ORION

ORION
Kekacauan Phantom Gank II



Pelelangan Undergrown mengalami kehancuran sesaat, setelah kedatangan Phantom Gank. Semua orang dibuat panik oleh mereka, dan akhirnya benda berharga yang akan dilelang besok telah diambil juga. Hanya saja yang tersisa, benda yang tidak dilirik oleh Phantom Gank, yaitu darah langka.


Satu kemungkinan yang pasti, bahwa Phantom Gank tidak mengerti nilai dari barang itu karena sekilas terlihat seperti segenang darah tak berguna. Di satu sisi Orion bersyukur setidaknya darah itu tidak diambil oleh Phantom Gank, sehingga sekarang benda itu masih ada di dalam pelelangan.


Waktu yang dibutuhkan untuk mempersiapkan kembali pelelangannya hampir 3 jam lamanya. Hingga sekarang belum ada tanda-tanda mereka akan memulainya.


Klontang!


Seorang pria menendang kaleng secara tidak sengaja. Kaleng itu pun menggelinding ke arah Orion yang tengah bersandar seraya menahan kantuknya di siang hari.


“Sorry!”


Orion terkejut, ia terbangun lantas menatap ke arah kaleng lalu menoleh ke asal suara tersebut.


“Ternyata Anda!”


Rupanya pria itu adalah Ketua Janu Irawan. Pria jangkung berkulit coklat matang menghampiri Orion. Situasi yang sekarang, Orion hanya dikenal pria api yang berada dalam Grup Arutala. Kekasih Gelap-nya Gista.


“Ketua Irawan! Anda berada di sini?”


“Iya. Saya melihat sinyal Anda barusan. Anda membutuhkan bantuan, benar?” ujarnya seraya mengulurkan tangan.


“Yang Anda katakan benar. Tapi masalahnya benda itu masih ada di pelelangan,” ucap Orion sembari menatap ke arah pelelangan.


“Maksudnya? Saya tidak begitu mengerti. Apakah Anda sedang berusaha mendapatkan sesuatu? Dan oh iya, Mahanta juga bilang bahwa Anda berada di pelelangan Undergrown untuk melakukan sesuatu, apakah tujuannya itu?” tanya Ketua Irawan.


“Iya. Saya berencana untuk mencurinya tetapi Phantom Gank datang dan kemudian penjagaan terhadap benda itu jadi semakin ketat,” tutur Orion.


“Wah, Anda blakblakan sekali.” Ketua Irawan terkejut.


“Maaf. Karena benda itu adalah darah langka, makanya saya berpikir tidak ada cara lain selain mencurinya.”


“Saya cukup mengerti karena di sana pun, orang-orang memiliki banyak harta tak peduli orang biasa seperti kita mengeluarkan uang sebanyak apa pun, pasti mereka akan mengalahkan kita dengan mudah.”


Ketua Irawan setuju karena itu adalah satu-satunya cara. Namun benarkah begitu? Mencuri saja sudah sesulit itu. Membayar pun, pasti akan menghabiskan aset Organisasi.


Yah, meskipun Orion ada pikiran untuk mengambil aset Organisasi, Grup Arutala. Tapi pada akhirnya ia mengurungkan niat karena tidak tegaan. Mau bagaimanapun Orion masih punya hati nurani.


Orion menggelengkan kepala sembari tersenyum masam. Sesekali ia menghela napas dan kemudian mendongakkan kepalanya.


“Darah itu ...apakah benar darah yang dimaksud?” Ketua Irawan bertanya lantas dirinya masih tidak percaya.


“Mungkin. Meski saya melihatnya sendiri, di wadah kaca terdapat segenang darah. Saya masih tidak yakin apakah itu darah langka atau bukan. Tetapi, tidak ada salahnya untuk mencoba mengambilnya lebih dulu.”


Ketua Irawan menganggukkan kepala beberapa kali, lantas berkata, “Saya setuju. Karena darah itu cukup berbahaya. Apalagi kalau digunakan untuk membangkitkan kriminal.”


“Apa? Ketua Irawan tahu?” tanya Orion dengan terkejut. Ia berpikir bahwa Ketua Irawan tahu sesuatu tentang Emblem Priest yang memiliki banyak kriminal di sana.


“Tahu apa? Saya tidak mengerti,” ucap Ketua Irawan berwajah bingung seraya menggaruk kepalanya yang tidak gatal.


