.
“Entah kau ini Chameleon lagi atau bukan. Tapi kekuatanmu itu persis dengan wanita yang membawa kabur Caraka,” ucap Orion.
Kedua bilah pedang pendek muncul di kedua lengannya. Ia menyilangkan lengan dan kemudian melangkah ke depan bersamaan dengan Sima.
Trang! Kedua senjata itu beradu. Suara itu membuat telinga mereka berdenging sesaat, tapi serangan demi serangan demi menembus pertahanan satu sama lain terus dilayangkan.
Tanpa jeda, tanpa sedikitpun celah. Itulah yang terlihat dari kedua mata Orion yang membara.
Jarak dekat jadi mustahil untuk Orion. Melawan Sima yang menggunakan pisau kecil seharusnya tak jadi masalah.
“Tapi itu keras sekali!” gerutu Orion.
Tap! Orion melangkah mundur dan membuat jarak yang cukup jauh di antara mereka. Lantas bilah pedang milik Orion pun mengeluarkan api di bagian mata pedangnya.
Sima kembali bergerak lebih dulu, ia mengayunkan senjata dengan cekatan dan membuat luka di atas luka Orion itu kembali terbuka.
Kalah cepat bukanlah masalah bagi Orion. Sebab hal yang ia incar adalah ketika Sima mendekat lagi.
“Ceroboh,” gumam Orion.
Semula api yang berada di mata pedang seketika memanjang dan membakar lengan Sima. Api itu merambat dengan cepat hingga mengarah kepalanya.
“Orion!”
Di saat yang sama, Mahanta yang mendengar keributan pun keluar. Berlari menghampirinya lantas menarik tubuh Orion mundur.
Swooshh!
Begitu mudahnya tubuh Sima terdorong mundur ketika Mahanta mengeluarkan anginnya.
“Siapa kau?!” Mahanta bertanya dengan berteriak keras.