
☠BAB 105
Lalu, apakah kekuatan Chameleon sama?
“Katakan apa tujuanmu?” Orion bertanya dengan tatapan dingin.
Kedatangan Chameleon yang tak terduga. Suasana di sekitar sana tak lagi sama seperti sebelumnya. Semula tenang berubah menjadi penuh ketegangan. Orion cemas dan terutama saat melihat ke sekitar yang berubah drastis.
Lantaran tak ada seorang pun yang bergerak. Serangga bahkan angin pun tidak. Seolah ruangan di sekitar taman telah sepenuhnya diisolasi oleh pria yang ada di depan Orion saat ini.
“Katakan apa tujuanmu, Chameleon?”
Sorot mata yang tajam dengan posisi bersiap menyerang. Begitu pula dengan Chameleon, kapan saja ia dapat menggunakan kekuatannya pada Orion.
“Api Abadi, itulah tujuanku.”
“Maaf saja itu sudah ada di dalam tubuhku. Tak bisa aku memberikannya begitu saja,” jawab Orion dengan dingin.
“Tentu itu benar. Karena jika Inti-nya aku ambil maka kau akan mati lagi,” tukas Chameleon sembari menganggukkan kepala.
“Kalau sudah tahu, lalu kenapa? Tenang saja, aku takkan mengusik dirimu atau apa. Aku bahkan tidak mempunyai tujuan mulia seperti Organisasi Utama NED ataupun Pahlawan Kota.”
“Kalau begitu, bolehkah aku menggunakanmu?” tanya Chameleon sembari menyangga dagu dengan tangannya.
“Apa maksudmu?” tanya Orion tak mengerti.
“Aku membutuhkan kekuatanmu. Maka dari itu, bergabunglah padaku,” ujar Chameleon seraya mengulurkan tangan padanya.
Ini ajakan temu sekaligus mengajak kerja sama. Jika dipikir, satu-satunya cara untuk menghindar bahaya adalah menolaknya namun jika ia menolak maka apa yang akan terjadi?
Bisa saja Chameleon akan melakukan sesuatu terhadap keluarganya yang telah hidup kembali. Atau dengan dirinya sendiri, diperalat, bahkan dirantai seperti seekor anjing.
Kemungkinan terburuk yang lebih parah.
Maka pilihan cerdas, tak lain bergabung dengannya?
“Aku tahu kau sedang memikirkan banyak kemungkinan jika menolak ataupun menerima ajakanku. Tapi, akan kuberi waktu.”
Tap, tap!
Chameleon mendekati dirinya dengan perlahan. Seringai yang nampak serta sudut tatapan yang menurun, membuat Orion gelisah sampai bercucuran keringat.
Kraaaakk!!!
Tanah berguncang dan kemudian terbelah menjadi dua. Memisahkan Chameleon dengan Orion.
“Apa yang dia dilakukan!?”
Lalu, setelah beberapa saat tanah berhenti berguncang. Chameleon menggunakan api. Seperti selaput energi, menggantikan bilah. Lantas setelah Chameleon mengayunkan tangannya, senjata itu kemudian melesat ke arah Orion.
“Eh!?”
Karena terkejut, ia pun segera berlari menghindar namun senjata itu masih mengejarnya. Tanpa memperhatikan arah, salah satu kaki Orion tersandung sebuah batu.
“Haha, bahkan orang dewasa saja kesulitan apalagi anak kecil sepertimu. Aku masih bingung, kenapa kau bisa mengendalikan Api Abadi?” gerutu Chameleon yang tetap tenang berdiri di tengah-tengah taman.
“Aku tak tahu apa rencanamu sampai instingku berkata untuk segera pergi menjauh darimu. Namun hati nuraniku berkata sebaliknya,” batin Orion.
Tap!
Orion bangkit dan kemudian mendorong kakinya untuk melesat lebih cepat. Percepatan api yang berputar di kedua kaki, membuatnya berlari lebih gesit.
Jejak-jejak kaki berapi tertanam pada rerumputan sampai menjadi hitam. Bekas yang sulit dihilangkan itu sepadan dengan hasil serangan yang dapat ia lancarkan padanya.
Srat!
Tanpa pukulan, ia seolah memanjangkan lengan dengan sebilah yang tajam. Menggores wajah Chameleon, sontak terkejut dan sulit bereaksi karena hal itu.
Meski terlambat bereaksi, Chameleon bertindak secepat mungkin. Menggenggam tangan Orion lalu menggunakan tangan kiri tuk membalas serangan mengenai ulu hati.
“Ugh!”