“Maksud saya. Kenapa Anda berpikir bahwa darah itu akan digunakan untuk membangkitkan kriminal?”


“Oh itu. Tentu saja, karena di sini adalah negara dengan hukum liberal. Meskipun begitu, mereka tetap memiliki aturan tertentu secara tak langsung namun munculnya kriminal itu hal yang wajar,” jawab Ketua Irawan.


***


Pelelangan kembali dibuka setelah lama tertunda. Kini, para hadirin bertopeng itu pun langsung berbondong-bondong masuk ibarat mengejar harta di depan mereka. Keadaan yang ringsek, hadirin yang terhitung ratusan bebas menaikkan nilai dari suatu barang hingga tiada satu pun kembali melawan.


Hanya saja, yang saat itu semua duduk namun sekarang mereka harus berdiri sembari saling menyebutkan nilai. Dengan antusias mereka berlomba-lomba memperebutkannya.


“Sekarang, apa aku harus menunggu?”


Orion datang sebagai salah satu dari mereka yang memperebutkan darah langka. Dalam kebingungan, ia tetap memantau situasi yang ada sekarang. Memperhatikan sekelilingnya.


Sementara itu, Ketua Irawan, pria itu sedang berjaga-jaga di bagian penyimpanan barang. Karena sebelumnya mereka berencana untuk mengambil paksa barang tersebut, maka seseorang yang berada di sana pun diperlukan.


Entah menyamar sebagai apa, tapi yang pasti tidak mungkin jika Ketua Irawan menyamar sebagai wanita berpakaian kelinci. Memikirkannya saja membuat Orion tertawa.


“Menyentuh angka 200 juta. Apakah ini tidak akan berakhir?!” Mc berteriak keras mengumumkan nilai tertinggi dari lainnya.


“Tidak! Aku akan menambah 5!”


“7!”


Tapi tidak berakhir sampai situ saja rupanya. Orion beberapa menghela napas pendek seraya memijat kening, tanda nyalinya semakin ciut.


“Rencananya adalah, berpura-pura sebagai orang kaya lalu mengambil darah langka tanpa membayar,” gumam Orion yang kini berpindah tempat ke bagian sudut.


“Anda menggumamkan apa?” tanya seseorang. Sontak Orion terkejut, reflek menghindar.


“Runo, kau sedang apa kemari?” tanya Orion sembari mengedipkan mata beberapa kali. Merasa tak percaya bahwa Runo berada di sampingnya.


“Anda sendiri sedang apa di pojokkan? Dan saya kemari karena sinyal Anda. Harusnya tidak perlu kaget.”


“Oh, begitu. Jangan terlalu formal padaku. Aku 'kan sudah bilang. Lalu, apa kau sudah mendengar dari Ketua Irawan?” tanya Orion.


“Baiklah. Aku sudah mengetahui rencananya. Meskipun itu adalah tindak kriminal, tapi aku setuju karena barangnya adalah darah langka,” ucap Runo seraya mengepalkan tangan dengan semangat.


“Kalau begitu, bantu aku untuk menyebut nilai yang paling tinggi. Tapi jangan sekarang,” kata Orion.


Kedatangan Runo karena sinyal Orion sebelumnya pun berguna, lantaran Orion tidak dapat menyebut nilai tinggi. Jangankan begitu, kalau asal sebut tapi aslinya tidak memiliki sejumlah uang itu maka akan membuat Orion terluka.


“Terluka karena kemewahan palsu,” batin Orion seraya menghela napas untuk yang ke-5 kalinya. Ia memalingkan wajah, dan tetap berdiri di sudut ruangan, di mana ia dapat spot dari posisinya sekarang.


“Kalau begitu, Pak Orion. Apakah saya akan mencoba menyebutkan angka M?” pikir Runo seraya memegang dagu dan menatap serius ke depan.


“Hah?!” Orion berteriak dalam benaknya. Lantaran ia sangat terkejut saat Runo menyebut angka M (miliar).


Orion adalah pencinta kemewahan namun dirinya tidak dapat berbohong seolah-olah ia memiliki uang sebanyak itu. Karena itulah ia sangat syok ketika Runo berkata ingin mencoba menyebutkan angka yang sebegitu tingginya.


“He-hentikan Runo. Le-lebih baik kita tunggu saja sampai mereka berhenti ber-berdebat, ya?” ujar Orion tergagap-gagap.


“Baiklah kalau begitu.”