
Kristal es tertanam dalam tubuhnya. Lalu memberontak keluar. Begitu Orion memegangnya dengan tangan Api Abadi, kristal itu justru membekukan tangannya.
DRRRKKKK!!
Tanah berguncang. Ketika mereka dalam kondisi terikat, tanah itu kemudian semakin terangkat ke atas. Begitu mereka sampai ke permukaan tanah, rantai itu terlepas dari mereka bertiga.
Segera Orion dan Endaru berlari menjauhi Chameleon yang kemudian terikat oleh rantai berupa warna keemasan. Ketua Irawan mengunci pergerakan pada kedua kakinya dengan gundukan tanah mengeras.
Lalu Ketua Meera menggunakan kekuatan air dan bergerak ke sekujur tubuh Chameleon. Perlahan-lahan air merembes masuk ke dalamnya.
“Ah, tidak. Chameleon sedang tidak dalam wujud tubuh aslinya melainkan ruh?”
Tentu semua terkejut. Lantas, Endaru segera menggunakan gaya gravitasi sebanyak puluhan kali lipat yang jauh lebih besar kekuatannya. Akan tetapi, tak berselang lama setelah itu, Chameleon berubah menjadi serpihan partikel.
“Lagi-lagi dia begitu,” gerutu Endaru.
Orion melihat ke sekelilingnya dan berusaha menemukan tubuh seseorang yang kemungkinan besar adalah tubuh Chameleon. Namun hasilnya nihil. Tak seorang pun yang tengah terbaring bahkan banyak penduduk yang berkerumunan juga berada kejauhan dari posisi mereka semua.
Jalan yang sepi, dengan banyak gedung di sekitar mulai bergetar akibat kekuatan Endaru yang sudah tidak dapat dikendalikan. Kehadiran Chameleon sebenarnya cukup tertekan karena itu, tapi dirinya tidak bisa dilihat dengan mata telanjang.
SWOSHH!!
Angin berembus kencang. Raka yang berada dekat dengan mereka, ia mengetahui keberadaan di mana Chameleon berada. Meskipun partikel itu tersebar ke penjuru daerah ini namun mampu ia temukan dengan mudahnya.
Di mana inti keberadaan sosok Chameleon semata.
Ketika itu, wujud Chameleon dengan identitas lain kembali muncul. Tanpa sesuatu yang mengikat tubuhnya, ia hanya berdiri di tengah-tengah mereka sembari berwajah kesal.
“Pada akhirnya datang juga, ya.”
SRAKKK!!
Lapisan es muncul tepat di bawah kedua kaki Orion, tampak lapisan es itu menjalar cepat ke arah Chameleon. Sebagian dari jalanan pun menjadi jalanan es yang berkilau di malam hari. Terlihat butiran-butiran menyerupai keping es di atas lapisannya lalu hawa dingin menyeruak ke penjuru daerah tersebut.
“Ini karena tanda dari Gista? Makanya dia dengan mudahnya mengendalikan es meskipun dia berada jauh dari sini,” gumam Orion.
Saat itu kristal-kristal es mulai terkikis seiring waktu. Orion dengan tubuh yang bisa dibilang tidak dalam kondisi prima pun hanya terdiam menatap Chameleon membeku karena es itu.
“Pemisah Ruang!” sebut seseorang yang barusan datang tetapi ia berada jauh dari mereka.
Seolah pria dengan pakaian seadanya itu datang. Mengatupkan kedua tangan ke depan, dan ruang di antara mereka seakan terbagi menjadi dua.
Satu di dunia nyata di mana penduduk biasa tidak akan bisa melihat pertarungan mereka yang di luar nalar. Lalu satunya, tempat di mana pertarungan itu terjadi tetapi tidak sepenuhnya terhubung.
Ibarat mereka berada dalam ruang hampa. Sekalipun mereka membabi buta hingga seluruh gedung hancur pun itu tidak akan menghancurkan gedung di dunia nyata.
“Nona Arutala, masuklah. Saya akan menjaga di luar.”
“Baiklah. Jangan sampai bawahan Chameleon masuk.”
“Baik!”
Muncul Gista dari robekan ruang. Ia berjalan dengan santai. Seketika Chameleon tertawa melihatnya. Lalu ia melesat cepat ke arahnya dengan wujud Orion. Tangan berapi itu mulai membakar ke sekitarnya.
Gista menghindarinya, terkadang ia juga sempat menangkis dengan perisai es miliknya. Kala itu, kekuatan Chameleon sungguh sulit dilawan. Ia kemudian menggunakan pedang ilusi. Tak ragu Gista menusuknya ke tubuh Chameleon.