Orion mengerang kesakitan. Tubuhnya tergantung dengan tangan yang masih dicengkram oleh Chameleon.
Menyerang secara fisik saja, Orion dikalahkan dengan mudah. Dirinya tak dapat berkutik, apalagi tenaga orang dewasa melampaui tenaga anak kecil.
“Apa benar, kau menguasi Api Abadi? Meski aku merasakannya namun kenapa seperti sedang bersembunyi?” Chameleon kembali bertanya.
“A-akh!”
Membuka mulut saja sudah kesusahan. Napasnya sesak, pandangan Orion pun memburam hanya karena tatapan Chameleon yang seolah menatap Orion lebih dalam. Seperti Orion sedang menatap ke jurang tak berdasar.
Namun, Chameleon beralih ke belakang Orion. Entah apa yang dilihatnya. Hanya sekilas, seseorang keluar dari bayangan Orion.
“Hah? Akhirnya muncul juga?”
Bruk! Ia menjatuhkan Orion lalu bergerak mundur. Seorang pria dengan tubuh tinggi muncul dari dalam bayangan, yang tidak lain adalah Ketua Irawan. Ia muncul dan berwajah kusut ketika menatap Chameleon.
“Sudah lama tidak bertemu, ya? Janu!”
Ada apa ini? Kenapa mereka terlihat sangat akrab terutama ketika Chameleon memanggilnya nama depan. Orion seketika tersentak lantas melirik ke belakang lalu beralih pandangan ke Chameleon lagi.
“Jangan melakukan itu pada anak-anak. Kau sudah keterlaluan, Chameleon. Bahkan kau sampai membuang anak buahmu sendiri!” ketus Ketua Irawan.
“Ketua Irawan! Kenapa bisa Anda!?”
Orion sebelumnya masih terkejut, kenapa bisa Ketua Irawan ada di belakangnya sedangkan sekitaran mereka masih dalam situasi waktu terhenti.
“Aku meminjam kekuatan milik pria dengan mulut dijahit. Aku barusan bertemu dengannya yang sedang bersama Nona Arutala,” tutur Ketua Irawan dan menatap Orion ramah.
Ekspresi yang berbeda dalam satu waktu. Pria ini benar-benar sama tidak bisa ditebaknya seperti Chameleon.
“Sudahlah, Janu. 'Kan hanya anak kecil?” ujar Chameleon sambil mengangkat bahu.
“Hah? Kau sama sekali tidak berubah. Inilah mengapa aku sangat menjadi was-was. Kau datang menemui anak ini karena Api Abadi, bukan? Tapi sayang sekali, kau takkan bisa mendapatkannya!”
Keduanya mengeluarkan serangan yang sama berupa bayangan. Saling menyerang satu sama lain bahkan gerakan mereka nyaris diikuti mata telanjang. Ini seperti ketika ia melihat cahaya yang mustahil tuk dilihat.
“Ketua Irawan datang karena tahu Chameleon sedang mengincarku. Sekarang aku jadi mengerti kenapa dia selalu mengangguku dari kemarin,” gumam Orion.
Setiap bayangan hitam bergerak dan hanya mengincar satu arah. Yang terkadang menggunakan bayangan sendiri dan terkadang menggunakan bayangan lawannya.
Akan tetapi raut wajah Chameleon terlihat sedikit berubah. Mungkin ia kurang puas dengan pertarungannya.
“Aku datang untuk berbincang dengan Orion saja, kok! Kenapa kau datang mengangguku!?”
“Jelas karena kau ingin memperbudaknya. Buat apa kau berbincang dengannya kalau tujuanmu adalah itu!”
Srat! Srat!
Setiap bayangan yang dibentuk menjadi beberapa bagian melesat dari arah belakang menuju ke Chameleon. Begitu pula dengan Chameleon melakukan hal yang sama. Sehingga terjadi bentrokan antar ujung dengan ujung sampai menjadi pecah berkeping-keping.
Persis seperti kaca yang mengkilap. Serpihan bayangan itu terjatuh kemudian melebur dan menjadi satu dengan tanah. Guncangan tanah kembali terjadi.
Tap!
Sebelum Chameleon melakukan sesuatu, Ketua Irawan lekas menuju ke arahnya dan memukul wajah Chameleon.
Chameleon jatuh tersungkur setelah menerima pukulan darinya, namun tak lama setelah itu tubuhnya berubah menjadi pasir lalu hilang diterpa angin.
“Aku hanya mengajak Orion bukan dirimu,” tutur Chameleon sembari menepuk pundak Orion dari belakang.