
Sebenarnya, mati dibunuh dengan mati bunuh diri itu berbeda. Dari segi caranya juga bagaimana merasakan kematian itu sendiri.
Dan kini, sosok Orion yang benar-benar menginginkan kematian namun insting dari darahnya mengalir, membuatnya bertahan hidup menggunakan taruhan nyawanya.
Semburat-semburat api yang muncul dari jari jemari Orion perlahan mulai membakar lengan Eka serta rambut Orion pada saat yang sama.
“Ck, dasar tidak sabaran!”
Eka mendecakkan lidah lantas menarik tangan yang separuhnya sudah menjadi abu.
“Kepalaku selamat,” gumam Orion dengan menundukkan kepala.
Terbesit suatu pikiran, bagaimana jika ia mati pada saat itu? Bagaimana rasanya sampai membuat tangannya sendiri gemetar takut.
Sedikit lucu kalau dipikir lagi.
“Orang yang benar-benar menginginkan kematian namun sayangnya takdir tak berjalan sesuai rencana. Itu kalimat yang pas untukmu Orion,” tutur Eka.
Dengan berdiri di hadapan Orion. Api hijau itu kembali membara di sekitar tubuhnya dan kemudian membentuk seekor ular tanpa sisik dengan lidah panjang terjulur-julur. Ular itu mengelilingi tubuh Eka lalu berhenti saat kepalanya mencapai pundak Eka.
Tidak lama kemudian, separuh tangannya yang sudah menjadi abu pun kembali sedia kala. Itu membuat Orion sangat terkejut. Ia teringat sesuatu dari perkataan Eka sebelumnya.
“Kau itu tipe monster, ya?” celetuk Orion tanpa sadar, ia lantas membelalakkan kedua mata dan bertukar tatap dengan ular itu.
“Wah, kau dengan mudah menebaknya. Padahal Pejuang NED yang lain menebaknya sebagai tipe baru, tipe penyembuh atau semacamnya. Tapi tak kusangka kau memiliki pendapat lain, ya.”
“Semua kekuatan yang bisa membalikkan hukum dunia, sudah pasti orang-orangnya adalah monster. Monster yang lebih mengerikan dari monster dari mitologi,” sahut Orion seraya mengeluarkan kekuatan api di tangan kirinya.
“Kau ingin melawanku? Kau yakin? Tidak serius, 'kan?” pikir Eka seraya mendekat pada Orion. Ia menatapnya begitu dalam, sorot mata itu terlihat sangat tajam dan mengerikan.
“Aku bisa saja mati di tanganmu, dok.”
Justru jawaban Orion terdengar menantang. Ia melangkah mundur sekali dan mengobarkan api lebih besar. Angin semilir melewati celah jendela membuat api semakin besar.
“Aku ingin membunuh orang ini tapi bukan karena keinginanku melainkan keinginan darah yang mengalir. Sebisa mungkin, aku harus menjauhinya sambil berjaga-jaga,” pikir Orion membatin.
Di kala, malam akan tiba. Rona matahari terbenam yang bercahaya sangat berkilau.
Tap! Tap! Orion melangkah mundur dengan api yang masih menyala. Lalu melompati ranjang dan kemudian naik ke jendela. Kobaran api itu mengenai setengah wajah Orion di saat ia membuka jendela lebar-lebar.
“Dr. Eka. Di sini, saya dirawat di lantai yang cukup tinggi, ya?” ujarnya sambil melihat ke bawah luar jendela.
Sangat tinggi, Orion juga tidak berniat melompat dari sana. Jujur saja, ia kini berada dalam batas kesadaran yang sulit dikontrol. Bahkan pandangannya sedikit demi sedikit mulai memburam seiring ia terus-menerus menggunakan kekuatannya.
“Kau tidak akan melompat benar?” ujar Eka seraya memiringkan kepala. Raut wajahnya sekilas terlihat cemas, namun Orion tahu bahwa pria itu sebenarnya gila.
“Jangan menunjukkan wajah yang sok cemas begitu. Kalaupun dokter tahu apa pun tentangku, harusnya kau sekarang tahu aku berniat untuk apa,” sahut Orion dengan senyum masam.