“Ha! Aku tidak akan tertipu dengan ilusimu.”
“Percaya diri sekali.”
Srat! Srat!
Tap! Tap!
Chameleon melompat mundur ke belakang. Ia mendapat sambutan yang cukup hebat dari belakang punggungnya langsung. Lantaran semua Ketua menyerang diri Chameleon habis-habisan.
Satu sisi Ketua Dharma mengikat sekujur tubuh Chameleon dengan rantai perak keemasan. Ketua Irawan seperti biasa ia menggunakan gundukan tanah tuk menutup rapat kedua kaki dan tangannya. Padahal saat itu sudah terdapat rantai, tapi ditambah dengan tanah yang mengeras, entah bagaimana ia akan lolos.
“Ah, kalau begini sih, aku tidak dibutuhkan,” ucap Ketua Meera.
“Jangan lengah!” pekik Gista.
Datang serangan dari langit. Pola yang sama ketika Orion dan Endaru melawan seseorang. Yakni pemanah, bawahan yang nyaris dibuang oleh Chameleon sendiri.
Segera Gista memunculkan sebuah perisai pelindung es ke beberapa rekannya. Dan menahan semua anak panah yang telah dlinucurkan ke bawah.
Di sela-sela anak panah terus menghujani mereka. Endaru melancarkan serangan, gravitasi yang hampir menyentuh 3 angka.
“Kubuat kau jadi bubur! 90x lipat!”
Getaran hebat mengguncangkan penjuru daerah tersebut. Semua gedung itu mulai menunjukkan tanda-tanda akan rubuh. Beruntungnya tidak ada di dunia nyata langsung.
“Hm, mereka sangat antusias.”
Chameleon sama sekali tidak menunjukkan ekspresi putus asa. Dalam keadaan tertekan, ruh-nya pun juga terkena dampak serang gravitasi dari Endaru, tapi ia tetap bersikap biasa.
Dalam waktu singkat. Ada sesuatu yang berada di atas kepala Chameleon. Membentuk sebuah lingkaran berwarna hitam kebiruan.
Srak!
Semua serangan yang susah payah mereka gunakan pada Chameleon menjadi berbalik ke arah mereka sendiri. Terserang oleh kekuatan mereka sendiri, tentu itu bukan berita baik.
Termasuk Gista yang dibekukan oleh es-nya. Ketua Irawan yang tubuhnya terbenam dalam gundukan tanah. Lalu Ketua Dharma terikat rantai perak keemasan sampai beberapa tulang rusuknya patah.
“Kekuatan yang sungguh luar biasa. Meniru dan membuat kekuatan itu jauh lebih kuat. Tapi, dia tidak berubah,” ucap Ketua Dharma.
“Ya, inilah mengapa aku mati-matian melawannya.” Gista menyetujui perkataan Ketua Dharma.
“Hehe, baiklah. Aku akan incar yang lemah.” Chameleon terkikik karena merasa itu lucu.
Bats!
Chameleon menyerang Raka yang dirasa paling mudah untuk ditumbangkan.
“ARGH!!” Raka menjerit kencang luar biasa. Teriakannya memekikkan kedua telinga mereka semua yang ada di sana. Lantaran tubuh Raka serasa dikoyak-koyak oleh bayangan hitam.
Lalu Chameleon beralih pandang, menatap Meera dari kejauhan. Dan dalam sekejap, sebuah senjata tiruan milik Gista telah menembus tubuhnya.
“Ugh! Kurang ajar kau, Chameleon!” Endaru mengamuk. Kekuatan yang ia gunakan pada Chameleon pun kini berbalik ke arahnya. Tetapi Endaru sudah lebih dulu mengendalikannya.
“Tanpa jas dan sarung tangan, kekuatanmu memang luar biasa tapi itu membahayakan dirimu sendiri,” ucap Orion seraya memegangi bagian perutnya.
“Aku bisa mengendalikan ini tapi tidak sepenuhnya. Karena itu menjauhlah dariku agar kau tidak terkena sasaran,” kata Endaru.
Orion hanya berdeham seraya mendengar setiap perkataan Endaru. Sayap berapi membentang luas, mekar dengan indahnya pun percikan api terlihat seperti bintang-bintang berjatuhan.
“Orion, apa yang akan kau lakukan?”
“Entahlah,” ucap Orion malas seraya mengepalkan tangan kanannya.