
Situasi di dalam sudah lebih tenang dari sebelumnya. Pejuang NED kali ini memiliki kekuatan yang mengendalikan lawan yang dalam emosi naik-turun. Hal itu memang sedikit hal kecil dari sebagian kekuatan yang ada. Akan tetapi, jika terkena barang sekali sebentar saja pasti akan cukup fatal bahkan untuk Pejuang NED terkuat sekalipun.
Kapan saja dengan kekuatan itu, bisa saja ia mengendalikannya sebagai boneka bertarung. Kekuatan itu cukup mengerikan untuk dimiliki seorang wanita yang berusia sekitar 40 tahun.
Tak!
Sebuah foto berbingkai jatuh dari genggamannya ketika wanita itu dibawa oleh salah satu anggota Mahanta. Foto seorang pria.
“Siapa ini?”
Mahanta mengangkat foto itu. Awalnya ia tak menyadari apa-apa, akan tetapi setelah itu ia baru sadar bahwa foto ini sangatlah familiar baginya.
“Sekilas, ini terlihat seperti Orion. Waktu saat insiden di hotel, aku tahu dia adalah seorang pria dewasa tapi aku tak pernah melihat wajahnya secara langsung.”
Karena masih meragukan foto itu, ia pun mulai menggeledah ke sekitaran ruangan. Yang di mana ada banyak rak lemari kecil dengan barang yang berserakan di sekitar sana.
Tak ada catatan lain selain catatan pekerjaan. Identitas dari wanita itu pun sama sekali tidak ditemukan. Yang ada hanyalah gumpalan kain yang besar tergeletak di sudut ruangan.
“Bau busuk berasal dari sana. Kenapa aku baru menyadarinya,” gumam Mahanta seraya berjalan menghampiri benda itu.
Ketika Mahanta membuka gumpalan kain tersebut, ia menemukan sebuah jasad wanita remaja. Terkejut, ia pun memanggil salah seorang anggotanya.
“Hei, siapa pun yang masih ada di luar! Cepat kemari!” teriak Mahanta membuat semua bawahannya terkejut.
Drap! Drap!
Mereka bergegas menghampiri Mahanta. Terkejut sekaligus jijik menghadapi jasad itu, yang sudah membusuk bahkan hampir menjadi tulang-belulang.
Banyak serangga seperti kelabang di sana. Mahanta takkan tinggal diam saja dan segera membunuhnya selagi belum melarikan diri.
“Tuan Mahanta. Siapa dia?”
“Karena kalian begitu penakut, makanya jadi terlambat tahu. Siapa lagi kalau bukan keluarga mereka. Dan aku butuh bantuan, untuk menyelidiki identitas mereka dari rumah ini.”
“Baik. Saya akan memeriksanya. Secepat mungkin!” seru mereka berdua secara bersamaan.
Rumah yang sudah ditinggal bertahun-tahun. Ada beberapa karat dan kamar mandinya berlumut. Rumah yang kacau, berantakan, prengus dan tidak ada satupun identitas yang terungkap. Satu berkas tentang mereka saja tidak ada.
Brak! Brak!
Tampaknya anggota Mahanta sangat bekerja keras dengan semangat. Mereka bahkan sampai membanting beberapa barang yang berat diangkatnya.
“Kalian menemukan sesuatu?” tanya Mahanta seraya menyilangkan kedua lengan ke depan.
“Sepertinya tidak, Tuan.”
“Apa maksudmu "sepertinya"? Bicara yang jelas!” tegas Mahanta.
“Ba-baik! Maaf, yang saya maksud, tidak ada satu pun informasi mengenai identitas seseorang yang tinggal di rumah ini,” jawabnya dengan sedikit terbata.
Pada akhirnya ini menjadikan sebuah misteri baru bagi mereka. Mahanta kebingungan bagaimana cara mengetahui identitas orang yang telah kembali bangkit jika tak ada hal penting di sini.
“Orion juga sama. Identitasnya bahkan masih samar-samar. Dan mungkin hanya Nona Gista saja yang tahu.”
“Anda membicarakan tentang Orion Sadawira? Mungkin, beberapa orang mengenal mereka karena tempat tinggalnya juga ada di sekitar sini.”
“Oh, bagaimana kau bisa tahu? Nona Gista bahkan melarang kita untuk menyelidiki Orion, 'kan?” Mahanta bertanya.