“Jangan ...jangan pergi, Orion. Janganlah pergi, kau masih menjadi pasienku,” ucap Eka bernada rendah. Ia menekuk kedua alis dan menatap sendu ke arahnya.
Klak! Salah seorang suster membuka pintu kamar.
Suster melihat pasien yang tengah berdiri di jendela dan seorang dokter yang berdiri membelakangi ranjang. Sontak, keduanya terkejut, beruntung suster itu tidak melihat kekuatan mereka berdua.
“Dr. Eka! Apa yang terjadi? Hei nak! Cepat turunlah!”
Suster itu sangat panik sampai tangannya gemetar, ia hendak meraih Orion namun di satu sisi juga takut. Kemudian beralih ke Dr. Eka untuk meminta tolong agar pasien tersebut tidak melakukan apa-apa.
“Dr. Eka! Anak itu! Anak itu, saya takut dia akan melompat! Tolong lakukan sesuatu!” pintanya seraya menarik ujung lengan jas Eka.
“Baik-baik. Saya akan menurunkan anak itu. Tenang saja, dia akan aman selama saya ada di sini. Dan coba lihat?” celoteh Eka dengan wajah bahagia.
Ia kemudian menunjuk Orion yang terkejut. Lalu berkata, “Orion, sudah pulih kembali. Dia anak yang sangat lincah, gesit dan punya pemikiran yang lebih matang. Benar-benar sempurna.”
Eka tersenyum menampakkan gigi gerahamnya. Berkata seperti itu seolah tak terjadi sesuatu pada Orion, justru suster itu semakin panik.
“Tapi, dok! Dulu 'kan ...”
“Ya, tenang. Tenanglah.”
Eka lantas menghampiri Orion lalu mengangkat tubuhnya dan membaringkan Orion ke ranjang. Tak hanya itu, ia bahkan menutupi tubuh Orion dengan selimut.
“Ahhh, syukurlah. Saya benar-benar berpikir ...ah, saya takut, benar-benar takut ...” gumam suster seraya menutup wajahnya sampai menangis.
Eka mendekatkan bibir ke telinga Orion. Berbisik lirih padanya dengan nada mengancam, “Hidup dan matimu akan aku kendalikan.”
Tubuh Orion bergidik merinding. Tatapannya tak beralih pada wajah Eka yang sangat dekat. Napas dan detak jantungnya menggebu-gebu seolah ia berlari marathon.
***
Suasana jadi tenang sedikit setelah kepergian Eka dan suster itu dari kamarnya. Namun tidak dengan perasaan Orion saat ini, semua luka yang ia derita benar-benar pulih seperti katanya. Baik fisik maupun mental, meskipun ia sempat menerima serangan tak langsung dari Eka.
Identitas Jhon saja masih meragukan, sudah begitu muncul orang tak terduga? Hah, rasanya membuat Orion sakit kepala.
“Orang-orang g*la,” gumam Orion.
Ia sebentar-sebentar memejamkan mata. Kemudian menatap langit senja yang jingga dan perlahan warnanya memudar seiring waktu. Matahari akan terbenam, Orion melihatnya begitu jelas dari jendela kamar ini.
“Aku tak bisa terus berada di sini. Sampai kapan orang-orang akan datang menjemputku? Tapi, apakah benar mereka akan membiarkanku pergi begitu saja? Terutama untuk ...dokter sinting itu.”
Situasi jadi runyam. Kondisi Orion membaik namun ia telah terjatuh di sarang musuh. Jhon, Eka lalu Caraka. Ada kemungkinan ketiga orang ini berencana melakukan sesuatu padanya.
Tapi apa?
“Darah itu ...apakah dokter sinting itu tidak akan memberitahukannya pada Caraka? Meera saja sudah tahu apalagi Gista yang tahu dari awal. Kehidupanku terancam, tapi kekuatanku belum pulih dengan benar.”
Semua ini mungkin takkan terjadi jika ia kembali bangkit. Itulah yang terbesit dalam benaknya.
“Ah, apa sih? Aku ingin mati tapi juga tidak. Dan, adakah satu cara untuk meningkatkan kekuatan ini dalam waktu singkat? Tidak mungkin.”
Orion kemudian menggelengkan kepala dengan kuat dan kembali bergumam, “Aku harus keluar dari sini. Sebelum dokter sinting itu kembali lagi.”