“Saya sempat mendengarnya dari seseorang. Eh, tidak, maksudnya saya tidak sengaja menguping pembicaraan warga di sini.”
“Kalau begitu, coba tanyakan siapa pemilik rumah ini sebenarnya pada mereka.”
“Baik!”
Sebelum semuanya selesai. Justru datang hal merepotkan saat ini. Para wartawan sudah di depan rumah, mereka sangat berisik dengan berjuta-juta pertanyaan yang dilontarkan.
“Tolong katakan sesuatu!”
“Benarkah ada orang yang mengalami mati suri?”
Jurnalis pun menyiapkan catatan mereka guna mencatat segala hal yang akan dijawab oleh Mahanta, tetapi tak satupun pertanyaan mereka dijawab. Ia mengerutkan kening tanda kesal sejadi-jadinya.
“Tuan Mahanta, sepertinya Anda sangat kerepotan. Tetapi Anda sebaiknya mengatakan hal yang cukup saja,” ucap Fani berbisik.
“Aku tahu itu. Tapi mereka semua mendesak diriku. Andai saja ada Nona Gista,” tuturnya dengan sedih.
“Sampai kapan Anda akan terus mengandalkan Nona Gista. Jika seperti ini, Anda mungkin akan diboikot.”
“Jangan berkata sembarangan.”
Tap, tap!
Mahanta berjalan di antara kerumunan mereka. Sontak mereka mendorong-dorongnya dengan kuat, dan pertanyaan terus mengalir tanpa henti.
“Tolong katakan sesuatu, Pak!”
“Baiklah. Untuk sekarang, hanya ada mayat yang sempat dikira hidup. Tapi perlu diketahui itu hanya karena beberapa hewan liar masuk ke dalam rumah.”
Akhirnya Mahanta berbicara. Seketika semua wartawan tercengang, mereka menganga lebar.
“Bisakah Anda berbicara dengan jelas?”
“Ya. Sudah aku katakan sebelumnya. Mayat itu benar-benar tidak bergerak. Ada seseorang yang menggali pemakaman mereka dan seolah-olah meneror para warga,” jelas Mahanta.
“Apa semuanya sudah jelas!?” imbuhnya dengan suara tegas. Seketika para wartawan bungkam.
***
“Anda sudah bekerja keras,” ucap Fani memuji.
Tampaknya pertanyaan mereka terhenti bukan karena jawaban Mahanta melainkan karena ekspresi serta hawa yang memancarkan tidak terasa menyenangkan bagi mereka. Tapi itu sudah cukup. Dengan begini, mau tak mau mereka akan meliput dengan fakta yang tak bisa dibantah.
Setelah kepergian mereka, salah seorang anggota datang padanya.
“Tuan! Saya sudah melakukan apa yang Anda minta.”
“Kalau begitu, kita bicarakan di dalam,” kata Mahanta seraya melangkah masuk ke dalam rumah itu lagi.
Tidak lama setelah mereka masuk. Datang lagi beberapa anggotanya yang tampak memiliki banyak informasi.
“Jadi bagaimana?”
“Anda takkan percaya kalau saya katakan ini. Rumah ini adalah milik seorang pria yang bernama Orion Sadawira. Berusia sekitar 30 tahun ketika pria itu tiada.”
“Hm, begitu. Aku jadi mengerti,” gumam Mahanta.
“Daripada itu, Tuan. Saya justru menemukan hal lainnya. Kejadian satu jam yang lalu, ada saksi yang melihat wanita itu keluar dari liang kubur,” tukas Owen.
“Apa? Ada saksi yang bahkan melihat kejadian itu?”
Owen menganggukkan kepala lantas menjawab, “Ya, Tuan. Tidak hanya itu, bahkan saksi mengatakan bahwa wanita itu juga menggali makam seseorang kemudian membawanya masuk ke dalam rumah ini.”
Sontak terkejut, tak habis banyak cerita yang mereka bicarakan. Alhasil ini semua menjadi jelas mengapa ada mayat dan wanita dengan sehelai kain putih sebelumnya.
Di sela-sela perbincangan antar mereka. Sosok anak lelaki datang dan masuk ke dalam rumah tersebut. Dengan santainya ia berjalan masuk tanpa menghiraukan banyak orang di dalamnya.
“Orion!?”